Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Akhirnya Kutemukan Kebenaran

Buku ini sederhana. Mudah dicerna. Suatu kisah perjalanan dan kisah penemuan. Tetapi
bukan penemuan teknologi atau biologi. Penemuan dalam bidang agama dan mazhab falsafah
kehidupan.
Karena penemuan ini berdasarkan pada pikiran yang sehat dan penelitian yang akurat,
dimana dengannya kodrat manusia berbeda dengan makhluk-makhluk yang lain, maka
kupersembahkan buku ini kepada setiap orang yang berpikiran rasional dan berakal sehat.
Yakni mereka yang ingin mencari suatu kebenaran sehingga dapat membedakannya dengan
yang batil; yang menimbang segala sesuatu yang sampai padanya dengan neraca keadilan;
yang hanya akan menerima kebenaran semata-mata karena dalil dan landasannya yang
sepenuhnya bisa dipertanggungjawabkan; yang mampu membedakan antara jalan pikiran
yang logis dan tidak logis; antara pendapat yang kuat dan pendapat yang lemah. Firman
Allah, "Mereka yang telah mendengar berbagai pendapat lalu ikut mana yang terbaik
darinya, maka mereka adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan
mereka adalah Ulul Albab."
Kepada mereka semua kupersembahkan buku ini, dengan harapan semoga Allah dapat
Sejarah Ringkas Hidupku
Masih tergambar jelas dalam ingatan ketika ayah mengajakku pergi ke masjid jami' di suatu
bulan Ramadhan. Sepuluh tahun usiaku saat itu. Dikenalkannya aku pada jemaah masjid
yang kala itu cukup mengagumiku. Berhari-hari guru ngajiku telah mempersiapkanku dengan
hafalan-hafalan sejumlah ayat suci AlQuran. Pada saat shalat Taraweh, aku dan anak-anak
yang lain ikut berjemaah dua atau tiga malam sampai sang imam membaca separuh AlQuran,
yakni surah Maryam.
Ayah sangat menginginkan aku belajar AlQuran, baik di sekolah Tahfiz AlQuran atau pada
saat senggang di rumah dengan dibimbing imam masjid jami', seorang dari kerabat kami
yang hafal AlQuran. Aku telah hafal AlQuran sejak kecil, maka wajarlah jika guruku ingin
sekali menunjukkan usahanya dan kelebihannya ini melaluiku. Diajarkannya padaku tempattempat
yang sepatutnya rukuk, dan berulang kali beliau melatihku agar benar-benar aku
dapat menghafalnya.
Dengan berhasil aku membaca ayat suci di depan jamaah dengan baik, berarti aku lolos uji.
Inilah yang telah lama diharap-harapkan oleh ayah dan guruku itu. Semua yang hadir
mencium dan memujiku dengan ucapan-ucapan yang sarat kekaguman yang luar biasa.
Mereka mengucapkan rasa terima kasih kepada guru yang mengajarku itu; dan memberi
selamat pula pada ayahku. Semua mengucapkan kata Alhamdulillah atas nikmat Islam dan
"berkatnya Syaikh ".
Hari-hari yang kulalui selanjutnya serasa tak dapat kulupakan begitu saja. Masa kecilku kuisi
dengan prestasi yang mengundang kekaguman orang banyak terhadapku dan kemasyhuran
yang bahkan merayap jauh ke kampung-kampung yang lain. Peristiwa-peristiwa itu
meninggalkan goresan-goresan yang hingga kini masih berbekas dalam hidupku. Setiap kali
aku nyaris khilaf, ada kekuatan yang maha dahsyat yang seakan mengekangku dan
membawaku kembali ke jalan yang benar. Dan setiap kali kurasakan lemahnya semangat dan
tidak bermaknanya kehidupan, kenangan itulah yang mengangkatku kembali pada semangat
yang sangat tinggi, dan menyalakan api keimanan di dalam kalbuku untuk melalui hidup ini.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 4
Betapa tidak, ayah dan guruku telah membebankan tanggung jawab yang begitu besar padaku
dalam usia yang sangat dini, sedemikian sehingga aku selalu merasa yang aku adalah orang
yang tidak layak untuk menjadi orang setaraf itu atau paling tidak taraf yang mereka inginkan
dariku.
Itulah kenapa aku lalui masa kecilku dan masa remajaku di dalam suasana istiqamah yang
relatif, walaupun kadang-kadang tak luput juga dari kesalahan dan kesia-siaan yang timbul
kebanyakannya dari rasa ingin tahu dan taklid buta. Karunia Allah mencurah padaku
sehingga aku berbeda dari saudara-saudaraku yang lain dengan sikap tenang dan saleh, tidak
terpeleset dalam dunia maksiat dan dosa-dosa besar.
Tidak mungkin kuniscayakan peran besar almarhumah ibuku dalam hidup ini. Beliau yang
membukakan mataku dan mengajarkanku surah-surah pendek dalam AlQuran, juga hukum
shalat dan wudhu. Beliau mencurahkan perhatian yang besar kepadaku, mungkin karena aku
adalah anak lelakinya yang sulung. Di samping beliau juga mempunyai madu yang lebih tua
darinya dan telah mempunyai anak-anak yang hampir seusia dengannya. Sedemikian tekun
beliau asuh dan mendidikku seakan-akan beliau sedang berlomba dengan madu dan anakanak
suaminya yang lain.
Nama Tijani yang diberikan oleh ibuku juga mempunyai keistimewaan tersendiri dalam
keluarga as-Samawi. Mengingat mereka adalah pengikut Tijaniah yang pertama kali sejak
salah seorang anak Syaikh Sayyidi Ahmad Tijani yang datang dari Jazair mengunjungi kota
Qafsah dan tinggal di rumah as-Samawi. Itulah awalnya. Hingga kini, sejumlah besar
penduduk kota itu khususnya kalangan keluarga yang berpendidikan dan kaya-raya
mengikuti Tarekat ini dan menyebarkannya. Kesamaan nama itu membuat aku makin
dicintai dalam Dar Samawi yang dihuni oleh lebih dari dua puluh keluarga. Begitu juga di luar
yang mempunyai hubungan dengan Tarekat Samawi.
Banyak orang-orang tua yang pada waktu shalat pada malam-malam Ramadhan waktu itu
-seingatku- mencium kedua tanganku dan kepalaku sambil mengucapkan tahniah kepada
ayahku dan berkata: "Ini adalah limpahan berkat dari Sayyidina Syaikh Ahmad Tijani."
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 5
Perlu diketahui bahwa Tarekat Tijaniah tersebar luas di Maghribi, Jazair, Tunisia, Libya,
Sudan dan Mesir. Dan pengikut-pengikut tarekat ini agak taassub atau fanatik. Mereka tidak
menziarahi kuburan para wali yang lain. Mereka percaya bahwa semua wali telah belajar dari
masing-masing secara silsilah, kecuali Syaikh Ahmad Tijani. Beliau telah belajar langsung
dari Nabi SAWW walau jaraknya dengan zaman Nabi dipisahkan oleh tiga belas abad. Mereka
mengatakan bahwa Nabi SAWW pernah mendatangi Syaikh Ahmad Tijani secara
yaqazhatan, yakni secara nyata, bukan melalui mimpi. Mereka juga berkata bahwa
sembahyang sempurna yang dilakukan oleh Syaikh adalah lebih baik dari empat puluh kali
mengkhatamkan AlQuran.
Sebaiknya kucukupkan saja pembahasan tentang tarekat Tijaniah ini sebelum menjadi
bertele-tele. Karena kita akan menyentuhnya juga Insya Allah pada bab lain dari buku ini.
Aku tumbuh seperti layaknya anak-anak muda yang lain di atas kepercayaan ini.
Alhamdulillah, kami semua adalah muslim Ahlu Sunnah Wal Jamaah, yang bermazhab
Maliki, dari Imam Malik bin Anas, Imam Dar al-Hijrah. Namun kami terpisah di dalam
berbagai tarekat sufi yang tumbuh bagai cendawan di Utara Afrika. Di kota Qafsah sendiri,
ada Tijaniah, Qadiriah, Rahmaniah, Salamiah dan 'Isawiah. Setiap tarekat mempunyai
pengikut yang hafal qasidah, zikir dan wirid-wirid yang dibaca di majlis-majlis tertentu,
sembari mengaji AlQuran, seperti saat khatan, majelis syukuran atau karena nazar. Walaupun
tidak luput dari unsur-unsur negatif, namun tarekat-tarekat seperti ini memainkan peranan
penting dalam menyebarkan syiar-syiar keagamaan dan menghormati para wali dan orangorang
yang shaleh.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 6
Haji Ke Baitullah
Usiaku delapan belas tahun ketika Gerakan Pramuka Tunisia menunjukku untuk mewakili
negara dalam Seminar Pertama Penelitian Arab dan Islam di Mekkah. Turut bersamaku dua
orang kepala sekolah, seorang guru di Tunis, wakil dari media lokal, dan seorang staf dari
Kementerian Pendidikan. Ketika itu aku adalah peserta yang paling muda, baik dalam usia
maupun pengalaman. Kami sempat mengunjungi Athena tiga hari, kemudian Amman empat
hari, sebelum akhirnya tiba di Mekkah untuk mengikuti seminar dan melaksanakan ibadah
haji dan umrah.
Ketika pertama kali kulangkahkan kakiku memasuki pelataran Baitullah Al-Haram jantungku
berdebar cepat. Tuhan, bagaimana mungkin kulukiskan dengan kata-kata! Degupan hatiku
yang kuat seolah-olah ingin mendobrak dinding penghalang untuk dapat melihat sendiri
Baitul 'Atiq yang selama ini cuma terkungkung dalam angan-angan. Air mata mengucur
membentuk aliran kecil seakan tak mampu kutahan. Kesadaranku melayang sampai ke
bumbung Ka'bah lalu menyahuti seruannya dari atas sana: "Labbaik Allahumma Labbaik.
Inilah aku Tuhan, yang datang menghadap-Mu".
Seiring kudengar talbiah jemaah haji, yang meluangkan waktu di sela-sela sisa usia mereka
dan datang dengan persiapan bekal harta. Maka kupikir itulah bedanya, karena kupikir aku
tidak punya waktu buat berbenah. tetapi aku datang dengan diriku saja.
Lalu kulukis di benakku ketika ayah menangis dan menciumiku begitu dilihatnya tiket
pesawat untuk ke Mekkah. Kuingat jelas di sela isak tangisnya, "Oh, anakku, Allah bahkan
telah mengundangmu dalam usia yang begini muda. Ingat, kau adalah anak Sayyidi Ahmad
Tijani. Pintaku, doakan ayahmu sesampainya kau di rumah-Nya. Semoga aku diampuni-Nya
dan diberinya rizqi untuk menyusul kau ke sana".
Aku tidak tahu bagaimana aku harus bersyukur atas karunia-Nya yang tidak diberikannya
pada tiap orang ini. Adakah orang yang berhak menyahuti panggilan ini lebih dari padaku?
Pada ibadah tawafku, shalatku, sa'iku, bahkan ketika meneguk air zamzam sekalipun. Atau
ketika semua orang mencoba saling mengalahkan untuk dapat mencapai gua Hira' di gunung
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 7
Jabal Nur. Tidak ada yang dapat mengalahkanku kecuali seorang anak muda dari Sudan. Aku
rukuk sujud di sana seakan-akan kucium batu Rasulullah dan kurasakan nafasnya. Kupahat
semua ini dalam ingatanku agar tak kan terlupa selama-lamanya.
Satu lagi limpahan karunia yang harus kusyukuri adalah perubahan sikap orang-orang utara
yang tadinya sinis terhadapku. lebih dari itu, setiap delegasi lain bahkan yang tidak aku kenal,
serta merta menyukaiku ketika melihatku dan meminta alamat supaya dapat berkirim surat.
Sekali-sekali dalam beberapa kesempatan, kubawakan syair-syair dan qasidah-qasidah yang
kuhafal di hadapan mereka. Beberapa penghargaan bahkan kuraih dalam acara kesenian dan
lomba-lomba sejenis. Pada akhir kunjungan, aku berhasil mengumpulkan lebih dari dua
puluh alamat teman-teman dari berbagai bangsa.
Dua puluh hari berlalu di Saudi tanpa terasa. Petuah berbagai ulama yang kami kunjungi
sempat mengesankanku. Mereka berpegang teguh pada tradisi Wahabi dan alangkah
senangnya kalau kaum Muslimin seluruhnya melakukan hal yang sama. Betapa besar rasa
hormatku pada mereka yang telah dipilih Allah dari sekian banyak hamba-hambaNya untuk
menjaga Baitullah Al-Haram ini. Mereka bahkan dikaruniainya minyak agar dapat melayani
dengan khidmat tamu-tamu Allah yang datang dan menjamin keselamatan mereka.
Tiba saat kepulangan ke tanah airku. Aku memakai pakaian ala Saudi lengkap dengan iqal
(yang melilit kepala). Aku sangat terkejut. Ternyata orang telah ramai berkumpul di stasiun
kereta api, dipimpin sendiri oleh Syaikh Tarekat 'Isawiyah, Syaikh Tijaniah dan Syaikh
Qadiriah, lengkap dengan gendang kebesaran sufi.
Aku diarak mengelilingi jalan-jalan kota, sembari dikumandangkan seruan takbir dan tahlil.
Orang-orang memintaku berhenti setiap kali kami melalui sebuah masjid. Masyarakat ramai
berdesak-desakan berebut menciumiku, terutama para orang-orang tua, yang sudah tentu
amat merindukan saat-saat dapat bertamu ke rumah Allah dan berdiri dekat pusara Nabi
SAWW. Di kota Qafsah yang kecil ini, aku adalah orang pertama untuk seusiaku, yang
menunaikan ibadah haji.
Itulah hari-hari bahagiaku. Para pemuka daerah berbondong-bondong berkunjung ke rumah
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 8
untuk mengucapkan selamat dan memintakan doa. Kadang-kadang sekedar untuk
memintaku membacakan surat Fatihah. Aku merasa malu juga. Setiap kali para tetamu
keluar, ibuku akan masuk sambil meniupkan asap gahru dan memohon perlindungan dari
tipu daya orang-orang jahat dan setan yang terkutuk.
Ayahku mengadakan kenduri selama tiga hari berturut-turut demi Yang Mulia Tijaniah.
Setiap hari beliau menyembelih seekor kambing. Orang-orang masih saja hadir bertanya
segala sesuatu, sampai ke persoalan yang kecil sekalipun. Jawabanku rata-rata berkisar
antara rasa kekagumanku terhadap Saudi dan semangat mereka dalam menyebarkan Islam
dan membela kaum muslimin.
Sejak itu aku berhak atas sebutan "Tuan Haji". Dan aku mulai dikenal oleh khalayak,
terutama di kalangan aktifis agama, seperti Jamaah Ikhwanul Muslimin. Aku pergi ke masjidmasjid
dan melarang orang-orang mencium nisan kuburan atau mengusap kayu-kayunya.
Aku berusaha meyakinkan mereka bahwa itu adalah syirik kepada Allah. Aktifitasku pun
semakin padat. Aku mulai mengajar di beberapa masjid pada hari Jumat sebelum khutbah.
Aku berpindah-pindah dari masjid Abi Ya'qub ke masjid jami' agung, karena shalat Jumat
didirikan di kedua mesjid itu pada waktu yang berlainan. Masjid Abi Ya'qub memulai
sembahyang Jumat pada waktu Zhuhur, sementara masjid jami' pada waktu Asar. Pengajianpengajian
hari Ahad juga banyak dihadiri oleh para pelajar tingkat atas, tempat aku mengajar
Ilmu Teknik dan Tekhnologi. Mereka kelihatan sangat suka menghadiri pengajianku. Aku
berusaha keras mengikis ajaran-ajaran yang mengendap di benak mereka lantaran
indoktrinasi para guru mereka yang atheis, sekuler dan komunis. Mereka yang tidak punya
cukup kesabaran untuk menanti saat-saat tiba pengajian itu datang ke rumah. Dan aku juga
telah membeli beberapa buku agama sebagai referensi yang menambah pengetahuan supaya
aku dapat menjawab setiap pertanyaan dengan baik.
Bersamaan dengan itu sekali lagi aku diberi kesempatan oleh Allah untuk memiliki separuh
agamaku yang lain. Hal itu juga yang dicita-citakan ibuku sebelum tiba akhir hayatnya. Aku
menikahi seorang gadis pilihan ibuku yang tak pernah kukenal sebelumnya. Ibuku bahkan
sempat menyaksikan kelahiran anak pertama dan keduaku. Baru setelah itu ia menghadap
panggilan-Nya dengan tenang, menyusul kepergian ayahku dua tahun sebelumnya, sesudah ia
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 9
sempat menunaikan ibadah haji ke tanah suci dan bertaubat kepada Allah, Taubatan Nasuha.
Revolusi Libya muncul ke permukaan saat kaum muslimin dan Arab mengalami kekalahan
yang memalukan dalam peperangannya dengan Israel. Anak muda pemimpin revolusi itu
muncul dan berbicara atas nama Islam. Beliau shalat dengan ummat di masjid dan menyeru
pada pembebasan al-Quds. Beliau sangat menarik perhatianku dan perhatian seluruh
pemuda-pemuda Arab serta penjuru negara Islam yang lain. Rasa ingin tahu kami akhirnya
mendorong kami untuk mengadakan kunjungan kebudayaan ke Libya. Bersama dengan
empat puluh orang-orang terpelajar, kami pun berangkat menuju ke sana pada masa-masa
awal revolusi itu. Kami kembali dengan kekaguman yang luar biasa dan rasa optimis terhadap
masa depan yang diharapkan akan dapat membawa kebahagiaan bagi seluruh umat Islam dan
Arab secara keseluruhan.
Sementara itu hubungan korespondensiku dengan beberapa teman berjalan dengan tanpa
hambatan. Di suatu cuti panjang musim panas, aku berencana ingin mengadakan suatu
perjalanan selama tiga bulan melalui Libya, lalu kemudian ke Mesir. Dari sana aku akan
melalui jalan laut menuju Lebanon, Syria, Jordan dan Saudi. Di sana aku akan melaksanakan
ibadah umrah dan memperbaharui janji setiaku terhadap faham Wahabiah yang telah banyak
kupropagandakan dikalangan para mahasiswa dan pelajar serta masjid-masjid yang dihadiri
oleh Jamaah Ikhwanul Muslimin.
Kemasyhuranku merebak di negeri-negeri yang kulalui. Seorang musafir kadang-kala berlalu
di tempat kami lalu sembahyang Jumat dan menghadiri kuliahku. Ketika pulang dia
menyebarkan kepada masyarakat sekitarnya, sehingga sampailah ke telinga Syaikh Ismail al-
Hadifi, pemimpin tarekat sufi yang terkenal di kota Tuzer, ibu negeri al-Juraid dan tempat
persemadian Abul Qasim as-Syabi, seorang penyair yang termasyhur. Syaikh ini mempunyai
pengikut dan penggemar di seluruh pelosok Tunisia; bahkan di luar negeri sekalipun di
kalangan para pekerja di Perancis dan Jerman.
Suatu hari melalui para wakilnya di Qafsah beliau menjemputku untuk mengunjunginya.
Diutusnya sepucuk surat yang panjang untukku dengan ucapan rasa terima kasih karena
jasaku terhadap Islam dan kaum muslimin. Orang-orang berkata bahwa semua itu tidak akan
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 10
mendekatkanku pada Allah sedikit pun jika tidak melalui jalannya Syaikh yang arif itu. Ini
berdasarkan hadis yang sangat masyhur di kalangan mereka: "Barang siapa yang tidak
memiliki Syaikh maka syaikhnya adalah syaitan." Mereka juga berkata: "Engkau juga
seharusnya memiliki Syaikh yang akan menunjukkanmu pada jalan yang benar; kalau tidak
maka separuh ilmumu akan sia-sia..." Mereka juga berkata bahwa Shohib Zaman, yakni
Syaikh Ismail ini, telah memilihku untuk menjadi Khasal-Khas, yakni kalangan yang paling
dekat dengannya.
Mendengar ini hatiku terasa gembira sekali. Aku menangis lantaran sangat terharunya pada
karunia Allah yang terus mengangkatku dari maqam yang tinggi ke maqam yang lebih tinggi
lagi dan dari kedudukan yang baik kepada yang lebih baik. Sebelum ini aku pernah menjadi
pengikut Sayyidi al-Hadi al-Hufyan, seorang syaikh sufi yang konon mempunyai banyak
keramat dan keistimewaan-keistimewaan. Bahkan aku pernah menjadi sahabatnya yang
terdekat. Aku juga pernah mendampingi Sayyidi Shaleh Bis Saih dan Sayyidi al-Jilani serta
berbagai guru tarekat yang ada. Kutunggu waktu perjumpaan yang dijanjikan itu dengan
penuh kesabaran.
Ketika aku masuk ke rumah Syaikh kujumpai berbagai wajah sedang menantinya dengan
penuh semangat. Murid-muridnya ramai yang hadir di majlis itu. Di antara mereka ada
sejumlah orang-orang tua yang memakai pakaian serba putih. Setelah acara Tahiyah (ucapan
salam), maka Syaikh Ismail keluar. Semua yang hadir mencium tangannya dengan penuh
sikap hormat. Dan wakilnya yang membawaku ini menggenggam tanganku sambil
mengatakan bahwa inilah Syaikh Ismail. Aku tidak merasa kagum sama sekali mengingat
rupanya tidak sehebat apa yang terbayang di benakku. Wakil dan para pengikutnya telah
menceritakan berbagai macam keramat dan mukjizat Syaikh ini sehingga kehebatan
ketokohannya terukir besar di dalam bayanganku. Namun apa yang kulihat beliau hanyalah
seorang syaikh biasa yang tidak mempunyai wibawa dan keagungan. Si wakil
memperkenalkanku kepadanya di tengah-tengah majelis. Beliau menyambutku dan
mempersilahkan aku duduk di samping kanannya. Setelah makan dan minum, acara dimulai.
Kemudian wakil ini memintaku mengambil perjanjian dan wirid dari Syaikh. Setelah itu maka
semua yang hadir memberi ucapan selamat kepadaku dan memelukku.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 11
Dari percakapan mereka aku faham bahwa mereka sebenarnya telah sering mendengar
namaku. Sebagian jawaban Syaikh kepada orang-orang yang bertanya kadang-kadang
kusanggah berdasarkan hujjah-hujjah AlQuran dan Sunnah. Tetapi sebagian yang hadir
rupanya menganggap itu perbuatan cela dan sikap kurang ajar kepada Syaikh. Karena
biasanya mereka tidak berbicara jika berada di dalam majelis kecuali seizinnya. Sikap
ketidakpuasan mereka ini dirasakan oleh Syaikh. Dengan cara yang bijak beliau meredakan
perasaan mereka seraya berkata: "Barang siapa yang pada mulanya bersikap berapi-api maka
pada akhirnya akan cemerlang". Majelis menganggap ini sebagai "isyarat baik" dari Syaikh,
dan akan menjadi jaminan paling besar bagi kecemerlangan akhirku. Mereka memberikan
ucapan selamat kepadaku.
Tetapi Syaikh adalah seorang yang pandai dan terlatih. Beliau tidak memberiku sedikitpun
kesempatan untuk melanjutkan sanggahan yang "mengejutkan" itu. Diceritakannya hikayat
seorang yang A'rif Billah (baca: wali) ketika duduk bersama sejumlah alim-ulama. Kepada
salah seorang dari ulama ini si wali berkata," Bangun dan pergilah mandi!" Si alim pergi dan
mandi. Kemudian dia datang semula ke majlis. Sebelum sempat duduk, si wali berkata lagi
padanya, Pergi mandi lagi!". Lalu dia pergi dan mengulangi mandinya dengan cara yang
paling baik, khawatir mandi yang pertama tadi tidak benar. Kemudian dia datang lagi untuk
duduk di majelis, namun Syaikh tetap saja menyuruhnya pergi dan mandi. Kemudian si alim
ini menangis dan berkata, "Ya Tuan Syaikh, aku telah mandi dengan cara ilmuku dan amalku.
Tiada apa-apa lain dalam diriku melainkan apa yang akan Allah bukakan kelak melalui kedua
tanganmu". Lalu Syaikh ini berkata: "Sekarang duduklah".
Aku tahu bahwa yang dimaksudkan dari cerita ini adalah diriku. Begitu pula para hadirin.
Begitu Syaikh keluar dari majelis mereka mencelaku dan menyuruhku diam dan wajib hormat
bila duduk di hadapannya. Mengingat Syaikh ini adalah Sohib Zaman (Pemilik Zaman),
sikapku ini dikhawatirkan akan menggugurkan amal-amal baikku saja. Hujjah mereka adalah
firman Allah berikut: "Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu meninggikan
suaramu lebih dari suara Nabi; dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara
keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain,
supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari" (QS. Al-
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 12
Hujurat: 2)
Aku sadar akan harga diriku. Kuikuti perintah dan nasehat-nasehatnya; dan lebih
didekatkannya lagi aku kepadanya. Aku tinggal bersama dengannya tiga hari dimana aku juga
bertanya berbagai masalah kepadanya yang sebagiannya sekedar ingin mengujinya. Syaikh
tampaknya sadar akan sikapku ini, lalu berkata bahwa AlQuran memiliki makna zahir dan
batin, hinggah ke tujuh batin. Allah juga telah membukakan untukku peti rahasia-Nya, dan
menunjukkan kepadaku Kursinya yang khas dimana terdapat silsilah orang-orang yang
shaleh dan a'rif secara musnad dan bersambung kepada Abul Hasan as-Syazali, dan terus
kepada sejumlah para wali sehinggalah sanadnya sampai kepada Imam Ali Karamallah
Wajhahu.
Perlu kuceritakan juga bahwa majlis-majlis mereka adalah bersifat ritualistik atau
kerohanian. Mula-mula Syaikh akan membukanya dengan bacaan beberapa ayat AlQuran
yang mudah secara tajwid. Kemudian membaca qasidah yang diikuti oleh para muridnya yang
hafal berbagai madah dan zikir yang kebanyakannya mencela dunia dan mengajak pada
akhirat, makna zuhud serta wara'. Setelah itu murid yang duduk di sisi kanan Syaikh akan
membacakan ayat-ayat AlQuran yang baru, dan Syaikh serta merta akan membacakan
qasidah yang akan diikuti oleh semua yang hadir. Begitulah seterusnya secara bergilir walau
sekadar satu ayat. Kemudian seperti seolah-olah tak sadar, mulailah para hadirin
menggoyangkan badannya ke kanan dan kiri mengikut rentak madah tadi sampailah tuan
Syaikh berdiri dan berdirilah semua yang hadir sehingga membentuk satu lingkaran dengan
Syaikh berada di tengah-tengah. Kemudian mereka menyebutkan "zikir-dada" :ah.. ah.. ah.
ah. ah.. Dan Syaikh keliling di tengah-tengah mereka dan menghadap setiap satu dari mereka
dengan suara bacaan yang keras sekali. Kemudian sebagian dari mereka melompat-lompat
dalam satu gerakan bak kegilaan sambil mengangkat suara tinggi-tinggi yang berirama tetapi
menakutkan. Setelah keletihan maka majlis tenang kembali dengan diakhiri qasidah Syaikh.
Dan setelah mencium kepala Syaikh dan bahunya secara bergilir maka semua yang hadir akan
duduk kembali.
Aku telah mengikuti pertemuan mereka beberapa kali hanya sekedar tanda simpati tanpa
diiringi sikap rela hati. Jiwaku berkecamuk dengan kacaunya keyakinan yang kupegang
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 13
sementara ini, yakni coba tidak mensyirikkan Allah seperti bertawassul kepada selain Allah.
Aku jatuh ke bumi sambil menangis tersedu-sedu karena bingung dengan dua aliran yang
sangat kontradiktif ini; aliran sufi yang penuh dengan acara-acara ritualistik, dimana jiwa
manusia akan terasa sesuatu kezuhudan dan kedekatan pada Allah melalui para wali-Nya
yang shaleh dan hamba-Nya yang a'rif; dan aliran Wahhabiah yang mengajarku bahwa semua
itu adalah syirik pada Allah. Dan Syirik adalah dosa yang tidak terampuni.
Jika Muhammad Rasulullah SAWW tidak mengizinkan bertawassul maka apalah artinya para
wali dan orang-orang shaleh itu?
Walau pun Syaikh telah menempatkanku pada "maqam" yang tinggi -sebagai wakilnya di
Qafsah- tetapi jiwaku belum merasa puas sama sekali. Walaupun kadang-kadang aku
condong pada tarekat sufi dan sering menyimpan rasa hormat dan takzim kepada para wali
Allah dan orang-orang shaleh tersebut, namun aku juga tetap berpegang teguh pada firman
Allah: "Jangan kamu menyeru bersama Allah Tuhan lain; tiada Tuhan selain Dia" (QS. Al-
Qishash: 88). Jika ada orang berkata bahwa Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri
kepada-Nya" (QS. Al-Maidah: 35) maka aku akan jawab seperti apa yang diajarkan kepadaku
oleh ulama-ulama Saudi bahwa al-wasilah yang dimaksudkan adalah amal yang shaleh.
Alhasil aku hidup waktu itu dengan perasaan yang gelisah dan pemikiran yang ruwet.
Kadang-kadang sebagian murid-murid Syaikh datang ke rumahku dan mengadakan acaraacara
serupa dalam bentuk halaqah-halaqah sampai para tetanggaku merasa terganggu
dengan suara ah.. ah.. kami. Setelah kutahu itu maka aku minta agar mereka mengadakannya
di rumah lain dan aku minta maaf lantaran ingin keluar negeri selama tiga bulan. Kemudian
aku berpisah dengan keluarga dan kaum kerabatku menuju Tuhanku dengan penuh rasa
tawakkal kepada-Nya tanpa mensyirikkan-Nya sekali-kali.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 14
Sukses Di Mesir
Aku berada di Tripoli hanya selama masa visa yang mereka berikan kepadaku melalui
kedutaan Mesir di Tunisia saja. Disana aku berjumpa teman-teman yang kemudian banyak
membantuku. (Semoga Allah membalas jasa mereka). Dalam perjalanan ke Kairo yang
memakan waktu tiga hari tiga malam, aku berjumpa empat orang Mesir yang baru pulang
kerja dari Libya. Aku berbincang dengan mereka mengenai segala hal, dan kusitir beberapa
ayat-ayat suci. Tampaknya mereka menyukaiku dan masing-masing mengajakku singgah ke
rumahnya. Akhirnya kuturuti ajakan salah seorang diantara mereka, yang bernama Ahmad.
Ia sangat gembira dan menyambut hangat kesediaanku (Mudah-mudahan Allah berkenan
membalas jasanya).
Selama dua puluh hari aku berada di Kairo, aku sempat mengunjungi rumah seorang
penyanyi terkenal, Farid al-Athrasy, yang rumahnya menghadap sungai Nil. Kukenal ia lewat
majalah-majalah Mesir yang beredar di Tunisia dan kukagumi pribadi serta sikap kerendahan
hatinya. Sayang, hanya dua puluh menit kami sempat berbual, karena ia akan berangkat ke
Lebanon. Aku juga sempat mengunjungi kediaman Syaikh Abdul Basit Abdus Somad, qari'
AlQuran yang sangat terkenal itu. Ia juga termasuk orang-orang yang kukagumi. Selama tiga
hari kami berdiskusi tentang banyak hal bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Tampaknya mereka kagum terhadap semangat, ketegasan, serta keluasan wawasan yang
kumiliki. Jika mereka berbicara tentang seni, aku juga berbicara tentang seni secara panjang
lebar. Apabila mereka berbicara tentang zuhud dan kehidupan sufistik, kuceritakan tentang
Tarekat Tijaniah yang berprestasi tinggi. Jika mereka berbicara tentang dunia barat,
kuceritakan kepada mereka tentang Paris, London, Belgia, Belanda, Italia, dan Spanyol yang
sempat kukunjungi di masa-masa liburan musim panas yang lalu. Bila mereka berbicara
tentang haji maka kuceritakan bahwa aku juga telah menunaikan ibadah haji dan kini akan
pergi umrah pula.
Kuceritakan kepada mereka tempat-tempat yang tidak mereka ketahui, sekalipun oleh
mereka yang pernah pergi haji sebanyak tujuh kali, seperti Gua Hira', Gua Thur dan tempat di
mana Nabi Ismail disembelih. Bila mereka berbicara tentang sains dan penemuan-penemuan,
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 15
kuceritakan juga tentang sains secara detail dan rinci. Bila mereka berdiskusi tentang politik,
aku dapat patahkan hujjah-hujjah mereka sambil berkata: "Semoga Allah melimpahkan
rahmat-Nya kepada Nasir Shalahuddin al-Ayyubi yang telah mengharamkan dirinya dari
tersenyum apalagi tertawa. Ketika orang-orang dekatnya mencela dan berkata, 'Dahulunya
Nabi SAWW senantiasa tampak tersenyum', maka Ayyubi menjawab: 'Bagaimana kalian
inginkan aku tersenyum sementara masjid al-Aqsha masih berada di bawah tangan musuhmusuh
Allah. Tidak, demi Allah, Aku tidak akan senyum sampai aku dapat membebaskannya
atau mati karenanya.'"
Beberapa syaikh dari al-Azhar ikut hadir dalam majlis kami. Mereka sangat kagum dengan
segala yang kuhafal seperti hadis, ayat-ayat suci AlQuran, dan hujjah-hujjah kuat lainnya.
Mereka bertanya dari universitas mana kuperoleh gelar sarjana. Kujawab bahwa aku adalah
sarjana dari Universitas Zaitun, yang telah didirikan sebelum Universitas al-Azhar.
Kukatakan pula bahwa orang-orang Fatimiah yang mendirikan al-Azhar itu sebenarnya
berasal dari kota al-Mahdiah, Tunisia.
Aku sempat berkenalan dengan sejumlah ulama dari Universitas al-Azhar. Mereka pinjamkan
padaku sejumlah buku. Suatu hari, ketika aku sedang mengunjungi salah seorang pegawai
administrasi al-Azhar, tiba-tiba datang seorang ahli Dewan Kepemimpinan Revolusi Mesir
dan menjemputnya untuk hadir dalam suatu perhimpunan kaum muslimin di sebuah
perusahaan besi baja Mesir di Kairo, yang rusak akibat Perang Oktober ketika itu. Beliau tidak
mau pergi melainkan aku ikut serta. Di sana mereka memintaku memberikan ceramah
kepada para hadirin. Dan kulakukan tugas ini dengan mudah lantaran aku telah terbiasa
memberikan ceramah sejenis di masjid-masjid dan markas-markas kebudayaan di Tunisia.
Yang penting dalam bab ini adalah kisah tentang mulai membumbungnya perasaanku dan
sikap mengagumi diri yang mulai timbul. Aku berpikir bahwa aku telah menjadi seorang alim
yang berpengetahuan tinggi. Betapa tidak? Ulama-ulama al-Azhar sendiri telah mengakui hal
tersebut. Mereka berkata: "Tempatmu sudah selayaknya di al-Azhar ini". Dan yang lebih
membanggakan lagi adalah "izin" Rasulullah yang diberikan kepadaku untuk melihat
peninggalan-peninggalannya, seperti yang dikatakan oleh pegawai yang mengurus masjid
Sayyidina Husain di Kairo. Pegawai itu hanya mengajakku untuk masuk ke dalam hujrah,
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 16
ruang yang tidak dibuka kecuali olehnya sendiri. Dan ketika kami masuk dibukanya sebuah
almari dan dikeluarkannya sehelai baju Nabi SAWW, lalu kucium baju tersebut. Juga
diperlihatkannya padaku sejumlah peninggalan yang lain. Aku menangis begitu
melangkahkan kakiku meninggalkan tempat itu. Sungguh tidak kusangka perhatian beliau
kepadaku. Pegawai itu bahkan tidak minta dariku upah sepeser pun. Dia hanya mengambil
sesuatu yang sangat sedikit setelah kupaksa dan mendesaknya. Diucapkannya selamat
kepadaku sambil berkata bahwa aku adalah orang yang diterima di sisi Nabi SAWW.
Peristiwa ini begitu mengesankanku, sedemikian sehingga aku mulai menyangsikan apa yang
dikatakan Wahabiah bahwa selesailah sudah riwayat Nabi SAWW sebagaimana orang-orang
lain yang sudah meninggal. Seandainya seorang syahid di jalan Allah tidak "mati", bahkan
hidup mendapatkan rezeki di sisi Tuhannya, maka betapa pula penghulu para nabi dan rasul.
Keyakinan ini diperkuat oleh pelajaran-pelajaran tasawwuf yang pernah kudapat dahulu yang
memberikan hak dan kebenaran kepada para wali dan syaikh-syaikh mereka untuk "campurtangan"
di dalam perjalanan alam fana ini. Mereka percaya bahwa Allah SWT telah
memberikan izin kepada mereka, lantaran mereka taat kepada-Nya dan patuh pada segala
perintah-Nya. Lagipula ada sebuah hadis qudsi yangberkata: "Wahai hamba-Ku, taatlah
kepada-Ku niscaya kau akan menjadi seperti-Ku, mengatakan kepada sesuatu: jadilah, maka
ia akan menjadi." Itulah awal terjadinya konflik-konflik yang hebat dalam batinku.
Aku akhiri kunjungan ke Mesir dengan mengunjungi berbagai masjid dan shalat di dalamnya.
Di antaranya Masjid Malik, Masjid Abu Hanifah, Masjid Syafi'i dan Masjid Ahmad bin
Hanbal. Kemudian kuziarahi juga pusara Sayyidah Zainab dan Sayyidina Husain. Juga tak
ketinggalan Pondok Tijaniah yang meninggalkan banyak cerita.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 17
Perjumpaan Di Atas Kapal
Aku berangkat ke Iskandariah pada hari yang telah ditentukan agar dapat naik kapal Mesir
yang akan menuju Beirut. Waktu itu aku sangat lelah dan pikiranku letih. Aku berbaring dan
tertidur barang sejenak. Setelah dua atan tiga jam perjalanan, aku dikejutkan oleh suara
orang di sebelahku. "Nampaknya saudara yang satu ini sangat keletihan" katanya. "Ya
memang. Saya sangat letih karena perjalanan dari Kairo ke Iskandariah. Semalam saya harus
menempuh perjalanan yang melelahkan untuk bisa sampai di pelabuhan sesegera mungkin.
Jadi terpaksa tidur sedikit tadi malam." Jawabku.
Dari percakapan kami, aku menduga bahwa ia bukanlah orang Mesir. Seperti biasa rasa ingin
tahuku mendorongku untuk mengenalnya lebih jauh. Kuperkenalkan diriku. Ternyata beliau
berasal dari Iraq dan bertugas sebagai lektor di Universitas Baghdad. Namanya Mun'im.
Beliau datang ke Kairo dalam rangka studi untuk mengambil gelar doktor dari Universitas al-
Azhar.
Perbincangan kami berkisar tentang Mesir, dunia Arab dan dunia Islam lain. Kami juga
berdiskusi tentang kekalahan Arab dan kemenangan Yahudi serta banyak hal. Antara lain
kukatakan bahwa puncak kekalahan adalah terpecahnya Arab dan kaum muslimin ke
berbagai negara, bangsa dan mazhab. Meskipun jumlah mereka banyak tetapi tidak bernilai
sama sekali di mata musuh-musuh mereka.
Kami juga berbicara banyak tentang Mesir dan rakyatnya. Kami sependapat tentang puncak
kekalahan mereka. Kutambahkan bahwa aku sebenarnya tidak menyukai perpecahan yang
telah direkayasa para imperialis itu. Mereka cuma bertujuan ingin dengan mudah menguasai
dan mengalahkan kita. Kita masih membedakan antara Maliki dengan Hanafi. Dan
kuceritakan padanya tentang peristiwa pahit yang kualami ketika sembahyang Asar
berjama'ah di masjid Abu Hanifah, Kairo. Usai shalat tiba-tiba orang yang berdiri di
sampingku dengan nada marah berkata padaku, "Kenapa kau tidak sedekapkan tanganmu
ketika sembahyang tadi?". Kujawab dengan penuh hormat bahwa Mazhab Maliki meluruskan
tangannya saat shalat, dan aku adalah penganut mazhab Maliki". "Kalau begitu sembahyang
saja di Masjid Malik!", jawabnya jengkel. Lalu aku keluar dari masjid dengan perasaan kesal
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 18
dan kecewa.
Tiba-tiba ustadz Iraq ini tersenyum dan berkata kepadaku bahwa dia bermazhab Syi'ah. Aku
terkejut mendengarnya. Lalu tanpa mau perduli kukatakan kepadanya bahwa jika aku tahu
yang dia adalah seorang Syi'ah aku tidak akan sudi berbicara dengannya. "Kenapa?" tanyanya.
"Kalian bukan orang-orang muslim. Kalian menyembah Ali bin Abi Thalib. Orang yang paling
moderat dari kalian memang menyembah Allah, namun mereka tidak beriman pada Risalah
Nabi Muhammad SAWW. Mereka mencaci Malaikat Jibril dan berkata bahwa dia (Jibril)
telah berbuat salah. Kalian mengatakan seharusnya wahyu diturunkan kepada Ali, bukan
kepada Muhammad". Dengan tegas kukatakan seperti itu tanpa henti sementara temanku
terus mendengarkan sembari sekali-kali tersenyum.
Dia bertanya padaku: "Apakah Anda seorang guru?" "Ya", jawabku.
"Jika guru yang berpikir seperti ini maka tidak heran kalau orang-orang awam yang tidak
terpelajar juga akan berpikir demikian."
"Apa maksud Anda ?" Tanyaku mengulang.
"Maaf. Dari mana Anda memperoleh propaganda-propaganda bohong seperti ini?"
"Dari buku-buku sejarah dan dari ucapan orang banyak."
"Tinggalkan apa yang dikatakan orang. Tetapi buku sejarah mana yang Anda baca? "
"Buku Fajrul Islam, Dhuhal Islam dan Zhurul Islam karya Ahmad Amin dan sebagainya."
"Kapan Ahmad Amin menjadi wakil Syi'ah? Untuk berlaku adil dan objektif Anda mesti
merujuk kepada sumbernya yang asli." Katanya.
"Mengapa saya harus kaji suatu perkara yang telah dikenal oleh kalangan khusus dan
umum?".
"Ahmad Amin sendiri telah berkunjung ke Iraq. Dan aku sempat berjumpa dengannya di
Najaf. Ketika kami menyinggung tulisannya tentang Syi'ah, beliau meminta maaf sambil
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 19
berkata, 'Aku tidak tahu apa-apa tentang kalian dan aku tidak pernah berhubungan dengan
Syi'ah sebelum ini. Ini adalah yang pertama kali aku berjumpa dengan orang-orang Syi'ah.'
Kami katakan padanya bahwa satu permohonan maaf kadangkala lebih buruk dari berbuat
kesalahan itu sendiri. Bagaimana Anda tidak tahu apa-apa tentang kami lalu Anda tulis segala
sesuatu yang buruk tentang kami?"
Kemudian beliau melanjutkan: "Ya akhi, jika kita menghukumi agama Yahudi dan Nasrani
melalui AlQuran, itu salah, kendatipun ia adalah alasan dan hujjah yang sangat kuat bagi kita,
namun bagi mereka itu adalah tidak sah. Suatu argumentasi akan menjadi sangat kuat
apabila kesalahan mereka kita buktikan melalui kitab-kitab yang mereka percayai sendiri".
Kata-katanya ini menyentuh hatiku persis seperti hati kering yang tersiram air sejuk. Diriku
tiba-tiba saja berobah dari sikap hasad dan dengki menjadi rasa ingin tahu. Kuendapkan
kata-katanya yang bijak dan hujjahnya yang kuat. Apa salahnya jika aku berendah hati sedikit
dan mendengar kata-katanya?
"Kalau begitu Anda percaya pada kenabian Muhammad?" Tanyaku.
"Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam." Sambungnya. "Semua orang Syi'ah percaya pada
kenabian Muhammad. Ya akhi, semestinya Anda teliti sendiri apa itu Syi'ah sampai tuntas
agar tidak menaruh prasangka jelek terhadap saudara-saudara Anda dari mazhab Syi'ah.
Ketahuilah bahwa sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Apabila Anda benar-benar ingin
mengetahui apa itu kebenaran dan mau menyaksikannya dengan mata kepala sendiri saya
bersedia mengajak Anda untuk berkunjung ke Iraq dan berjumpa dengan para alim ulama
serta orang-orang awam mereka. Dari sana kemudian Anda akan dapat buktikan kebohongan
yang telah disebarkan oleh orang-orang yang hasad, dengki dan berniat buruk pada mereka."
"Memang. Sudah lama saya ingin berkunjung ke Iraq. Insya Allah suatu hari kelak saya akan
dapat menunaikannya." Jawabku spontan. "Saya ingin melihat bukti-bukti sejarah Islam yang
ditinggalkan oleh Bani Abbasiah, terutama yang diwariskan oleh Harun ar-Rasyid. Namun
sayang, bekal saya sangat terbatas disamping saya telah berencana akan melakukan umrah.
Paspor saya juga tidak diizinkan masuk wilayah Iraq."
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 20
"Ketika saya berkata bahwa saya bersedia mengantar Anda berkeliling Iraq, saya bermaksud
akan menanggung seluruh ongkos dan biaya Anda sejak dari Beirut sampai Baghdad, pulang
dan pergi. Anda juga akan menginap di rumah saya sebagai tamu saya. Adapun masalah
paspor, biar kita serahkan pada Allah sajalah untuk mengatasinya. Apabila Allah takdirkan
Anda bisa berkunjung ke Iraq, tanpa paspor sekalipun Anda akan mengunjunginya juga. Kita
akan berusaha memperoleh visa masuk setibanya kita di Beirut kelak."
Betapa senangnya hatiku mendengar berita gembira ini. Aku berjanji padanya akan memberi
jawaban esok, Insya Allah.
Aku keluar dari kamar dan naik ke atas kapal untuk mencari udara segar. Pikiranku mulai
berkecamuk dan melayang-layang di lautan yang tak bertepi itu. Aku membaca tasbih dan
memuji-muji Allah yang telah menciptakan alam semesta yang mahaluas ini. Kuucapkan rasa
syukur pada-Nya yang telah menghantarku sampai ke tempat ini sambil kumohon pada-Nya
agar melindungiku dari segala kejahatan dan memeliharaku dari segala kesalahan. Ingatanku
juga jauh melayang merekam kembali berbagai peristiwa yang kualami dan berbagai
kebahagiaan yang kulalui sejak masa kecil hingga hari ini. Aku berharap bisa memperoleh
masa depan yang lebih baik. Aku merasa seakan Allah dan Rasul-Nya telah menganugerahkan
padaku suatu karunia yang sangat istimewa.
Kupandang kembali Mesir yang masih memperlihatkan sebagian pantainya, sambil
mengucapkan selamat tinggal pada persada yang di dalamnya telah kucium baju Rasulullah
SAWW. Betapa indahnya kenangan itu. Kata-kata orang Syi'ah tadi juga masih mengiang di
telingaku dan sangat menggembirakanku. Betapa tidak. Cita-cita melawat Iraq sudah sejak
kecil ada dalam benakku. Dan kini nampaknya hampir nyata. Iraq -seperti yang
kubayangkan- adalah tanah air Harun ar-Rasyid dan Makmun, pendiri Dar al-Hikmah,
sebuah institusi yang menampung berbagai pelajar dari barat pada kurun kegemilangan
peradaban Islam dahulu. Baghdad juga dikenal sebagai tanah air al-Qutb ar-Rabbani wa
Syaikh as-Somadani Sayyidi Abdul Qadir al-Jailani, yang namanya dikenal di seluruh pelosok
dunia dan tarekat ajarannya ada di semua tempat. Hal ini bagiku adalah sebuah anugerah
baru yang sangat khusus dari Allah untukku.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 21
Lama aku berkhayal dan berangan-angan sampai sebuah suara menyentakku. Suara itu
mengajak semua penumpang kapal untuk menikmati hidangan makan malam di kantin. Aku
pergi ke sana dan 'seperti biasa' para penumpang tengah berdesakan untuk masuk ke ruang
kantin. Tiba-tiba orang Syi'ah tadi memegang bajuku dan dengan perlahan menarikku ke
belakang. Katanya: "Mari wahai saudaraku. Tidak perlu kita ikut berdesak-desakan di sini.
Biarlah kita makan sebentar lagi setelah desakan ini berkurang. Sejak tadi aku mencarimu.
Sudahkah Anda shalat? "Belum" jawabku. "Mari kita shalat dahulu, baru kemudian kita
makan. Saat itu kantin juga sudah sepi." Katanya.
Sebuah pendapat yang baik. Akhirnya kami pergi ke tempat yang agak sepi untuk wudhu'.
Aku memintanya menjadi imam sekadar ingin "menguji" bagaimana dia shalat. Kemudian
kelak akan kuulangi shalatku. Seusai kami shalat maghrib, wirid, zikir dan bacaan-bacaan
do'anya yang sangat memikat, akhirnya kuubah niatku yang tadinya ingin mengulangi shalat.
Aku merenung seakan aku tengah bermakmum dengan salah seorang dari sahabat yang
mulia, dimana aku belajar darinya, dari sifat wara' dan taqwanya. Usai shalat beliau membaca
doa yang panjang yang tidak pernah kudengar di Tunisia maupun di negeri-negeri yang
pernah kukunjungi. Setiap kali kudengar beliau bershalawat kepada Muhammad dan
keluarganya dan memuji-mujinya hatiku terasa sangat tenteram dan tenang. Kuperhatikan
juga bekas-bekas tangis membekas pada kedua belah matanya. Aku juga mendengar beliau
mendoakanku semoga Allah membukakan mata hatiku dan membimbingku.
Kami pergi ke kantin. Saat itu memang sudah nampak agak kosong. Beliau tidak mau duduk
sebelum aku sendiri yang duduk. Pelayan menghantarkan kepada kami dua pinggan
makanan. Kulihat temanku ini menggantikan pingganku dengan pinggannya, karena bagian
laukku lebih sedikit dibandingkan dengan bagian dagingnya. Beliau melayaniku seolah-olah
aku adalah tamunya. Diceritakannya kepadaku berbagai riwayat tentang makanan, minuman
dan adab makan yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Sungguh aku sangat kagum pada akhlaknya. la tetap menjadi imam dalam shalat Isya' dan
membaca doa-doa yang panjang sehingga membuatku juga menangis. Aku mohon kepada
Allah agar memaafkan prasangkaku padanya, karena sebagian dari prasangka adalah dosa.
Tetapi siapa tahu?
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 22
Aku tidur dan memimpikan Irak serta seribu satu malamnya. Aku terbangun setelah ia
membangunkanku untuk shalat Shubuh. Kami shalat berjemaah dan setelah itu larut dalam
diskusi atas nikmat-nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kaum muslimin.
Kami tidur kembali. Ketika bangun kulihat dia tengah duduk di atas ranjangnya sambil
melintir tasbih, berzikir pada Allah SWT. Melihatnya hatiku terasa tenteram dan jiwa ini
terasa tenang. Lalu kumohon ampunan pada Allah.
Pada saat makan siang, kapten kapal mengumumkan bahwa kapal kami sudah menghampiri
pantai Lebanon. Dengan izin Allah kami akan berada di pelabuhan Beirut dalam waktu dua
jam kemudian. Dia menanyakan keputusanku. Aku jawab bahwa apabila Allah SWT
memudahkan urusan visa masuk, tiada alasan untukku menolak undangannya. Aku juga tak
lupa mengucapkan ribuan terima kasih atas amal baiknya ini.
Kami turun di Beirut dan bermalam di sana. Hari berikutnya kami berangkat ke Damascus
dan langsung menuju kedutaan Irak. Aku dapat visa masuk dengan sangat mudah; lebih cepat
dari yang kuduga. Begitu keluar, dan mengucapkan selamat padaku, sambil memuji-muji
kebesaran Allah.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 23
Pertama Kali Melawat Ke Irak
Kami berangkat ke Baghdad dari Damaskus dengan sebuah bus milik Syirkah an-Najafal-
A'lamiah. Saat itu suhu panas kota Baghdad mencapai empat puluh derajat celsius. Kami
memasuki wilayah perumahannya yang indah, di Mantiqah al-I'qal. Setibanya di rumah yang
full-AC, aku rasakan suatu kebahagiaan yang tersendiri. Sejenak setelah istirahat, teman ini
keluar dari dalam dengan membawa sehelai baju gamis panjang yang mereka sebut dengan
istilah Dasydasyah.
Kemudian dia menghidangkan untukku berbagai jenis buah-buahan dan makanan. Tidak
berapa lama setelah itu anggota keluarganya keluar dan mengucapkan salam padaku dengan
penuh hormat. Ayahnya memelukku seolah-olah ia telah mengenalku sejak lama. Ibunya
berdiri di tepi pintu dengan memakai a'baah (kain panjang) yang hitam sambil mengucapkan
salam dan ucapan selamat datang lainnya padaku. Atas nama ibunya, temanku minta maaf
karena tidak bisa bersalaman. Menurutnya, bersalaman antara laki-laki dan perempuan yang
bukan muhrim adalah haram.
Mendengar itu, aku semakin bertambah heran. Ternyata mereka yang kami tuduh sebagai
orang yang murtad justru lebih menjaga akhlak Islami dibandingkan kami. Dan selama
beberapa hari perjalananku bersamanya, kulihat dalam banyak hal ia memiliki akhlak yang
sangat tinggi dan jiwa yang bersih. Sikap rendah-dirinya dan sifat wara'nya belum pernah
kujumpai pada orang selainnya. Benar-benar kurasakan seakan aku bukan orang asing yang
sedang bertamu di rumahnya.
Pada malam hari kami naik ke bagian atas dari atap rumah. Tempat tidur telah dibentangkan
untuk kami di sana. Aku masih terjaga hingga larut malam. Seperti tak percaya apakah aku
dalam keadaan mimpi atau memang benar-benar sadar. Benarkah aku berada di Baghdad, di
sisi makam Syekh Abdul Qadir al-Jailaini?
Temanku tertawa dan bertanya apa yang dikatakan orang-orang Tunisia tentang Abdul Qadir
al-Jailani? Kuceritakan padanya sejumlah keramatnya yang sangat masyhur di tempat kami.
Begitu juga tempat-tempat yang menggunakan namanya. Abdul Qadir Jailani adalah pusat
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 24
dari suatu pusaran, sebagaimana Muhammad Rasulullah SAWW adalah penghulu para Nabi,
maka Abdul Qadir al-Jailani adalah penghulu para wali. Telapak kakinya di atas pundak
seluruh wali. Beliau pernah berkata: "Seluruh manusia tawaf di sekitar Ka'bah sebanyak tujuh
kali dan aku tawaf di sekitar Rumah ini dengan kemahku."
Aku berusaha meyakinkannya bahwa Syaikh Abdul Kadir al-Jailani bisa datang kepada
sejumlah murid dan pecintanya secara nyata, mengobati mereka dan menolong mereka dari
berbagai kesukaran. Ketika aku bercerita tentang wali ini aku lupa atau berpura-pura lupa
pada akidah Wahabiah yang kuketahui, yang mengatakan bahwa semua itu adalah syirik.
Ketika kusadari bahwa dia tidak begitu tertarik dengan ceritaku, akhirnya aku berupaya untuk
meyakinkan diriku bahwa yang kuceritakan barusan sama sekali tidak benar; dan kutanyakan
bagaimana pendapatnya.
Sambil tertawa ia berkata padaku: "Tidurlah dan istirahatlah dari segala keletihan yang kau
alami. Insya Allah besok kita akan ziarah pusara Syaikh Abdul Qadir al-Jailani."
Mendengar ini aku merasa sangat gembira. Sedemikian rupa sehingga kuharap kalau-kalau
waktu fajar akan segera menyingsing. Tetapi rasa letih yang amat sangat menyebabkan diriku
tertidur sangat pulas sampai matahari terbit dan hilang waktu Shubuhku. Temanku
mengatakan bahwa dia telah berkali-kali coba membangunkanku. Namun karena terlalu letih,
mungkin aku tidak mendengarnya.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 25
Abdul Qadir Al-Jailani dan Musa Al-Kazim
Usai makan pagi kami pergi ke makam Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Dari jauh dapat kulihat
makam yang sejak lama aku impikan itu. Aku bergegas seolah-olah sangat merindukannya.
Dengan penuh semangat aku berjalan masuk ke dalam, tak sabar ingin segera berada dalam
pelukannya. Temanku mengikutiku kemana pun aku pergi. Tak lama setelah itu, aku telah
berada di antara rombongan para peziarah yang bagaikan jemaah haji Baitullah al-Haram.
Ada yang menebarkan segenggam manisan, kemudian direbut oleh penziarah lain. Aku
mengikuti kerumunan orang yang memperebutkan manisan itu, dan berhasil mengambil dua
buah diantaranya. Satu kumakan sebagai berkat dan satu lagi kusimpan sebagai kenangkenangan.
Kemudian aku shalat dan berdo'a pendek. Kuminum airnya yang kurasakan seperti air
zamzam. Kuminta temanku untuk menunggu sejenak karena aku akan menulis sejumlah
surat ringkas pada teman-temanku di Tunisia di atas postcard berlatar kubah makam
berwarna hijau. Aku hanya ingin menceritakan betapa baiknya nasib yang telah membawaku
sampai ke sini.
Sepulang dari sana kami makan siang di sebuah restoran lokal yang terletak di tengah-tengah
kota Baghdad. Lalu temanku memanggil taksi dan kudengar ia menyebutkan nama sebuah
tempat, Kazimiah. Dalam perjalanan nampak olehku sekumpulan orang, laki-laki dan
perempuan membawa bekal masing-masing, berjalan berbondong-bondong menuju satu
arah. Lagi-lagi, ini mengingatkanku pada musim haji. Di kejauhan tampak menara dan kubah
keemasan amat mencolok mata. Mungkin itu salah satu mesjid mereka. Karena, salah satu
kebiasaan kaum Syi'ah yang kuketahui adalah menghias masjid-masjid dengan perak dan
emas.
Sungguh berat rasanya melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam. Namun, untuk
menghargai niat baik temanku, aku mengikutinya juga.
Kami masuk melalui pintu pertama. Kuperhatikan banyak sekali orang-orang tua yang
mengusap-usap dan menciumi pintu-pintu masuk. Sampailah mataku terpandang pada
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 26
sebuah papan yang ditulis dengan huruf besar "Dilarang Masuk Wanita Yang Tidak Menutup
Aurat". Juga terpampang kata-kata Imam Ali, "Akan datang pada manusia suatu zaman di
mana wanita-wanitanya keluar dengan memakai pakaian yang tipis..." Kami tiba di makam.
Ketika temanku membaca do'a izin-masuk, kulihat ukiran yang ada dalam pintu itu. Aku
sangat kagum akan emas dan ukiran ayat-ayat AlQuran yang ada di dalamnya.
Kuikuti langkah temanku yang terus masuk ke dalam dengan penuh rendah hati.
Prasangkaku terhadap Syi'ah tentu tak bisa pupus begitu saja. Terus terang, aku berada dalam
suatu tempat yang tak pernah terbayangkan. Bagian dari makamnya sarat dengan ukiran dan
hiasan. Orang banyak berkerumun mengelilingi kuburan sambil menangis dan menciumi
tiang-tiang dan besi-besinya. Aku melihat mereka dengan perasaan yang jijik. Aku teringat
pada hadis yang berbunyi, "Allah telah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani lantaran mereka
telah jadikan kuburan para wali mereka sebagai masjid."
Aku menjauh dari temanku yang langsung saja menangis seketika masuk ke dalam. Sambil
menunggu dia shalat, kubaca sebuah tulisan doa ziarah yang tergantung di atas makam.
Kubaca berulang-ulang, namun tetap tak kumengerti artinya. Kemudian aku berdiri di sebuah
sudut yang agak jauh lalu membaca al-Fatihah sambil kutujukan pada orang yang berada
dalam kuburan itu. Aku berdoa: "Ya Allah, seandainya penghuni kubur ini termasuk dalam
golongan orang-orang muslimin maka kasihanilah dia. Dan Kau lebih tahu dariku".
Tak lama kemudian temanku mendekat. Dia berbisik, "Apabila kau punya hajat mintalah
pada Allah di tempat ini. Kami menamakan tempat ini dengan Bab al-Hawaij (Pintu Hajat)".
Aku tidak mempedulikan apa yang dikatakannya. (Semoga Allah memaafkanku) Aku terpaku
ketika memandang sebagian orang tua yang memakai sorban hitam dan putih, dan di dahi
mereka ada tanda hitam bekas sujud. Mereka tampak sangat berwibawa dengan janggut
mereka yang terulur rapi dan berbau wangi semerbak. Pandangan mereka tajam dan
menakutkan. Setiap kali mereka masuk ke tempat itu tiba-tiba mereka menangis tersedusedu.
Aku bertanya dalam hati, mungkinkah derai tangis itu adalah tangisan yang tak jujur?
Mungkinkah orang-orang tua itu salah?
Aku keluar dari sana dengan diliputi rasa bingung dan takjub. Temanku berjalan mundur
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 27
ketika keluar meninggalkan makam itu, agar punggungnya tak membelakangi pusara.
Aku bertanya kepadanya: "Siapa penghuni makam ini ?"
"Imam Musa al-Kazim " jawabnya.
"Siapa itu Imam Musa al-Kazim?"
"Subhanallah. Kalian saudara-saudara kami dari mazhab Ahlu Sunnah Wal Jamaah telah
meninggalkan isi dan berpegang hanya pada kulit."
"Apa maksud Anda? " Tanyaku jengkel.
"Ya akhi!" Katanya coba menenangkanku. "Sejak Anda tiba di Irak, sering Anda sebut nama
Abdul Qadir al-Jailani. Tahukah Anda siapa itu Abdul Qadir al-Jailani, yang padanya Anda
curahkan seluruh perhatian?"
"Beliau adalah zuriat Nabi SAWW. Seandainya ditakdirkan ada Nabi lain setelah Nabi
Muhammad maka Abdul Qadir Jailanilah yang akan menjadi nabi."
"Ya akhi Samawi. Apakah Anda tahu sejarah Islam?."
"Ya!" jawabku tanpa ragu-ragu.
Padahal aku tidak tahu sama sekali tentang sejarah Islam. Guru-guru kami dahulunya
melarang kami membaca sejarah. Mereka berkata bahwa sejarah itu hitam, gelap dan tidak
berguna untuk dipelajari. Aku masih ingat seorang di antara guruku yang mengajar Ilmu
Balaghah (sastra). Waktu itu beliau mengajar kepada kami Khutbah Syiqsyiqiyah dari kitab
Nahjul Balaghah, koleksi khutbah, surat-surat dan pidato Imam Ali. Aku dan sejumlah murid
yang lain merasa agak bingung ketika membacanya. Kuberanikan diri untuk
mempertanyakan kebenaran kata-kata Imam Ali. Guru itu menjawab: "Ya. Apakah ada orang
lain yang sefasih Imam Ali. Seandainya buku ini bukan koleksi dari kata-kata Imam Ali
Karramallah Wajhahu, maka ulama-ulama besar seperti Syaikh Muhammad Abduh, Mufti
Besar Mesir misalnya, tidak akan mau men-syarah-kannya. " Kukatakan pada guruku saat itu,
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 28
"Imam Ali telah menuduh Abubakar dan Umar merampas hak khilafahnya." Mendengar ini
guruku terbelalak dan marah sekali sampai mengancam akan mengeluarkanku apabila
kuulangi pertanyaan yang serupa. Katanya, "Kami hanya mengajar ilmu balaghah, bukan ilmu
sejarah. Jangan kita peduli dengan sejarah yang telah dihitamkan lembarannya oleh berbagai
fitnah dan pertumpahan darah sesama kaum muslimin. Sebagaimana Allah telah sucikan
pedang kita dari darah-darah mereka, maka kita sucikan juga lidah-lidah kita dari mencaci
mereka!"
Aku tidak puas dengan alasan guruku seperti itu. Aku masih menaruh rasa dendam pada
guruku yang mengajar ilmu balaghah tanpa mengajarkan maknanya yang jelas. Berkali-kali
aku berusaha untuk mengkaji sejarah Islam, namun aku tidak memiliki rujukan yang
memadai. Ulama-ulama kami juga tidak memberikan perhatian terhadapnya, seolah-olah
ilmu sejarah adalah lembaran hitam yang telah ditutup untuk selama-lamanya.
Ketika temanku menanyakanku pengetahuanku akan ilmu sejarah aku ingin sekedar
membantahnya dengan mengatakan "Ya". Padahal dalam benakku aku berpikir bahwa itu
semua tidak berguna. Itu adalah sejarah hitam dan gelap. Tiada lain kecuali fitnah, perang
dan berbagai kontradiksi.
Temanku bertanya lagi kepadaku: "Tahukah Anda kapan Abdul Qadir al-Jailani dilahirkan
dan di zaman apa ?"
"Kira-kira pada abad keenam atau ketujuh."
"Berapa lama jaraknya dengan zaman Rasulullah?"
"Enam abad." Jawabku.
"Jika satu abad ada dua generasi -paling sedikit- berarti antara Abdul Qadir al-Jailani dengan
Rasulullah dipisahkan oleh dua belas keturunan."
"Ya." Jawabku.
"Yang ini adalah Musa bin Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Fatimah az-Zahra',
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 29
yang nasabnya sampai kepada datuknya Nabi SAWW hanya lewat empat ayah saja, atau
tepatnya beliau dilahirkan pada abad kedua Hijriah. Mana yang lebih dekat pada Rasulullah,
Musa atau Abdul Qadir?"
"Tentu Musa." Jawabku tanpa berpikir lagi. "Tapi, kenapa kami tidak mengenalnya dan tidak
pernah mendengar tentang dirinya?"
"Inilah masalah yang harus kita pikirkan. Itulah mengapa saya katakan tadi bahwa kalian
-maaf- meninggalkan isi dan berpegang hanya pada kulit saja. Maafkan saya mengatakan
demikian."
Kami terus berdiskusi sambil berjalan sampailah kami tiba di suatu halaqah, tempat para
pelajar dan sejumlah ustadz lain asyik berdiskusi dan bertukar pikiran. Kami duduk di sana.
Temanku tampak sedang mencari-cari seseorang. Mungkin ia punya janji dengan temannya.
Kemudian ada seseorang datang menghampirinya. Usai mengucapkan salam, akhirnya aku
tahu bahwa dia adalah teman semahasiswa dari universitas yang sama. Temanku bertanya
akan seseorang yang dari jawabannya kuketahui bahwa dia adalah seorang doktor, dan segera
akan datang. Kemudian temanku berkata padaku, "Aku membawamu ke tempat ini karena
ingin mengenalkanmu pada seorang doktor ahli sejarah. Beliau adalah lektor Universitas
Baghdad. Tesisnya dahulu berkenaan dengan sejarah Abdul Qadir al-Jailani. Insya Allah dia
akan bermanfaat besar bagimu, karena saya sendiri bukan pakar dalam bidang ini."
Kami minum air sari buah yang sejuk. Tak lama kemudian Doktor sejarah itu tiba. Temanku
mengucapkan salam padanya sambil berdiri. Diperkenalkannya aku dan dimintanya agar
Doktor ini menceritakan padaku tentang sejarah Abdul Qadir al-Jailani secara ringkas. Lalu
dia sendiri minta izin sebentar karena beberapa kerjaan penting yang mesti diselesaikannya.
Doktor ini pun memesan lagi untukku segelas minuman dingin lainnya, lalu menanyakan
namaku, negeriku dan profesiku. Ia juga memintaku bercerita tentang kemasyhuran Abdul
Qadir al-Jailani di Tunisia.
Banyak kuceritakan padanya kisah tentang Abdul Qadir al-Jailani. Bahkan sebagian orang
percaya bahwa Syaikh Abdul Qadir telah memikul Nabi pada malam peristiwa mi'raj ketika
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 30
malaikat Jibril sendiri mundur dan takut terbakar. Kemudian Nabi SAWW berkata padanya:
"Telapak kakiku di atas bahumu dan telapak kakimu di atas bahu para wali hingga hari
kiamat." Doktor ini langsung saja tertawa ketika mendengar ceritaku. Entahlah, apakah
karena mendengar cerita itu atau karena sang ustadz Tunisia yang tengah berada
dihadapannya.
Usai diskusi ringkas tentang wali-wali dan orang-orang shaleh beliau berkata bahwa beliau
telah meneliti tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailani selama tujuh tahun. Beliau telah
berkunjung ke Lahore Pakistan, Turki, Mesir, Inggris dan tempat-tempat lain yang
menyimpan manuskrip tulisan tangan tentang Abdul Qadir al-Jailani. Semua manuskrip itu
dibaca bahkan digambar. Kesemua manuskrip yang ada tidak membuktikan bahwa Syaikh
Abdul Qadir al-Jailani berasal dari keturunan Nabi.
"Ada sebuah syair yang dinisbahkan kepada salah seorang dari cucunya, yang antara lain
berbunyi: 'Dan datukku Rasulullah.' Sebagian ulama mengartikan bahwa ucapan itu adalah
takwil dari sebuah hadis Nabi yang bermaksud: 'Aku adalah datuk bagi setiap orang yang
bertakwa'. Sejarah yang sahih juga membuktikan bahwa Abdul Qadir al-Jailani berasal dari
Persia, bukan Arab. Beliau dilahirkan di suatu negeri di Iran yang bernama Gilan, dan kepada
negerinya itulah Syaikh Abdul Qadir dinisbahkan. Kemudian beliau pergi ke Baghdad untuk
belajar dan mengajar di mana akhlak masyarakat saat itu sudah sangat runtuh. Syaikh Abdul
Qadir al-Jailani adalah seorang yang zahid. Masyarakat sekitar sangat mencintainya. Setelah
wafatnya mereka dirikan sebuah tarekat yang dinisbahkan pada dirinya yang kemudian
populer dengan nama Qadiriyah. Hal ini juga biasa dilakukan oleh pengikut-pengikut para
sufi lain." Kemudian beliau melanjutkan lagi: "Sungguh, dari sisi ini keadaan orang-orang
Arab memang sangat mengecewakan."
Tiba-tiba saja rasa ke-Wahhabiah-an muncul kembali dalam diriku. "Kalau begitu Anda telah
berpikir seperti orang-orang Wahhabi!" Sahutku. "Mereka berkata seperti Anda bahwa tiada
yang disebut wali dalam Islam."
"Tidak. Aku tidak sependapat dengan Wahhabiah. Yang sangat mengecewakan adalah sikap
kaum muslimin yang sering bernada ekstrem: Di satu sisi ada yang percaya pada semua
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 31
khurafat yang tidak bersandarkan pada alasan dan hujjah syara' dan akal, dan di sisi lain ada
juga yang mendustakan hatta mukjizat Nabi kita Muhammad SAWW dan hadis-hadisnya
sekalipun, semata-mata karena tidak sejalan dengan akidah dan jalan pikiran mereka. Satu
terbit dan yang lain tenggelam. Orang-orang Sufi berkata bahwa Syaikh Abdul Qadir al-
Jailani -misalnya- bisa berada di Baghdad dan di Tunisia pada masa yang sama. Beliau bisa
mengobati seseorang yang sakit di Tunisia dan juga menyelamatkan seorang yang tenggelam
di dalam sungai Dajlah di Irak dalam masa yang sama. Sikap seperti ini adalah sikap ekstrem
dan berlebih-lebihan. Sementara Wahhabiah -sebagai reaksi pada Sufi- menolak semua itu
bahkan mengatakan bahwa mereka yang bertawasul pada Nabi SAWW adalah syirik. Sikap
seperti ini adalah sebuah sikap jumud. Allah berfirman dalam kitab-Nya, 'Demikianlah Kami
jadikan kamu sebagai ummat yang wasatha (tengah) agar kelak menjadi saksi kepada
ummat manusia'" (QS. Al Baqarah: 143)
Kata-kata Doktor ini sangat menusuk kalbuku. Aku sangat berterima kasih kepadanya dan
kutunjukkan juga rasa kepuasanku pada apa yang diucapkannya. Kemudian beliau membuka
tasnya dan mengeluarkan buku karyanya tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Buku itu
kemudian dihadiahkannya padaku. la mengundangku untuk berkunjung ke rumahnya. Tapi
aku mohon maaf lantaran beberapa hal. Kami terus berbicara tentang Tunisia dan Afrika
Utara sampai temanku datang.
Ketika malam tiba kami pulang ke rumah setelah satu hari penuh ziarah dan diskusi.
Kurasakan badanku sangat letih sehingga aku bisa tidur lebih awal dari biasanya.
Usai shalat Shubuh keesokan harinya aku baca kitab yang berkaitan dengan biografi Abdul
Qadir al-Jailani ini sampai setengahnya. Dari tadi temanku telah berulang kali mengajakku
sarapan pagi. Namun kutolak karena penasaran ingin menyelesaikan buku ini. Sungguh
sebuah karya yang sangat memukau dan mengajakku untuk berpikir kritis. Tapi kemudian ia
segera hilang dibawa angin sebelum aku sempat meninggalkan Irak sekalipun.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 32
Ragu-Ragu
Selama tiga hari aku tinggal di rumah temanku. Seringkali kurenungkan setiap ucapan yang
kudengar dari mulut mereka. Aku merasa seakan baru menemukan orang-orang asing yang
datang dari bulan. Mengapa berita mereka tidak sampai kepada kami melainkan yang burukburuk
dan dusta saja? Mengapa orang gemar membenci dan dengki pada orang-orang yang
belum mereka kenal? Betapa berlebihan fitnah-fitnah yang seringkali kami dengar tentang
mereka; bahwa mereka menyembah Ali, menempatkan imam-imam mereka setara dengan
Tuhan, mempercayai 'hulul' (inkarnasi) dan menyembah batu.
Ketika ayahku pulang haji, beliau bercerita bahwa orang-orang Syi'ah datang ke pusara Nabi
kemudian melemparinya dengan kotoran dan najis. Karenanya mereka kemudian ditangkap
oleh polisi-polisi Saudi dan dihukum mati. Tuduhan-tuduhan seperti itu banyak dilemparkan
pada mereka yang tak mungkin kuceritakan di sini.
Tidak aneh kalau kemudian itu semua melahirkan rasa benci kaum muslimin terhadap
mereka. Bahkan sewaktu-waktu bisa memerangi mereka. Namun bagaimana mungkin aku
akan percaya pada fitnah-fitnah seumpama itu sementara mata dan telingaku sendiri
menyaksikan sesuatu yang sangat berbeda dari apa yang mereka katakan. Aku telah tinggal
bersama mereka lebih dari satu minggu. Dan aku tidak melihat atau mendengar dari mereka
kecuali sesuatu yang rasional yang mampu menembus akal-pikiran tanpa hambatan
sedikitpun. Bahkan cara mereka beribadah, sembahyang, berdoa, akhlak dan sikap hormat
mereka kepada para ulama sangat mengagumkanku, sampai aku sendiri sempat beranganangan
untuk menjadi seperti mereka.
Aku masih bertanya-tanya benarkah mereka membenci Rasulullah SAWW? Setiap kali aku
sebut nama Muhammad untuk menguji mereka, serta merta mereka akan sebut shalawat
kepada Muhammad dan keluarganya. Mula-mula kupikir bahwa mereka mungkin berpurapura.
Tetapi dugaanku meleset setelah kubuka lembaran-lembaran buku mereka yang
kubaca. Di dalamnya tertulis sikap hormat dan memuliakan Nabi lebih dari apa yang tertulis
dalam kitab-kitab kami sendiri. Mereka mengatakan bahwa Nabi itu ma'sum dalam segala
hal, baik sebelum beliau diutus sebagai Nabi atau sesudah diutus. Sementara AhluSunnah
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 33
Wal Jamaah mengatakan bahwa Nabi ma'sum hanya ketika menyampaikan (wahyu) AlQuran
saja. Selebihnya beliau adalah manusia biasa yang juga bersalah. Seringkali kita juga berdalih
atas kesalahannya dengan membenarkan tindakan atau pendapat sebagian sahabat. Dalam
hal ini kita banyak mempunyai contoh. Namun orang Syi'ah menolak mengatakan bahwa
Nabi yang mulia pernah melakukan perbuatan yang salah sementara para sahabat semuanya
benar. Nah, bagaimana mungkin aku akan mempercayai propaganda orang yang mengatakan
bahwa orang-orang Syi'ah membenci Nabi SAWW?
Suatu hari dalam perbincanganku dengan temanku, aku meminta agar beliau menjawab
pertanyaan-pertanyaanku dengan tegas. Aku bertanya, "Benarkah kalian (orang Syi'ah)
meletakkan Ali r.a. setara dengan para nabi? Setiap kali kalian menyebut nama Ali, kudengar
kalian akan mengiringinya dengan kalimat alaihissalam."
"Ya, memang benar kami mengucapkan kalimat alaihissalam setiap kali kami sebut nama Ali
atau nama para imam dari keturunan Nabi SAWW. Hal itu tidak berarti bahwa mereka adalah
para nabi. Mereka adalah anak keturunan Nabi Muhammad dan keluarganya di mana Allah
perintahkan kita untuk mengirimkan shalawat padanya. Dengan demikian maka boleh juga
kita ucapkan kepada mereka kalimat alaihimussholatu wassalam."
"Tidak ya akhi," jawabku. "Kami hanya mengkhususkan shalawat dan salam kepada Nabi
Muhammad dan para nabi sebelumnya saja. Ali dan anak-anaknya r.a. tidak termasuk dalam
kategori ini."
"Kuharap Anda bisa membaca lebih banyak lagi agar dapat mengetahui hakikat yang
sebenarnya."
"Kitab apa yang mesti aku baca. Bukankah Anda mengatakan bahwa kitab-kitab karya Ahmad
Amin tidak merujuk kepada Syi'ah. Demikian juga kitab-kitab Syi'ah. Bagi kami kitab-kitab
Syi'ah tidak mengandung kekuatan hujjah dan tidak bisa dijadikan sebagai pegangan.
Bukankah kitab-kitab Nasrani mengatakan bahwa Isa pernah menyatakan dirinya:
"Sesungguhnya aku adalah anak Allah". Sementara AlQuran -Kitab yang paling benarmenuliskan
kata-kata Isa bin Maryam: "Aku tidak katakan kepada mereka kecuali apa yang
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 34
Kau perintahkan aku bahwa sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian."
"Baik. Sungguh baik. Apa yang aku inginkan hanya ini, yakni penggunaan akal dan logika
serta berhujjah dengan AlQuran al-Karim dan Sunnah yang sahih sebagaimana yang
diperintahkan. Seandainya kita berdiskusi dengan orang-orang Yahudi atau Nasrani, maka
hujjah kita tentu akan lain lagi bentuknya."
"Di kitab mana saya bisa dapatkan kebenaran? Setiap pengarang, setiap orang dan setiap
mazhab mengaku dirinya pada jalan yang benar."
"Aku akan tunjukkan padamu suatu dalil yang sangat nyata dan disepakati oleh kaum
muslimin dari berbagai mazhab. Sayangnya Anda juga tidak mengetahuinya."
"Tuhanku tambahkan padaku ilmu pengetahuan." Jawabku singkat. "Apakah Anda pernah
baca tafsir ayat berikut: 'Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada
Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian atasnya dan ucapkanlah salam'
(QS. Al-Ahzab: 56) Para ahli tafsir, Sunnah dan Syi'ah, meriwayatkan bahwa sejumlah
sahabat datang kepada Nabi SAWW dan bertanya, 'Ya Rasulullah, kami tahu bagaimana cara
mengucapkan salam kepadamu, tetapi kami tidak tahu bagaimana cara mengucapkan
shalawat kepadamu. Kemudian Rasulullah menjawab, 'Katakanlah, ya Allah kirimlah
shalawat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad, sebagaimana kau kirimkan shalawat
kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim di alam semesta. Sesungguhnya Kau Maha Terpuji dan
Maha Agung.' Dan hadis lain, Jangan kalian ucapkan shalawat kepadaku dengan shalawat
yang terputus. Sahabat bertanya, 'Ya Rasulullah apa itu shalawat yang terputus?' Baginda
menjawab: 'Kalian mengucapkan shalawat kepada Muhammad, namun setelah itu kalian
diam. Sesungguhnya Allah itu Maha Sempurna dan tidak menerima melainkan yang
sempurna juga.'"
Itulah mengapa para sahabat dan generasi berikutnya tahu bagaimana cara mengucapkan
shalawat kepada Rasulullah SAWW secara sempurna. Imam Syafi'i pernah berkata dalam
sebuah syairnya:
Wahai keluarga Rasulullah
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 35
Mencintai kalian adalah fardu dari Allah di dalam AlQuran yang diturunkan-Nya
Sudah cukup suatu keagungan bagi kalian siapa yang tidak bershalawat kepada kalian
maka tiada akan sah shalatnya
Kata-kata itu benar-benar mengetuk telingaku dan menembus jauh ke kedalam hatiku.
Kudapati sebuah reaksi yang positif dalam jiwaku. Secara jujur harus kuakui bahwa aku
pernah membaca tulisan serupa itu dalam sebuah buku. Tetapi aku tidak ingat nama kitab itu
secara pasti. Aku katakan kepadanya bahwa ketika kami mengucapkan shalawat kepada Nabi
kami juga mengucapkan shalawat kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya. Kami tidak
mengkhususkan salam kepada Ali seperti yang dilakukan oleh orang-orang Syi'ah.
"Apa pendapatmu tentang Bukhari? Apakah beliau orang Syi'ah?" Tanyanya kepadaku.
"Beliau adalah seorang imam yang agung dari kalangan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Kitabnya
adalah kitab yang paling sahih sesudah kitab Allah." Jawabku.
Kemudian beliau berdiri dan mengambil kitab Shahih al-Bukhari dari perpustakaannya.
Dicarinya halaman yang diinginkannya lalu diberikannya kepadaku untuk kubaca. Isinya:
"Diriwayatkan oleh Fulan bin Fulan dari Ali alaihis-salam." Melihat ini rasanya aku tidak
percaya sama sekali. Aku terkejut bahkan ragu-ragu apakah benar kitab ini adalah kitab
Shahih Bukhari. Berkali-kali kulihat halaman dan nama buku. Memang itu adalah kitab
Shahih Bukhari. Ketika temanku menyadari keragu-raguanku, ia ambil kitab itu dari
tanganku dan dibukanya lagi halaman yang lain. Isinya: Diriwayatkan oleh Ali bin Husain
alaihimassalam. Waktu itu aku hanya bisa mengucap kalimat Subhanallah. Kemudian beliau
meninggalkanku dan melangkah keluar.
Aku terus berpikir dan membaca halaman-halaman yang ditunjukkannya padaku
berulangkali. Aku teliti cetakan mana yang menerbitkan kitab ini. Kudapati ia dicetak oleh
Syarikat al-Halabi Dan Anak-anak, di Mesir.
Ya Ilahi. Kenapa mesti kubantah dan bersikap sombong. Dia telah memberiku suatu hujjah
yang nyata dari kitab yang paling shahih di sisi kami. Bukhari pasti bukan seorang Syi'ah.
Beliau adalah salah seorang di antara imam-imam Ahlu Sunnah dan ahli hadis yang agung.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 36
Apakah aku mesti menyerah pada kebenaran ini, yakni mengatakan alaihissalam ketika
menyebut nama Ali. Namun aku masih merasa takut untuk berpegang pada hakikat ini.
Karena mungkin ada hakikat lain yang belum kuketahui. Yang pasti, aku telah kalah hujjah di
hadapan temanku sebanyak dua kali. Aku telah mengendurkan kepercayaanku akan kesucian
Abdul Qadir al-Jailani dan aku menerima bahwa Musa al-Kazim adalah lebih utama darinya.
Aku juga menerima kenyataan bahwa ucapan alaihissalam adalah benar. Tetapi aku tidak
mau menerima kekalahan yang lain. Aku yang sebelum ini dikenal di Mesir sebagai orang
alim, bahkan ulama-ulama al-Azhar memuji kehebatanku, tiba-tiba hari ini kudapati diriku
kalah dan tak berdaya. Dari siapa? Dari mereka yang sebelum ini dan sampai sekarang masih
kupercayai sebagai kelompok yang salah. Aku telah terbiasa mendengar bahwa kalimat Syi'ah
identik dengan cacian.
Sungguh ini adalah sikap sombong dan ego, sikap fanatisme dan angkuh. Ya Allah,
bimbinglah aku. Bantulah aku dalam menerima kebenaran walaupun pahit. Ya Allah,
bukakanlah pandangan mata dan hatiku. Tunjukkanlah aku ke jalan yang lurus. Jadikanlah
aku di antara orang-orang yang mendengar perkataan lalu mengikuti yang terbaik. Ya Allah,
perlihatkanlah kepada kami kebenaran, lalu karuniakan kepada kami untuk mengikutinya.
Perlihatkanlah juga kepada kami kebatilan, lalu kurniakan kami untuk menghindarinya.
Sambil membaca-baca doa ini kami kembali pulang ke rumah. Temanku tersenyum. Katanya,
"Semoga Allah membimbing kita dan semua kaum muslimin. Allah telah berfirman dalam
kitab-Nya: 'Dan barang siapa yang berjuang dijalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan
kepada mereka jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang baik.' (QS.
Al-Ankabut: 69) Kalimat berjuang di dalam ayat ini bermaksud mengkaji ilmu yang mungkin
akan menghantar pada suatu kebenaran. Dan Allah SWT pasti akan menyampaikan kepada
kebenaran bagi mereka yang mencari kebenaran."
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 37
Berangkat Ke Najaf
Malam itu temanku memberitahu bahwa besok Insya Allah kami akan pergi ke Najaf. "Apa itu
Najaf?" Tanyaku. "Satu kota ilmu, tempat kuburan Imam Ali" jawabnya. Aku merasa kaget.
Bagaimana mungkin Imam Ali mempunyai kuburan yang terkenal. Bukankah syaikh-syaikh
kami mengatakan bahwa Sayyidina Ali tidak diketahui dengan pasti di mana kuburannya?
Kami berangkat dengan kendaraan umum hingga sampai di Kufah. Di sana kami melawat
Jami' al-Kufah, salah satu di antara peninggalan Islam yang terkenal. Temanku menunjukkan
padaku berbagai tempat bersejarah seperti Jami' Muslim bin Aqil dan Hani' bin Urwah.
Diceritakannya kepadaku secara ringkas bagaimana mereka berdua syahid. Ditunjukkannya
juga kepadaku mihrab tempat syahidnya Imam Ali, dan rumah tempat kediamannya bersama
dua putranya Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain. Di rumah itu masih ada sumur tempat
mereka mengambil air minum dan berwudhu'. Seketika itu kurasakan jiwa yang penuh
nikmat karena menyaksikan betapa zuhudnya kehidupan Imam dan betapa sederhananya
beliau; seorang Amir al-Mukminin dan khalifah yang keempat.
Tak dapat kulupakan juga sikap rendah hati dan hormat yang kusaksikan dari penduduk kota
Kufah. Setiap kali kami melewati sebuah kerumunan, mereka akan berdiri sambil
mengucapkan salam pada kami. Nampaknya temanku banyak mengenal mereka. Salah
seorang dari mereka -ketua sebuah akademi di Kufah- mengundang kami ke rumahnya. Di
sana kami berjumpa dengan anak-anaknya dan sempat bermalam. Aku merasakan seolaholah
berada di tengah keluargaku. Setiap kali mereka berbicara tentang Ahlu Sunnah Wal
Jamaah, mereka akan menyebutnya dengan kata-kata "Saudara-saudara kita dari mazhab
Ahlu Sunnah". Aku sangat senang dengan ucapan-ucapan itu. Kuajukan kepada mereka
beberapa pertanyaan untuk menguji sejauh mana kejujuran kata-kata mereka.
Kemudian kami menuju Najaf, sejauh sepuluh kilometer dari Kufah. Setibanya di sana
gambaran-gambaran tentang masjid al-Kazimiah terukir kembali di benakku. Menaramenara
keemasan nampak mengelilingi kubah yang terbuat dari emas murni. Kami masuk ke
Haram Imam (Ali) setelah membaca izin masuk seperti kebiasaan para penziarah Syi'ah. Di
sini kulihat sesuatu yang lebih hebat dari pernah yang kulihat di Jami' Musa al-Kazim. Seperti
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 38
biasa aku membaca surah al-Fatihah tanpa menaruh keyakinan bahwa orang yang berada di
kubur ini adalah Imam Ali. Aku seakan lebih percaya tentang kesederhanaan rumah yang
dihuni oleh Imam Ali di Kufah. Aku berkata dalam hati, mana mungkin Imam Ali akan rela
dengan kemegahan emas dan perak seperti ini sementara orang-orang Islam mati kelaparan
di belahan dunia lain. Khususnya setelah aku saksikan sejumlah fakir miskin yang memintaminta
sedekah di jalan-jalan sekitar wilayah Haram itu. Jiwaku memprotes. Wahai orangorang
Syi'ah, kalian keliru. Paling tidak akuilah kesalahan ini. Imam Ali adalah orang yang
diutus oleh Rasul untuk menyamaratakan kuburan, lalu apa artinya kuburan yang dihiasi
dengan emas dan perak ini. Walaupun tidak syirik, paling tidak ia adalah suatu kesalahan
besar yang tidak akan dimaafkan oleh Islam.
Temanku bertanya padaku sambil mengulurkan sepotong tanah kering apakah aku akan
shalat? Kujawab dengan tegas bahwa kami tidak shalat di sekitar kuburan. "Kalau begitu
tunggu saya sebentar untuk shalat sunnat dua rakaat," Pintanya.
Sambil menunggu aku membaca beberapa tulisan yang tergantung di atas makam. Dari celahcelah
besi perak yang berukir aku saksikan sejumlah mata uang yang menumpuk: ada
Dirham, Riyal, Dinar, Lerah dan sebagainya. Semua itu diberikan oleh para penziarah sebagai
tabarruk (ikut ambil berkat) dalam kerja-kerja bakti yang berkaitan dengan makam ini.
Saking banyaknya, aku duga bahwa ia telah terkumpul sejak berbulan-bulan yang lalu. Tetapi
temanku berkata bahwa para petugas yang bertanggungjawab memungutnya setiap malam
ba'da shalat Isya'.
Aku keluar dengan hati yang kesal. Aku berpikir adalah lebih baik apabila berikan padaku
barang sedikit; atau membagi-bagikannya kepada para fakir miskin yang begitu banyak ada di
sekitar. Aku perhatikan bahwa di sekitar makam ada sekerumunan orang yang tengah shalat,
dan sebagian yang lain khusyu' terbuai mendengar ceramah yang tengah disampaikan dari
atas mimbar. Aku juga saksikan ada sebagian mereka yang menangis tersedu-sedu dan
sebagian yang lain ada yang memukul-mukul dada. Aku ingin sekali bertanya pada temanku
gerangan apa yang menyebabkan mereka menangis seperti itu dan memukul-mukul dada.
Tiba-tiba sebuah jenazah diusung di dekat kami. Kusaksikan juga ada sebagian mereka yang
mengangkat kerandanya di tengah-tengah ruangan lalu menurunkannya di sana. Aku
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 39
menduga mereka menangis karena jenazah yang baru lalu.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 40
Perjumpaan Dengan Ulama
Temanku mengajakku pergi ke sebuah masjid yang berada di sisi masjid jami'. Di dalamnya
terbentang permadani yang indah dan di mihrabnya juga terukir ayat-ayat AlQuran yang
sangat menarik. Tiba-tiba mataku tertuju pada kerumunan anak-anak remaja bersorban yang
tengak duduk mengelilingi mihrab. Mereka sedang belajar bersama-sama sambil memegang
kitab masing-masing. Aku sangat terpesona dengan pemandangan yang indah ini, karena
belum pernah kulihat syaikh-syaikh yang begitu muda, yang berumur sekitar tiga belasan
sampai enam belasan tahun. Terlebih pakaian yang mereka kenakan itu, benar-benar
membuat mereka tampak seperti bulan purnama yang bersinar.
Temanku bertanya tentang Sayed. Mereka menjawab bahwa beliau tengah shalat berjamaah.
Aku tidak tahu siapa Sayed yang dimaksudkan. Aku pikir beliau pasti seorang ulama.
Kemudian aku diberitahu bahwa beliau adalah Sayed al-Khui, pemimpin Hauzah Ilmiah bagi
orang-orang Syi'ah. Gelar Sayed dalam mazhab Syi'ah diberikan kepada mereka yang datang
dari keturunan Nabi SAWW. Seorang Sayed yang alim atau yang sedang belajar ilmu-ilmu
Islam akan memakai sorban hitam. Sementara ulama-ulama yang lain akan memakai sorban
putih dan dipanggil dengan gelar Syaikh. Orang-orang Sayed yang tidak alim, biasanya
memakai serban berwarna hijau.
Temanku meminta mereka menemaniku sejenak, dan dia akan pergi menemui Sayed. Mereka
menyambutku dengan penuh hangat sambil duduk mengelilingiku. Kuperhatikan wajahwajah
mereka dan kurasakan kebersihan hati mereka. Aku teringat pada sebuah hadis Nabi,
"Manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Ibu bapaknyalah yang akan meyahudikannya, atau
mengkristenkannya atau memajusikannya." Lalu kukatakan juga pada diriku, atau
"mensyi'ahkannya."
Mereka bertanya dari mana aku berasal. "Dari Tunisia." Kujawab. "Apakah di sana ada
Hauzah Ilmiah?" Tanya mereka lagi. "Hanya ada universitas dan sekolah-sekolah biasa."
Jawabku. Berbagai pertanyaan dilemparkan padaku, dan semuanya sungguh sulit kujawab.
Apa yang harus kukatakan kepada anak-anak tak berdosa seperti ini yang menduga bahwa
seluruh dunia Islam semuanya memiliki Hauzah Ilmiah yang mengajar Fiqh, Usul-fiqih,
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 41
Usuluddin, Syariah dan Tafsir. Mereka tidak tahu bahwa dunia Islam dan negara-negara kita
sekarang telah maju sangat pesat. Kita telah menggantikan madrasah-madrasah yang
mengajar AlQuran dengan taman kanak-kanak yang dipimpin oleh pendeta-pendeta Katolik.
Apakah harus kukatakan bahwa mereka masih ketinggalan dibanding kita?
Seorang diantara mereka bertanya: "Mazhab apa yang dianut di Tunisia?" "Mazhab Maliki"
jawabku. Kuperhatikan ada sebagian mereka yang tertawa. Tetapi aku tak peduli. "Apakah
Anda pernah tahu tentang mazhab Ja'fari?" Tanyanya lagi. "Nama baru apa ini? Tidak, kami
tidak tahu selain dari empat mazhab. Selain empat itu mereka bukan tergolong dari mazhab
Islam. "Jawabku.
Sambil tersenyum, dia berkata lagi: "Maaf, sebenarnya Mazhab Ja'farilah yang benar-benar
Islam. Bukankah Imam Abu Hanifah berguru kepada Imam Ja'far as-Shadiq? Itulah mengapa
Abu Hanifah berkata: "Kalau bukan karena dua tahun, maka Nu'man telah celaka." Aku
hanya diam saja. Nama itu baru bagiku, nama yang tidak pernah kudengar sebelum ini.
Namun aku memuji Allah bahwa Imam mereka Ja'far as-Shadiq tidak pernah menjadi guru
kepada Imam Malik." Kami ikut mazhab Maliki bukan Hanafi." Aku coba menjawab. "Imam
empat mazhab belajar satu sama lain", sambungnya. "Ahmad bin Hanbal belajar dari
Syafi'i; Syafi'i belajar dari Malik dan Malik belajar dari Abu Hanifah sementara Abu
Hanifah sendiri belajar dari Ja'far as-Shadiq. Dengan demikian maka mereka semua adalah
murid Ja'far as-Shodiq. Beliau juga adalah orang pertama yang membuka "universitas" Islam
di masjid datuknya Rasulullah SAWW. Lebih dari empat ribu ahli hadits dan ahli fiqih
berguru padanya."
Aku sangat terkejut mendengar perkataan anak muda yang bijak ini, yang hafal dengan apa
yang dikatakannya seperti hafalnya anak-anak kami suatu surah AlQuran. Lebih terkejut lagi
ketika dia sebutkan sebagian buku-buku rujukan sejarah beserta bilangan jilid dan babnya.
Dia sangat lancar berbicara seolah-olah seperti seorang guru di tengah muridnya. Aku merasa
lemah dihadapannya. Aku berharap kalau-kalau temanku segera datang supaya aku tidak
lebih lama berada di antara mereka. Setiap kali mereka bertanya padaku tentang fiqih atau
sejarah, aku tak mampu menjawabnya. Mereka bertanya lagi, kepada siapa aku bertaklid?
"Imam Malik" jawabku. "Bagaimana Anda mengtaklid seorang yang telah mati, yang jaraknya
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 42
antara Anda dan beliau sekitar empat belas abad. Jika Anda kini ingin bertanya padanya
tentang masalah-masalah yang kontemporer, apakah dia akan menjawab Anda?" Setelah
berpikir sejenak, kemudian aku berkata: "Ja'farmu juga telah mati empatbelas abad yang lalu.
Lalu kepada siapa Anda bertaklid?" "Kami bertaklid pada Sayed al-Khui. Beliau adalah Imam
kami." Jawabnya yang kemudian diikuti oleh teman-temannya yang lain.
Aku tidak tahu apakah Khui lebih alim ataukah Ja'far as-Shadiq. Aku berusaha mengubah
topik permasalahan dengan bertanya hal-hal lain. Aku menanyakan jumlah penduduk di
Najaf, berapa jauh jarak antara Najaf dan Baghdad, apakah mereka tahu negara-negara selain
Irak. Setiap kali mereka jawab, kuajukan pertanyaan-pertanyaan lain hingga mereka tidak
sempat lagi bertanya dariku. Ya, karena aku tidak mampu menjawab dan merasa bodoh.
Meskipun jauh dalam lubuk hatiku aku mengakui kebenaran kata-katanya. Segala sanjungan,
kemuliaan, dan penghormatan yang kudapat di Mesir, luluh seketika di sini, terlebih setelah
berjumpa dengan anak-anak ini. Di situ aku memahami makna sebuah syair yang berkata:
Katakan kepada mereka yang mengaku berfilsafat di dalam ilmu
Hanya sedikit yang kau tahu sementara banyak yang kau tidak tahu.
Sudah barang tentu akal anak-anak muda ini lebih tinggi dari akal syaikh-syaikh yang
kujumpai di al-Azhar; dan bahkan lebih tinggi dari akal ulama-ulama yang kukenal di Tunisia.
Sayed Khui masuk disertai serombongan ulama yang semuanya menyandang keagungan dan
kewibawaan. Anak-anak berdiri, dan aku juga ikut berdiri. Mereka menghadap Sayed dan
mencium tangannya dan aku tidak bergeming dari tempatku. Sayed tidak duduk sampai
semua yang hadir duduk terlebih dahulu. Beliau memulai kata-katanya dengan ucapan
massakum bil khoir, selamat petang, kepada setiap orang yang hadir. Kemudian dijawab
dengan kata-kata yang sama oleh mereka. Beliau juga mengucapkan kata-kata itu kepadaku
dan kujawab dengan jawaban yang sama.
Kulihat temanku tengah berbisik sesuatu kepada Sayed, lalu mengisyaratkan aku agar
mendekat dan duduk di sisi kanan Sayed. Setelah mengucapkan salam, temanku berkata
kepadaku: "Ceritakan kepada Sayed apa yang kalian dengar tentang Syi'ah di Tunisia?"
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 43
Kukatakan padanya, "Ya akhi, buanglah jauh-jauh segala cerita yang kami dengar tentang
Syi'ah dari sana-sini. Yang penting adalah aku ingin tahu dengan mata kepala sendiri apa
yang dikatakan oleh Syi'ah. Aku ada beberapa pertanyaan yang kuinginkan jawabannya
secara terus terang." Temanku mengisyaratkanku agar aku mengatakan secara terus terang
kepada Sayed tentang bagaimana pandangan kami terhadap Syi'ah. Kukatakan bahwa Syi'ah
menurut pandangan kami lebih berbahaya kepada Islam dibandingkan orang-orang Yahudi
dan Nasrani, karena mereka menyembah Allah dan beriman kepada Risalah Nabi Musa as,
sementara Syi'ah -yang kami dengar- menyembah Ali dan mengkultuskannya. Ada juga di
antara mereka yang menyembah Allah, tetapi menempatkan Ali sejajar dengan Rasulullah
SAWW. Kubawakan cerita yang mengatakan konon Syi'ah percaya bahwa Jibril telah
berkhianat ketika menyampaikan amanah Allah; yang sepatutnya amanah tersebut diberikan
kepada Ali tetapi Jibril memberikannya kepada Muhammad.
Sayed menunduk sejenak. Kemudian memandangku dan berkata, "Kami menyaksikan tiada
Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasul Allah; dan Ali hanyalah
seorang hamba Allah." Kemudian beliau menoleh ke arah para hadirin lalu berkata: "Lihatlah
mereka yang tak berdosa ini, betapa tuduhan-tuduhan yang dusta mengorbankan mereka. Ini
tidak begitu aneh. Karena saya juga pernah mendengar tuduhan-tuduhan yang lebih berat
dari orang-orang lain. Fala haula wala quwwata illah billah al-A'li al-A'zim. Kemudian
beliau menoleh ke arahku sambil bertanya:
"Apakah Anda membaca AlQuran?"
"Aku bahkan telah hafal setengahnya ketika aku masih usia kurang dari sepuluh tahun."
Jawabku.
"Tahukan Anda bahwa semua mazhab Islam yang beraneka ragam ini telah sepakat akan
AlQuran al-Karim. AlQuran yang ada disisi kami adalah sama dengan AlQuran yang ada disisi
kalian?"
"Ya, aku tahu." Jawabku.
"Nah, bukankah Anda telah membaca firman Allah, 'Muhammad hanyalah seorang Rasul di
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 44
mana sebelumnya (telah datang) para rasul (yang lain).' (QS. Ali Imran: 144) Dan juga
firman-Nya, 'Muhammad adalah Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya sangat keras
terhadap orang-orang kafir.' (QS. al-Fath: 29). Juga firmanNya: 'Muhammad bukanlah ayah
salah seorang di antara laki-laki kalian, namun dia adalah Rasulullah dan penutup segala
Nabi.' (QS. Al-Ahzab: 40)
"Ya, aku tahu ayat-ayat tersebut." Jawabku.
"Lalu di mana Ali? Jika AlQuran berkata bahwa Muhammad adalah Rasulullah, maka dari
mana datangnya tuduhan-tuduhan seperti ini?"
Aku diam saja tanpa berniat untuk menjawab sedikit pun.
Lalu beliau menyambung lagi: "Tentang pengkhianatan Jibril, oh... (tuduhan) ini lebih buruk
dari yang pertama itu. Karena ketika Jibril diutus oleh Allah kepada Muhammad, waktu itu
usia Muhammad empat puluh tahun, dan Ali masih seorang anak kecil yang berumur sekitar
enam atau tujuh tahunan. Bagaimana mungkin Jibril dapat salah dan tidak dapat
membedakan antara Muhammad yang dewasa dan Ali yang masih kecil?"
Aku tetap diam. Lama kurenungkan kata-katanya dan logikanya yang benar-benar
menyentuh pikiranku dan mampu mengikis keragu-raguanku. Dalam benakku sempat
bertanya kenapa kita tidak pernah menganalisanya dengan cara mantik dan logika seperti ini.
Kemudian Sayed al-Khui menyambung kata-katanya:
"Saya katakan lagi bahwa Syi'ah adalah satu-satunya mazhab Islam yang mempercayai akan
kema'suman para Nabi dan Imam. Jika para imam kami ma'sum (tidak berbuat salah) dari
segala kesalahan, sementara mereka adalah manusia seperti kita, maka malaikat Jibril,
malaikat yang disebut oleh Allah sebagai malaikat yang muqarrab dan sebagai Ruh al-Amin
tentu lebih utama."
"Lalu dari mana datangnya tuduhan-tuduhan seumpama ini?" Tanyaku kemudian.
"Dari musuh-musuh Islam yang ingin memecah-belah kaum muslimin dan memporakporandakan
mereka. Kaum muslimin itu bersaudara, baik Syi'ah atau Sunnah. Mereka
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 45
menyembah Allah yang Maha Esa dan tidak mensyirikkan-Nya. AlQuran mereka satu, Nabi
mereka satu dan kiblat mereka juga satu. Syi'ah dan Sunnah tidak berselisih apa-apa
melainkan dalam sebagian hukum fiqih saja, sebagaimana hal itu juga ada diantara mazhab
Sunnah sendiri. Fatwa Malik berbeda dan menyalahi fatwa Abu Hanifah, dan fatwa Abu
Hanifah berbeda dengan Syafi'i, dan sebagainya."
"Jadi apa yang dituduhkan kepada kalian adalah dusta semata-mata? "
"Alhamdulillah, Anda adalah seorang yang berakal dan memahami segala sesuatu. Anda telah
melawat negara Syi'ah dan hidup di sekitar mereka. Apakah Anda pernah melihat atau
membuktikan tuduhan-tuduhan seumpama itu?"
"Tidak sama sekali. Yang aku lihat hanya kebaikan saja. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah
yang telah mengenalkan aku dengan ustadz Mun'im saat kami berada di kapal menuju
Lebanon. Dialah yang membawa saya ke Irak dan memberitahu banyak hal yang selama ini
saya ragukan."
Temanku Mun'im juga tertawa sambil berkata: "Itu juga berkat pusara Imam Ali ini."
Kemudian aku remas tangannya dan berkata: "Disini saya telah banyak belajar bahkan dari
anak-anak muda itu sekalipun. Saya bercita-cita akan belajar di Hauzah seperti mereka jika
aku diberi kesempatan."
"Ahlan wa sahlan." Jawab Sayed serta merta. "Jika memang Anda ingin belajar dan
menuntut ilmu, maka Hauzah akan menanggung Anda dan kami sepenuhnya akan
berkhidmat pada Anda."
Para hadirin menyambut baik gagasan ini, terutama Mun'im yang nampak lebih berseri.
Kemudian kukatakan bahwa aku telah berkeluarga dan kini punya dua anak.
"Kami akan jamin semua keperluan Anda termasuk tempat tinggal, biaya hidup dan segala
yang Anda perlukan. Yang penting Anda belajar saja." Jawab Sayed.
Aku berfikir sejenak. Rasanya tidak mungkin aku belajar lagi setelah lima tahun aku mengajar
dan mendidik generasi muda. Tidak mudah memang untuk mengambil keputusan dalam
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 46
waktu yang begitu singkat. Akhirnya aku mengucapkan terima kasih pada Sayed al-Khui atas
tawarannya itu. Kukatakan bahwa aku akan memikirkan hal ini sepulangnya dari umrah
kelak Insya Allah. "Aku perlu sejumlah buku referensi", kataku. Kemudian Sayed berkata
pada orang sekitarnya: "Berikan padanya sejumlah buku." Dan sebagian orang yang ada di
sekitar kemudian berdiri lalu membuka beberapa lemari yang ada. Tidak lama kemudian
mereka berikan padaku buku-buku sebanyak tujuh puluh jilid lebih dan beberapa set buku
lain. Sayed berkata bahwa ini adalah hadiah darinya. Melihat semua ini rasanya tidak
mungkin aku dapat membawanya, apalagi aku akan pergi ke Saudi yang biasanya melarang
segala jenis kitab masuk ke dalam negeri mereka, karena khawatir pada berbagai akidah yang
berlainan dengan mazhab mereka. Tetapi aku juga tidak mau kehilangan buku-buku seperti
ini yang tidak pernah kulihat sepanjang hidupku. Kukatakan kepada temanku dan yang hadir
bahwa perjalananku sangat jauh, melalui Damaskus, Yordania baru Saudi. Dan ketika pulang
justru lebih jauh lagi. Mengingat aku akan melalui Mesir, Libya hingga Tunisia. Selain dari
beratnya bawaan, kebanyakan negara juga melarang membawa buku.
Sayed kemudian meminta alamatku dan kelak beliau akan mengirimkannya ke sana.
Kuberikan padanya alamatku di Tunisia dan kuucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga.
Ketika aku berdiri untuk pulang, beliau juga berdiri sambil berkata: "Semoga Allah
menyelamatkanmu dalam perjalanan. Jika kelak Anda berdiri di hadapan kuburan datukku
Rasulullah, sampaikan salamku padanya." Yang hadir merasa terharu. Begitu juga aku.
Kulihat air matanya jatuh. Kukatakan pada diriku bahwa tidak mungkin orang seperti ini
akan salah atau berdusta. Sungguh, wibawa, keagungan dan sikap rendah hatinya
mencerminkan bahwa beliau benar-benar keturunan Nabi. Lalu aku menjabat tangannya dan
menciumnya walau dia coba menolaknya. Semua berdiri dan menyalamiku. Anak-anak muda
yang mendebatku tadi juga mengikutiku dan meminta alamatku untuk berkirim surat. Dan
aku tidak mengabaikan permintaan mereka.
Kami menuju Kufah memenuhi undangan salah seorang yang hadir di majlis Sayed al-Khui
tadi. Beliau adalah teman Mun'im. Namanya Abu Syubbar. Kami menginap di rumahnya.
Malam itu kami berdiskusi panjang dengan sejumlah pemuda aktifis. Di antara mereka
terdapat sejumlah murid Sayed Muhammad Baqir as-Sadr. Mereka menyarankanku untuk
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 47
berjumpa dengannya, dan pertemuan itu akan diatur besok. Temanku sangat setuju tetapi
sayang dia tidak dapat hadir lantaran menyelesaikan beberapa urusan penting di Baghdad
yang tak dapat ditinggalkan. Kami sepakat untuk tinggal di rumah Sayed Abu Syubbar selama
tiga atau empat hari sampai Mun'im kembali. Setelah shalat Shubuh Mun'im pergi ke
Baghdad dan kami pergi tidur setelah satu malam suntuk berdiskusi panjang.
Malam itu aku banyak sekali belajar dari mereka. Aku kagum terhadap berbagai ilmu yang
mereka pelajari di Hauzah llmiah, Selain dari ilmu-ilmu Islam seperti Fiqih Syariah dan
Tauhid mereka juga belajar ilmu-ilmu seperti ekonomi, sosiologi dan politik. Begitu pula
ilmu-ilmu sejarah, sastra, astronomi dan sebagainya.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 48
Perjumpaan Dengan Sayed Muhammad Baqir As-Sadr
Bersama Abu Syubbar aku pergi ke rumah Sayed Muhammad Baqir as-Sadr. Dalam
perjalanan, Abu Syubban memperlakukanku dengan sangat mesra dan bercerita ringkas
tentang beberapa ulama yang masyhur dan tentang taklid dan sebagainya. Setibanya kami di
rumah Sayed Muhammad Baqir as-Sadr, kudapati rumahnya penuh sesak dengan para
Thalabah (pelajar Hauzah) yang kebanyakannya para pemuda yang memakai sorban. Sayed
berdiri menyambut kedatangan kami. Setelah diperkenalkan, belian menyambutku begitu
mesra dan menempatkanku di sisinya. Beliau bertanya tentang Tunisia dan aljazair dan
beberapa ulama yang terkenal seperti al-Khidhir Husain, Thahir bin A'syur dan lain
sebagainya. Aku merasa gembira sekali dengan obrolannya.
Sayed Baqir Sadr walau memiliki wibawa yang sangat agung di sisi pengikut-pengikutnya,
namun kudapati diriku tidak begitu kaku dengannya seakan telah kukenal beliau sejak lama
sebelum pertemuan itu.
Banyak ilmu yang sempat kutimba dari pertemuan kami pada waktu itu. Kudengar berbagai
pertanyaan diajukan kepada Sayed, lalu kemudian dijawabnya dengan bijak. Waktu itu aku
betul-betul menyaksikan betapa tingginya nilai mentaklid para ulama yang masih hidup.
Karena mereka akan segera menjawab setiap persoalan yang diajukan kepada mereka dengan
sejelas-jelasnya. Sejak saat itu, aku mulai yakin bahwa Syi'ah adalah kaum muslimin yang
menyembah Allah SWT dan beriman kepada Risalah Nabi kita Muhammad SAWW.
Sebelumnya aku masih ragu, dan setan juga menaburkan rasa was-was bahwa segala apa yang
kusaksikan adalah suatu sandiwara semata-mata. Dan mungkin inilah yang dikatakan oleh
mereka sebagai Taqiyah, yakni menampakkan sesuatu yang tidak mereka percayai. Tetapi
sikap demikian akhirnya segera lenyap dari benakku. Karena -pikirku- tidak mungkin setiap
orang yang kulihat dan kusaksikan dengan bilangan yang mencapai ratusan semuanya akan
bersandiwara. Untuk apa mereka lakukan itu padaku? Dan siapa aku? Apa yang mereka harus
khawatirkan dariku sehingga mau bertaqiyah dihadapanku? Bukankah di sini ada kitab-kitab
mereka cetakan lama dan baru. Semua mengesakan Allah dan memuji-muji Rasul-Nya
Muhammad SAWW. seperti yang kubaca dalam berbagai mukaddimahnya. Kini aku tengah
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 49
berada dirumah Sayed Muhammad Baqir as-Sadr, seorang Marja' (mujtahid yang diikuti
fatwanya) Syi'ah yang sangat terkenal di Irak dan di luar Irak. Dan setiap kali nama
Muhammad disebut, maka semua akan mengangkat suara agak keras membaca salawat:
Allahumma Shalli A'la Muhammad Wa Aali Muhammad.
Waktu shalat tiba. Kami pergi ke masjid yang terletak di samping rumah. Kami shalat Dzuhur
dan Asar yang diimami sendiri oleh Sayed Muhammad Baqir Sadr. Ketika itu terasa dalam
diriku seakan aku tengah hidup di sekitar para sahabat yang mulia. Di antara dua shalat
diselingi bacaan doa dengan suara yang sangat memilukan hati. Sungguh terharunya aku dan
terkesan sangat dalam. Usai baca doa, secara serentak para jama'ah membaca salawat
beramai-ramai: Allahumma Shalli A'la Muhammad Wa Aali Muhammad. Isi doa semuanya
berupa pujian pada Allah SWT, Muhammad serta keluarganya yang suci dan baik.
Sayed Sadr tetap duduk di mihrabnya seusai shalat. Sebagian orang datang menyalaminya
lalu mengajukan berbagai pertanyaan secara perlahan atau kadang-kala dengan suara yang
agak keras. Dan Sayed juga menjawab setiap pertanyaan dengan perlahan apabila
pertanyaannya memang demikian. Dari sana kupahami bahwa pertanyaan tersebut adalah
yang berkaitan dengan masalah-masalah pribadi. Apabila jawaban yang diharapkan telah
diperoleh, maka sipenanya akan mencium tangannya kemudian pergi. Berbahagialah mereka
dengan orang alim yang mulia ini yang ikut membantu menyelesaikan segala permasalahan
mereka dan ikut serta dalam suka dan duka mereka.
Sambutan Sayed yang demikian hangat serta perhatiannya yang begitu tinggi membuatku
seakan berada di tengah keluargaku sendiri. Kurasa seandainya aku berada bersamanya
selama satu bulan saja, niscaya aku akan menjadi Syi'ah karena melihat akhlaknya yang
sangat tinggi, sikap tawadhu'-nya dan kemurahan hatinya. Setiap kali mataku terpandang
pada matanya kulihat beliau tersenyum dan memulai menyapaku. Beliau juga menanyakan
keadaanku yang mungkin perlu bantuan dan sebagainya. Alhasil, sambutannya padaku sangat
mesra sekali.
Selama empat hari aku jadi tamunya. Dan selama itu pula aku tidak berpisah dengannya
kecuali saat tidur saja, kendati pun yang datang berziarah atau ulama-ulama yang berkunjung
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 50
padanya cukup banyak. Aku juga berjumpa dengan orang-orang Saudi di sana. Aku tidak
pernah tahu bahwa orang-orang Syi'ah juga ada di Hijaz. Demikian juga ulama-ulama dari
Bahrain, Qatar, Emirat Arab, Lebanon, Syria, Iran, Afghanistan, Turki dan Afrika. Sayed
berbicara dengan mereka dan membantu hajat-hajat mereka. Semua yang keluar dari
rumahnya menampakkan kegembiraan hati. Aku tidak akan pernah lupa pada suatu peristiwa
yang kusaksikan di hadapan mataku sendiri dimana Sayed dapat menyelesaikannya sebuah
persoalan yang berat dengan begitu bijak. Kukatakan demikian karena ia menyirat suatu
pelajaran yang sangat penting agar kaum muslimin tahu betapa ruginya mereka lantaran
meninggalkan hukum-hukum Allah.
Ada empat orang datang menghadap Sayed Muhammad Baqir Sadr. Aku menduga bahwa
mereka adalah penduduk Iraq sendiri, karena logat bahasanya kupahami demikian. Seorang
dari mereka telah memperoleh waris sebuah rumah dari datuknya yang telah meninggal
beberapa tahun sebelumnya. Kemudian rumah tersebut dijualnya kepada orang kedua yang
juga hadir di sana. Setahun setelah penjualan, datanglah dua orang yang mengaku sebagai
pewaris syar'i (sah) dari si mayit. Keempat-empat mereka duduk di hadapan Sayed, dan
masing-masing mengeluarkan berbagai kertas dan surat bukti. Setelah Sayed membaca suratsurat
tersebut dan berbicara sejenak dengan mereka, kemudian dia keluarkan fatwanya
seadil-adilnya: si pembeli tetap mempunyai hak atas rumah yang dibelinya; dan si penjual
juga harus memberikan hak waris bagian dua saudara tadi dari hasil jualannya. Usai Sayed
memberi fatwa empat orang ini kemudian berdiri lalu mencium tangan Sayed dan mereka
saling berpelukan tanda damai dan setuju.
Aku sangat terkejut dan seperti tidak percaya. Kutanyakan kepada Abu Syubbar apakah
kasusnya telah selesai. Ya, jawabnya. Setiap mereka telah mendapatkan haknya masingmasing.
Subhanallah. Semudah ini dan dalam waktu yang sesingkat ini; hanya beberapa saat
saja permasalahan itu dapat diselesaikan! Kasus seperti ini apabila terjadi di negeri kami,
paling tidak ia akan memakan waktu sepuluh tahun sampai kadang-kadang sebagian dari
mereka telah mati lalu kemudian diteruskan oleh anak-anaknya. Tambah lagi mereka harus
bayar biaya pengadilan, pengacara dan lain sebagainya yang kebanyakannya tidak kurang dari
nilai rumah itu sendiri. Mula-mula pengadilan umum, kemudian negeri lalu mahkamah
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 51
agung sampai akhirnya semua kecewa setelah melalui serangkaian kekusutan serta biaya yang
mahal dan menyogok sana-sini yang tidak sedikit. Disamping sikap permusuhan dan
kebencian yang timbul antar keluarga akibat dari semua itu.
"Hal seperti itu juga ada di sini; bahkan lebih dari itu." Kata Abu Syubbar menjawab.
"Maksud Anda?" Tanyaku. "Jika orang mengangkat permasalahan mereka dan
mengajukannya kepada pengadilan negeri maka hasilnya seperti yang Anda ceritakan tadi.
Namun jika mereka mentaklid seorang Marja' agama dan terikat dengan hukum-hukum
Islam maka mereka tidak akan mengangkat permasalahan mereka kecuali kepadanya saja.
Dan si Marja' pada gilirannya akan menyelesaikan masalah mereka dalam waktu yang sangat
singkat seperti yang Anda saksikan. Apakah ada Hakim yang lebih baik selain daripada Allah
bagi orang-orang yang berakal? Sayed Sadr juga tidak memungut sebarang biaya dari mereka.
Apabila mereka pergi ke instansi pemerintah yang berkaitan niscaya mereka akan menderita
kerugian yang tidak sedikit."
"Subhanallah. Aku masih tidak percaya apa yang kulihat. Kalaulah mata ini tidak
menyaksikannya sendiri mana mungkin aku akan percaya pada kejadian ini."
"Begitulah wahai saudaraku. Kasus ini masih ringan dibandingkan dengan kasus-kasus yang
lain yang lebih rumit dan menyangkut nyawa. Tapi para marja' ini dapat menyelesaikannya
dalam waktu yang relatif singkat."
"Jadi di Irak ini ada dua pemerintahan, pemerintahan negara dan pemerintahan ulama,
begitu?" Tanyaku takjub.
"Tidak. Di sini ada pemerintahan negara saja. Namun kaum muslimin dari mazhab Syi'ah
yang bertaklid pada marja' mereka tidak memiliki sebarang hubungan dengan pemerintahan.
Karena ia adalah pemerintahan Ba'ath bukan pemerintahan Islam. Mereka patuh pada
hukum-hukum sipil, pajak, dan hal-hal pribadi lainnya. Seandainya terjadi suatu kasus antara
seorang muslim yang shaleh dengan seorang muslim lain yang tidak shaleh, maka pasti ia
akan terpaksa mengangkatnya kepada pengadilan negeri. Karena orang kedua ini tidak setuju
dengan ketentuan hukum para ulama. Namun jika yang berselisih adalah sesama orang-orang
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 52
mukmin, maka mereka akan mengembalikannya kepada para marja'. Apa saja yang
dihukumkan oleh marja' tersebut akan diterima oleh semua tanpa ada sebarang keberatan.
Itulah kenapa kasus-kasus tertentu dapat diselesaikan oleh para marja' dalam waktu satu
hari, sementara pengadilan negeri mungkin berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun."
Peristiwa itu menggetarkan jiwaku hingga kemudian kurasakan suatu kesadaran untuk rela
atas segala hukum Allah SWT. Dari situ aku memahami makna firman Allah yang bermaksud:
"Barang siapa yang tidak menghukumkan dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka
mereka adalah orang-orang kafir. Barang siapa yang tidak menghukumkan dengan apa yang
diturunkan oleh Allah maka mereka adalah orang-orang yang zalim. Dan barang siapa yang
tidak menghukumkan dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka adalah orangorang
fasik" (QS. Al-Maidah: 44,45,47)
Jiwaku juga memberontak dan memprotes orang-orang zalim yang telah mengubah hukumhukum
Allah SWT yang adil kepada hukum buatan manusia yang zalim. Bahkan mereka
mengejek hukum-hukum Allah dengan cara yang keji. Mereka katakan bahwa hukum Allah
adalah barbarism dan kejam karena menegakkan hukum hudud yang memotong tangan
pencuri dan merajam pezina serta membunuh si pembunuh. Dari mana datangnya teori-teori
yang asing seperti ini? Sudah pasti ia datang dari barat dan dari musuh-musuh Islam yang
melihat bahwa pelaksanaan hukum-hukum seperti itu berarti tamatnya kekuasaan mereka
secara total. Hal ini tiada lain karena mereka sendiri adalah para pencuri, pengkhianat, pezina
dan pembunuh. Apabila hukum-hukum Allah dilaksanakan terhadap mereka maka kita sudah
aman dari mereka.
Pada hari-hari yang penuh kenangan itu terjadi serangkaian diskusi antara aku dan Sayed
Sadr. Kuajukan padanya berbagai pertanyaan, besar atau kecil dari kesimpulan yang kubuat
setelah berbagai diskusi dengan teman-teman, baik yang berkaitan dengan akidah, sahabat
(semoga Allah meridhai mereka) atau kepercayaan mereka akan imam dua belas, Ali dan
anak-anaknya dan lain sebagainya yang tidak sama dengan akidah kami.
Kutanyakan kepada Sayed Sadr tentang Imam Ali, kenapa namanya diucapkan dalam azan
dengan sebutan Waliullah Beliau menjawab: "Amir al-Mukminin Ali as. adalah di antara
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 53
hamba Allah yang dipilih oleh-Nya untuk meneruskan tanggung-jawab mengemban Risalah
setelah para nabiNya. Mereka adalah para wasi Nabi. Setiap nabi memiliki wasi, dan wasi
Nabi Muhammad SAW adalah Ali bin Abi Thalib. Kami mengutamakannya atas semua
sahabat karena Allah dan Rasul-Nya mengutamakan-Nya. Dan kami mempunyai dalil aqli
dan naqli, AlQuran dan Sunnah dalam hal ini. Dalil-dalil ini tidak dapat diragukan
kebenarannya, lantaran bersifat mutawatir dan sahih dalam jalur sanad kami, dan hatta
dalam jalur sanad Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Para ulama kami telah menulis berbagai buku
tentang hal ini. Ketika pemerintahan Bani Umayyah coba menghapuskan kebenaran ini dan
memerangi Amir al-Mukminin Ali dan anak-anaknya serta membunuh mereka bahkan
mencaci dan melaknatnya di atas mimbar-mimbar kaum muslimin serta memaksa mereka
untuk berbuat serupa, melihat ini maka Syi'ah Ali dan para pengikutnya, semoga Allah
meridhai mereka, tetap mengikrarkan bahwa beliau adalah Waliyullah, karena seorang
muslim yang sejati dilarang mencaci Waliyullah. Hal ini dilakukan sebagai bantahan mereka
terhadap penguasa yang zalim saat itu hingga kemuliaan yang sebenarnya dapat
dikembalikan kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukminin saja; dan biarlah ia wujud
sebagai bukti sejarah kepada segenap kaum muslimin yang datang berikutnya, agar mereka
tahu tentang kebenaran Ali dan kebatilan musuh-musuhnya."
"Para fuqaha (ahli fiqih) kami mengatakan bahwa syahadat kepada wilayah Ali di saat azan
adalah sunnat semata-mata, dan dengan niat bahwa ia bukan bagian dari azan atau iqamah.
Apabila seorang muazin menganggap bahwa itu adalah bagian dari azan dan iqamah maka
azannya dianggap tidak sah. Dan hal-hal sunnat dalam ibadah dan mu'amalat banyak sekali
jumlahnya. Seorang muslim akan diberi ganjaran jika melakukannya dan tidak akan berdosa
apabila meninggalkannya. Sebagai contoh, dalam suatu hadis disebutkan bahwa usai
mengucapkan syahadat kepada Allah dan Muhammad dalam azan, disunatkan juga
bersyahadat (bersaksi) bahwa surga itu adalah benar; neraka itu adalah benar; dan Allah akan
membangkitkan manusia dari kuburnya."
Kukatakan bahwa para ulama kami mengajarkan bahwa Sayyidina Abubakar as-Shiddiq
adalah khalifah yang paling utama, kemudian Sayyidina Umar al-Faruq, Sayyidina Utsman
baru kemudian Sayyidina Ali, semoga Allah meridhai mereka semua.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 54
Sayed diam sejenak. Kemudian berkata: "Mereka boleh berkata apa saja tetapi jauh sekali
untuk bisa membuktikannya secara valid. Di samping ia bertentangan dengan apa yang
tertulis dalam kitab-kitab mereka yang sahih dan muktabar. Di sana tertulis bahwa manusia
yang paling utama adalah Abubakar, kemudian Utsman. Tidak ada kata-kata Ali sama sekali.
Justru Ali dijadikan sebagai manusia awam semata-mata. Namun para ahli sejarah juga
menyebutnya lantaran menyebut-nyebut para khulafa' rasyidin saja."
Aku tanyakan juga tentang tanah yang digunakan untuk sujud, atau yang biasa disebut
dengan Turbah Husainiyah. Beliau menjawab: "Pertama-tama wajib diketahui bahwa kami
bukan sujud kepada tanah, seperti yang disangka oleh mereka yang benci pada Syi'ah, tapi
kami sujud di atas tanah. Sujud hanya untuk Allah semata-mata. Apa yang terbukti secara
dalil bagi kami dan juga di sisi Ahlu Sunnah bahwa yang utama adalah sujud di atas tanah
atau di atas sesuatu yang tumbuh dari tanah, tapi bukan sejenis dari bahan makanan. Selain
dari itu tidak sah sujud di atasnya. Dahulunya Rasulullah SAW. duduk di atas tanah dan
menjadikan sebongkah tanah sebagai tempat sujudnya. Beliau juga mengajarkan kepada
sahabat-sahabatnya demikian juga sehingga mereka sujud di atasnya, dan di atas batu-batu
kecil. Baginda melarang mereka sujud di atas ujung bajunya. Hal ini diketahui sangat lumrah
sekali di sisi kami."
"Imam Zainal Abidin dan Sayyid as-Sajidin Ali bin Husain a.s. mengambil tanah dari kuburan
ayahnya Abu Abdillah al-Husain as-Syahid sebagai turbahnya. Ini karena tanahnya bersih dan
suci dan telah disiram oleh darah Sayyidis-syuhada' (penghulu para syahid). Dan para
syi'ahnya meneruskan kebiasaan ini sehingga ke hari ini. Kami tidak mengatakan bahwa
sujud di atas selainnya bermakna tidak sah. Sujud akan sah di atas sebarang tanah atau
sebarang batu yang suci, sebagaimana ia juga akan sah sujud di atas tikar atau tempat ambal
yang dibuat dari pelepah kurma dan sejenisnya."
Kutanyakan lagi tentang peringatan Sayyidina Husain a.s, kenapa Syi'ah menangis dan
memukul-mukul dada sehingga berdarah? Bukankah ini haram di dalam Islam. Nabi juga
telah bersabda: "Bukan dari golongan kami mereka yang memukul-mukul pipi dan
mengoyak-ngoyak baju serta melakukan seperti perbuatan Jahiliah."
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 55
Sayed menjawab : "Hadis itu memang sahih, tapi ia tidak dapat diterapkan untuk peringatan
Abu Abdillah al-Husain. Mereka yang menyeru pada perjuangan Husain dan mengikut
jejaknya, perbuatan ini bukan sejenis perbuatan Jahiliah. Lalu di dalam mazhab Syi'ah ada
manusia yang beragam, ada yang alim dan ada juga yang jahil. Kesemua mereka mempunyai
rasa emosi. Jika di dalam mengingat kesyahidan Husain dan apa yang terjadi kepada
keluarganya serta para sahabatnya, -yang dibunuh atau yang ditawan- lalu perasaan emosinya
menguasai mereka, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Tuhannya. Karena niat
mereka adalah fi sabilillah semata-mata. Dan Allah memberikan ganjaran kepada hambahamba-
Nya sekadar niatnya masing-masing. Seminggu yang lalu saya membaca suatu
kenyataan resmi dari pemerintahan Mesir sempena kematian Jamal Abdul Nasir. Dikatakan
bahwa mereka telah mencatat delapan kasus bunuh diri karena mendengar kematian Jamal
Abdul Nasir. Ada yang menerjunkan diri dari atas bangunan yang bertingkat; ada yang
menerjunkan diri ke bawah rel keretapi dan sebagainya. Adapun mereka yang terluka
jumlahnya cukup banyak. Ini saya sebutkan sebagai contoh bagaimana emosi manusia
kadang-kadang bisa menguasai manusia itu sendiri. Jika manusia muslim sampai membunuh
diri lantaran kematian Jamal Abdul Nasir, padahal dia mati secara wajar, maka tidak ada hak
bagi kita untuk menghukumi bahwa Ahlu Sunnah adalah salah. Dan tidak ada hak bagi Ahlu
Sunnah juga menghukumi saudara-saudara mereka dari Syi'ah salah lantaran menangisi
Sayyid as-Syuhada' al-Husain. Mereka meratapi penderitaan Husain sampai sekarang.
Rasulullah sendiri pernah menangis untuk Husain, dan Jibril juga menangis karena tangisnya
Rasulullah."
"Kenapa Syi'ah menghiasi kuburan wali-wali mereka dengan emas dan perak sementara ia
haram di dalam Islam?" Tanyaku lagi.
"Ini tidak hanya ada di dalam Syi'ah dan juga tidak haram. Lihatlah masjid-masjid saudara
kami dari golongan Ahli Sunnah, di Iraq, Mesir, Turki atau negara-negara Islam yang lain.
Rata-rata dihiasi dengan emas dan perak. Begitu juga dengan masjid Rasulullah SAWW. di
Madinah al-Munawwarah dan Baitullah al-Haram di Mekah yang setiap tahun dipakaikan
dengan perhiasan emas yang baru dengan perbelanjaan berjuta-juta. Ini tidak hanya ada pada
mazhab Syi'ah saja."
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 56
"Ulama-ulama Saudi berkata bahwa mengusap tangan diatas kubur, minta doa dari orangorang
yang shalih serta mengambil berkat dari mereka semua itu adalah syirik kepada Allah.
Bagaimana pendapat Anda dalam hal ini?"
"Jika mengusap tangan di atas kubur dan menyebut nama-nama penghuninya dengan niat
bahwa mereka memberi manfaat atau mendatangkan madharaat (kerugian), maka tak raguragu
lagi ia adalah syirik. Orang-orang muslim adalah orang yang muwahhid (bertauhid) dan
mengetahui bahwa Allah sajalah yang memberi manfaat atau madharrat. Mereka menyeru
para wali dan imam a.s. semata-mata sebagai wasilah atau perantara mereka kepada Allah
SWT. Ini tidak syirik. Kaum muslimin, Sunnah dan Syi'ah, sepakat dalam hal ini sejak zaman
Rasul sehingga sekarang. Melainkan Wahhabiah atau ulama-ulama Saudi seperti yang Anda
sebutkan. Mereka telah melanggar ijma' kaum muslimin dengan mazhab mereka yang baru
muncul di abad ini. Mereka telah memfitnah kaum muslimin dengan akidah mereka ini,
mengkafirkan mereka dan bahkan menghalalkan darah mereka. Para jemaah haji Baitullah
al-Haram dipukul lantaran mereka berkata: Assalamu Alaika Ya Rasulullah. Dan tidak
diperkenankan siapapun untuk menyentuh kuburan suci Nabi Muhammad SAWW. Mereka
telah berdiskusi dengan ulama kami beberapa kali, tapi mereka tetap sombong untuk
menerima kebenaran."
"Sayed Syarafuddin, seorang di antara ulama Syi'ah ketika pergi haji ke Baitullah al-Haram di
zaman raja Abdul Aziz AlSaud, adalah di antara ulama ke istana raja untuk merayakan Hari
Raya Aidul Adha bersama raja. Ketika tiba gilirannya untuk bersalaman dengan raja,
dihadiahkannya kepada raja sebuah mushaf AlQuran yang bercover kulit binatang. Raja
menerima hadiah mushaf tersebut lalu diciumnya dan diletakkannya di atas dahi sebagai
tanda penghormatan dan pentakziman. Sayed Syarafuddin kemudian berkata ketika itu:
"Wahai Raja, kenapa Anda mencium kulit dan mengagungkannya. Bukankah ia hanya berupa
kulit kambing, tidak lebih?" "Yang kumaksudkan adalah pentakziman kepada AlQuran al-
Karim yang ada di dalamnya, bukan kepada kulit ini." jawab Raja. Sayed Syarafuddin berkata:
"Anda bijak hai Raja. Begitulah juga ketika kami mencium pintu-pintu kuburan Nabi atau
dinding-dindingnya. Kami tahu bahwa itu semua adalah besi yang tidak memberi sembarang
manfaat atau mudharrat. Kami bermaksud mencium orang yang ada di balik besi dan kayu-
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 57
kayu itu. Kami bermaksud mentakzim-kan Rasulullah SAWW, sebagaimana Anda bermaksud
mentakzimkan AlQuran dengan mencium kulit kambing yang membungkus AlQuran ini."
"Para hadirin mengucapkan takbir sebagai tanda kagum atas Sayed ini. Mereka berkata: Anda
benar, Anda benar. Akhirnya raja terpaksa mengizinkan para jemaah haji untuk melakukan
tabarruk (mengambil berkat) dari peninggalan-peningalan Nabi SAWW. sehinggalah datang
raja berikutnya. Kemudian ia dilarang kembali."
"Perkara yang sebenarnya bukan karena mereka takut kaum muslimin akan syirik kepada
Allah. Tetapi disana ada motivasi politik untuk menguasai kaum muslimin dan memperkuat
kerajaan mereka. Sejarah adalah sebaik-baik bukti atas apa yang mereka lakukan terhadap
ummat Muhammad SAWW "
Aku tanya juga tentang tarikat-tarikat Sufi. Jawabnya singkat, "Ada yang positif dan ada juga
yang negatif. Yang positif seperti membina diri dan mendidiknya untuk sederhana di dalam
hidup dan bersikap zuhud atas kenikmatan-kenikmatan dunia serta melatih diri untuk
berangkat tinggi ke alam ruh yang suci. Sementara yang negatif seperti menyendiri dan lari
dari realitas kehidupan, terbatas hanya berzikir kepada Allah secara lafzi dan sebagainya.
Islam seperti yang diketahui mengabsahkan yang positif dan membuang jauh-jauh yang
negatif. Kita layak mengatakan bahwa semua prinsip Islam adalah positif."
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 58
Ragu-Ragu Dan Bingung
Jawaban Sayed Muhammad Baqir as-Sadr jelas dan meyakinkan. Tetapi apakah mungkin ia
akan mempengaruhi orang seumpamaku yang telah menghabiskan umurnya selama dua
puluh lima tahun dalam prinsip mengkultuskan para sahabat dan menghormati mereka.
Terutama Khulafa' ar-Rasyidin yang diperintahkan oleh Rasul kepada kita untuk berpegang
teguh pada sunnah mereka dan berjalan di bawah bimbingan mereka. Diatas semua mereka
adalah Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq dan Sayyidina Umar al-Faaruq.
Sejak kedatanganku ke Iraq tidak pernah kudengar nama mereka. Yang kudengar adalah
nama-nama yang kelihatannya asing bagiku serta nama dua belas imam. Orang-orang Syi'ah
ini juga mengklaim bahwa Nabi SAWW telah menunjuk Ali sebagai Khalifah sebelum
wafatnya. Bagaimana mungkin aku bisa percaya bahwa para sahabat yang mulia, manusia
yang paling utama setelah Nabi, sepakat dalam menentang Ali Karamallahu wajhahu. Dan
sejak kecil juga kami diajar bahwa para sahabat r.a. sangat menghormati Imam Ali dan
mengetahui haknya. Beliau adalah suaminya Fatimah az-Zahra', ayahanda Hasan dan Husain
dan pintu kotanya ilmu. Begitu juga Sayyidina Ali. Beliau tahu haknya Abu Bakar as-Siddiq,
orang pertama yang masuk Islam dan menemani Rasul saat beliau berada di gua sebagaimana
yang disebutkan dalam AlQuran. Rasulullah SAWW juga telah menyuruhnya menjadi imam
jamaah ketika baginda sakit. Untuk itu beliau pernah bersabda:
"Seandainya aku harus mengambil Khalil (teman dekatku), maka Abu Bakar yang akan
kuambil sebagai khalilku."
Itulah kenapa kaum muslimin memilihnya sebagai khalifah mereka. Imam Ali juga tahu
tentang keutamaan Sayyidina Umar yang dengannya Islam telah diangkat oleh Allah; dan
Rasul telah memberinya gelar sebagai al-Faruq, yakni yang memisahkan antara hak dan batil.
Beliau juga tahu tentang keutamaan Sayyidina Utsman di mana Malaikat Rahman malu
kepadanya dan yang telah menyediakan Pasukan al-U'srah, serta dinamakan Rasulullah
sebagai Zun Nurain (empunya dua cahaya).
Kenapa saudara-saudara kami mazhab Syi'ah tidak mengetahui semua itu? Apakah mungkin
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 59
mereka berpura-pura tidak tahu lalu menjadikan mereka sebagai manusia-manusia biasa
yang diombang-ambingkan oleh hawa nafsu dan kerakusan duniawi serta berpaling dari
kebenaran? Karena itu maka mereka kemudian dikatakan sebagai orang yang melanggar
perintah nabi setelah wafatnya. Padahal sebelumnya mereka adalah para sahabat nabi yang
berlomba-lomba dalam mematuhi perintahnya, bahkan ada yang membunuh anak-anak
mereka, ayah-ayah mereka dan keluarga mereka demi kemuliaan Islam dan kejayaannya.
Mereka yang rela membunuh ayah dan anaknya lantaran patuh pada Allah dan Rasulnya
tidak mungkin akan dipengaruhi oleh dunia yang fana ini, seperti merebut jabatan khalifah,
atau pura-pura jahil apalagi meninggalkan perintah Rasul SAWW.
Karena alasan-alasan itu maka aku tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh Syi'ah
walaupun dalam banyak hal aku yakin akan hujjah-hujjahnya. Aku bingung dan ragu-ragu.
Ragu-ragu lantaran kata-kata ulama Syi'ah sangat rasional dan logis. Bingung dan tidak
percaya lantaran para sahabat r.a. dipandang sedemikian rupa sehingga mereka seperti
manusia biasa; seperti diri kita ini. Tiada cahaya risalah menyinari mereka dan tiada pula
bimbingan Muhammad mendidik mereka. Ya Ilahi, bagaimana mungkin terjadi begini?
Mungkinkah para sahabat berada dalam taraf yang dikatakan orang-orang Syi'ah itu? Yang
penting sikap ragu-ragu dan bingung ini adalah mulanya kelemahan dan pengakuan bahwa di
sana ada hal-hal tersembunyi yang harus dibongkar agar dapat sampai kepada kebenaran.
Temanku Mun'im datang dan kami pergi ke Karbala. Di sana aku ikut serta dalam sebuah
majlis takziah mengenang Sayyidina Husain sebagaimana yang dihayati oleh orang-orang
Syi'ah. Waktu itu aku sadar bahwa Sayyidina Husain sebenarnya belum mati. Orang-orang
begitu ramai dan saling berdesakan di sekitar pusara Sayyidina Husain. Mereka menangis
terisak-isak yang tak pernah kusaksikan seumpamanya sebelum ini yang seakan-akan Husain
baru saja syahid. Kudengar para penceramah menggugah emosi dan perasaan para hadirin
dengan menceritakan tragedi Karbala dengan suara yang mengharukan. Hampir setiap orang
yang mendengarnya tidak dapat menahan diri kecuali ikut menangis. Aku menangis dan terus
menangis. Kubiarkan diriku melepaskan deritanya yang seakan-akan sebelum ini
terbelenggu. Kurasakan suatu kelegaan jiwa yang luar biasa yang tidak pernah kuketahui
sebelum ini. Seakan-akan dahulunya aku berada di barisan musuh-musuh Imam Husain, dan
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 60
tiba-tiba sekarang berbalik dan ikut serta para sahabat Husain dan pengikutnya yang
berkorban untuknya.
Waktu itu si penceramah bercerita tentang al-Hur, salah seorang komandan pasukan musuh
yang diperintahkan untuk memerangi Husain. Namun ketika beliau berdiri di front paling
depan, dia rasakan dirinya bergemetar dahsyat. Ketika ditanya oleh sebagian temannya,
apakah dia takut mati? Hur menjawab, "Demi Allah tidak. Tetapi aku kini tengah
mempertaruhkan nyawaku antara surga dan neraka!" Kemudian dia sebat kudanya dengan
agak keras dan pergi ke arah Husain. Katanya, "Wahai putra Rasulullah, apakah masih ada
luang untukku bertaubat?"
Mendengar ini aku tidak dapat menahan diri. Aku jatuh dan menangis seakan aku tengah
melakukan peranan Hur. Aku berkata, "Wahai putra Rasulullah, apakah ada jalan bagiku
untuk bertaubat? Maafkan aku wahai putra Rasulullah."
Waktu itu suara si penceramah sangat mengharukan. Terdengar suara tangisan para hadirin
menguak suasana. Temanku mendengar suara jeritan tangisku. Dia datang dan memelukku
sambil menangis bagaikan seorang ibu yang memeluk anaknya. Dia menyebutkan kata-kata,
"ya Husain... ya Husain..." secara perlahan. Saat itu benar-benar mengajarku makna suatu
tangisan. Air mataku seakan mencuci semua kalbuku dan jasadku dari dalam. Waktu itu aku
baru paham maksud hadis Nabi: "Apabila kalian tahu apa yang kuketahui, maka kalian akan
tertawa sejenak dan menangis banyak."
Satu hari penuh aku hanya berdiam diri. Temanku berusaha menghiburku dan mengucapkan
takziah padaku. Diberinya aku sedikit manisan, tapi rasa minatku untuk makan hari itu sama
sekali hilang. Aku minta temanku menceritakan kepadaku kisah syahidnya Sayyidina Husain,
karena aku tidak tahu sama sekali tentang tragedi Karbala ini. Apa yang aku tahu adalah
cerita orang-orang tua kami yang mengatakan bahwa orang-orang munafik yang membunuh
Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali, mereka jugalah yang membunuh
Sayyidina Husain. Selebihnya kami tidak tahu. Bahkan pada hari Asyura kami menyambutnya
dengan suka-ria, karena dianggap sebagai hari raya Islam. Hari itu zakat-zakat harta
dikeluarkan, berbagai makanan yang lezat dihidangkan dan anak-anak pergi meminta uang
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 61
dari orang-orang tua mereka untuk belanja mainan dan manisan.
Memang ada sebagian adat di sejumlah daerah di mana para penduduknya pada hari itu
menyalakan api, tidak bekerja, tidak kawin dan tidak bersuka ria. Tetapi hal itu kami katakan
sebagai adat semata-mata, tanpa mengetahui makna yang tersirat di baliknya. Ulama-ulama
kami meriwayatkan berbagai hadis tentang keutamaan hari Asyura serta berbagai berkat dan
rahmat yang ada di dalamnya. Sungguh aneh.
Dari sana kemudian kami ziarah ke kuburan Abbas, adiknya Husain. Waktu itu aku tidak
kenal siapa Abbas. Temanku menceritakan padaku tentang kegagahan dan kepahlawanannya.
Di sana juga kami berjumpa dengan berbagai ulama yang tidak kuingat betul siapa namanama
mereka, melainkan gelarnya saja, seperti Bahrul Ulum, Sayed al-Hakim, Kasyif al-
Ghitho', Ali Yasin, Thabathabai, Fairuz Abadi, Asad Haidar dan sebagainya.
Secara jujur harus kukatakan bahwa mereka sebenarnya adalah para ulama yang bertakwa,
berwibawa dan terhormat. Orang-orang Syi'ah sangat menghormati mereka dan
membayarkan khumus (seperlima dari keuntungan niaganya) kepada mereka. Dengan dana
itu mereka menjalankan urusan Hauzah Ilmiah, mendirikan berbagai sekolah dan
percetakan, serta memberi beasiswa kepada para thalabah (pelajar) yang datang dari berbagai
dunia Islam. Mereka benar-benar berdikari dan tidak bergantung kepada para penguasa, baik
yang dekat atau yang jauh; tidak seperti kondisi ulama-ulama kita yang tidak akan
mengeluarkan sebuah fatwa atau pendapat melainkan terlebih dahulu minta restu para
penguasa yang menjamin kehidupan mereka dan yang dapat menyingkirkan atau
mengangkat mereka.
Sungguh merupakan suatu dunia baru yang kutemukan; atau ditunjukkan oleh Allah padaku.
Kini aku menyukainya dan dapat menyesuaikan diri dengannya setelah sekian lama aku
memusuhinya. Orang alim ini telah membukakan untukku berbagai pemikiran-pemikiran
yang baru. Beliau juga telah membangkitkan diriku untuk mencintai pengkajian, penelitian
dan belajar sungguh-sungguh sampai harus kutemukan sebuah kebenaran yang kucari.
Apalagi Nabi pernah bersabda: "Bani Israel telah terpecah kepada tujuh puluh satu golongan,
Nasrani telah berpecah kepada tujuh puluh dua golongan sementara ummatku akan terpecah
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 62
kepada tujuh puluh tiga golongan. Semua berada di neraka kecuali satu." Hadis ini sangat
mengusikku untuk mengetahui lebih jauh tentang suatu kebenaran yang dimaksudkan.
Kita tidak perlu mengaitkan maksud hadis ini dengan berbagai agama yang mengklaim bahwa
dirinya adalah yang benar sementara yang lain salah. Aku bingung dan takjub melihat
maksud hadis ini. Lebih bingung lagi melihat sikap kaum muslimin yang sering membaca dan
mengulang-ulang hadis ini dalam ceramah-ceramahnya, namun tetap tidak pernah mau
meneliti maksudnya agar dapat membedakan mana golongan yang hak dari golongan yang
batil. Anehnya setiap golongan menklaim bahwa dia adalah satu-satunya yang kelak akan
selamat, dan yang lain sesat. Dalam urutan hadis itu tertulis, "Sahabat bertanya, siapa mereka
ya Rasulullah?" Nabi menjawab: "Apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya."
Apakah ada suatu golongan yang tidak berpegang pada Kitab dan Sunnah, atau mengaku
tidak ikut AlQuran dan Sunnah? Seandainya Imam Malik, Abu Hanifah, Syafi'i atau Ahmad
bin Hanbal ditanya, adalah tidak mungkin mereka akan berkata bahwa mereka tidak
berpegang pada AlQuran dan Sunnah yang shahih. Ini baru sekadar mazhab-mazhab yang
ada di sekitar dunia Sunni. Bagaimana pula dengan golongan Syi'ah? Mazhab ini juga
mengklaim bahwa ia berpegang pada Kitab Allah dan Sunnah yang shahih yang kesemuanya
diriwayatkan oleh Ahlul Bait yang suci. Bak kata pepatah, "Ahlul Bait lebih tahu akan isi
rumahnya ketimbang orang luar." Apakah mungkin semuanya benar seperti yang diklaim
oleh masing-masing. Hal ini rasanya tidak mungkin sama sekali, karena ia bermaksud
sebaliknya. Lain halnya apabila dinyatakan bahwa hadis tersebut palsu atau dusta. Tetapi ini
tidak mungkin. Sebab hadis itu adalah hadis yang mutawatir, baik menurut Sunnah atau pun
Syi'ah. Apakah mungkin hadis ini tidak mempunyai makna dan maksud? Jauh sekali Nabi
akan berkata sesuatu yang sia-sia tanpa maksud, karena apa yang dikatakannya adalah wahyu
semata-mata; dan setiap hadisnya mengandung hikmat dan pelajaran. Nah, suka atau tidak,
kita terpaksa harus mengakui bahwa hanya ada satu golongan yang benar dan lainnya salah.
Hadis ini memang menimbulkan kebingungan, tetapi ia juga melahirkan sikap ingin tahu dan
kesungguhan untuk meneliti bagi mereka yang menginginkan keselamatan.
Karena itu, sikap ragu-ragu, bingung dan ingin tahu kemudian timbul dalam benakku setelah
perjumpaanku dengan orang-orang Syi'ah. Siapa tahu mungkin mereka mengatakan sesuatu
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 63
yang benar dan berkata jujur. Kenapa aku tidak teliti dan kaji. Islam telah mewajibkanku
mengkaji, memperbandingkan dan meneliti seperti yang disebutkan dalam AlQuran dan
Sunnah Nabi. Allah berfirman: "Siapa yang sungguh-sungguh meniti dijalan Kami maka pasti
Kami tunjukkan padanya jalan-jalan Kami" (QS. Al-Ankabut: 69). Dia juga berfirman:
"Mereka yang mendengar suatu perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antamnya, maka
mereka adalah orang-orang yang diberi hidayat oleh Allah dan mereka adalah orang-orang
yang berfikir." (QS. Al-Zumar: 18)
Dengan keputusan dan niat yang jujur ini aku kemudian berjanji pada diriku dan kepada
teman-teman Syi'ahku di Iraq untuk memulai penelitianku. Aku sangat terharu ketika
berpisah dengan mereka. Aku telah sangat mencintai mereka dan mereka juga mencintaiku.
Aku telah tinggalkan teman-teman yang mukhlis dan mulia, yang telah mengorbankan waktu
mereka karenaku dan tiada menyimpan sebarang maksud. Tujuan mereka semata-mata ingin
memperoleh keredhaan Allah SWT. Dalam sebuah hadis disebutkan: "Satu orang yang
mendapatkan hidayah Allah di tanganmu adalah lebih baik bagimu dari apa yang diterbitkan
oleh matahari."
Aku meninggalkan Iraq setelah dua puluh hari berada di sekitar makam para imam Syi'ah.
Semua berlalu seperti mimpi indah yang teramat sukar untuk dilepaskan. Kutinggalkan Iraq
dengan perasaan sedih lantaran waktunya yang sangat singkat; dan karena perpisahan yang
mesti dengan orang-orang yang sangat baik hati dan berpaut cinta kepada Ahlul Bait Nabi
SAWW. Aku pergi menuju Hijaz ingin berkunjung ke Baitullah al-Haram dan makam
Sayyidil Awwalin Wal Akhirin Shallallahu Alaihi Wa Alihi at-Thayyibin at-Thahirin.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 64
Berangkat Ke Hijaz
Aku tiba di Jeddah. Di sana aku berjumpa dengan temanku Bashir yang hangat menyambut
kedatanganku. Dibawanya aku ke rumahnya dan dihormatinya aku dengan penuh mesra. Dia
luangkan waktunya untuk menemaniku pergi bersiar dan ziarah dengan mobilnya. Kami pergi
umrah bersama-sama dan kami lalui waktu-waktu kami dengan amal ibadah dan ketakwaan.
Aku mohon maaf karena terlambat sampai lantaran perjalanan ke Irak sebelum ini.
Kuceritakan kepadanya temuan baruku. Dia bersikap terbuka dan ingin tahu. Katanya: "Aku
memang pernah mendengar bahwa mereka mempunyai banyak ulama yang agung dan
bersandar pada dalil-dalil yang kuat. Tetapi di antara mereka banyak juga golongan yang
sesat. Pada setiap musim haji mereka menciptakan berbagai kemusykilan pada kami."
Kutanya kemusykilan seperti apa? "Seperti, shalat di sekitar kuburan, masuk ke pekuburan
Baqi' beramai-ramai, menangis disana dan membawa potongan batu untuk sujud. Jika
mereka pergi ke kuburan Sayyidina Hamzah di Uhud, mereka akan mengadakan acara
takziah, memukul-mukul dada dan menangis kuat seakan-akan Hamzah baru saja meninggal
hari itu. Karena itulah kenapa kerajaan Saudi melarang mereka masuk ke makam-makam
ziarah."
Aku hanya tersenyum. Kukatakan padanya apakah dengan ini berarti mereka dihukumkan
telah keluar dari Islam? "Ya, ada lagi yang lainnya." Jawabnya. "Mereka datang ziarah ke
kuburan Nabi, tetapi dalam waktu yang sama mereka berdiri di depan kuburan Abu Bakar
dan Umar, kemudian mencaci dan melaknat mereka. Sebagian mereka bahkan ada yang
melempari kuburan Abu Bakar dan Umar dengan benda-benda najis dan kotoran."
Kata-kata ini mengingatkanku pada cerita ayahku saat beliau baru pulang dari Haji. Katanya,
orang-orang Syi'ah melemparkan najis ke kuburan Nabi. Ayahku memang tidak pernah
menyaksikannya sendiri. Katanya dia hanya melihat unit keamanan Saudi memukul sebagian
jemaah haji dengan tongkat. Ketika diprotesnya, mereka menjawab bahwa yang dipukul itu
bukan orang-orang Islam. Mereka adalah orang-orang Syi'ah, yang datang membawa bendabenda
najis untuk dilemparkan ke pusara Nabi SAWW. Ayahku kemudian berkata: "Seketika
itu juga kami laknat mereka dan meludahi muka mereka."
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 65
Sekarang ini kudengar dari temanku seorang Saudi asal Madinah bahwa orang-orang Syi'ah
itu berziarah ke kuburan Nabi, tapi melemparkan benda-benda najis ke pusara Abu Bakar
dan Umar. Aku meragukan kebenaran dua cerita ini. Karena kulihat sendiri ruang kuburan
Nabi dan kuburan Abu Bakar dan Umar semuanya tertutup. Siapa pun tidak akan dapat
mendekat untuk memegang dan mengusap dari pintu atau jendelanya. Apalagi ingin
melemparkan sesuatu ke dalamnya. Di samping tidak ada celah-celah, ia dijaga sangat ketat
oleh polisi-polisi yang kasar yang silih berganti berdiri di hadapan setiap pintu. Mereka
memegang cambuk dan memukul setiap orang yang mendekat atau yang berusaha melihat
ruang dalam. Kebanyakan polisi adalah orang-orang Saudi sendiri. Mereka mengkafirkan
Syi'ah agar punya alasan untuk memukul mereka; dan supaya kaum muslimin tergugah untuk
memerangi mereka atau paling tidak akan diam atas penghinaan terhadap mereka. Kelak
nanti kalau pulang ke negeri masing-masing, mereka akan mengatakan bahwa Syi'ah adalah
mazhab yang membenci Rasulullah SAWW dan melemparkan benda-benda najis ke
kuburannya. Dengan demikian maka mereka telah dapat melempar dua burung dengan satu
batu!
Hal ini serupa dengan cerita seorang alim yang kupercaya. Katanya: "Ketika kami sedang
tawaf di Baitullah, tiba-tiba seorang anak muda termuntah akibat perutnya yang mual dan
desakan orang ramai. Polisi-polisi yang menjaga Hajarul Aswad kemudian datang dan
memukulnya. Ditariknya anak muda ini dengan cara yang sangat memilukan. Kemudian ia
dituduh sengaja datang ke Ka'bah dengan membawa benda najis untuk mengotorinya. Setelah
"dibuktikan" maka anak muda ini dihukum mati pada hari itu juga.
Drama-drama seperti itu mulai mengusik benakku. Aku sejenak merenungkan kata-kata
temanku Saudi ini yang mengkafirkan Syi'ah. Sebabnya tiada lain karena orang-orang Syi'ah
itu menangis, memukul-mukul dada, sujud di atas tanah dan shalat di sekitar kuburan. Aku
bertanya-tanya apakah ini dalilnya untuk mengkafirkan orang yang bersaksi Tiada Tuhan
melainkan Allah dan Muhammad adalah Hamba-Nya dan Utusan-Nya, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, puasa bulan Ramadhan, pergi haji ke Baitullah al-Haram dan
melaksanakan amar ma'ruf dan nahi munkar?
Aku tidak ingin membantah dan berselisih dengannya. Aku hanya berkata: "Semoga Allah
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 66
membimbing kita dan mereka ke jalan yang lurus; dan semoga laknat Allah ditimpakan
kepada musuh-musuh agama yang telah menipu-daya Islam dan kaum muslimin."
Setiap kali aku bertawaf ketika umrah dan ketika ziarah ke Makkah al-Mukarramah, yang ada
hanya segelintir manusia saja. Aku shalat dan memohon kepada Allah dengan segala jiwa
ragaku agar dibukanya hatiku dan dibimbingnya aku ke jalan yang benar.
Aku berdiri di belakang makam Ibrahim a.s. Aku baca ayat berikut: "Dan berjihadlah kamu
pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia
sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama
orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari
dahulu. Dan (begitu pula) dalam (AlQuran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu
dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat,
tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka
Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik Penolong" (QS. Al-Haj: 78).
Lalu aku mulai bermunajat dengan Sayyidina Ibrahim atau bapak kita seperti yang disebut
oleh AlQuran. "Wahai bapak kami. Duhai yang menamakan kami sebagai Muslimin. Lihatlah
anak-anakmu yang telah berselisih setelah ketiadaanmu. Mereka telah menjadi Yahudi,
Nasrani dan Muslimin. Dan Yahudi telah berpecah kepada tujuh puluh satu golongan;
Nasrani telah berpecah kepada tujuh puluh dua golongan, dan kaum muslimin telah berpecah
juga kepada tujuh puluh tiga golongan. Semua mereka tersesat seperti yang diberitakan oleh
puteramu Muhammad dan satu golongan saja yang masih setia di jalanmu."
Apakah ini telah jadi sunnah Allah seperti yang dikatakan oleh Qadariah, sehingga Dia telah
tetapkan kepada semua manusia untuk menjadi Yahudi, Nasrani, Muslim, atheis atau
musyrik? Ataukah lantaran cinta kepada dunia dan menjauh dari ajaran-ajaran Allah?
Mereka telah lupa kepada Allah lalu Allah melupakan diri mereka. Akalku tidak berdaya
mempercayai yang qadha dan qadar itu menentukan nasib manusia. Aku condong bahkan
hampir pasti mengatakan bahwa Allah SWT setelah menciptakan kami, Dia juga
membimbing kami dan menunjukkan kami mana yang baik dan mana yang buruk. Diutus-
Nya kepada kami para Rasul-Nya untuk menjelaskan apa yang kami tidak tahu dan
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 67
mengajarkan mana yang hak dari yang batil. Tetapi manusia telah ditipu oleh dunia dan
hiasannya. Karena sikap ego, sombong, jahil, angkuh, zalim dan melewati batas maka mereka
kemudian berpaling dari kebenaran dan ikut jejak setan. Mereka telah lari dari ar-Rahman
dan masuk ke jalan yang lain. AlQuran telah mengungkapkan ini dengan ungkapan yang
sangat baik dan ringkas, "Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali menzalimi manusia, tetapi
manusia itu sendiri yang menzalimi diri mereka." (QS. Yunus: 44)
Duhai ayah kami Ibrahim. Orang-orang Yahudi dan Nasrani telah cela karena mengingkari
kebenaran setelah datangnya bukti-bukti yang jelas dengan sikap mereka yang angkuh itu.
Lihatlah pula ummat ini yang telah diselamatkan oleh Allah dengan datangnya puteramu
Muhammad, dan telah dikeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dan telah
dijadikan mereka sebagai ummat yang terbaik yang pernah diciptakan untuk manusia.
Lihatlah mereka juga bertengkar dan berpecah, bahkan saling mengkafirkan. Rasulullah telah
memperingatkan mereka dan membatasi mereka dengan sabdanya: "Seorang muslim tidak
diperkenankan meninggalkan saudara muslimnya yang lain lebih dari tiga hari." Kenapa
ummat ini berpecah dan terbagi menjadi negara-negara kecil yang saling bermusuhan,
berperang dan saling mengkafirkan? Bahkan mereka saling tidak mengenal sehingga mereka
berpisah sepanjang hidupnya. Apa yang telah terjadi pada ummat padahal sebelum ini
mereka adalah sebaik-baik ummat?
Dahulu mereka telah kuasai barat dan timur dan menghantarkan ummat manusia pada
kebenaran ilmu pengetahuan, kesadaran dan peradaban. Tetapi kini mereka telah menjadi
ummat yang hina dan tidak penting. Tanah-tanah mereka dirampas. Rakyat mereka diusir.
Masjid al-Aqsha mereka diduduki oleh segelintir orang-orang Zionis tanpa mereka sanggup
membebaskannya. Kalaulah Engkau mengunjungi negara-negara mereka, maka yang kau
lihat hanyalah kemiskinan, kelaparan, ketandusan, penyakit-penyakit yang berbahaya, moralmoral
yang rusak, keterbelakangan pemikiran dan teknologi, penindasan dan kekotoran.
Cukup Engkau bandingkan antara toilet-toilet umum Eropa dengan toilet-toilet umum di
negara-negara kami. Ketika seorang musafir masuk ke toilet di negara Eropa mereka akan
melihatnya bersih dan tidak berbau. Sementara jika ia pergi ke negara-negara Islam ia akan
melihatnya kotor dan berbau. Padahal agama Islam kita mengajarkan bahwa "kebersihan
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 68
adalah sebagian dari iman dan kekotoran adalah bagian dari setan." Apakah iman telah
berhijrah ke Eropa sementara setan hijrah ke mari?
Kenapa kaum muslimin takut menampakkan akidah mereka hatta di negara sendiri, dan
tidak berani hatta sekadar menunjukkan wajah? Mereka takut memelihara janggut mereka
atau memakai pakaian Islam. Sementara orang-orang fasik secara terang-terangan meminum
arak, berzina dan memperkosa kehormatan Islam, tanpa seorang muslim mampu menolak
mereka apalagi menyuruh yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Aku dengar di
sebagian negara Islam seperti Mesir dan Maroko, seorang ayah menjual anak-anak
perempuannya melacur semata-mata karena kemiskinan yang sudah sangat mencekik. Wala
Haula Wala Quwwata llla Billah al-A'li al-A'zim.
Ya Ilahi. Kenapa Kau menjauh dari umat ini dan meninggalkannya jatuh ke dalam kegelapan.
Tidak... tidak. Aku mohon ampunanMu ya Ilahi dan mohon taubat dariMu. Merekalah yang
menjauh dari-Mu dan memilih jalan setan. Maha Agung Hikmah-Mu dan Maha Tinggi
Kekuasaan-Mu. Kau telah berfirman: "Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan
Yang Maha Pemurah (AlQuran) Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka
syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya." (QS. Az-Zukhruf: 36) Kau juga
berfirman: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh maka kamu berbalik
ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada
orang-orangyang bersyukur." (QS. Ali Imran: 144)
Tidak syak lagi bahwa kemunduran, keterbelakangan, kehinaan dan kemiskinan adalah bukti
jelas akan jauhnya mereka dari jalan yang lurus. Dan tidak syak lagi bahwa kelompok yang
sedikit atau kelompok yang satu dari tujuh puluh tiga kelompok yang ada tidak akan dapat
mempengaruhi perjalanan ummat ini secara keseluruhan. Rasulullah SAWW telah bersabda:
"Hendaklah kalian perintahkan yang ma'ruf dan cegah yang munkar, atau Allah akan
tempatkan orang-orang yang paling jahat menguasai kalian. Saat itu apabila orang-orang
yang terbaik diantara kalian berdoa, kelak Dia tidak kabulkan permohonan-nya."
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 69
Ya Tuhan kami. Kami telah beriman dengan apa yang Kau turunkan dan kami telah
mengikuti Rasul-Mu. Maka golongkanlah kami bersama orang-orang yang bersaksi.
Ya Tuhan kami. Jangan Kau palingkan hati-hati kami setelah Kau berikan kami hidayah.
Karuniakan kepada kami dari sisi-Mu rahmat. Sesungguhnya Kau Maha Pemberi.
Ya Tuhan kami. Kami telah aniaya diri kami, apabila Kau tidak ampuni kami dan mengasihi
kami niscaya kami akan menjadi orang-orang yang rugi.
Aku berangkat ke Madinah al-Munawwarah sambil membawa sepucuk surat dari temanku
Basyir kepada salah seorang kerabatnya disana. Maksudnya agar aku dapat tinggal di
rumahnya saja. Dan Basyir juga telah memberitahunya melalui telepon. Sesampainya di sana
aku disambut dengan hangat dan diajak tinggal dirumahnya. Segera setelah itu aku pergi
ziarah ke kuburan Rasulullah SAWW. Sebelum pergi aku mandi dan mengenakan pakaianku
yang paling baik dan paling bersih. Tak lupa aku juga pakai wewangian yang harum
semerbak. Waktu itu para pengunjung tidak seramai di musim haji. Karena itu aku dapat
berdiri dihadapan kuburan Nabi SAWW dan kuburan Abu Bakar dan Umar. Pada musim haji
yang lalu, aku tidak bisa berdiri karena sesaknya pengunjung yang datang ziarah. Kemudian
secara iseng aku coba ingin menyentuh salah satu dari pintu kuburan Nabi untuk tabarruk
(mengambil berkat). Tiba-tiba seorang penjaga yang berdiri di situ menghentakku. Di setiap
pintu ada seorang penjaga yang berdiri. Ketika aku berdiri lama untuk berdoa dan
menyampaikan salam temanku, para penjaga di situ menyuruhku pergi. Aku coba
meyakinkannya, tapi tidak berhasil.
Aku kembali ke taman Raudhah. Di sana aku membaca ayat-ayat AlQuran dengan bacaan
yang terbaik. Kuulangi berkali-kali karena kubayangkan seakan Nabi sedang mendengar
bacaanku. Kukatakan kepada diriku apakah mungkin Nabi mati seperti orang-orang lain yang
mati. Lalu kenapa kita baca salam kepadanya diwaktu-waktu shalat kita, "Assalamu Alaika
Ayyuhan Nabiyyu Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh". Apabila kaum muslimin percaya
bahwa Sayyidina Khidhir as tidak mati dan menyahut salam setiap orang yang mengucapkan
padanya; bahkan apabila syaikh-syaikh tarekat sufi percaya bahwa syaikh mereka seperti
Ahmad Tijani atau Abdul Qadir Jailani dapat datang kepada mereka secara nyata atau dalam
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 70
tidur, lalu kenapa kita meragukan yang Rasulullah SAWW mempunyai keramat seumpama
itu. Padahal baginda Nabi adalah mahkluk Allah yang paling utama.
Sebenarnya kaum muslimin tidak meragukan kemampuan Rasulullah seperti ini kecuali
kelompok Wahhabiah yang mulai tidak kusukai itu. Sebab lain, karena mereka juga bersikap
kasar terhadap sesama orang-orang mukmin yang tidak seakidah dengan mereka.
Suatu hari aku berziarah ke Taman Baqi'. Aku berdiri di sana membaca Fatihah untuk arwah
Ahlul Bait. Di dekatku ada seorang tua yang sedang menangis. Dari tangisnya aku tahu bahwa
dia adalah seorang Syi'ah. Kemudian dia menghadap kiblat dan shalat. Tiba-tiba secepat kilat
seorang polisi datang menghampirinya. Polisi ini telah memperhatikan gerak-gerik orang tua
ini dari tadi. Ketika orang tua ini sujud, dia ditendang dengan keras sekali hingga jatuh
tersungkur. Dia pingsan tak sadarkan diri beberapa saat. Kemudian si polisi ini memukulnya
lagi dan mencaci-maki dengan kata-kata yang keji. Hatiku terharu melihat nasib orang tua
ini, khawatir ia akan mati karena derita yang kejam itu. Kukatakan pada polisi ini, "Wahai
Fulan, haram bagimu memperlakukan orang tua seperti ini. Kenapa kau pukul dia padahal
dia sedang shalat?" Dia menghentakku sambil berkata: "Diam kau dan jangan ikut campur!
Biar tidak kuperlakukan seperti itu!" Ketika kulihat wajahnya yang merah karena marah
padaku, aku pergi menghindarinya dengan hati yang sangat kesal lantaran tak dapat
menolong orang yang dizalimi ini. Aku juga sangat kesal kenapa orang-orang Saudi yang ada
di sekitar tidak berani mencegahnya.
Sebagian peziarah lain juga menyaksikan kejadian itu. Ada yang berkata La Haula Wala
Quwwata llla Billahi al-A'li al-A'zim sebagai tanda kesal. Tapi ada juga yang mendukung
perlakuan seperti itu karena konon dia shalat disekitar kuburan; dan ini hukumnya haram.
Aku tidak dapat menahan diriku melihat sikap orang ini. Kukatakan padanya, siapa yang
berkata bahwa shalat di sekitar kuburan adalah haram? "Rasulullah yang melarangnya"
jawabnya. "Kalian berdusta atas nama Rasulullah." Kataku tanpa sadar. Karena khawatir
orang-orang yang ada disekitar akan menangkapku atau akan memanggil si polisi itu, lalu aku
diperlakukan seperti orang tua itu, akhirnya aku berkata dengan lemah lembut: "Jika
memang Nabi SAWW melarang ini, kenapa jutaan jemaah haji dan peziarah tidak
melaksanakannya dan terus melakukan perbuatan yang haram. Mereka shalat di sekitar
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 71
kuburan Nabi dan kuburan Abu Bakar dan Umar ketika berada di Masjid Nabawi; atau ketika
berada di berbagai masjid kaum muslimin yang lain di belahan dunia ini. Katakanlah bahwa
shalat di sekitar kubur adalah haram, tapi apakah dengan cara kasar seperti ini kita lalu
melarangnya atau dengan cara halus dan lemah lembut?"
Izinkan aku menceritakan kisah seorang Badwi yang kencing di masjid Nabi di hadapan
baginda Nabi dan sahabat-sahabatnya tanpa segan silu. Ketika sebagian sahabat berdiri
menghunuskan pedang untuk membunuhnya, Nabi melarang mereka. Katanya: "Biarkan dia,
dan jangan perlakukan dia dengan kasar. Siramkan setimba air pada air kencingnya, karena
kalian dibangkitkan untuk mempermudah bukan untuk mempersulit; untuk membawa berita
gembira bukan untuk menimbulkan rasa enggan." Semua sahabat mematuhi perintahnya.
Kemudian Rasulullah memanggil si Badwi ini dan didudukkannya di sisinya. Disambutnya
dengan mesra dan dikatakan kepadanya dengan lemah lembut bahwa tempat ini adalah
Rumah Allah dan tidak boleh dinajisi. Akhirnya si Badwi ini masuk Islam. Pada hari-hari
berikutnya, dia datang ke masjid dengan pakaiannya yang paling suci. Benarlah firman Allah
kepada Rasul-Nya: "Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali Imran: 159)
Mendengar ini sebagian yang hadir merasa terkesima. Salah seorang dari mereka mengajakku
ke sebuah sudut dan bertanya siapa aku. "Dari Tunisia", jawabku. Disalaminya aku, kemudian
dia berkata: "Ya akhi, demi Allah, jagalah dirimu dan jangan kau berkata-kata seperti itu lagi
di sini. Aku menasihatimu hanya karena Allah semata-mata."
Sejak itu bertambahlah kebencianku pada mereka yang mengaku sebagai Khadimul
Haramain, karena perlakuan mereka yang kasar terhadap tamu-tamu Allah. Di sana tidak ada
orang yang berani mengeluarkan pendapatnya atau meriwayatkan hadis-hadis yang tidak
sejalan dengan cara mereka, atau mempercayai sesuatu yang tidak sama dengan kepercayaan
mereka.
Aku kembali ke rumah temanku yang masih belum kukenal namanya. Dia hidangkan untukku
makan malam. Kami duduk bersama saling menyapa. Sebelum makan, ditanyanya kemana
aku pergi hari ini. Kuceritakan padanya apa yang kusaksikan dari awal hingga akhir.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 72
Kukatakan juga padanya: "Ya akhi, terus terang kukatakan kepadamu bahwa aku mulai
merasa muak dengan Wahhabiah, dan mulai condong kepada Syi'ah." Tiba-tiba saja mukanya
berubah. Katanya kepadaku: "Jangan kau ucapkan kata-kata serupa itu sekali lagi!"
Ditinggalkannya aku sendirian dan tidak kembali sampai aku tertidur. Pagi berikutnya aku
bangun setelah mendengar suara azan Masjid Nabawi. Kulihat makanan malam tadi masih
berada di tempatnya. Aku sadar bahwa dia tidak kembali malam tadi. Aku merasa khawatir
kalau-kalau dia adalah seorang agen intel. Aku segera berdiri dan bergegas meninggalkan
rumah. Sepanjang hari itu aku berada di masjid saja, berziarah dan shalat. Aku hanya keluar
untuk wudhu' atau buang hajat.
Usai shalat Asar aku duduk mendengarkan ceramah yang sedang diberikan pada sekumpulan
jemaah sekitar. Melalui orang yang hadir akhirnya aku tahu bahwa penceramah adalah
seorang Qadhi atau pemuka kota Madinah. Aku mendengarkan kuliah tafsir AlQuran yang
diajarnya. Usai kuliah, aku menghadapnya dan mengajukan beberapa pertanyaan. Kataku,
"Tuan, dapatkah Anda memberikan penjelasan kepadaku maksud ayat 'Sesungguhnya Allah
bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya' (Al-Ahzab: 33). Siapa Ahlul Bait yang dimaksudkan dalam ayat ini?"
"Mereka adalah isteri-isteri Nabi. Sebab ayat ini bermula dengan menyebut mereka, 'Hai
isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita lain...'" Jawabnya.
Kukatakan padanya bahwa "Ulama-ulama Syi'ah berkata bahwa ayat ini adalah khusus untuk
Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Aku juga telah kritik mereka dan kukatakan bahwa
permulaan ayat tersebut adalah kata-kata "Hai isteri-isteri Nabi..." Mereka menjawab: "Ketika
ayat tersebut berkata kepada isteri-isteri Nabi, dhomir (kata ganti) yang digunakan semuanya
Nun Niswah (menunjuk perempuan). Firman Allah, "Lastunna inittaqoitunna", "Fala
Takhdho'na", "Wa Qulna", "Wa Qirna fi buyutikunna", "Wa la Tabarrajna", "Wa Aqimnas
Sholah WaAtinaz Zakah", "Wa Athi'nallaha Wa Rasulahu". Ketika bagian ayat itu khusus
kepada Ahlul Bait, maka dhomir ayat itu pun berubah (menunjuk lelaki). Firman-Nya "Li
Yuzhiba A'nkum", "Wa Yutohhirakum".
Sambil mengangkat cermin matanya, dia pandang wajahku dan berkata: "Hati-hati dari jenis
pemikiran yang bahaya seperti ini. Orang-orang Syi'ah mentakwilkan Kalam Allah mengikut
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 73
hawa nafsu mereka. Mereka juga mempunyai berbagai ayat yang berkenaan dengan Ali dan
anak-anaknya yang tidak kita ketahui. Mereka mempunyai AlQuran tersendiri yang diberi
nama dengan Mushaf Fatimah. Kuingatkan engkau jangan sampai tertipu."
"Jangan khawatir wahai Tuan!" kataku padanya. " Aku senantiasa waspada dan banyak tahu
tentang mereka. Aku hanya ingin mengkaji."
"Anda berasal dari mana?" Tanyanya kepadaku.
"Dari Tunisia".
"Siapa nama Anda?"
"At-Tijani".
Dia tertawa lebar. "Anda tahu siapa itu Ahmad Tijani?". Tanyanya. "Syaikh Tarekat."
Jawabku. "Dia adalah boneka Perancis. Perancis dapat bertapak di Algeria dan Tunisia karena
bantuannya. Jika kau pergi ke Paris, pergilah ke Perpustakaan Nasional dan baca Kamus
Perancis pada bab "A". Di sana kau akan temukan bahwa Perancis telah memberinya medali
kehormatan karena baktinya yang sangat besar kepada mereka." Jiwaku terasa tersentak
mendengar kata-katanya itu. Kemudian kuucapkan rasa terima kasih dan kami pun berpisah.
Aku berada di Madinah selama seminggu. Di sana aku telah dapat tunaikan sebanyak empat
puluh shalat (wajib). Aku juga mengunjungi tempat-tempat ziarah. Selama di sana aku
mengamati berbagai hal yang menarik perhatianku. Tapi perasaanku terhadap Wahhabiah
semakin hari semakin kecewa. Aku berangkat dari Madinah ke Jordan. Disana aku berjumpa
dengan teman-teman yang kukenal pada waktu musim haji yang lalu, seperti yang
kusebutkan di atas.
Selama tiga hari aku berada di sana. Kulihat rasa benci mereka pada Syi'ah lebih banyak dari
yang kusaksikan di Tunisia. Cerita dan alasannya satu. Setiap kali kutanya apa dalilnya,
mereka berkata bahwa mereka juga telah mendengarnya dari orang lain. Tidak satupun dari
orang yang kutanya pernah suatu saat berdiskusi dengan orang Syi'ah sendiri; atau membaca
kitab Syi'ah bahkan bertemu dengan mereka.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 74
Dari sana aku pergi ke Syria. Aku berkunjung ke Jami' Umawiyyah di Damaskus.
Disebelahnya ada makam yang dinisbahkan kepada kepala Sayyidina Husain. Aku juga
sempat berkunjung ke pusara Salahuddin al-Ayyubi dan Sayyidah Zainab.
Dari Beirut aku pergi ke Tripoli. Perjalanan laut memakan waktu selama empat hari. Di saat
itulah aku benar-benar bisa istirahat. Kuulangi rekaman perjalananku yang hampir habis.
Akhirnya aku berkesimpulan bahwa aku condong dan menaruh rasa hormat pada Syi'ah. Dan
sebaliknya merasa benci dan muak pada Wahhabiah yang telah kukenal liku-likunya. Aku
memuji Allah atas karunia yang diberikan-Nya padaku sambil berdoa kepada-Nya agar
ditunjukkan jalan yang benar.
Aku kembali ke tanah air dengan penuh kerinduan kepada keluarga dan teman-temanku.
Semuanya kudapati dalam keadaan baik. Ketika tiba di rumah, aku dikejutkan dengan banyak
bungkusan buku yang telah sampai sebelumku. Aku tahu siapa pengirimnya. Ketika kubuka
buku-buku yang memenuhi ruangan rumah, hatiku semakin cinta dan menghargai mereka
yang tidak mengingkari janjinya itu. Kulihat buku-buku yang dikirim lebih banyak dari yang
dihadiahkannya padaku waktu itu.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 75
Mulanya Suatu Kajian
AKU sangat gembira. Kususun buku-buku itu di ruangan khusus yang kunamakan
perpustakaan. Beberapa hari aku istirahat. Daftar kerja untuk awal tahun pelajaran baru telah
kuterima. Tugasku mengajar tiga hari berturut-turut dan selebihnya aku bebas.
Aku mulai membaca buku-buku itu. Kubaca buku Aqaid al-Imamiah (Aqidah Syi'ah
Imamiyah), dan Ashlus Syi'ah Wa Ushuluha. Hatiku tenang melihat akidah dan pemikiranpemikiran
yang dimiliki oleh Syi'ah. Kemudian kubaca kitab al-Muraja'at (Dialog Sunnah
Syi'ah) oleh Sayed Syarafuddin al-Musawi. Setelah beberapa lembar kubaca, isinya sangat
memikat sehingga tidak kutinggalkan kecuali betul-betul terdesak. Kadang-kadang kubawa
kitab itu ke sekolah. Kitab itu sangat menarik perhatianku lantaran sikap ketegasan orang
alim Syi'ah itu dan kemampuannya di dalam menjawab setiap persoalan yang diajukan oleh
seorang alim Sunni Syaikh al-Azhar.
Kitab itu sangat mengenai jiwaku karena ia berbeda dengan kitab-kitab lain. Biasanya penulis
sebuah buku akan menulis apa saja yang ia kehendaki tanpa ada orang yang menyangkal atau
mengkritiknya. Tetapi kitab ini adalah dialog antara dua alim dari dua mazhab yang berbeda.
Masing-masing membahas secara rinci setiap apa yang mereka permasalahkan, kecil atau
besar, dengan berpegangan kepada dua asas semua kaum muslimin, yakni AlQuran dan
Sunnah shahih yang disepakati. Buku itu benar-benar sangat memadai dalam memberikan
curahan ilmu kepadaku sebagai seorang yang tengah mencari suatu kebenaran. Itulah kenapa
buku itu sangat berguna sekali bagiku dan punya jasa besar yang tak terhingga kepadaku.
Aku sangat heran ketika si penulis berbicara tentang ketidak-patuhan sebagian sahabat
terhadap perintah-perintah Rasul SAWW. Disebutkan di situ berbagai contoh, antara lain
Tragedi Hari Kamis. Tidak terbayangkan betapa Sayyidina Umar bin Khattab memprotes
perintah Nabi dan mengatakan bahwa Nabi meracau. Mula-mula terpikir olehku bahwa
riwayat itu mesti dari kitab-kitab Syi'ah. Lebih mengherankan lagi ketika kulihat bahwa orang
alim Syi'ah ini meriwayatkannya dari kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Kukatakan
kepada diriku bahwa jika memang kujumpai ini di dalam Shahih Bukhari maka ia akan
menjadi sebuah masalah besar bagiku.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 76
Aku berangkat ke ibu kota. Di sana aku membeli kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim,
Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Shahih Turmuzi, Muwaththa' Imam Malik dan kitab-kitab
lain yang terkenal. Belum sempat sampai ke rumah, sepanjang jalan ke Qafsah dengan bis
umum, aku buka lembaran-lembaran Kitab Bukhari. Kucari riwayat Tragedi Hari Kamis,
dengan harapan aku tidak akan menjumpainya di sana. Diluar dugaan kudapati ada di sana
dan kubaca berulang kali. Teksnya sama dengan apa yang ditulis oleh Sayed Syarafuddin.
Aku berusaha untuk tidak mempercayai bahwa semua tragedi ini benar-benar terjadi. Karena
rasanya tidak mungkin Sayyidina Umar melakukan perbuatan yang sangat "bahaya" ini
terhadap Nabi SAWW. Tetapi bagaimana aku akan mendustakan riwayat yang ada di dalam
kitab shahih kami sendiri, yakni kitab shahihnya Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Bukankah kita
telah mewajibkan diri kita untuk mempercayai bahwa kitab itu adalah kitab shahih.
Meragukan atau mendustakan, hatta sebagian darinya, berakibat bahwa kita telah
mengabaikannya? Mengingat akibatnya kita akan mengabaikan seluruh kepercayaan kita.
Seandainya orang alim Syi'ah itu menukilnya dari kitab mereka maka aku tidak akan
mempercayainya sama sekali. Tetapi ketika beliau nukil dari kitab shahih Ahlu Sunnah
sendiri yang tak ada jalan untuk mencelanya, sementara kita juga mengatakan bahwa hal itu
adalah kitab yang paling shahih setelah AlQuran, maka perkara tersebut menjadi lain dan
menyiratkan suatu kemestian. Kalau tidak, maka hal itu akan bermakna bahwa kita telah
meragukan terhadap kesahihan kitab ini. Hal itu bermakna bahwa kita tidak mempunyai
sebarang pegangan di dalam melihat hukum-hukum Allah SWT. Mengingat hukum-hukum
yang ada di dalam Kitab Allah datang secara umum dan tidak terinci. Dan karena jarak kita
dengan zaman Risalah begitu jauh, maka kita telah mewarisi hukum-hukum agama kita
melalui leluhur kita dengan perantara kitab shahih seperti ini. Dengan demikian maka kita
tidak boleh mengabaikan kitab-kitab seperti ini sama sekali.
Aku berjanji kepada diriku ketika mula mengkaji masalah yang panjang dan rumit ini untuk
semata-mata berpegang kepada hadis yang shahih yang disepakati oleh Sunnah dan Syi'ah.
Aku akan mengabaikan setiap hadis yang hanya dipegang oleh satu mazhab saja dan ditolak
oleh yang lain. Dengan cara yang adil seperti ini, aku akan dapat menjauhi diriku dari segala
jenis pengaruh-pengaruh emosional, sikap fanatik (ta'ashshub) mazhab atau perselisihan
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 77
kaum dan bangsa. Dalam waktu yang sama aku akan memotong jalan keragu-raguan untuk
dapat sampai ke puncak keyakinan, yakni jalan Allah yang lurus.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 78
Sahabat Dalam Pandangan Sunnah dan Syi'ah
DI ANTARA tema penting yang kuanggap sebagai pokok dari setiap permasalahan yang bisa
menghantar pada suatu kebenaran adalah masalah kehidupan para sahabat, sikap mereka
dan prinsip-prinsip mereka. Mengingat mereka adalah tiang segala sesuatu. Dari mereka kita
mengambil ajaran agama kita. Dan dari mereka juga kita memperoleh sinar untuk
mengetahui hukum-hukum Allah SWT. Dahulu para ulama telah meneliti kehidupan mereka
secara rinci. Buah karya mereka antara lain Usud al-Ghabah Fi Tamyiz as-Shahabah, Kitab
al-Ishobah Fi Ma'rifah as-Shahabah, Kitab Mizan al-I'tidal dan lain sebagainya. Semua
berbicara di sekitar biografi para sahabat secara teliti dan kritis. Dan semua juga dari sudut
pandang Ahlu Sunnah Wal Jamaah.
Ada beberapa keberatan lahir di sekitar masalah yang sangat penting ini. Mayoritas ulama
yang membukukan fakta-fakta sejarah tidak sedikit yang ikut rentak para penguasa, baik Bani
Umaiyah atau Bani Abbasiah. Sementara sikap permusuhan mereka terhadap Ahlul Bait Nabi
dan bahkan terhadap orang-orang yang mengikuti mereka adalah rahasia umum yang
diketahui oleh semua. Karena itu akan tidak adil apabila kita hanya mengambil pendapat
mereka saja dan mengabaikan pendapat para ulama lain yang mengalami kondisi berbeda.
Para ulama ini karena dikenal sebagai pengikut Ahlul Bait Nabi dan tidak sejalan dengan
kehendak para penguasa, maka mereka sering dikejar-kejar, ditekan dan diburu.
Kemusykilan berikutnya berasal dari kalangan sahabat sendiri. Mereka telah berselisih ketika
Nabi SAWW ingin menuliskan kepada mereka sebuah wasiat yang akan menjamin mereka
dari kesesatan sampai akhir zaman. Perselisihan mereka telah mengakibatkan ummat Islam
tidak memperoleh karunia ilahi. Bahkan telah menghantar mereka pada kesesatan dimana
mereka terpecah akibat perselisihan itu dan menjadi suatu ummat yang lemah.
Sebelumnya mereka juga telah berselisih dalam masalah khilafah atau kepemimpinan, hingga
mereka terbagi pada pendukung partai yang memerintah dan pendukung partai oposan.
Akibatnya ummat ini terkorban dan terciptalah kelompok pengikut Ali yang bernama Syi'ah
dan kelompok pengikut Muawiyyah.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 79
Mereka juga pernah berselisih dalam menafsirkan Kitab Allah dan hadis-hadis Nabi SAWW.
Akibatnya terciptalah berbagai mazhab, golongan, kelompok dan aliran. Dari sana kemudian
tumbuh pula berbagai aliran Ilmu Kalam dan aliran-aliran pemikiran yang beragam. Juga
muncul berbagai aliran filsafat yang bermotifkan kepentingan politik melulu serta berkaitan
rapat dengan cita-cita kekuasaan.
Seandainya bukan karena sahabat maka kaum muslimin tidak akan terpecah dan berselisih
seperti ini. Setiap perselisihan yang ada pasti berakar dari mereka. Semua percaya bahwa
Tuhannya Satu, AlQurannya satu, Rasulnya satu dan kiblatnya juga satu. Tiada siapa yang
menginkarinya. Perselisihan dan pertikaian antara sahabat bermula sejak hari pertama
setelah wafatnya Rasul SAWW di Saqifah Bani Sai'dah. Dan akibatnya sampai hari ini dan
sampai suatu hari yang dikehendaki Allah akan terus berkelanjutan.
Dari serangkaian diskusiku dengan sejumlah ulama Syi'ah, mereka berpendapat bahwa para
sahabat terbagi pada tiga golongan. Pertama, golongan sahabat yang baik yang telah
mengenal Allah dan Rasul-Nya dengan pengetahuan yang sempurna. Mereka pernah
membaiat Rasul dan bersedia berkorban untuknya; menemaninya dengan jujur dalam ucapan
dan bersikap penuh ikhlas dalam tindakan. Mereka tidak berpaling dari jalan Rasul
sepeninggalnya, bahkan tetap setia dengan janji-janjinya. Mereka telah memperoleh pujian
dari Allah dalam sejumlah ayat-ayatnya. Rasul juga telah memujinya di dalam berbagai
tempat. Mereka disebut oleh orang-orang Syi'ah dengan penuh hormat dan takzim. Apabila
nama mereka disebut, maka ia disebut dengan mengucapkan kalimat Radhiallah A'nhum.
Kedua, kelompok sahabat yang memeluk Islam dan ikut Rasulullah karena suatu tujuan:
menginginkan sesuatu atau takut pada sesuatu. Mereka meminta jasa dari Rasul atas
keislaman mereka. Kadang-kadang mereka mengganggunya dan tidak patuh pada perintah
atau larangannya. Bahkan mengutamakan pendapat sendiri di hadapan nas-nas yang jelas,
sehingga Allah turunkan untuk mereka ayat yang mencela atau kadang-kadang yang
mengancam mereka. Dalam berbagai ayat Allah telah mempermalukan mereka; dan Rasul
juga telah memperingatkan mereka dalam berbagai sabdanya. Kepada sahabat sejenis ini
orang-orang Syi'ah memang tidak menghormati mereka apalagi mengkultuskan.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 80
Ketiga, kelompok munafik yang "menemani" Rasul karena ingin memperdayakannya. Mereka
menampakkan diri sebagai Muslim sementara hati mereka menyimpan kekufuran. Mereka
mendekat kepada Islam agar dapat memperdayakan kaum muslimin. Allah telah turunkan
kepada mereka satu surah penuh. Disebutnya mereka dalam berbagai tempat dan
diancamnya mereka dengan siksa api neraka yang sangat pedih. Rasul juga telah menyebut
mereka dan mengancam mereka. Sebagian sahabat telah diberitahu nama-nama mereka dan
tanda-tandanya. Sunnah dan Syi'ah sepakat untuk melaknat dan menjauhkan diri dari
mereka.
Tambah satu lagi. Ada kelompok sahabat yang sangat istimewa, lantaran kekerabatan mereka
dengan nabi, ketinggian akhlak dan kemurnian jiwa yang dimiliki dan kekhususan yang telah
dikaruniakan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka hingga tiada satu pun orang yang dapat
menyainginya. Mereka adalah golongan Ahlul Bait yang telah dibersihkan oleh Allah dari
segala dosa dan disucikan mereka sesuci-sucinya (QS. Al Ahzab: 33); diwajibkan kepada
kaum muslimin untuk bersalawat pada mereka sebagaimana juga pada Rasul; mereka
disertakan sebagai golongan yang wajib diberikan khumus (QS. Al Anfaal: 41); diwajibkan
kepada orang-orang Islam untuk mencintai mereka sebagai imbalan dari Risalah Muhammad
(QS. Asy Syuura: 23); sebagai ulul amri yang wajib dipatuhi (QS. An Nisa: 59); sebagai orangorang
yang rusukh di dalam ilmu pengetahuan dan arif dalam mentakwil AlQuran serta
membedakan antara yang mutasyabih dengan yang muhkam (QS. Ali Imran: 7); sebagai Ahli
Zikr yang dijadikan oleh Rasul sebagai pendamping AlQuran dan wajib berpegang teguh
kepadanya seperti dalam hadis as-Tsaqalain (lihat Kanzul Ummal[1: 44]); Musnad Ahmad (5:
182); sebagai Bahtera Nabi Nuh sehingga siapa yang mengikutinya akan selamat dan yang
tinggal akan tenggelam (lihat Mustadrak al-Hakim 3:151; Sawwaiq al-Muhriqah oleh Ibnu
Hajar hal. 184 dan 234).
Para sahabat mengetahui kedudukan Ahlul Bait, menghormati bahkan mentakzimkan
mereka. Dan Syi'ah ikut jejak mereka serta mendahulukan mereka atas semua sahabat. Dalam
hal ini kelompok Syi'ah memegang nash-nash yang tak terbantahkan.
Sementara Ahlu Sunnah Wal Jamaah walaupun mereka menghormati, mengutamakan dan
mentakzimkan Ahlul Bait, namun mereka tidak menerima adanya klasifikasi sahabat seperti
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 81
ini. Mereka tidak menganggap orang-orang munafik sebagai bagian dari sahabat. Bagi mereka
sahabat adalah manusia yang paling baik setelah Nabi SAWW. Apabila ada pembagian, maka
pembagiannya di sisi lain, seperti kelompok sahabat tingkatan as-Sabiqun al-Awwalun, yang
mula pertama masuk agama Islam; kelompok sahabat yang menderita karena agama Islam
dan seterusnya. Empat Khulafa' Rasyidin adalah pada tingkatan yang pertama, kemudian
menyusul enam sahabat lain yang telah dijamin surga, seperti yang tertulis dalam sejumlah
riwayat. Itulah kenapa ketika mereka bershalawat kepada Nabi dan Ahlu Baitnya maka
mereka juga akan menyebut nama para sahabat secara keseluruhan, seperti Wa Ala Alihi Wa
Sahbihi Ajmai'n.
Demikianlah yang kuketahui dari ulama-ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah seperti juga yang
kudengar dari para ulama Syi'ah perihal sahabat ini. Hal ini telah mendorongku untuk
menelaah secara rinci segala sesuatu yang berkaitan dengan sahabat. Aku berjanji kepada
Tuhanku untuk menghindari segala jenis fanatisme dan sikap emosional agar dapat benarbenar
objektif dalam menilai pendapat kedua mazhab ini. Kemudian mengambil yang terbaik
darinya.
Bahan pertimbangan yang kugunakan dalam hal ini adalah:
Pertama, Kaidah mantik (logika) yang benar. Yakni aku tidak akan berpegang kecuali pada
apa yang telah disepakati oleh kedua mazhab ini, dalam menafsirkan Kitab Allah dan Sunnah
Nabi yang shahih.
Kedua, Akal sehat. Ia adalah nikmat Allah yang paling besar pada ummat manusia.
Karenanya maka manusia dimuliakan dan diutamakan di atas segenap makhluk yang lain.
Bukankah Allah SWT menyeru manusia untuk berpikir ketika berhujjah dengan mereka.
FirmanNya "Apakah kalian tidak berfikir?", "Apakah mereka tidak memahami?", "Apakah
mereka tidak meneliti?", "Apakah mereka tidak melihat?" dan lain sebagainya.
Prinsip telaahku juga harus Islami. Yakni beriman kepada Allah, para malaikatNya, para
RasulNya, kitab-kitabNya dan bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya dan
hanya Islam sebagai Din yang sah di sisi Allah SWT. Aku tidak akan merujuk kepada sahabat
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 82
manapun kendati ia memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi; atau memiliki
kedudukan yang tinggi. Aku bukan dari pengikut Bani Umaiyah atau Bani Abbasiah atau
Fatimiah atau Sunnah ataupun Syi'ah. Tapi aku juga tidak menyimpan rasa permusuhan
dengan Abu Bakar, Umar, Utsman atau Ali bahkan Wahsyi pembunuh Sayyidina Hamzah
sekalipun selama dia telah ikut agama Islam. Bukankah Islam mengampuni segala apa yang
telah berlalu di alam kekufuran dan Rasul juga telah memaafkannya?
Karena aku telah bertekad untuk mengkaji secara mendalam agar dapat sampai pada suatu
kebenaran; dan karena aku telah mengambil keputusan untuk membebaskan pikiranku dari
segala ikatan maka aku memulai penelitianku berkenaan dengan sahabat dengan penuh
tawakkal dan mengharap berkat dari sisi Allah SWT.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 83
Perdamaian Hudaibiyah dan Sahabat
Singkat ceritanya adalah sebagai berikut:
Pada tahun keenam hijriah Rasulullah bersama seribu empat ratus para sahabatnya keluar
dari Madinah dengan tujuan umrah. Diperintahkannya para sahabat menyarungkan
pedangnya masing-masing. Mereka berihram di Zil Hulaifah dan membawa binatang korban
agar orang-orang Quraisy tahu bahwa mereka datang untuk umrah bukan untuk perang.
Karena sifat angkuhnya, orang-orang Quraisy tidak mau kelak ada penduduk Arab
mendengar bahwa Muhammad telah masuk ke Mekah dan memecahkan benteng mereka.
Diutusnya serombongan delegasi yang diketuai oleh Suhail bin A'mr bin Abdu Wud al-A'miri
agar meminta Nabi kembali ke tempat asalnya. Tahun depan mereka akan diizinkan untuk
umrah selama tiga hari. Orang-orang Quraisy juga meletakkan syarat yang berat yang
kemudian diterima oleh Nabi berdasarkan kemaslahatan yang dilihatnya dan wahyu Allah
kepadanya.
Namun sebagian sahabat tidak senang dengan sikap Nabi seperti ini. Mereka menentangnya
dengan keras. Umar bin Khattab datang dan berkata: "Apakah benar bahwa engkau adalah
Nabi Allah yang sesungguhnya?"
"Ya", jawab Nabi.
"Bukankah kita dalam hak dan musuh kita dalam batil?"
"Ya". Sahut Nabi.
"Lalu kenapa kita hinakan agama kita?" Desak Umar.
"Aku adalah Rasulullah. Aku tidak melanggar perintah-Nya dan Dialah penolongku." Jawab
Nabi.
"Bukankah engkau mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Rumah Allah dan
bertawaf di sana ?"
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 84
"Ya. Tetapi apakah aku katakan kepadamu pada tahun ini juga?" Tanya Nabi.
"Tidak".Jawab Umar.
"Engkau akan datang ke sana dan tawaf di sekitarnya." Kata Nabi mengakhiri.
Kemudian Umar datang kepada Abu Bakar dan bertanya:
"Wahai Abu Bakar! Benarkah bahwa dia adalah seorang Nabi yang sesungguhnya?"
"Ya" Jawab Abu Bakar.
Kemudian Umar mengajukan pertanyaan serupa kepada Abu Bakar dan dijawab dengan
jawaban yang serupa juga.
"Wahai saudara!" Kata Abu Bakar kepada Umar. "Beliau adalah Rasul Allah yang
sesungguhnya. Beliau tidak melanggar perintah-Nya dan Dialah Penolongnya. Maka
percayalah padanya."
Usai Nabi menulis piagam perdamaian, beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya:
"Hendaklah kalian sembelih binatang-binatang korban yang kalian bawa itu dan cukurlah
rambut kalian." Demi Allah tidak satu sahabatpun berdiri mematuhi perintah itu sampai Nabi
mengucapkannya sebanyak tiga kali. Ketika dilihatnya mereka tidak mematuhi perintahnya
Nabi masuk ke dalam kemahnya dan keluar kembali tanpa berbicara dengan siapa pun.
Beliau sembelih korbannya dengan tangannya sendiri lalu memanggil tukang cukurnya
kemudian bercukur. Melihat ini para sahabat kemudian menyembelih juga korban mereka,
kemudian saling mencukur sehingga hampir-hampir mereka saling berbunuhan. (Lihat bukubuku
sejarah dan sirah. Juga lihat Shahih Bukhari dalam Bab as-Syuruthi Jihad 2:122; juga
Shahih Muslim Bab Sulhul Hudaibiyah Jil. 2)
Demikianlah kisah Perdamaian Hudaibiyah yang disepakati oleh Sunnah dan Syi'ah secara
singkat. Para ahli sejarah dan Sirah seperti Thabari, Ibnul Athir dan Ibnu Sa'ad menuliskan
cerita ini pada buku mereka masing-masing. Begitu juga Bukhari dan Muslim.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 85
Membaca kisah seperti ini aku sempat terdiam dan berhenti. Tidak mungkin cerita
seumpama ini tidak menimbulkan sembarang pertanyaan atas sikap para sahabat terhadap
Nabi mereka seperti itu. Apakah seorang yang berpikir waras akan dapat menerima ucapan
orang yang mengatakan bahwa semua sahabat Nabi r.a. telah mematuhi seluruh perintah
Nabi dan melaksanakannya. Bukti sejarah ini menafikan kebenaran ucapan seperti itu.
Dapatkah seseorang yang berpikir rasional menilai bahwa sikap seperti itu terhadap Nabi
adalah hal yang kecil, atau dapat diterima atau dimaafkan?
Allah berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga
mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap
keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya."(QS. An-Nisa: 65)
Dalam peristiwa ini apakah Umar tidak merasa berat dalam menerima keputusan Nabi
SAWW ataukah dia bersikap ragu-ragu terhadap perintah Nabi, khususnya ketika dia berkata:
"apakah engkau benar-benar Nabi Allah yang sesungguhnya? Bukankah engkau berkata
kepada kami..." dan seterusnya. Apakah Umar juga menerima jawaban Nabi yang
memuaskan itu? Tidak. Dia tidak puas dengan jawaban Nabi lalu pergi kepada Abu Bakar
mengajukan pertanyaan yang serupa. Apakah dia menerima jawaban Abu Bakar dan
nasihatnya agar mematuhi perintah Nabi? Tidak tahu aku apakah dia terima lantaran
jawaban Abu Bakar atau jawaban Nabi! Kalau tidak kenapa dia berkata terhadap dirinya,
"Lalu aku telah lakukan beberapa perkara yang ..." Hanya Allah dan RasulNya saja yang tahu
apa yang dilakukan oleh Umar. Dan aku juga tidak tahu sebab keengganan sahabat-sahabat
lain atas perintah nabi setelah itu ketika Nabi berkata: "Sembelihlah binatang korban kalian
dan cukurlah rambut kalian!" Tidak satupun dari mereka mendengar perintah Nabi ini hingga
beliau terpaksa mengulanginya tiga kali tanpa ada kesan.
Subhanallah! Aku hampir-hampir tidak percaya apa yang kubaca ini. Apakah sampai tahap
ini para sahabat bersikap terhadap perintah Nabi? Jika cerita ini diriwayatkan hanya oleh
golongan Syi'ah saja, maka aku akan katakanbahwa ini adalah tuduhan Syi'ah kepada para
sahabat yang mulia. Permasalahnya sedemikian terkenal dan benar hingga semua ahli hadis
Ahlu Sunnah Wal Jamaah meriwayatkannya dalam buku mereka masing-masing. Dan karena
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 86
aku telah berjanji untuk menerima apa yang telah disepakati, maka aku tidak ada pilihan
kecuali menerima dan bingung. Apa yang harus kukatakan? Dengan apa aku harus "maafkan"
sikap sejumlah sahabat yang telah hidup bersama Nabi selama hampir dua puluh tahun, dari
awal Bi'thah sampai periode Perdamaian Hudaibiyah di mana mereka telah saksikan berbagai
mukjizat dan cahaya kenabian. AlQuran juga telah diajarkan kepada mereka siang dan
malam. Bagaimana seharusnya mereka bersikap dan beradab dihadapan baginda Nabi
SAWW, dan bagaimana cara berbicara dengannya. Allah pernah mengancam untuk
menggugurkan amal-amal baik mereka apabila suara mereka diangkat lebih keras melebihi
suara Nabi.
Aku berandai bahwa Umar bin Khattablah yang mempengaruhi sahabat-sahabat lain untuk
mengabaikan perintah Nabi. Hal ini dapat dilihat lewat pengakuannya bahwa dia telah
melakukan beberapa perkara yang tidak mau disebutnya; atau sebagian ucapannya yang
berkata: "Aku terus berpuasa, bersedekah, sembahyang dan membebaskan hamba sahaya
karena takutkan akan kata-kataku yang kuucapkan itu..." dan sebagainya seperti yang tercatat
dalam berbagai buku. (lihat As-Sirah al-Halabiyah bab Sulhul Hudaibiyah 2: 706)
Bukti ini menunjukkan bahwa Umar sendiri sebenarnya mengetahui implikasi sikapnya
seperti itu. Suatu cerita yang aneh dan ajaib, tetapi benar dan nyata.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 87
Tragedi Hari Kamis dan Sahabat
Berikut ini adalah uraian peristiwa secara ringkas:
Tiga hari menjelang wafatnya Nabi SAWW para sahabat berkumpul di rumah Rasul SAWW.
Nabi yang mulia memerintahkan mereka untuk mengambil kertas dan dawat agar dituliskan
kepada mereka suatu wasiat yang akan memelihara mereka dari kesesatan. Namun para
sahabat berselisih. Sebagian mereka enggan mematuhinya dan bahkan menuduhnya telah
meracau sampai Nabi marah sekali dan mengusir mereka dari rumahnya tanpa menuliskan
apa-apa. Perinciannya adalah sebagai berikut:
Ibnu Abbas berkata: "Hari Kamis, oh hari Kamis. Waktu Rasul merintih kesakitan, beliau
berkata, mari kutuliskan untuk kalian suatu pesan agar kalian kelak tidak akan tersesat. Umar
berkata bahwa Nabi sudah terlalu sakit sementara AlQuran ada di sisi kalian. Cukuplah bagi
kita Kitab Allah. Orang yang berada dalam rumah berselisih dan bertengkar. Ada yang
mengatakan berikan kepada Nabi kertas agar dituliskannya suatu pesan di mana kalian tidak
akan tersesat setelahnya. Ada sebagian lain berpendapat seperti pendapatnya Umar. Ketika
pertengkaran di sisi Nabi semakin hangat dan riuh Rasul pun lalu berkata, 'Pergilah kalian
dari sisiku!' Ibnu Abbas berkata: 'Tragedi yang paling menyayat hati Nabi adalah larangan
serta pertengkaran mereka di hadapan Rasul yang ingin menuliskan suatu pesan untuk
mereka.'11
Peristiwa ini benar-benar terjadi. Para ulama, ahli hadis dan ahli sejarah Syi'ah dan Sunnah
mencatat riwayat ini dalam buku-buku mereka. Dan ini harus kuterima lantaran ikrarku dan
janji yang telah kubuat. Di sini juga aku merasa sangat heran atas sikap yang ditunjukkan
oleh Umar terhadap perintah Nabi SAWW. Perintah apa? Sebuah perintah yang akan
menyelamatkan ummat ini dari kesesatan. Tidak syak lagi bahwa wasiat tersebut menyirat
sesuatu yang baru bagi kaum muslimin dan akan menghapuskan segala keraguan yang ada
dalam diri mereka.
1 Shahih Bukhori jil.2 dan 5 Hal. 75; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 1 hal. 355; jil. 5 hal. 116; Tarikh Thabari jil.
3 hal. 193; Tarikh Ibnu Atsir Jil. 2 hal. 320.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 88
Kita tinggalkan pendapat Syi'ah yang berkata bahwa Nabi sebenarnya ingin menuliskan nama
Ali sebagai khalifahnya lalu Umar lebih cerdik dan segera melarangnya. Karena tafsiran
mereka seperti ini tidak dapat kita terima sejak awal. Tetapi apakah kita mempunyai tafsiran
lain yang logis dari peristiwa yang menyakitkan hati ini, sampai Nabi marah dan mengusir
mereka dari kamarnya. Bahkan menyebabkan Ibnu Abbas sedemikian banyaknya menangis
sehingga membasahi tanah. Beliau menyebut peristiwa ini sebagai tragedi yang paling besar.
Ahlu Sunnah juga berkata bahwa Umar melakukan semua itu justru karena dia merasakan
penderitaan Nabi dan tidak ingin membebankannya lebih banyak. Namun tafsiran seperti ini
tidak dapat diterima hatta oleh orang awam, apalagi orang-orang yang alim. Aku berkali-kali
berusaha mencari alasan untuk memaafkan Umar, tetapi realitas kejadian enggan
menerimanya, sekalipun kalimat "yahjur" (meracau) telah diganti oleh perawi (semoga Allah
melindungi kita) dengan kalimat "ghalabahul waja'" (karena terlalu sakit). Kita juga masih
tidak akan dapat menemukan alasan apologis lain atas kata-kata Umar, "'Indakum AlQuran"
(disisi kalian ada AlQuran) dan "Hasbuna Kitabullah" (cukup bagi kami Kitab Allah). Apakah
beliau lebih arif tentang AlQuran daripada Nabi yang telah menerimanya, atau Nabi tidak
sadar apa yang diucapkannya? (Semoga Allah melindungi kita). Atau Nabi ingin meniupkan
api perpecahan dan pertengkaran dengan perintahnya ini? Astaghfirullah!
Kalau memang tafsiran Ahlu Sunnah ini benar, maka Rasululllah akan tahu niat baik Umar
ini dan akan berterima kasih padanya. Bahkan beliau akan lebih mendekatkannya daripada
harus marah dan berkata, "Keluarlah kalian dari kamarku!"
Aku juga ingin bertanya kenapa mereka ikut perintah Nabi ketika mereka diusir keluar dari
kamarnya dan tidak berkata bahwa Nabi tengah meracau. Sungguh mereka telah berhasil
dalam rencana mereka dalam menghalangi Nabi dari menuliskan surat wasiat tersebut. Itulah
kenapa tiada sebab mereka harus terus berada di sana. Bukti bahwa mereka bertengkar di
hadapan Nabi dan terbagi kepada dua golongan adalah kalimat riwayat yang tertulis "...Ada
yang berkata dekatkan kepada Rasulullah apa yang dimintanya agar dituliskannya untuk
kalian pesanan itu; dan ada sebagian lagi yang berkata seperti kata-katanya Umar, yakni Nabi
tengah meracau."
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 89
Peristiwa ini tidak sesederhana seperti yang dibayangkan, dimana hanya Umar yang terlibat.
Seandainya demikian maka Nabi akan memarahinya dan akan berkata bahwa dirinya tidak
mengucapkan sesuatu mengikut hawa nafsunya; dan beliau tidak meracau di dalam
membimbing ummat ini. Namun masalahnya lebih serius dari itu. Beliau merasakan bahwa
Umar bersama sahabat-sahabatnya telah bersepakat sebelum itu. Lantaran kesepakatan itu
kemudian mereka bertengkar dan berselisih di hadapan Nabi sampai mereka lupa atau purapura
lupa dengan firman Allah SWT, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan
suara yang keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain,
supaya tidak gugur (pahala) amalmu sedangkan kamu tidak menyadari" (QS. Al Hujuraat: 2).
Dalam peristiwa ini mereka juga telah melampaui batas "meninggikan suara" dan "berkata
keras". Mereka bahkan telah mengatakan bahwa Nabi telah meracau (semoga Allah
melindungi kita). Lalu bertengkar ramai dan hiruk-pikuk di hadapannya.
Aku hampir memastikan bahwa kebanyakan yang hadir berpihak pada Umar. Karena itu
maka Rasulullah melihat kemaslahatan untuk tidak menuliskan isi wasiatnya. Nabi juga tahu
bahwa mereka sudah tidak menghormatinya dan tidak patuh pada perintah Allah atas haknya
sebagai Nabi dimana kaum muslimin dilarang berkata kasar dan keras di hadapannya. Nah,
jika mereka enggan patuh pada perintah Allah apalagi pada perintah Rasul-Nya SAWW.
Kebijaksanaan Rasul untuk tidak menuliskan wasiat itu adalah karena (penolakan seperti itu)
merupakan sebuah celaan baginya di masa hidupnya; maka bagaimana pula nantinya setelah
wafatnya. Kelak orang-orang yang mencelanya akan berkata bahwa Nabi saat itu sedang
meracau. Mungkin juga mereka akan meragukan sebagian dari hukum yang disyariatkan
Nabi pada masa sakitnya itu juga atas keyakinan mereka bahwa Nabi sedang meracau.
Aku mohon ampunan Allah dari ucapan seperti ini terhadap Nabi utusan Allah. Bagaimana
aku dapat meyakinkan diriku bahwa Umar bin Khattab tidak bermaksud sungguh-sungguh
ketika mengucapkan itu. Padahal sebagian sahabat yang hadir menangis dalam kejadian ini
hingga air matanya membasahi tanah dan dikatakan sebagai tragedi Hari Kamis.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 90
Aku berkesimpulan untuk menolak setiap alasan yang diajukan untuk menjustifikasi kejadian
itu; dan berusaha juga untuk mengingkarinya secara total agar hati ini dapat tenteram. Tetapi
sayangnya semua buku-buku shahih telah meriwayatkannya dan membuktikan
kebenarannya.
Aku lebih condong kepada pendapat Syi'ah dalam menafsirkan kejadian ini, karena
tafsirannya rasional dan mempunyai bukti yang kuat. Aku masih teringat jawaban Sayed
Muhammad Baqir Sadr ketika kutanya bagaimana Sayyidina Umar -dari segenap sahabatdapat
mengerti maksud Nabi yang ingin menjadikan Ali sebagai khalifahnya seperti yang
kalian duga. Bukankah ini adalah bukti kepandaiannya?
Sayed Sadr menjawab: "Bukan Umar sendiri yang tahu maksud Rasul. Semua yang hadir juga
tahu. Karena sebelum itu beliau juga pernah berkata kepada mereka, "Kutinggalan kepada
kalian dua peninggalan yang besar (tsaqalain): Kitab Allah dan itrah Ahlul Baitku. Jika
kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya".
Pada saat sakitnya Nabi berkata kepada mereka, "Biar kutuliskan kepada kalian suatu pesan
di mana kalian tidak akan tersesat selama-lamanya" Semua yang hadir termasuk Umar tahu
maksud Nabi yang ingin menegaskan secara tertulis apa yang diucapkannya di Ghadir Khum
sebelum itu: yakni berpegang teguh pada Kitab Allah dan Itrah Ahlu Baitnya. Dan penghulu
itrah adalah Ali. Jadi seakan-akan Nabi ingin berkata, "Berpeganglah kalian kepada
AlQuran dan Ali." Ucapan-ucapan seperti ini pernah dikatakannya juga di berbagai tempat
yang lain seperti yang diungkapkan oleh sejumlah ahli hadis.
Mayoritas Quraisy tidak suka dengan Ali, karena beliau adalah yang paling muda, yang
pernah menghancurkan pembesar-pembesar mereka dan membunuh pahlawanpahlawannya.
Tetapi mereka tidak berani menentang Nabi ke tahap yang pernah terjadi pada
Perdamaian Hudaibiyah; atau ketika Nabi menshalatkan jenazah Abdullah bin Ubai, seorang
munafik; dan dalam berbagai kejadian yang telah dicatat oleh sejarah. Sikap seperti ini,
seperti yang Anda lihat dalam penentangan mereka atas penulisan wasiat disaat-saat akhir
hayatnya, menimbulkan keberanian kepada yang lain untuk menentang dan bertengkar
dihadapan baginda Nabi.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 91
Kata-kata "AlQuran sudah ada disisi kalian" atau "cukuplah bagi kita Kitab Allah", adalah
bantahan yang nyata kepada maksud Hadis yang menyuruh mereka berpegang kepada Kitab
Allah dan Itrah Ahlul Bait Nabi. Seakan maksud bantahan itu begini: "Cukuplah bagi kami
Kitab Allah dan tidak perlu kepada Itrah". Selain ini tidak ada penafsiran lain yang dapat
diterima, melainkan kalau kita katakan bahwa maksudnya adalah taat pada Allah tanpa perlu
taat pada Rasul. Hal demikian sudah pasti salah dan tak dapat diterima.
Apabila kubuang jauh-jauh rasa fanatisme buta dan sikap emosi yang negatif serta dapat
berpikir secara rasional dan objektif maka aku harus terima penafsiran seperti ini bahwa
Umarlah orang pertama yang menolak Sunnah Nabi dengan kata-katanya, "Cukuplah bagi
kita Kitab Allah".
Jika sebagian penguasa menolak Sunnah Nabi karena alasan "kontradiktif", sebenarnya ia
hanya ikut pengalaman sejarah kehidupan kaum muslimin sebelumnya. Aku juga tidak
mengatakan bahwa Umar adalah satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas tragedi ini
sehingga ummat kehilangan bimbingan yang sepatutnya diterimanya. Untuk lebih adil harus
kukatakan bahwa ada sahabat lain yang bersamanya dan mempunyai pendapat seperti
pendapatnya Umar. Mereka menyebelahi Umar di dalam sikapnya yang menentang perintah
Nabi SAWW.
Aku merasa agak aneh pada mereka yang membaca peristiwa ini kemudian menganggapnya
ringan yang seakan tidak menyirat sebuah implikasi yang besar. Padahal ia adalah tragedi
yang paling besar seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas. Lebih aneh lagi adalah usaha
mereka yang coba menjaga kemuliaan seorang sahabat dan membenarkan perbuatan
salahnya dengan mengorbankan kemuliaan Rasulullah dan prinsip-prinsip Islam.
Kenapa kita harus lari dari suatu fakta dan berusaha menguburkannya ketika ia tidak sejalan
dengan kehendak kita? Kenapa kita tidak menerima kenyataan bahwa para sahabat
sebenarnya adalah manusia biasa seperti kita juga. Mereka punya hawa nafsu, kehendak dan
keinginan serta bisa benar dan salah. Bagaimanapun rasa aneh ini akhirnya hilang ketika
kubaca Kitab Allah yang mengisahkan kepada kita kisah-kisah para Nabi as dan penderitaan
yang mereka alami karena sikap ummatnya yang menentang, kendatipun telah mereka
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 92
saksikan berbagai mukjizat.
Ya Allah, jangan Kau palingkan hati kami setelah Kau berikan kepada kami hidayah-Mu.
Karuniakan kepada kami dari sisi-Mu rahmat-Mu. Sesungguhnya Kau Maha Pemberi.
Aku mulai mengerti latar belakang sikap Syi'ah terhadap Khalifah Kedua yang dikatakan
sebagai penanggungjawab terbesar atas segala tragedi yang terjadi dalam kehidupan kaum
muslimin sejak Tragedi Hari Khamis dimana penulisan wasiat yang kelak akan
menyelamatkan ummat manusia dari kesesatan itu dihalangi. Harus kita akui bahwa seorang
yang berpikir rasional, dimana sebuah kebenaran diketahuinya bukan lantaran seseorang
tokoh, akan mudah memahami sikap Syi'ah seperti ini. Namun bagi mereka yang tidak tahu
kebenaran melainkan karena tokoh tertentu, maka pembicaraan ini tidak akan bermanfaat
pada mereka.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 93
Sariyyah (Ekspedisi) Usamah dan Sahabat
Berikut ceritanya secara ringkas:
Dua hari menjelang wafatnya Rasulullah, beliau telah siapkan sebuah pasukan untuk
memerangi Roma. Usamah bin Zaid yang saat itu berusia delapan belas tahun diangkat
sebagai komandan pasukan perang. Tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar seperti Abu Bakar,
Umar, Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat besar lainnya diperintahkan untuk berada di bawah
pasukan Usamah ini. Sebagian mereka mencela pengangkatan Usamah. Mereka berkata,
"Bagaimana Nabi bisa menunjuk seorang anak muda yang belum tumbuh janggut sebagai
komandan pasukan kami?"
Sebelum itu mereka juga pernah mencela pengangkatan ayahnya oleh Nabi. Sedemikian rupa
mereka memprotes Nabi SAWW sampai beliau SAWW marah sekali. Dengan kepalanya yang
terikat karena deman panas yang dideritanya, Nabi keluar dipapah oleh dua orang dalam
keadaan dua kakinya yang terseret-seret menyentuh bumi. Nabi naik ke atas mimbar, memuji
Allah dan bertahmid padaNya. Sabdanya: "Wahai muslimin, apa gerangan kata-kata sebagian
di antara kalian yang telah sampai ke telingaku berkenaan dengan pengangkatanku Usamah
sebagai pemimpin. Demi Allah, jika kamu kini mengecam pengangkatannya; sungguh hal itu
sama seperti dahulu kamu telah mengecam pengangkatanku terhadap ayahnya sebagai
pemimpin. Demi Allah, sesungguhnya ia amat layak memegang jabatan kepemimpinan itu.
Begitu juga puteranya -setelah ia- sungguh amat layak untuk itu."2
Kemudian beliau mendesak mereka untuk segera berangkat. Katanya: "Siapkan pasukan
Usamah. Lepaskan pasukan Usamah. Berangkatlah Sariyyah Usamah." Beliau mengulangulang
ucapannya seperti itu, tapi mereka tetap enggan dan bermalas-malasan di Jurf.
Sikap seperti ini mendorongku untuk bertanya, alangkah beraninya mereka terhadap Allah
dan RasulNya? Kenapa harus durhaka terhadap Nabi SAWW yang begitu kasih dan sayang
pada kaum mukminin? Aku tidak dapat membayangkan, begitu juga orang lain, tafsiran apa
2 Thabaqat Ibnu Sa'ad jil.2 hal.l90; Tarikh Ibnu Atsir Jil. 2 hal. 317; Sirah al-Halabiyah jil. 3 hal. 207;Tarikh
Thabari jil. 3 hal 226.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 94
yang bisa membenarkan pelanggaran dan pengabaian seperti ini?
Seperti biasa, ketika membaca peristiwa-peristiwa yang menyentuh tentang kemuliaan para
sahabat, maka aku berusaha untuk tidak mempercayainya terlebih dahulu. Namun
bagaimana mungkin aku dapat mendustakannya sementara ahli sejarah dan ahli hadis,
Sunnah dan Syi'ah, telah meriwayatkannya secara ijma'.
Aku telah berjanji pada Tuhanku untuk bersikap adil dan jujur. Aku tidak boleh bersikap
fanatisme pada mazhabku. Aku harus meletakkan kebenaran semata-mata sebagai ukuran.
Dan memang kebenaran adalah pahit seperti yang dikatakan. Nabi bersabda, "Katakanlah
kebenaran walau untuk dirimu sekali pun; katakanlah kebenaran walau pahit sekalipun."
Dalam hal ini adalah sikap sejumlah sahabat yang telah mengecam Nabi dalam
pengangkatannya Usamah sebagai pemimpin mereka, sebenarnya telah menunjukkan sikap
ketidakpatuhan mereka pada perintah Allah. Mereka telah mengabaikan nas-nas yang sangat
jelas yang tidak dapat diragukan lagi atau ditakwilkan. Mereka tidak mempunyai alasan
dalam hal ini. Usaha sebagian orang untuk menjaga kemuliaan sahabat atau salaf as-sholeh
dengan mengajukan berbagai alasan apologis sangatlah rapuh. Seorang yang rasional tidak
dapat menerimanya, melainkan mereka yang tidak memahami makna hadis tersebut, atau
yang tidak berpikir, atau mereka yang fanatisme buta yang tidak dapat membedakan antara
yang wajib dipatuhi dengan yang wajib dihindari.
Aku juga sering merenung kalau-kalau bisa mendapatkan suatu jawaban yang memuaskan.
Tapi sayang semua itu gagal meyakinkanku. Aku baca alasan-alasan Ahlu Sunnah yang
mengatakan bahwa mereka yang menolak kepemimpinan Usamah sebenarnya adalah karena
mereka tokoh-tokoh dan pemuka-pemuka Qurasiy. Mereka adalah orang yang pertama
memeluk Islam sementara Usamah masih baru dan tidak pernah ikut serta dalam berbagai
peperangan yang menentukan seperti Perang Badar, Perang Hunain dan Perang Uhud.
Usamah juga waktu itu masih terlalu muda. Dan kebiasaannya jiwa orang-orang tua tidak
akan rela berada di bawah perintah anak muda. Itulah kenapa mereka mengecam Nabi dalam
pengangkatannya ini dengan maksud agar menggantikannya dengan salah seorang tokoh
sahabat lain.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 95
Alasan seumpama ini sama sekali tidak bersandar pada dalil akal atau naql (syariat). Seorang
muslim yang membaca AlQuran dan mengetahui hukum-hukumnya akan menolak alasan ini.
Karena Allah berfirman: "... Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan
apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al Hasyr: 7)
Juga firmannya: "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi
perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan,
akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa
mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang
nyata." (QS. Al Ahzab: 36).
Setelah adanya nash-nash yang jelas ini alasan apa yang kiranya dapat diterima oleh orangorang
yang berakal. Apa yang harus kukatakan kepada kaum yang telah menyebabkan
Rasulullah marah sementara mereka tahu bahwa Allah akan murka lantaran murkanya
RasulNya. Mereka telah menuduhnya "meracau" dan bertengkar di hadapannya, padahal
"demi ayah dan ibuku" baginda tengah sakit sampai mereka diusir dari kamarnya. Tidak
hanya sampai di situ. Yang sepatutnya mereka kembali ke jalan yang benar dan memohon
ampun kepada Allah atas apa yang telah mereka lakukan dan memohon kepada Rasul agar
memintakan ampunan bagi mereka seperti yang diajarkan oleh AlQuran, namun mereka
tetap melakukan protes terhadapnya tanpa mempedulikan kasih sayang yang diberikannya
pada mereka. Mereka tidak memberikan penghormatan yang sewajarnya kepada baginda
Nabi. Dua hari setelah tuduhan yang mereka lontarkan, mereka kemudian mengecam
pengangkatan Usamah sebagai pemimpin pasukannya sehingga beliau terpaksa mendesak
mereka keluar dengan keadaan yang menyedihkan seperti yang dikatakan oleh para ahli
sejarah.
Lantaran terlalu sakit, baginda tidak dapat berjalan dan terpaksa diapit oleh dua orang.
Kemudian beliau bersumpah kepada Allah bahwa Usamah sebenarnya sangat layak dalam
memimpin. Rasul juga mengatakan bahwa sebelum ini mereka juga pernah mengecamnya
karena mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan, agar kita tahu betapa sikap
seperti ini telah mereka lakukan jauh hari sebelum itu. Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa
mereka sebenarnya bukan di antara orang-orang yang mudah bisa menerima ketentuan Nabi
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 96
dan berserah sepenuhnya kepadanya. Tetapi mereka tergolong di antara orang-orang yang
rela memprotes dan mengkritik walaupun ia bertentangan dengan hukum-hukum Allah dan
RasulNya.
Bukti atas sikap protes mereka ini adalah sikap mereka yang enggan pergi walaupun Nabi
sendiri telah memberikan bendera kepemimpinan kepada Usamah dan dengan nada marah
menyuruh mereka segera pergi berangkat. Demi ayah dan ibuku, mereka tidak juga pergi
sampailah beliau wafat dengan hati yang kesal atas sikap ummatnya yang dikhawatirkan
kelak akan berbalik ke belakang dan terjerumus ke neraka. Tiada yang akan selamat kecuali
sedikit sekali, bagaikan segelintir binatang ternak seperti yang diumpamakan oleh Nabi.
Jika kita ingin jujur dalam melihat peristiwa ini maka kita akan dapati bahwa Khalifah Kedua
adalah tokoh yang paling berperan di sini. Beliau datang menghadap Khalifah Abu Bakar
setelah wafatnya Rasulullah dan memintanya agar menyingkirkan Usamah serta
menggantinya dengan orang lain. Abu Bakar menjawab: "Wahai Ibnu Khattab, apakah kau
suruh aku menyingkirkannya sementara Rasulullah telah mengangkatnya?"
Di mana Umar dibandingkan dengan Abu Bakar yang mengetahui kebenaran ini? Ataukah di
sana ada rahasia tersendiri yang tidak diketahui oleh ahli-ahli sejarah. Atau mungkin juga ada
pihak lain yang menyembunyikannya lantaran ingin menjaga "kemuliaan" sahabat, seperti
yang mereka lakukan dalam mengganti kalimat "yahjur" dengan kalimat "ghalabahul waja'”?
Aku juga heran dengan sikap para sahabat yang membangkitkan amarah Nabi pada hari
Kamis itu dan menuduhnya telah meracau serta berkata, "cukup bagi kita Kitab Allah."
Sementara Kitab Allah sendiri berfirman: "Katakanlah jika kalian mencintai Allah maka
ikutilah aku (Muhammad) kelak Allah akan mencintai kalian" (Ali Imran: 31). Seakan-akan
mereka lebih tahu akan Kitab Allah daripada orang yang menerimanya sendiri. Lihatlah
hanya setelah dua hari dari tragedi yang menyayat hati itu dan dua hari sebelum hari
pertemuannya dengan Allah SWT mereka telah membangkitkan amarahnya lebih banyak
dengan mengecam pengangkatan Usamah dan tidak mematuhi perintahnya.
Jika dalam tragedi pertama baginda terbaring sakit di atas tikarnya, tetapi di kali kedua ini
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 97
Baginda terpaksa keluar dengan kepala yang terikat dan badan yang berbalut selimut sambil
berjalan tertatih-tatih diapit oleh dua orang. Baginda naik ke atas mimbar dan berkhutbah
lengkap. Mula-mula memuji Allah dan mengucapkan Tahmid atas-Nya agar menunjukkan
kepada mereka bahwa dirinya tidaklah meracau. Kemudian diberitahunya bahwa beliau sadar
akan protes dan kecaman mereka. Diingatkannya mereka dengan suatu peristiwa di mana
mereka telah memprotesnya juga empat tahun yang lalu. Apakah setelah itu mereka masih
menganggap bahwa baginda meracau dan tidak sadar apa yang diucapkannya?
Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu. Bagaimana mereka begitu berani
terhadap RasulMu, tidak setuju dan menentang keras dengan perjanjian damai yang
dilakukannya sehingga beliau sebanyak tiga kali menyuruh mereka berkorban dan mencukur
rambur masing-masing tetapi tiada siapa pun yang mematuhinya. Di waktu lain mereka tarik
bajunya dan melarangnya menshalatkan jenazah Abdullah bin Ubay. Mereka berkata kepada
beliau: "Sesungguhnya Allah telah melarangmu menshalati jenazah orang-orang munafik."
Seakan-akan mereka mengajarkan apa yang diturunkan Allah kepadanya.
Padahal Allah berfirman dalam kitab-Nya: "... Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad)
AlQuran agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan
kepada mereka" (QS. An Nahl: 44)
Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu (Muhammad)
dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang
telah Allah wahyukan kepadamu." (QS. An Nisa: 105).
Dan firman-Nya lagi: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni'mat Kami
kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayatayat
Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan
Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al
Baqarah: 151)
Aneh memang terhadap mereka yang meletakkan diri mereka lebih tinggi dari diri Rasulullah
SAWW. Kadang-kadang mereka tidak patuh pada perintahnya, atau menuduhnya telah
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 98
meracau, atau bertengkar di hadapannya tanpa adab, dan pada tempat yang lain mengecam
pemilihan Usamah sebagai pimpinan pasukan mereka sebagaimana yang mereka lakukan
terhadap ayahnya Zaid bin Haritsah sebelum itu. Apa yang harus diragukan lagi oleh orang
yang meneliti secara kritis bahwa Syi'ah sebenarnya mempunyai alasan yang sangat kuat
ketika mempertanyakan sikap sebagian sahabat seumpama itu. Mereka memang lebih
menghormati dan mencintai Nabi SAWW dan kerabat keluarganya.
Empat atau lima contoh yang kusebutkan di atas hanya sebagian kecil dari fakta-fakta yang
ada. Ulama-ulama Syi'ah telah merincinya hingga ratusan di mana para sahabat telah
mengabaikan nash-nash yang nyata dan jelas. Mereka tidak berhujjah melainkan dengan
riwayat ulama-ulama Ahlu Sunnah sendiri dalam berbagai kitab shahih yang muktabar.
Ketika kuketahui sikap sebagian sahabat terhadap Rasulullah SAWW adalah seperti itu, aku
kemudian merasa bingung dan heran. Sebagaimana aku juga heran melihat sikap ulamaulama
Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menggambarkan kepada kita bahwa para sahabat
senantiasa dalam keadaan benar dan tidak boleh dikritik. Ini berarti mereka tidak
mengizinkan seorang peneliti untuk sampai kepada suatu kebenaran, dan membiarkan
mereka terus tenggelam dalam suasana pemikiran yang kontradiktif. Aku ingin membawa
beberapa contoh sebagai tambahan, yang kiranya akan dapat memberikan gambaran yang
sebenarnya tentang sahabat. Dan dari sini kita akan memahami sikap Syi'ah terhadap
mereka.
Bukhari telah meriwayatkan dalam kitabnya Jil. 4 hal. 47 dalam Bab as-Sabru a'lal adza
(Sabar Dari Gangguan) tentang maksud firman Allah, "Sesungguhnya orang-orang yang sabar
akan diberikan ganjaran." Katanya: "Al-A'masy meriwayatkan kepada kami bahwa beliau
pernah mendengar Syaqiq bercerita tentang Abdullah yang berkata:
"Suatu hari Nabi membagikan sesuatu kepada sahabat-sahabatnya sebagaimana yang biasa
beliau lakukan. Seorang dari Anshar memprotes dan berkata: pembagian ini bukan karena
Allah SWT. Kukatakan padanya bahwa aku akan lapor kepada Nabi (apa yang dikatakannya).
Aku menghampiri Nabi yang ketika itu berada di antara para sahabatnya. Kuceritakan
kepadanya apa yang terjadi. Tiba-tiba mukanya berubah dan marah sekali sampai aku rasa
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 99
menyesal karena memberitahunya. Nabi kemudian berkata: 'Nabi Musa as telah diganggu
lebih dari itu, tetapi beliau bersabar.'"
Bukhari juga meriwayatkan dari Bab yang sama pada pasal at-Tabassum wa ad-Dhahk (Bab
Tersenyum dan Tertawa). Katanya, Anas bin Malik meriwayatkan: "Suatu hari aku berjalan
bersama Rasulullah yang waktu itu memakai syal Najrani yang berpinggiran tebal. Datang
seorang Badwi yang tiba-tiba saja menarik dengan kuat syalnya. Anas berkata, 'aku lihat kulit
leher Nabi lebam akibat tarikan keras yang dilakukan oleh si Badwi ini.' Kemudian dia
berkata: 'Hai Muhammad, berikan padaku sebagian dari harta Allah yang ada padamu.' Lalu
Nabi melihatnya sambil tertawa dan menyuruh sahabatnya untuk memberinya.
Dalam Bab yang sama, pasal Man Lam Yuwajih an-Nas Bil Atab, Bukhari meriwayatkan
bahwa Aisyah pernah berkata bahwa Nabi pernah melakukan sesuatu dan mengizinkan para
sahabatnya untuk melakukan yang serupa. Tiba-tiba sebagian sahabat menolak
melakukannya. Berita ini sampai ke telinga Nabi lalu baginda berkhutbah dan memuji-muji
Allah. Kemudian baginda berkata: "Kenapa orang-orang ini menghindari dari melakukan
sesuatu yang kulakukan. Demi Allah aku lebih tahu dari mereka tentang Allah dan lebih
takut kepadaNya di banding mereka."
Orang yang merenungkan contoh riwayat serupa ini akan merasakan bahwa para sahabat
telah meletakkan diri mereka lebih tinggi dari kedudukan Nabi sendiri; mereka percaya
bahwa Nabi bisa berbuat salah dan merekalah yang benar. Sebagian ahli sejarah ikut-ikutan
dalam membenarkan tindakan sahabat walaupun ia bertentangan dengan perbuatan Nabi;
atau kadang-kadang menunjukkan bahwa kedudukan ilmu dan ketakwaan para sahabat lebih
tinggi dibandingkan dengan Nabi, seperti yang dikatakan konon Nabi keliru dalam
menyelesaikan masalah tawanan perang Badar dan Umar bin Khattablah yang benar. Mereka
telah meriwayatkan berbagai hadis palsu yang konon Nabi SAWW bersabda: "Seandainya
Allah turunkan suatu bencana maka tiada yang akan selamat melainkan Umar bin Khattab."
Seakan-akan mereka ingin berkata "Kalau Umar tiada maka celakalah Nabi". Semoga Allah
melindungi kita dari kepercayaan yang salah seperti ini.
Demi jiwaku! Mereka yang mempunyai kepercayaan seperti ini akan jauh dari Islam sejauh
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 100
dua kutub barat dan timur. Dia wajib merujuk kembali akalnya atau mengusir setan dari
hatinya. Allah berfirman: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya; dan
Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. Al
Jaatsiyah: 23)
Demi jiwaku! Mereka yang percaya bahwa Rasulullah SAWW bisa diombang-ambingkan oleh
nafsunya dan lari dari jalan yang benar sehingga pernah membagi sesuatu bukan sematamata
karena Allah, tetapi karena nafsu dan kepentingannya; dan mereka yang menghindar
dari berbuat sesuatu yang Rasulullah lakukan lantaran menduga bahwa mereka lebih
bertakwa dan lebih arif pada Allah dibandingkan RasulNya? Orang-orang seperti ini memang
sangat tidak layak untuk dihormati oleh kaum muslimin apalagi menempatkan mereka
seperti para malaikat, lalu menghukumkan mereka sebagai makhluk terbaik setelah
Rasulullah, dan kaum muslimin harus ikut mereka dan berjalan di bawah naungan sunnah
mereka hanya semata-mata karena mereka adalah sahabat Nabi.
Hal ini bertentangan dengan sikap Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menyertakan semua
sahabat dalam shalawat mereka kepada Nabi dan keluarganya. Allah Mahatahu akan
kedudukan mereka. Karena itu mereka ditempatkan pada posisi yang layak bagi mereka.
Mereka diperintahkan untuk bershalawat kepada Nabi dan keluarganya yang suci agar
mereka tunduk dan tahu kedudukan Ahlul Bait yang sebenarnya di sisi-Nya. Lalu bagaimana
tiba-tiba kita menempatkan mereka lebih tinggi dari kedudukan keluarga Nabi atau
menyamakan mereka dengan orang-orang yang telah diutamakan oleh Allah atas alam
semesta ini?
Aku berkesimpulan bahwa Bani Umaiyah dan Bani Abbasiah yang telah memusuhi Ahlul Bait
Nabi, mengejar-ngejar dan membunuh mereka beserta para Syi'ahnya, mengetahui
keutamaan keluarga Nabi dan kedudukan mereka yang tinggi. Apabila Allah tidak terima
shalat seseorang melainkan di dalamnya ada shalawat pada Nabi dan keluarganya, maka apa
alasan permusuhan dan bersikap lari dari garis Ahlul Bait? Itulah kenapa kita lihat mereka
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 101
telah mengiringkan kalimat sahabat dengan Ahlul Bait semata-mata agar dapat memberikan
gambaran kepada orang banyak bahwa antara sahabat dan Ahlul Bait sebenarnya adalah
sama. Terutama apabila kita ketahui bahwa mastermind mereka yang sebenarnya adalah
sebagian sahabat itu sendiri. Mereka telah upah sebagian sahabat lain yang lemah akal dan
karakter atau golongan tabi'in agar meriwayatkan berbagai hadis palsu tentang keutamaan
sahabat, khususnya mereka yang pernah menjabat kedudukan khalifah, yang merupakan
sebagai sebab utama naiknya mereka (Bani Umaiyah dan Abbasiah) ke puncak kekuasaan.
Sejarah adalah sebaik-baik bukti atas apa yang kukatakan ini.
Lihatlah Umar bin Khattab yang sangat terkenal dengan pengontrolannya pada semua
gubernurnya, dan akan memecat mereka serta-merta lantaran suatu keraguan yang
dilihatnya. Lihatlah betapa beliau sangat berlemah lembut terhadap Mu'awiyah bin Abi
Sufyan dan tidak pernah mengontrolnya sama sekali. Dahulunya Abu Bakarlah yang
mengangkat Mu'awiyah sebagai gubernur kota Syam, lalu kemudian dilanjutkan oleh Umar
sepanjang hayatnya. Beliau juga tidak pernah memprotesnya bahkan menegur atau
mengecamnya sekalipun; walau banyak keluhan yang mengatakan bahwa Mu'awiyah
memakai emas dan sutera yang telah diharamkan oleh Rasulullah SAWW kepada kaum lelaki.
Umar menjawab mereka dengan kata-kata: "Biarkan dia. Dia adalah Kisra (Raja) Arab". Dan
Mu'awiyah terus berkuasa selama dua puluh tahun tanpa ada yang menegur dan
memecatnya.
Ketika Utsman berkuasa diberinya lagi wilayah-wilayah lain untuk diurusnya, sehingga dia
dapat menguasai tidak sedikit dari kekayaan negara Islam dan dapat memobilisasi kekuatan
militer menentang kepemimpinan Imam Ali. Kemudian secara kekerasan dan dengan tangan
besi, dia dapat kuasai semua kaum muslimin, lalu kemudian memaksa mereka memberikan
bai'at kepada Yazid, puteranya yang fasik dan pemabuk. Kisah Yazid ini adalah cerita panjang
yang tak dapat kita muatkan dalam buku yang ringkas seperti ini. Apa yang penting adalah
pengetahuan kita akan mentalitas para sahabat yang duduk di jabatan khilafah dan yang telah
menyiapkan secara langsung berdirinya suatu kerajaan Bani Umaiyah berdasarkan keputusan
Quraisy yang enggan menerima Nubuwah dan Khilafah berada di tangan Bani Hasyim.3
3 Lihat al-khilafah Wal Muluk oleh al-Maududi Dan Yaum al-Islam oleh Ahmad Amin.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 102
Dinasti Bani Umaiyah mempunyai hak, bahkan kewajiban untuk berterima kasih pada
mereka yang telah menyiapkan berdirinya kerajaannya itu. Paling tidak sebagai ungkapan
rasa terima kasih adalah dengan mengupah sejumlah perawi yang mau meriwayatkan
berbagai "hadits" tentang keutamaan para leluhur mereka dengan mengangkatnya lebih
tinggi dari kedudukan Ahlul Bait, musuh utama mereka. Jika hadis-hadis keutamaan ini
dikaji berdasarkan hujjah-hujjah syariah dan akliah, maka keabsahannya akan cepat
diragukan. Melainkan jika ada kelainan dalam mentalitas kita dan tidak mampu membedakan
antara perkara-perkara yang kontradiktif.
Sebagai contoh, kita banyak mendengar tentang keadilan Umar yang diceritakan oleh
berbagai perawi, sehingga dikatakan: "Wahai Umar, kau telah bersikap sangat adil; karena itu
kau dapat tidur". Atau konon kabarnya Umar dikebumikan dalam keadaan berdiri agar
keadilan tidak mati bersamanya. Dan berbagai cerita lain yang menarik tentang keadilannya.
Namun sejarah yang benar mengatakan kepada kita bahwa Umar ketika membagi-bagikan
harta baitul mal pada tahun 20 hijriah, beliau tidak mengikuti sunnah Nabi. Nabi SAWW
telah membagi sama rata antara segenap kaum muslimin dan tidak mengutamakan satu dari
yang lainnya. Begitu juga Abu Bakar di dalam masa khilafahnya. Tetapi kemudian Umar
menciptakan suatu cara baru, mengutamakan golongan yang sabiqin (muslimin senior) atas
yang lainnya, dan golongan muhajirin Quraisy atas muhajirin selain Quraisy, golongan
muhajirin atas golongan anshar, golongan Arab atas non-Arab, golongan orang merdeka atas
hamba-hamba sahaya4; mengutamakan suku Mudhir atas suku Rabi'ah dengan memberikan
suku yang pertama tiga ratus dan suku kedua dua ratus5; serta mengutamakan suku Aus atas
suku Khazraj6.
Di mana letaknya keadilan dalam sistem kelas seperti ini wahai orang-orang yang berpikir?
Kita telah banyak mendengar tentang cerita-cerita Umar. Bahkan dikatakan bahwa beliau
adalah sahabat yang paling alim. Konon Allah banyak membenarkan pendapat Umar ketika
4 Sharh Nahjul Balaghah Oleh ibnu Abil Hadid jil. 8 hal. 111.
5 Tarikh Ya'qubi jil. 2 hal. 106.
6 Futuh al-Buldan hal. 437.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 103
terjadi perselisihan antara Nabi dan Umar, dengan menurunkan ayat-ayat yang mendukung
pendapatnya. Namun sejarah yang benar membuktikan kepada kita bahwa Umar banyak
menyalahi ayat-ayat AlQuran hatta setelah turunnya sekalipun. Ketika seorang sahabat
bertanya kepadanya di zaman khilafahnya: "Ya Amir al-Mukminin, aku kini berjunub tetapi
tidak kujumpai air, bagaimana hukumnya?" Umar menjawab: "Tidak perlu shalat!" Ammar
bin Yasir mengingatkan sang khalifah bahwa kewajibannya adalah tayammum. Tetapi Umar
tidak peduli. Katanya: "Ya Ammar, engkau hanya bertanggung jawab atas tugas-tugasmu
saja!"7
Di mana ilmu Umar tentang ayat tayammum yang diturunkan di dalam AlQuran? Mana ilmu
Umar tentang sunnah Nabi yang mengajarkan kepada mereka bagaimana bertayammum
sebagaimana Baginda ajarkan wudhu? Di dalam berbagai peristiwa, Umar banyak mengakui
dirinya tidak alim. Bahkan -menurutnya- semua orang lebih alim darinya hatta para wanita
sekalipun! Beliau juga berulang kali mengatakan demikian, "Kalaulah tiada Ali maka Umar
telah celaka". Dan sampai akhir hayatnya beliau tidak tahu hukum Kalalah, yang sering
dihukumkannya di zaman pemerintahannya seperti yang dicatat dalam sejarah.
Mana ilmunya wahai orang-orang yang berakal? Kita juga sering mendengar akan
kepahlawanan, keperkasaan dan keberaniannya sehingga dikatakan bahwa kaum Qurasiy
merasa gentar setelah Islamnya Umar, dan agama Islam sendiri menjadi kuat. Konon Allah
telah muliakan Islam karena Umar bin Khattab, dan Nabi tidak menyatakan dakwahnya
secara terang-terangan melainkan setelah Islamnya Umar. Namun sejarah yang benar tidak
menunjukkan kepada kita keperkasaan dan kepahlawanan itu. Bahkan sejarah juga tidak
pernah menunjukkan kepada kita ada seorang yang dikenal atau orang biasa sekalipun yang
dibunuh oleh Umar dalam peperangan seperti Badar, Uhud, Khandak dan lain sebagainya.
Bahkan sejarah membuktikan sebaliknya, Umar pernah lari bersama sahabat-sahabat lain
dalam peperangan Uhud dan Hunain. Ketika Rasulullah mengutusnya untuk membebaskan
kota Khaibar, beliau kembali dalam keadaan kalah. Bahkan di dalam berbagai peperangan
sariyyah (peperangan yang tidak diikut-sertai oleh Nabi) sekalipun, Umar tidak pernah
menjadi komandan pasukannya. Dalam sariyyah Usamah sariyyah terakhir juga beliau hanya
7 Shahih Bukhori jil. 1 hal. 52.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 104
ditunjuk sebagai anggota pasukan Usamah bin Zaid, seorang anak muda berusia belasan
tahun. Mana klaim keperkasaan tersebut wahai orang-orang yang berakal?
Kita juga sering mendengar tentang ketakwaan Umar bin Khattab serta rasa takutnya yang
amat sangat sehingga menangis karena takut kepada Allah SWT. Konon dikatakan bahwa
beliau takut dihisab oleh Allah jika seekor keledai di Irak sekalipun tersesat lantaran tidak
disediakan jalan untuknya. Tetapi sejarah yang benar mengatakan kepada kita bahwa beliau
sesungguhnya seorang yang keras dan kasar. Beliau tidak berhati-hati dan tidak segan
memukul orang yang bertanya kepadanya tentang suatu ayat Kitab Allah sehingga
melukainya tanpa suatu dosa yang dilakukannya. Bahkan seorang wanita pernah jatuh dan
tergugur kandungannya lantaran melihatnya dengan penuh ketakutan. Kenapa beliau tidak
takut kepada Allah ketika menghunuskan pedangnya dan mengancam setiap orang yang
mengatakan bahwa Muhammad telah mati? Beliau bersumpah bahwa Muhammad
sebenarnya tidak mati, dia hanya pergi bermunajat kepada Tuhannya seperti yang dilakukan
oleh Musa bin Imran. Umar mengancam akan memukul leher setiap orang yang mengatakan
bahwa Nabi telah mati8. Kenapa beliau tidak takut kepada Allah ketika mengancam akan
membakar rumah Fatimah jika orang-orang yang berada di dalamnya tidak mau keluar untuk
membai'at Abu Bakar?9 Ketika dikatakan padanya bahwa Fatimah ada di dalamnya, dia
menjawab, "Sekalipun dia ada!"
Beliau juga "berani" terhadap Kitab Allah dan Sunnah Rasulnya dengan melakukan berbagai
hukum di masa pemerintahannya yang bertentangan dengan nas-nas AlQuran dan Sunnah
Nabi SAWW.10
Nah, dimana letaknya wara' dan ketakwaan setelah menyaksikan serangkaian fakta yang
menyedihkan ini wahai hamba-hamba Allah yang shaleh?
Aku hanya ingin menjadikan sahabat yang agung dan terkenal ini sebagai contoh sematamata.
Itupun telah kuringkaskan sedemikian rupa agar tidak panjang dan sederhana. Jika aku
ingin tuliskan secara terperinci maka ia akan memuatkan berjilid-jilid buku. Seperti yang
8 Tarikh Thabari dan Tarikh Ibnu Atsir.
9 Al-Imamah Wa Siyasah Oleh Ibnu Qutaibah.
10 Lihat An-Nash Wal Ijtihad oleh Syarafuddin al-Musawi.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 105
kukatakan di atas, aku hanya mengetengahkannya sebagai contoh semata-mata tidak lebih.
Apa yang kusebutkan di atas, hanya segelintir kecil dari peristiwa yang terjadi. Tetapi ia telah
memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang jelas tentang mentalitas para sahabat dan
sikap para ulama Ahlu Sunnah yang kontradiktif. Mereka melarang setiap orang untuk
mengkritik dan meragukan sahabat, tetapi dalam masa yang sama mereka riwayatkan dalam
berbagai buku mereka fakta-fakta yang bisa menimbulkan keragu-raguan dan kecaman.
Kalaulah para ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah tidak menyebutkan fakta-fakta yang jelas
yang menyentuh tantang sahabat dan melukai keadilan mereka, maka mereka akan berjasa
dalam menghilangkan segala jenis keraguan dari benak kita.
Aku teringat akan perjumpaanku dengan salah seorang ulama dari Najaf al-Asyraf, Asad
Haidar, penulis buku Al-Imam as-Shadiq Wa al-Mazahib al-Arba'ah (Imam Shadiq Dan
Empat Mazhab). Waktu itu kami berbicara tentang Sunnah Syi'ah. Diceritakannya kepadaku
tentang ayahnya yang berjumpa dengan seorang alim dari Tunisia pada waktu musim haji
lima puluh tahun yang lalu. Mereka berdua berdiskusi panjang tentang keimamahan Amir al-
Mukminin Ali bin Abi Thalib. Orang alim Tunisia ini mendengar ayahku menghitung hadishadis
yang membuktikan tentang kepemimpinan Imam Ali as. dan haknya dalam masalah
khilafah. Dihitungnya sehingga empat atau lima dalil. Ketika selesai, ditanyanya apakah ada
dalil selain ini. "Tidak" jawabnya. Kemudian dia berkata: "Keluarkan tasbihmu dan mulai
hitung." Orang alim Tunisia ini menyebutkan dalil-dalil berkenaan sehingga seratus, yang
hatta ayahku sendiri tidak mengetahuinya." Syaikh Asad meneruskan: "Jika Ahlu Sunnah
membaca kitab-kitab mereka, maka mereka akan berpendapat seperti kami; dan perselisihan
ini telah selesai sejak lama."
Demi jiwaku! Sesungguhnya ini adalah kebenaran yang tidak dapat dihindari bagi mereka
yang telah membebaskan dirinya dari fanatisme buta dan bagi mereka yang setia pada dalil
yang shahih.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 106
Pandangan AlQuran Tentang Sahabat
Pertama-tama harus kuingatkan bahwa Allah SWT telah memuji di dalam berbagai ayat
AlQuran sahabat-sahabat Rasul yang memang benar-benar mencintainya dan mematuhinya
tanpa pamrih atau tantangan atau keangkuhan. Mereka hanya menginginkan keridhaan Allah
dan Rasul-Nya semata-mata; dan Allah juga ridha kepada mereka lantaran takwa mereka
kepada-Nya. Ini adalah golongan sahabat yang dinilai tinggi oleh segenap kaum muslimin
lantaran sikap dan perilaku mereka yang luhur terhadap Nabi SAWW. Setiap kali mereka
disebut, maka kaum muslimin akan mencintai mereka, mengagungkan kedudukan mereka
dan mengucapkan kalimat Radhiallahu A'nhum kepada mereka.
Penelitianku bukan di sekitar golongan sahabat jenis ini yang sangat dihormati dan disanjung
tinggi oleh Sunnah dan Syi'ah. Sebagaimana aku juga tidak akan sentuh kelompok sahabat
yang dikenal sebagai munafikin yang telah dilaknat oleh segenap kaum muslimin, Sunnah
dan Syi'ah. Aku hanya akan meneliti kelompok sahabat yang dipertikaikan oleh kaum
muslimin, dan yang kadang-kadang dicela dan diancam oleh AlQuran. Sahabat jenis ini
seringkali diperingatkan oleh Rasulullah SAWW dalam berbagai kesempatan, atau Nabi
memperingatkan kaum muslimin dari mereka. Disinilah letak perbedaan antara Sunnah dan
Syi'ah dalam menilai sahabat. Syi'ah meragukan keadilan mereka dan mengkritik ucapan dan
tindak tanduk mereka sementara Ahlu Sunnah Wal Jama'ah menghormati mereka walau
terbukti telah melakukan berbagai pelanggaran.
Penelitianku hanya pada golongan sahabat jenis ini agar aku dapat sampai pada suatu
kebenaran, atau sebagian kebenaran sekalipun. Kunyatakan ini agar jangan sampai ada orang
berkata bahwa aku telah melupakan sejumlah ayat yang memuji para sahabat Rasulullah
SAWW, dan hanya mengungkapkan ayat-ayat yang bernada celaan saja. Namun dalam
penelitianku, aku menjumpai berbagai ayat yang bernada memuji, tetapi pada masa yang
sama ia juga menyirat suatu celaan dan sebaliknya.
Aku tidak akan memuatkan di sini semua hasil penelitianku selama tiga tahun itu. Aku hanya
akan sebutkan sebagian ayat sebagai contoh agar tulisan ini menjadi ringkas. Namun bagi
mereka yang menginginkan kerincian dan pendalaman, hendaknya dia menyempatkan waktu
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 107
untuk meneliti, membuat perbandingan dan menelaah seperti yang kulakukan, agar
kebenaran yang didapati adalah benar-benar hasil dari titik peluh sendiri seperti yang
dituntut oleh Allah dan juga oleh hati nurani masing-masing. Dengan cara itu ia akan
memperoleh keyakinan yang sangat dalam yang tidak akan dapat digoyahkan oleh sebarang
angin yang bertiup. Sudah pasti bahwa kebenaran yang didapati lantaran kepuasan diri
adalah lebih baik dari sekadar pengaruh unsur luar yang diterima.
Allah SWT berfirman ketika memuji NabiNya: "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang
yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (QS. Adh-Dhuha: 7). Yakni, Dia
menunjukkanmu kepada kebenaran ketika kau mencarinya. Allah juga berfirman: "Dan
orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di dalam (mencari) jalan Kami, benarbenar
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami". (QS. Al 'Ankabuut: 69)
Ayat Inqilab
Allah berfirman: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke
belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan
kepada orang-orang yang bersyukur" (QS. Ali Imran: 144).
Ayat ini dengan amat jelas menunjukkan bahwa sahabat akan berbalik ke belakang segera
setelah wafatnya sang Nabi; dan hanya sedikit dari mereka yang masih tetap konsisten seperti
yang tersirat di dalam kandungan ayat tersebut. Hal ini dapat kita pahami dari ungkapan
kalimat "as-Syakirin" (orang-orang bersyukur) yang menunjukkan masih adanya orangorang
yang tetap dan tidak balik ke belakang. Kelompok as-Syakirin ini tidak berjumlah
banyak. Allah berfirman dalam ayat lain: "Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang
berterima-kasih" (QS. Saba': 13).
Sejumlah hadis Nabi juga mendukung penafsiran di atas seperti yang akan kita sebutkan
sebagian. Walaupun dalam ayat ini Allah tidak menyebut balasan apa yang akan ditimpakan
kepada orang-orang yang berbalik dan hanya memuji serta akan memberi ganjaran pada
orang-orang yang bersyukur, namun sudah sangat jelas bahwa mereka yang berbalik sudah
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 108
pasti tidak akan memperoleh sembarang ganjaran. Hal ini akan kita bincangkan Insya Allah
ketika menelaah hadis-hadis Nabi yang berkenaan dengannya.
Ayat ini juga tidak dapat ditafsirkan untuk orang-orang seperti Thulaihah, Sujah dan al-
Aswad al-A'nsi, dengan alasan ingin memelihara kemuliaan sahabat. Sebab tiga orang di atas
telah murtad dari Islam dan mengaku sebagai nabi di zaman risalah. Nabi telah perangi
mereka dan mengalahkan mereka. Ayat ini juga tidak dapat ditafsirkan untuk Malik bin
Nuwairah dan para pengikutnya yang enggan memberikan zakat pada periode Abu Bakar
lantaran berbagai alasan, yang antara lain, karena mereka berhati-hati dan ingin tahu perkara
yang sebenarnya. Mengingat ketika mereka pergi haji bersama Rasulullah di Hujjah al-Wada'
(Haji Terakhir) mereka telah berikan bai'at pada Ali di Ghadir Khum usai dilantik oleh Nabi
sendiri sebagai khalifahnya. Abu Bakar juga termasuk dalam daftar orang-orang yang pernah
memberinya bai'at.
Tiba-tiba mereka terkejut dengan kedatangan seorang utusan sang khalifah yang
memberitahu bahwa Nabi telah meninggal, dan atas nama khalifah baru, yakni Abu Bakar
mereka meminta harta zakat. Peristiwa ini juga hampir diabaikan oleh sejarah dengan alasan
ingin menjaga kemuliaan sahabat. Padahal Malik dan para pengikutnya juga adalah orangorang
muslim. Keislaman mereka disaksikan sendiri oleh Umar dan Abu Bakar serta
beberapa sahabat yang lain. Ketika Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah, Umar
memprotesnya. Dan sejarah sendiri membuktikan bahwa Abu Bakar membayar diyah (ganti
rugi) Malik kepada saudaranya Mutammim dari harta Baitul Mal dan meminta maaf atas
tragedi pembunuhan ini. Padahal dalam Islam sangat jelas bahwa mereka yang murtad wajib
dibunuh, diyahnya tidak boleh diberikan dari Baitul Mal dan tidak perlu minta maaf.
Maksud ayat inqilab ini adalah para sahabat yang hidup di zaman nabi dan yang berada di
kota Madinah itu sendiri. Ayat ini menunjukkan akan adanya sejumlah sahabat yang akan
berbalik segera setelah wafatnya Nabi SAWW. Hadis-hadis nabi yang lain juga menerangkan
sejelas-jelasnya tentang hal ini tanpa keraguan sedikitpun. Kita akan membicarakan hal ini
dalam babnya tersendiri, Insya Allah. Sejarah juga sebaik-baik bukti atas inqilab mereka
setelah wafatnya nabi ini. Dan kita akan lihat betapa sedikitnya yang selamat ketika kita teliti
peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara kalangan para sahabat itu sendiri.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 109
Ayat Jihad
Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila
dikatakan kepada kamu: 'Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah' kamu merasa
berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia
sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan kehidupan di dunia ini
(dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat
untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya
(kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan
kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At Taubah: 38, 39)
Maha Benar Allah Yang Maha Agung.
Ayat ini juga amat jelas mengatakan bahwa sahabat merasa berat untuk pergi berjihad di
jalan-Nya. Mereka lebih memilih untuk hidup di dunia walau mereka tahu nikmatnya hanya
sedikit sekali. Sikap mereka seperti ini dicela oleh Allah dan diancam dengan azab yang pedih.
Dan Allah akan mengganti mereka dengan orang-orang mukmin lain yang jujur. Ancaman
penggantian ini tersurat dalam berbagai ayat AlQuran. Hal ini menunjukkan bahwa mereka
seringkali merasa berat hati ketika diseru pada jihad di jalan Allah SWT. Di dalam ayat lain
Allah berfirman: "... Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan
kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)" (QS. Muhammad: 38). Atau
firman Allah yang lain: "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu
yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang
Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut
terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang
berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.
Itulah karunia Allah diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Maidah: 54).
Kalau kita ingin rincikan ayat-ayat yang menyirat makna seperti ini dan mengungkapkan
kebenaran adanya pembagian kelas sahabat seperti yang dikatakan oleh Syi'ah, khususnya
mereka seperti yang kita bincangkan ini, maka tak syak lagi ia akan memerlukan buku
tersendiri. AlQuran telah mengungkapkannya dengan nada yang ringkas dan sangat fasih.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 110
Firman Allah: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.
Merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang
yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.
Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. Pada hari yang di waktu itu
ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula yang menjadi hitam muram. Adapun
orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): 'Kenapa
kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu
itu'. Adapun orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada
dalam rahmat Allah (syurga); mereka kekal di dalamnya" (QS. Ali Imran: 104,105,106,107).
Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.
Bagi para penelaah dan peneliti, mereka tahu bahwa ayat ini berbicara dengan para sahabat
dan mengingatkan mereka akan perselisihan dan perpecahan setelah datangnya hujah-hujah
yang jelas. Ia mengancam mereka dengan azab yang pedih, sekaligus membagi mereka pada
dua golongan. Yang satu akan dibangkitkan kelak dengan muka yang putih berseri-seri;
mereka adalah orang-orang yang bersyukur dan berhak menerima rahmat Allah SWT. Yang
lain akan dibangkitkan kelak dengan muka yang hitam dan muram. Mereka adalah orangorang
yang telah murtad setelah mereka beriman. Dan Allah telah mengancam mereka
dengan azab yang pedih.
Jadi jelas bahwa para sahabat telah berpecah dan berselisih setelah wafatnya Nabi SAWW.
Mereka telah nyalakan api fitnah sehingga mereka saling berperang dan menumpahkan darah
yang mengakibatkan kemunduran kaum muslimin dan menjadi sasaran musuh-musuhnya.
Ayat di atas tidak dapat ditakwilkan atau dirobah pengertiannya lain dari apa yang bisa
dipahami oleh akal.
Ayat Khusyu'
Firman Allah: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk
menundukkan hati mereka ingat pada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun
(kepada mereka). Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang sebelumnya
yang telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 111
mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orangorang
yang fasik." (QS. Al Hadiid: 16). Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha
Agung.
Di dalam kitab al-Dur al-Mantsur, karya Jalaluddin as-Suyuthi, tertulis berikut: "Ketika
sahabat-sahabat Nabi datang ke Madinah, mereka merasakan kenyamanan hidup
dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami sebelumnya (di Mekkah). Karenanya
seakan mereka menjadi lemah dan malas dibandingkan waktu-waktu yang lalu. Kemudian
mereka dihukum lantaran "perubahan" seumpama itu. Dalam riwayat lain, Nabi SAWW
pernah bersabda bahwa Allah SWT melihat keengganan hati para muhajirin meskipun telah
tujuh belas tahun mereka saksikan turunnya AlQuran. Kemudian Allah berfirman berikut,
"Bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman..."
Nah, jika para sahabat --manusia yang paling baik dalam pandangan Ahlu Sunnah Wal
Jama'ah-- masih belum mempunyai hati yang khusyu' dan tunduk ketika mengingat Allah
dan kepada kebenaran yang telah diturunkan sepanjang tujuh belas tahun, sehingga Allah
melihat keengganan mereka dan menegur mereka, serta mengingatkan mereka dari memiliki
hati yang keras yang mungkin bisa membawa kepada kefasikan, maka kita tidak dapat
menyalahkan orang-orang Quraisy yang baru menerima Islam pada tahun ketujuh Hijriah,
usai Fathu Makkah.
Demikianlah sebagian contoh yang dapat kusimpulkan dari Kitab Allah. Buktinya sangat kuat.
Dan ia menunjukkan bahwa tidak semua sahabat adalah adil seperti yang dikatakan oleh Ahlu
Sunnah Wal Jama'ah. Apabila kita teliti hadis-hadis Nabi, segera kita akan dapati contohcontoh
lain yang berlipat ganda. Karena aku telah berjanji untuk membuatnya secara ringkas,
maka aku tuliskan sebagian contoh saja; dan biarlah penelaah-penelaah kritis lain yang
meneliti permasalahan ini dengan lebih dalam.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 112
Pandangan Rasulullah SAWW Tentang Sahabat
Hadits Al-Haudh
Bersabda Rasulullah SAWW: "Ketika aku sedang berdiri tiba-tiba datang sekelompok orang
yang kukenal. Lalu keluarlah seorang di antara kami dan berkata, 'Mari (ikut aku).'
Kutanya, 'Kemana?' Jawabnya, 'Ke neraka, demi Allah'. 'Apa kesalahan mereka?' Tanyaku.
'Mereka telah murtad setelahmu dan berbalik dari kebenaran, dan kuperhatikan tiada
yang tersisa melainkan (sedikit sekali yang) seperti sekelompok unta yang tersisih',
jawabnya”11.
Rasulullah SAWW bersabda: "Aku akan mendahului kalian di telaga haudh. Siapa yang
berlalu dariku dia akan minum dan siapa yang telah minum tidak akan dahaga selamalamanya.
Kelak ada sekelompok orang yang kukenal dan mereka juga mengenalku datang
kepadaku; kemudian mereka dipisahkan dariku. Aku akan berkata: 'sahabatku, sahabatku.'
Lalu dijawab: 'engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan setelah ketiadaanmu.'
Dan aku pun berkata: 'Enyahlah, enyahlah mereka yang telah berubah setelah
ketiadaanku'”.
Orang yang merenungkan makna hadis-hadis seperti ini yang diriwayatkan sendiri oleh
ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah dalam berbagai kitab shahih mereka, tidak akan ragu-ragu
lagi untuk mengambil kesimpulan bahwa kebanyakan sahabat telah berubah bahkan telah
berbalik setelah wafatnya Nabi SAWW; melainkan segelintir kecil saja yang diibaratkan oleh
Nabi seperti sekelompok unta yang tersisih. Hadis ini tidak dapat ditafsirkan bahwa ia
ditujukan untuk golongan orang-orang munafik, mengingat nash yang berkata: sahabatku,
sahabatku. Dan ia juga adalah tafsir atau realisasi dari ayat-ayat AlQuran yang menyebutkan
tentang sikap mereka yang berbalik sehingga diancam oleh Allah dengan api neraka, seperti
yang telah disentuh di atas.
Hadits: Bersaing Untuk Dunia
Bersabda Nabi SAWW: "Aku akan mendahului kalian dan akan menjadi saksi kalian. Demi
Allah aku kini melihat haudhku (telagaku di syurga) dan aku juga telah diberikan kunci
11 Shahih Bukhori jil. 4 hal. 94-96,156; jil. 3 hal. 32; Shahih Muslim jil. 7 hal. 66.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 113
kekayaan bumi (atau kunci bumi). Demi Allah aku tidak khawatir kalian akan
mensyirikkan Allah setelahku, tetapi aku khawatir kalian akan bersaing untuknya
(dunia)".12
Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasululah SAWW. Mereka telah bersaing dan
berlomba-lomba untuk dunia ini sehingga pedang-pedang mereka dihunuskan, berperang
dan saling mengkafirkan. Sebagian sahabat yang besar bahkan telah menimbun emas dan
perak. Para ahli sejarah seperti al-Masu'di di dalam kitabnya Muruj az-Dzahab, Thabari dan
lain sebagainya telah mencantumkan bahwa kekayaan Zubair saja misalnya mencapai lima
puluh ribu Dinar, seribu ekor kuda, seribu orang hamba sahaya dan sejumlah tanah di
Bashrah, Kufah, Mesir dan lain sebagainya13. Thalhah mempunyai kekayaan pertanian di Irak
yang setiap harinya menghasilkan seribu Dinar, bahkan konon lebih dari itu. Abdurrahman
bin A'uf mempunyai seratus kuda, seribu onta dan sepuluh ribu kambing. Seperempat dari
seperdelapan hartanya yang dibagi-bagikan kepada para isterinya setelah wafatnya mencapai
delapan puluh empat ribu.14
Ketika Usman bin Affan meninggal, beliau telah meninggalkan sejumlah seratus lima puluh
ribu Dinar, tidak terhitung binatang ternak dan tanah-tanah subur yang tak terkira. Emas dan
perak yang ditinggalkan oleh Zaid bin Tsabit sedemikian banyaknya sehingga harus
dipecahkan dengan kapak, selain dari harta dan tanah yang bernilai seratus ribu Dinar.15
Demikian sebagian contoh yang dapat kita lihat dalam sejarah. Kita tidak bermaksud
membahasnya secara rinci dan cukup sekadar bukti betapa mereka tergoda oleh kemewahan
dunia dan kenikmatannya.
Pandangan Sahabat Satu Sama Lain
Kesaksian Mereka Atas Perubahan Sunnah Nabi SAWW
Abi Sa'id al-Khudri berkata: "Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah SAWW
12 Shahih Bukhori jil. 4 hal. 100-101.
13 Muruj az-Zahab oleh al-Masu'di jil. 2 hal. 341.
14 Ibid.
15 Ibid.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 114
keluar rumah untuk menunaikan shalat Id. Usai shalat beliau berdiri menghadap para hadirin
yang masih duduk di shaf, kemudian berkhotbah yang penuh dengan nasihat dan perintah."
Abu Sa'id melanjutkan: "Cara seperti ini dilanjutkan oleh para sahabatnya sampailah suatu
hari ketika aku keluar untuk shalat Id (Idul Fitri atau Idul Adha) bersama Marwan, gubernur
kota Madinah. Sesampainya di sana Marwan langsung naik ke atas mimbar yang dibuat oleh
Katsir bin Shalt. Aku tarik bajunya. Tapi dia menolakku. Marwan kemudian memulai khutbah
Idnya sebelum shalat. Kukatakan padanya: "Demi Allah kalian telah ubah." "Wahai Aba Sa'id"
Tukas Marwan, "Telah sirna apa yang kau ketahui" Kukatakan padanya: "Demi Allah, apa
yang kutahu adalah lebih baik dari apa yang tidak kuketahui!" Kemudian Marwan berkata
lagi: "Orang-orang ini tidak akan mau duduk mendengar khutbah kami seusai shalat. Karena
itu kulakukan khutbah sebelumnya."16
Aku coba teliti gerangan apa yang menyebabkan sahabat seperti ini berani mengubah Sunnah
Nabi. Akhirnya kutemukan bahwa Bani Umaiyah --yang mayoritasnya adalah sahabat Nabi--
terutama Muawiyah bin Abu Sufyan yang konon sebagai penulis wahyu, senantiasa memaksa
kaum muslimin untuk mencaci dan melaknat Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar-mimbar
masjid. Muawiyah memerintahkan orang-orangnya di setiap negeri untuk menjadikan cacian
dan laknat pada Ali sebagai suatu tradisi yang mesti dinyatakan oleh para khatib. Ketika
sejumlah sahabat protes atas ketetapan ini, Muawiyah tidak segan-segan memerintahkan
mereka dibunuh atau dibakar. Muawiyah telah membunuh sejumlah sahabat yang sangat
terkenal seperti Hujur bin U'dai beserta para pengikutnya, dan sebagian lain dikuburkan
hidup-hidup. "Kesalahan" mereka (dalam persepsi Muawiyah) semata-mata karena enggan
mengutuk Ali dan bersikap protes atas dekrit Muawiyah.
Abul A'la al-Maududi dalam kitabnya al-Khilafah Wal Muluk (Khilafah Dan Kerajaan)
menukil dari Hasan al-Bashri yang berkata: "Ada empat hal dalam diri Muawiyah, yang
apabila satu saja ada pada dirinya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencelakakannya:
Pertama, dia berkuasa tanpa melakukan musyawarah sementara sahabat-sahabat lain yang
merupakan cahaya kemuliaan masih hidup.
16 Shahih Bukhori jil. 1 hal. 122.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 115
Kedua, dia melantik puteranya (Yazid) sebagai pemimpin setelahnya, padahal sang putera
adalah seorang pemabuk dan pecandu minuman keras dan musikus.
Ketiga, dia menyatakan Ziyad (seorang anak zina) sebagai puteranya, padahal Nabi SAWW
bersabda: "Anak adalah milik sang ayah, sementara yang melacur dikenakan sanksi rajam."
Keempat, dia telah membunuh Hujur dan para pengikutnya.
Karena itu maka celakalah dia lantaran (membunuh) Hujur; dan celakalah dia karena Hujur
dan para pengikutnya.17
Sebagian sahabat yang mukmin lari dari masjid seusai shalat karena tidak mau mendengar
khotbah yang berakhir pada kutukan terhadap Ali dan keluarganya. Itulah kenapa Bani
Umaiyah mengubah Sunnah Nabi ini dengan mendahulukan khutbah sebelum shalat agar
yang hadir terpaksa mendengarnya.
Nah, sahabat jenis apa yang berani mengubah Sunnah Nabinya, bahkan hukum-hukum Allah
sekalipun semata-mata demi meraih cita-citanya yang rendah dan ekspresi dari rasa dengki
yang sudah terukir. Bagaimana mereka bisa melaknat seseorang yang telah Allah sucikan dari
segala dosa dan nista dan diwajibkan oleh Allah untuk bershalawat kepadanya sebagaimana
kepada Rasul-Nya. Allah juga telah mewajibkan kepada semua manusia untuk mencintainya
hingga Nabi SAWW bersabda: "Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah
nifak."18
Namun sahabat-sahabat seperti ini telah mengubahnya. Mereka berkata, kami telah dengar
sabda-sabda Nabi tentang Ali, tetapi kami tidak mematuhinya. Seharusnya mereka
bershalawat kepadanya, mencintainya dan taat patuh kepadanya; namun sebaliknya mereka
telah mencaci dan melaknatnya sepanjang enam puluh tahun, seperti yang dicatat oleh
sejarah. Apabila sahabat-sahabat Musa pernah sepakat mengancam nyawa Harun dan
hampir-hampir membunuhnya, maka sebagian sahabat Muhammad SAWW telah membunuh
17 Al-Khilafah Wal Muluk Oleh al-Maududi hal. 106.
18 Shahih Muslim jil. 1 hal. 61; Sunan an-Nasai jil. 6 hal. 177; Shahih Turmudzi jil. 8 hal. 306.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 116
"Harun-nya" (yakni Ali) dan mengejar-ngejar anak keturunannya serta para Syi'ahnya di
setiap tempat dan ruang. Mereka telah hapuskan nama-nama dan bahkan melarang kaum
muslimin menggunakan nama mereka. Tidak sekadar itu, hatta para sahabat besar dan agung
pun mereka paksa untuk melakukan hal yang serupa.
Demi Allah, aku berdiri heran dan terpaku ketika membaca buku-buku referensi kita yang
memuat berbagai hadis yang mewajibkan cinta pada Nabi dan saudaranya serta anak
pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah hadis-hadis lain yang mengutamakan Ali
atas para sahabat yang lain. Sehingga Nabi SAWW bersabda: "Engkau (hai Ali) di sisiku
bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku."19
Atau sabdanya: "Engkau dariku dan aku darimu".20
Sabdanya: "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya".21
Dan sabdanya: "Ali adalah wali (pemimpin) setiap mukmin setelahku."22
Dan sabdanya: "Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka Ali
adalah maulanya. Ya Allah, bantulah mereka yang mewila'nya dan musuhilah mereka
yang memusuhinya."23
Apabila kita ingin mencatat semua keutamaan Ali yang disabdakan oleh Nabi SAWW dan
yang diriwayatkan oleh para ulama kita dengan sanadnya yang shahih, maka ia pasti akan
memerlukan suatu buku tersendiri. Bagaimana mungkin sejumlah sahabat seperti itu purapura
tidak tahu akan hadis ini, lalu mencacinya, memusuhinya, melaknatnya dari atas
mimbar dan membunuh atau memerangi mereka?
19 Shahih Bukhori jil. 2 hal. 305; Shahih Muslim jil. 2 hal. 366 Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109.
20 Shahih Bukhori jil. 1 hal. 76; Shahih Turmidzi jil. 5 hal. 300; Shahih Ibnu Majah jil. 1 hal. 44.
21 Shahih Thurmudzi jil. 5 hal. 201; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 126.
22 Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 5 hal. 25; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 134.
23 Shahih Muslim jil.2 hal.362; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal, 281.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 117
Aku tidak temukan sebarang alasan dari sikap dan perlakuan seperti ini melainkan sematamata
karena cinta pada dunia dan berlomba-lomba mengejarnya; atau karena sifat nifak dan
berpaling dari kebenaran. Aku juga coba melemparkan tanggung jawab ini kepada sebagian
sahabat yang terkenal buruk, atau sebagian dari orang-orang munafik. Namun sayang sekali,
yang kutemukan dari penelitianku itu adalah sejumlah sahabat yang agung dan masyhur.
Orang pertama yang pernah mengancam akan membakar rumahnya (Ali) beserta para
penghuni yang ada di dalamnya adalah Umar bin Khattab; orang pertama yang
memeranginya adalah Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Muawiyah
bin Abu Sufyan dan A'mr bin A'sh dan sebagainya.
Rasa terkejut dan kagetku bertambah dalam dan seakan tidak akan berakhir. Setiap orang
yang berpikir rasional akan segera mendukung pendapatku ini. Bagaimana ulama-ulama Ahlu
Sunnah sepakat mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil sambil mengucapkan
"Radhiallahu Anhum", bahkan mengucapkan shalawat untuk mereka tanpa kecuali. Sehingga
ada yang berkata, "Laknatlah Yazid tapi jangan berlebihan". Apa yang dapat kita bayangkan
tentang Yazid yang telah melakukan tragedi yang sangat tragis ini, yang tidak dapat diterima
bahkan oleh akal dan agama. Aku nyatakan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah, jika mereka
benar-benar mengikut Sunnah Nabi, agar meninjau hukum AlQuran dan Sunnah Nabi secara
cermat dan seadil-adilnya tentang kefasikan Yazid dan kekufurannya. Rasululah SAWW telah
bersabda: "Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku
maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Aku akan
menjatuhkannya ke dalam api neraka."24
Demikian itu adalah sanksi bagi orang yang mencaci Ali. Maka bagaimana pula apabila ada
orang yang melaknatnya dan memeranginya. Mana alim-ulama kita dari hakikat kebenaran
ini? Apakah hati mereka telah tertutup rapat? Katakanlah, ya Allah, aku mohon lindunganMu
dari bisikan syaitan dan dari kehadirannya.
24 Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33;
Manaqib al-Khawarizmi hal. 81; ar-Riyadh an Nadhirah oleh Thabari jil. 2 hal. 219; Tarikh as-Suyuti hal. 73.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 118
Sahabat Mengubah Hatta Shalat
Anas bin Malik berkata: "Tiada sesuatu yang kuketahui di zaman nabi lebih baik dari (hukum)
shalat." Kemudian dia bertanya: "Tidakkah kalian kehilangan sesuatu di dalam shalat? " Az-
Zuhri pernah bercerita: "Suatu hari aku berjumpa dengan Anas bin Malik di Damsyik. Saat itu
beliau sedang menangis. "Apa yang menyebabkan Anda menangis?", tanyaku. "Aku telah lupa
segala yang kuketahui melainkan shalat ini. Itupun telah kusia-siakan." Jawab Anas.25
Agar jangan sampai terkeliru dengan mengatakan bahwa para Tabi'inlah yang mengubah
segala sesuatu setelah terjadinya sejumlah fitnah, perselisihan dan serta peperangan, ingin
kunyatakan di sini bahwa orang pertama yang mengubah Sunnah Rasul dalam hal shalat
adalah khalifah muslimin yang ketiga, yakni Utsman bin Affan. Begitu juga Ummul
Mukminin Aisyah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitabnya bahwa Rasulullah
SAWW menunaikan shalat di Mina dua rakaat (qashar). Begitu juga Abu Bakar, Umar dan
periode awal dari kekhalifahan Utsman. Setelah itu Utsman Shalat di sana (Mina) sebanyak
empat rakaat."26
Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Shahihnya bahwa Zuhri berkata: "Suatu hari aku
bertanya pada Urwah kenapa Aisyah shalat empat rakaat dalam perjalanan musafirnya?"
"Aisyah telah melakukan takwil sebagaimana Utsman"27, jawabnya. Umar bin Khattab juga
tidak jarang berijtihad dan bertakwil di hadapan nash-nash Nabi yang sangat jelas, bahkan di
hadapan nash-nash AlQuran, lalu kemudian menjatuhkan hukuman mengikut pendapatnya.
Beliau pernah berkata: "Dua mut'ah yang dahulunya halal dan dilakukan di zaman Nabi, kini
aku melarangnya dan mengenakan hukuman bagi orang yang melaksanakannya, (yaitu haji
tamattu' dan nikah mut'ah pent.) Beliau juga pernah berkata kepada orang yang junub tetapi
tidak memperoleh air untuk mandi, "Jangan shalat". Walaupun ada firman Allah di dalam
surah al-Maidah ayat 6: "... Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah
25 Shahih Bukhori jil.l hal.74.
26 Shahih Bukhori jil. 2 hal. 154; Shahih Muslim jil. 1 hal. 260.
27 Shahih Muslim jil. 2 hal.134.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 119
dengan tanah yang bersih".
Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Idza Khofa al-Junub A'la Nafsihi
(Apabila Orang Junub Takut Akan Dirinya) berikut: "Kudengar Syaqiq bin Salmah berkata,
suatu hari aku hadir dalam majlis Abdillah dan Abu Musa. Abu Musa bertanya pada Abdillah
bagaimana pendapatmu tentang orang yang junub kemudian tidak memperoleh air untuk
mandi?" Abdillah menjawab, "dia tidak perlu shalat sampai ia temukan air." Abu Musa
bertanya lagi, "bagaimana pendapatmu tentang jawaban Nabi kepada Ammar dalam masalah
yang sama ini?" Abdullah menjawab, "Umar tidak begitu yakin dengan itu." Abu Musa
melanjutkan, "lalu bagaimana dengan ayat ini, (al-Maidah: 6)?" Abdullah diam tidak
menjawab. Kemudian dia berkata, "apabila kita izinkan mereka (melakukan tayammum),
niscaya mereka akan bertayammum saja dan tidak akan menggunakan air apabila udaranya
dirasakan dingin. " Kukatakan pada Syaqiq bahwa Abdillah sebenarnya tidak suka lantaran
ini semata-mata; dan Syaqiq pun mengiakan"
Kesaksian Sahabat Atas Diri Mereka
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda kepada kaum
Anshar: "Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku.
Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh." Anas
berkata, "Kami tidak sabar."28
Ala' bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: "Aku berjumpa dengan Barra' bin A'zib ra.
Kukatakan padanya,"berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan
membai'atnya di bawah pohon (bai'ah tahta syajarah). Barra' menjawab, "wahai putera
saudaraku, engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya. "29
Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai'at
Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam
hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apabila sahabat-sahabat ini kemudian
28 Shahih Bukhori jil. 2 hal. 135.
29 Shahih Bukhori jil.3 hal.32.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 120
bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan "sesuatu" sepeninggal
Nabi, bukankah pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi
SAWW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya. Apakah
seseorang yang berpikir rasional akan tetap mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil
seperti yang diklaim oleh Ahlu Sunnah Wal Jama'ah. Mereka yang mengklaim seperti itu jelas
telah menyalahi nas dan akal. Karena dengan demikian hilanglah segala kriteria intelektual
yang sepatutnya dijadikan pegangan sebuah penelitian dan kajian.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 121
Kesaksian Syaikhain Atas Dirinya
Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Manaqib Umar bin Khattab
(Keistimewaan Umar bin Khattab) sebagai berikut:
Ketika Umar menderita karena tikaman, beliau merintih kesakitan. Ibnu Abbas datang
menghiburnya sambil berkata, "Ya Amir al-Mukminin, apabila memang sudah waktunya tiba,
bukankah engkau adalah sahabat Rasulullah yang baik. Ketika kau berpisah dengannya,
bukankah dia juga rela padamu. Kemudian kau telah bersahabat dengan Abu bakar dengan
persahabatan yang baik, lalu kau berpisah dengannya juga dalam keadaan dia rela padamu.
Kau juga bersahabat dengan yang lainnya dengan baik. Jika seandainya kau harus
meninggalkan mereka, maka mereka akan rela padamu." Tidak lama berselang Umar
kemudian menjawab, "Adapun tentang persahabatan dan kerelaan Rasulullah yang kau
sentuh tadi, maka itu adalah anugerah yang Allah telah berikan padaku. Persahabatan dan
kerelaan Abu Bakar yang kau katakan tadi, itu juga adalah anugerah yang Allah limpahkan
padaku. Namun apa yang kau saksikan dari rasa khawatir pada wajahku adalah semata-mata
karena kamu dan sahabat-sahabatmu. Demi Allah, apabila aku punya segunung emas maka
aku akan korbankan demi dapat terselamat dari azab Allah sebelum aku datang menjumpai-
Nya."30
Sejarah juga mencatat kata-kata Umar berikut: "Oh, alangkah beruntungnya apabila aku
hanyalah seekor kambing milik keluargaku. Digemukkannya aku seperti yang mereka suka
kemudian menjadi lahapan orang yang menyenanginya. Mereka iris sebagian dariku dan
dipanggangnya sebagian yang lain. Kemudian aku dimakan dan dikeluarkan pula sebagai
najis. Oh, kalaulah aku seperti itu dan tidak menjadi manusia."31
Sejarah juga mencatat kata-kata Abu Bakar berikut: "Ketika Abu Bakar melihat seekor burung
hinggap di suatu pohon, dia berkata, berbahagialah engkau duhai burung. Engkau makan
buah-buahan dan hinggap di pohon, tanpa ada hisab atau balasan. Aku lebih suka kalau aku
30 Shahih Bukhori jil. 2 hal. 201.
31 Minhaj as-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah jil. 3 hal.131; Hilyat al-Auliya' Oleh Ibnu Nu'aim jil. 1 hal. 52.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 122
ini adalah sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan, kemudian datanglah seekor unta lalu
memakanku. Kemudian aku dikeluarkan dan tidak menjadi seorang manusia."32
Di tempat lain beliau juga pernah berkata: "Oh, kalaulah ibuku tidak pernah melahirkanku.
Oh, kalaulah aku hanya sebiji pasir dari satu batu bata."33
Demikianlah sebagian kecil dari bukti yang dapat kita contohkan di sini sebagai renungan
semata-mata. Dan berikut ini adalah firman Allah SWT yang memberikan berita gembira
kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin: "Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tiada
kekhawatiran terhadap mereka dan tiada (pula) mereka bersedih hati; (yaitu) orang-orang
yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam
kehidupan di dunia dan (kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat
(janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (QS: Yunus: 62, 63,
64). Dan firman Allah dalam surat lain, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka teguhkan pendirian mereka, maka malaikat
akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Janganlah kamu merasa takut dan
janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan (memperoleh) sorga
yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan
dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan
memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari
Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'" (QS. Al Fushilat: 30, 31,32).
Kenapa Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) berangan-angan untuk tidak jadi manusia, makhluk
yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT atas makhluk-makhluknya yang lain. Apabila seorang
mukmin yang biasa yang istiqamah dalam hidupnya bisa didatangi oleh malaikat dan
diberinya kabar gembira dengan kedudukan di surga, lalu dia tidak khawatir pada azab Allah
dan tidak bersedih hati dengan masa lalunya di dunia, bahkan baginya berita gembira di
32 Tarikh Thabari hal. 41; ar-Riyadh an-Nadhirah jil. 1 hal. 134; Kanzul Ummal hal. 361; Minhaj as-Sunnah jil. 3
hal. 120.
33 Tarikh Thabari hal.41; ar-Riyadh an-Nadhirah jil. 1 hal. 134; KanzulUmmalhal.361 Minhaj as-Sunnah jil. 3
hal. 120.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 123
dalam kehidupan di dunia sebelum kehidupan di akhirat, maka kenapa tokoh-tokoh sahabat
yang dikatakan sebagai makhluk terbaik setelah Rasulullah berangan-angan ingin menjadi
najis atau sehelai rambut atau sebiji pasir?
Seandainya para malaikat telah memberinya berita gembira akan hal surga, semestinya
mereka tidak akan berangan-angan untuk memiliki segunung emas agar dapat dikorbankan
sebagai tebusan atas azab Allah sebelum berjumpa dengan-Nya. Allah SWT berfirman: "Dan
kalau setiap diri yang zalim itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia
menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka
telah menyaksikan azab itu, dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil
sedang mereka tidak dianiaya." (S. Yunus: 54).
Allah juga berfirman: "Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai semua apa yang
ada di bumi dan sebanyak itu (pula) besertanya, niscaya mereka menebus dirinya dengan
itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang
belum pernah mereka perkirakan. Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang
telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu
memperolok-olokkan." (QS. Az-Zumar: 47,48).
Aku bercita-cita sepenuh hatiku agar ayat ini tidak meliputi sahabat-sahabat besar seperti
Abu Bakar as-Siddiq dan Umar al-Faruq. Tetapi aku seringkali terjebak dengan adanya nashnash
seperti ini. Itulah kenapa aku coba menelaah aspek-aspek menarik dari hubungan
mereka dengan Rasul SAWW. Namun di situ juga aku dihadapkan dengan sikap mereka yang
enggan melaksanakan perintah-perintah Nabi, terutama pada saat-saat akhir dari umurnya
yang penuh berkat itu, di mana menyebabkan Nabi marah dan mengusir mereka dari
kamarnya. Aku juga dihadapkan dengan suatu fakta akan perilaku mereka setelah wafatnya
Nabi, serta sikap mereka yang mengganggu puterinya Fatimah az-Zahra'. Padahal Nabi
SAWW bersabda, "Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang menyebabkannya marah
maka dia telah menyebabkan aku marah."34
Fatimah juga pernah berkata kepada Abu Bakar dan Umar demikian: "Aku minta persaksian
34 Shahih Bukhori jil. 2 hal.206.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 124
dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah bersabda,
'Keridhaan Fatimah adalah keridhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku.
Siapa yang mencintai puteriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat
Fatimah rela maka dia telah membuatku rela, siapa yang membuat Fatimah marah maka
dia telah membuatku marah.'? 'Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah.' Jawab mereka
berdua. Lalu Fatimah berkata lagi, 'Sungguh, aku minta persaksian Allah dan para malaikat-
Nya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa
dengan Rasulullah maka pasti akan kusampaikan keluhanku ini kepadanya'."35
Biarlah riwayat yang menyayat hati ini kita tinggalkan dahulu. Mungkin Ibnu Qutaibah,
seorang ulama Ahlu Sunnah yang sangat terkemuka dalam berbagai ilmu pengetahuan dan
mempunyai banyak karya seperti Tafsir, Hadis, Bahasa, Nahu dan sejarah, mungkin beliau
juga telah ikut Syi'ah seperti yang pernah dikatakan oleh seseorang ketika kutunjukkan
padanya kitab Tarikh al-Khulafa'. Dan ini hanya sekadar alasan yang dicari-cari saja oleh
ulama kita ketika mereka harus mengakui fakta-fakta tersebut. Di daerah kami, Thabari
dikatakan telah ikut Syi'ah; Nasai yang telah menulis satu buku khusus tentang keutamaan
Imam Ali juga dikatakan telah ikut Syi'ah; Ibnu Qutaibah juga Syi'ah; bahkan Taha Husain,
ketika menulis buku al-Fitnah al-Kubra (Fitnah Besar) dan menyebutkan di sana hadis-hadis
al-Ghadir serta mengakui kebenaran-kebenaran yang lain juga dikatakan telah ikut Syi'ah.
Padahal sebenarnya mereka bukan orang Syi'ah. Bahkan ketika mereka berbicara tentang
Syi'ah, yang mereka sebutkan hanyalah keburukannya semata-mata. Mereka membela para
sahabat dengan segala daya upaya mereka. Tetapi mereka yang menyebut keutamaankeutamaan
Ali bin Abi Thalib dan mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh tokohtokoh
sahabat tertentu, tiba-tiba kita tuduh mereka sebagai Syi'ah. Cukup misalnya Anda
sebutkan di hadapan mereka shalawat Nabi yang diiringi dengan kalimat Wa Alihi atau
menyebut alaihissalam untuk Imam Ali, maka mereka segera akan mengatakan bahwa Anda
adalah seorang Syi'ah!
Suatu hari aku berdiskusi dengan seorang ulama. Kutanyakan padanya, "apa pendapatmu
35 Al-Imamah was Siyasah jil.l hal. 20; Fadak Oleh Muhammad Baqir Sadr hal. 92.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 125
tentang Bukhari?"
"Beliau adalah imam hadis." Jawabnya. "Kitabnya adalah yang paling benar setelah Kitab
Allah. Hal ini adalah kesepakatan para ulama kita."
Kukatakan padanya bahwa Bukhari adalah seorang Syi'ah. Dia tertawa terbahak-bahak
mengejekku.
Katanya, "Tidak mungkin sama sekali Imam Bukhari akan jadi Syi'ah!"
Kukatakan lagi padanya "Anda pernah menyatakan siapa saja yang menyebut kalimat
alaihissalam untuk Ali maka dia adalah orang Syi'ah."
"Ya," jawabnya.
Kemudian kutunjukkan padanya dan pada orang-orang yang duduk di sekitarnya kitab
Shahih Bukhari yang memuat kata-kata alaihissalam ketika menyebut nama Ali, Husain bin
Ali serta nama Fatimah puteri Nabi.36 Menyaksikan itu orang ini merasa sangat kaget dan
bingung apa yang harus dikatakannya.
Mari kita kembali pada riwayat Ibnu Qutaibah yang mencatat bahwa Fatimah marah pada
Abu Bakar dan Umar. Apabila aku meragukan kebenaran riwayat ini karena semata-mata ada
dalam kitab Ibnu Qutaibah, maka aku tidak akan dapat mengelak lagi ketika riwayat yang
sama kudapati dalam kitab Shahih Bukhari, sebuah kitab yang paling "benar" setelah
AlQuran. Karena kita telah nyatakan bahwa kitab Shahih Bukhori adalah kitab yang paling
benar, dan kini Syi'ah berargumentasi dengan kitab tersebut, maka adalah sangat adil dan fair
apabila orang-orang yang rasional menerimanya.
Bukhari meriwayatkan dalam Bab Manaqib Qarabah Rasulillah (Keistimewaan Kerabat
Nabi) bahwa Rasulullah SAWW bersabda: "Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang
membuatnya marah maka dia telah membuatku marah." Dalam Bab Ghazwah Khaibar,
"dari Aisyah (yang berkata) bahwa Fatimah putri Nabi, suatu hari mengutus seseorang
36 Shahih Bukhori jil.l hal. 127,130; jil. 2 hal. 126, 205.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 126
menghadap Abu Bakar untuk meminta hak pusakanya yang diwarisinya dari ayahandanya.
Abu Bakar enggan memberikannya kepada Fatimah walau sedikit pun. Fatimah sangat marah
kepada Abu Bakar, lalu ditinggalkannya dan tidak diajaknya berbicara sampai beliau wafat."37
Alhasil, konklusinya satu. Bukhari menyebutnya secara ringkas, sementara Ibnu Qutaibah
mencatatnya secara lebih rinci: yakni Rasulullah SAWW akan marah lantaran marahnya
Fatimah dan akan rela lantaran kerelaan Fatimah. Dan ketika Fatimah meninggal, beliau
masih dalam keadaan marah dan murka pada Abu Bakar dan Umar.
Jika Bukhari berkata bahwa "Fatimah meninggal masih dalam keadaan marah pada Abu
Bakar, dan sampai akhir hayatnya tidak berbicara dengannya", riwayat Bukhari ini sama
maknanya dengan riwayat Ibnu Qutaibah di atas. Kemudian, apabila Fatimah adalah
Penghulu Wanita Alam Semesta seperti yang disebutkan oleh Bukhari dalam bab al-Istidzan
bagian Man Naja Baina Yadai an-Nas; dan Fatimah adalah satu-satunya wanita dari ummat
ini yang dibersihkan dari segala dosa dan disucikan sebersih-bersihnya, maka hal itu berarti
bahwa sikap marahnya adalah karena kebenaran semata-mata. Dan dengan alasan inilah
kenapa Rasulullah akan marah karena marahnya Fatimah, dan akan murka lantaran
murkanya Fatimah. Dan karena menyadari konsekuensi inilah kemudian Abu bakar berkata:
"Aku berlindung pada Allah dari murkaNya dan dari murkamu wahai Fatimah"; dan Abu
Bakar menangis tersedu-sedu sampai dadanya sesak.
Fatimah juga berkata kepada Abu Bakar: "Demi Allah, aku akan mohonkan keburukanmu di
dalam setiap doa yang kupanjatkan seusai shalat." Kemudian Abu Bakar menangis dan
berkata berikut: "Aku tidak perlu pada bai'at kalian; lepaskan aku dari bai'at kalian."38
Para ahli sejarah dan ulama-ulama kita tahu bahwa Fatimah AS telah mendakwa Abu Bakar
dalam berbagai kasus, seperti kasus harta pusaka dan bagian hak kerabat Nabi. Tetapi semua
dakwaannya ditolak sehingga beliau AS meninggal dalam keadaan murka. Namun sayang
sekali, para ulama kita hanya membacanya saja dan enggan mendiskusikannya. Alasannya
37 Shahih Bukhori jil. 3 hal. 39.
38 Tarikh al-Khulafa' Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 20.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 127
--seperti biasa-- ingin menjaga segala kemuliaan Abu Bakar.
Di antara hal aneh yang pernah kubaca tentang cerita ini adalah komentar sebagian penulis
yang menukilkan cerita tersebut secara agak rinci, kemudian berkata: "Jauh sekali
kemungkinan Fatimah akan mendakwa sesuatu yang bukan haknya; dan jauh sekali Abu
bakar akan melarang Fatimah dari haknya." Penulis tersebut menduga bahwa dengan cara ini
dia telah dapat menyelesaikan kemusykilan dan telah memberi jawaban yang memuaskan
kepada para pencari kebenaran. Padahal logika seperti itu nyaris sama dengan logika yang
beralasan: "Jauh sekali AlQuran akan berkata sesuatu yang bukan haq; atau jauh sekali Bani
Israel akan menyembah anak sapi."
Kita sering berjumpa dengan para ulama yang berbicara tentang sesuatu yang tidak mereka
fahami, atau mempercayai sesuatu yang kontradiktif. Dalam kasus ini -misalnya- Fatimah
yang mendakwa sementara Abu Bakar yang menolak dakwaan. Kita dihadapkan pada dua
pilihan, apakah Fatimah yang berbohong (semoga Allah melindungi kita dari berkata
demikian) atau Abu Bakar yang berlaku zalim kepadanya. Tidak ada kemungkinan ketiga
dalam menilai kasus ini seperti yang diasumsikan oleh ulama-ulama kita. Apabila andaian
dan kemungkinan Fatimah berbohong adalah tertolak, karena terbukti ayahnya bersabda
untuk dirinya, "Fatimah adalah belahan nyawaku; siapa yang mengganggunya berarti dia
telah menggangguku..." dan orang yang berbohong sudah pasti tidak akan memperoleh
rekomendasi Nabi seperti ini (disamping hadis ini sendiri adalah bukti akan kema'sumannya
dari berkata dusta dan dari segala perbuatan yang munkar, sebagaimana yang didukung oleh
ayat Tathhir (QS. Al Ahzab: 33) yang diturunkan untuknya, suaminya dan dua puteranya
dengan persaksian Aisyah39 jika hal ini tertolak maka tidak ada jawaban lain bagi orang-orang
yang berpikir rasional kecuali harus mengakui bahwa Fatimah sebenarnya adalah pihak yang
dizalimi. Dan mudah untuk kita duga bahwa sekadar menolak dakwaan Fatimah seperti itu
jauh lebih mudah bagi mereka yang tidak takut sekalipun untuk membakar rumahnya40.
Itulah kenapa Fatimah AS tidak mengizinkan Abu Bakar dan Umar masuk ke dalam
39 Shahih Muslim jil. 7 hal. 121,130.
40 Tarikh al-Khulafa' jil. 1 hal. 20.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 128
rumahnya; dan ketika Ali membawa mereka masuk, Fatimah juga memalingkan wajahnya
dan tidak mau melihat mereka berdua.41
Fatimah wafat dan berwasiat agar dikebumikan secara rahasia di malam hari, supaya tidak
satupun dari mereka yang dimurkainya dapat menghadiri jenazahnya42. Dan memang sampai
kini kita tidak akan dapat menjumpai dimana kuburan puteri Rasul tersebut. Kenapa alimulama
kita berdiam diri dari hakikat kebenaran ini, dan tidak mau mengkajinya bahkan
menyebutnya sekalipun. Mereka menggambarkan kepada kita bahwa para sahabat bagaikan
para malaikat yang tidak bersalah atau berbuat dosa. Jika kita tanyakan pada mereka kenapa
Khalifah Utsman sampai bisa terbunuh, mereka akan segera menjawab bahwa penduduk
Mesirlah --orang-orang kafir-- yang telah membunuhnya. Cukup dengan dua kalimat itu saja.
Tetapi ketika aku mulai membaca dan mengkaji sejarah, kudapati bahwa tokoh-tokoh penting
dibalik pembunuhan Utsman adalah para sahabat itu sendiri, terutama Ummul Mukminin
Aisyah yang menyeru pembunuhannya dihadapan publik ramai. Aisyah berkata, "Bunuhlah si
Na'tsal (orang tua yang keras kepala yakni Utsman) itu! Sungguh dia telah kafir!"43 Di sana
kita juga dapati nama-nama seperti Thalhah, Zubair, Muhammad bin Abu Bakar dan tokohtokoh
sahabat lain yang terkenal. Mereka telah kepung rumah Utsman dan memotong suplai
air agar ia meletakkan jabatan. Para ahli sejarah juga mencatat bahwa mayat Utsman dilarang
oleh para sahabat lain dikebumikan di pekuburan kaum muslimin. Akhirnya beliau
dikuburkan di Hash Kaukab tanpa dimandikan dan tanpa dikafankan. Subhanallah.
Bagaimana lalu dikatakan kepada kita bahwa Utsman dibunuh dalam keadaan dizalimi, dan
yang membunuhnya adalah orang-orang bukan muslim.
Dalam melihat masalah ini hampir sama dengan masalah antara Fatimah dan Abu Bakar
serta Umar di atas. Apakah Utsman yang dizalimi, sehingga para sahabat yang terlibat divonis
sebagai pembunuh-pembunuh yang jahat, karena telah membunuh seorang Khalifah
41 Ibid.
42 Shahih Bukhori jil.3 hal.39.
43 Tarikh Thabari jil.4 hal.407; Tarikh Ibnu Atsir jil. 3 hal. 206; Lisanul Arab jil. 14 hal. 193; Tajal-Arus jil.8
hal.141; Al-I'qdul Farid jil. 4 hal. 290.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 129
muslimin dengan penuh aniaya dan permusuhan, bahkan kemudian melempar mayatnya
dengan batu sampai Utsman dikatakan konon sebagai orang yang teraniaya pada masa
hidupnya dan setelah matinya. Atau para sahabat itu yang dizalimi karena menyaksikan
sejumlah tindakan Utsman yang bertentangan dengan Islam, kemudian menghalalkan
darahnya, seperti yang terbukti dalam buku-buku sejarah. Tidak ada kemungkinan ketiga
yang dapat kita cari jawabannya, melainkan kalau kita ingin memalsukan sejarah dan
menerima alasan bahwa orang-orang "kafir" Mesirlah yang membunuhnya.
Dari dua andaian di atas kita terjebak pada konsekuensi logis akan ketidakjujuran teori yang
mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil. Karena apakah Utsman yang tidak adil
sehingga para pembunuhnya yang benar, atau para pembunuhnya, yang juga para sahabat
yang terkemuka. Dengan demikian maka batallah klaim kita dan benarlah klaim Syi'ah yang
mengatakan bahwa hanya sebagian sahabat sajalah yang adil, bukan semua.
Kita juga bertanya tentang peperangan Jamal yang diapi-apikan oleh Ummul Mukminin
Aisyah bahkan dipimpin olehnya sendiri. Bagaimana Ummul Mukminin Aisyah keluar dari
rumahnya sementara Allah SWT memerintahkannya untuk tinggal di rumahnya saja. Firman
Allah: "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan
bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu..." (QS. Al Ahzab: 33)
Kita juga bertanya, atas hak apa Ummul Mukminin membolehkan perang menentang
khalifah muslimin yang sah, yakni Ali bin Abi Thalib? Bukankah beliau adalah wali
(pemimpin) bagi orang-orang mukmin dan mukminah? Seperti biasa, para ulama kita dengan
mudah saja menjawab bahwa Aisyah tidak suka dengan Imam Ali, lantaran Ali menyarankan
kepada Rasul untuk mentalaknya dalam peristiwa Ifik. Mereka ingin katakan kepada kita
bahwa peristiwa ini adalah alasan yang cukup kuat untuk Aisyah melanggar perintah
Tuhannya dan Rasulnya serta menunggangi seekor unta yang dilarang oleh Rasul dan
diperingatkannya dari gonggongan anjing Hauab44.
Aisyah telah menempuh jarak yang cukup jauh, dari Madinah ke Mekah kemudian Basrah
hanya untuk memerangi Amir al-Mukminin dan para sahabat lain yang membai'atnya.
44 Al-Imamah was Siyasah.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 130
Perang Jamal tersebut telah mengakibatkan ribuan manusia terkorban seperti yang dicatat
dalam buku sejarah45. Semua ini adalah karena beliau tidak suka pada Imam Ali yang pernah
menyarankan Nabi untuk menceraikannya dalam peristiwa Ifik itu. Kenapa Aisyah sampai
demikian ekstrem benci pada Imam Ali?
Para ahli sejarah juga mencatat bahwa Aisyah mempunyai sikap-sikap permusuhan kepada
Imam Ali yang tidak dapat ditafsirkan. Ketika dalam perjalanan pulang dari Mekah menuju
Madinah, Aisyah mendengar berita pembunuhan Utsman. Berita itu disambutnya dengan
kegembiraan yang luar biasa. Namun ketika beliau tahu bahwa ummat memberikan bai'atnya
pada Ali sebagai Khalifah, Aisyah tiba-tiba marah dan berang. Katanya: "Aku lebih suka jika
langit ini menghimpit bumi sebelum Ibnu Abi Thalib mengambil alih jabatan khalifah!"
Beliau juga berkata: "Kembalikan aku..." dan seterusnya. Dari situlah kemudian api fitnah
dinyalakan untuk menentang Ali yang --seperti kata sejarah-- hatta namanya sekalipun
enggan disebut oleh Aisyah.
Apakah Ummul Mukminin Aisyah tidak pernah mendengar sabda Rasul SAWW: "Cinta
kepada Ali adalah (tanda) iman dan benci kepadanya adalah (tanda) nifak.46"? Bahkan
sebagian sahabat berkata, "Kami kenal orang-orang munafik karena sikap benci mereka pada
Ali."
Apakah Ummul Mukminin tidak mendengar sabda Nabi SAWW: "Siapa yang menganggap
aku sebagai pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya." Tidak syak lagi bahwa beliau
pernah mendengar semua itu. Namun beliau tetap tidak suka padanya, tidak mau menyebut
namanya bahkan ketika didengarnya bahwa Ali telah mati, beliau bersujud syukur
karenanya!47
Biarlah kita tinggalkan semua ini. Aku tidak ingin berbicara tentang sejarah Ummul Mukimin
Aisyah. Hanya sekadar ingin meneliti dan mencari tahu akan pelanggaran sejumlah sahabat
45 Lihat Tarikh Thabari, Ibnu Atsir dan Madaini Tentang Tahun 36 H.
46 Shahih Muslim jil. 1 hal. 48.
47 Lihat Tarikh Thabari, Ibnu Atsir dll Tentang Sejarah Tahun 40 H.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 131
akan prinsip-prinsip Islam dan perintah-perintah Nabi SAWW. Bagiku perang Jamal yang
dilancarkan oleh Ummul Mukminin yang telah disepakati kebenarannya oleh para ahli
sejarah ini adalah satu bukti kuat atas objektifitas kesimpulanku ini.
Mereka juga mencatat bahwa Aisyah ketika lewat di perairan Hauab, beliau digonggongi oleh
anjing-anjingnya. Mendengar gonggongan anjing Hauab seperti itu, segera beliau ingat akan
pesan suaminya Rasulullah yang melarangnya dari menunggangi unta tersebut. Beliau
sempat menangis dan berkata: "Kembalikan aku!, kembalikan aku..!" Tetapi Thalhah dan
Zubair kemudian membawa lima puluh penduduk setempat dan meminta mereka bersumpah
bahwa tempat ini bukanlah wilayah perairan Hauab. Dari sana kemudian beliau melanjutkan
perjalanannya sampai ke Basrah. Para ahli sejarah berkata bahwa itulah kesaksian palsu
pertama yang terjadi dalam Islam.48
Wahai pembaca yang berpikiran jernih. Tunjukkan kami bagaimana caranya menyelesaikan
kemusykilan ini? Apakah mereka dapat dikategorikan sebagai sahabat yang agung yang kita
sebut sebagai orang-orang adil, bahkan sebagai manusia yang paling mulia setelah Rasulullah
SAWW? Tapi mereka telah memberikan kesaksian palsu yang digolongkan oleh Rasul sebagai
bagian dari dosa-dosa besar yang bisa membawa ancaman api neraka.
Pertanyaan yang sama masih berulang, siapa yang benar dan siapa yang salah? Apakah Ali
dan orang-orangnya dalam pihak yang zalim dan batil, ataukah Aisyah dan orang-orangnya
beserta Thalhah, Zubair dan orang-orangnya? Tidak ada lagi andaian ketiga yang bisa
memberikan jawaban. Seorang peneliti yang objektif saya rasa akan condong kepada pihak Ali
yang (disabdakan oleh Nabi) senantiasa bersama kebenaran, dan berupaya untuk mematikan
fitnah yang dinyalakan oleh Ummul Mukminin Aisyah serta para pengikutnya. Sungguh
fitnah peperangan ini telah memakan banyak korban dan telah meninggalkan luka yang
sangat dalam sampai hari ini.
Untuk pertanggung-jawaban dan ketenangan hati aku sertakan riwayat-riwayat berikut.
Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada bab al-Fitnah, bagian al-Fitnah
48 Lihat Ibid Tahun 36 H.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 132
Allati Tamuju Kamauj al-Bahri (Fitnah Yang Mengamuk Seperti Gelombang Samudra)
riwayat berikut: "Ketika Thalhah, Zubair dan Aisyah pergi ke Basrah, Ali mengutus Ammar
bin Yasir dan Hasan bin Ali pergi ke Kufah. Sesampainya di sana, mereka naik ke atas
mimbar. Hasan duduk di atas sementara Ammar berdiri di bawahnya. Kami berkumpul
mengelilingi mereka. Kudengar Ammar berkata: "Aisyah telah pergi ke Basrah. Demi Allah
dia adalah isteri Nabi kalian di dunia dan di akhirat. Tetapi Allah ingin menguji kalian agar
Dia tahu apakah kalian berada pada pihak Ali atau pada pihak Aisyah?"49
Bukhari juga meriwayatkan dalam bab as-Syurut bab Ma Ja`a Fi Buyut Azwaj an-Nabi (Apa
Yang Terjadi Di Rumah Isteri-isteri Nabi): "Suatu hari Nabi berdiri berpidato. Sambil
menunjuk ke arah tempat tinggal Aisyah beliau bersabda: 'Disinilah fitnah, disinilah fitnah,
disinilah fitnah darimana munculnya tanduk syaitan!.'50
Bukhari juga meriwayatkan berbagai sikap aneh dan keburukan akhlaknya (Aisyah) di
hadapan Nabi SAWW sampai pernah ditampar oleh ayahnya; atau tentang kepura-puraannya
di hadapan Nabi sehingga Allah mengancamnya dengan talak dan akan digantikan dengan
isteri lain yang lebih baik. Ini adalah cerita-cerita lain yang akan memakan ruangan yang
panjang jika dijelaskan.
Setelah ini semua, aku tertanya-tanya kenapa Aisyah memperoleh penghormatan yang
demikian agung dari pihak Ahlu Sunnah Wal Jama'ah? Apakah karena dia adalah isteri Nabi,
padahal Nabi juga mempunyai banyak isteri lain, bahkan ada yang lebih utama dari Aisyah
sekalipun seperti ucapan Nabi sendiri?51 Ataukah karena dia adalah puterinya Abu Bakar.
Atau mungkin karena dia telah memainkan peranan besar dalam mengingkari wasiat Nabi
kepada Ali, sehingga ketika disebutkan di hadapannya bahwa Nabi telah berwasiat untuk Ali,
dia berkomentar: "Siapa yang berkata demikian? Waktu itu (saat wafat Nabi) akulah yang
bersama Nabi. Kuletakkan kepalanya di dadaku, kemudian dia meminta talam. Ketika aku
49 Shahih Bukhori jil.4 hal. 161.
50 Ibid jil. 2 hal. 128.
51 Shahih Turmizi, al-Istia'b dan al-Ishobah.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 133
tunduk tiba-tiba dia mati tanpa kurasakan apa-apa. Bagaimana lalu dikatakan bahwa Nabi
telah berwasiat untuk Ali?"52 Atau apakah karena dia telah perangi Ali dan anak-anaknya
secara total, sampai-sampai jenazah Sayyidina Hasan putera Ali, penghulu pemuda syurga,
dihalanginya untuk bisa dikebumikan di sisi pusara datuknya Rasulullah SAWW? Katanya:
"Jangan masukkan orang yang tidak kusukai ke rumahku."
Entahlah, apakah dia lupa atau berpura-pura lupa akan sabda nabi pada Hasan dan
saudaranya: "Hasan dan Husain adalah dua pemuka pemuda surga"; atau sabdanya yang
lain: "Allah akan mencintai orang yang mencintai keduanya, dan akan benci pada orang
yang membenci keduanya"; atau sabdanya: "Aku akan memerangi orang yang memerangi
kalian (berdua) dan berdamai pada orang yang berdamai dengan kalian"; atau sabdasabdanya
yang lain. Betapa tidak, bukankah mereka berdua adalah bunga kuntumnya yang
semerbak bagi ummat Islam?
Tidak begitu mengejutkan memang. Jauh hari sebelumnya beliau pernah mendengar dari
Nabi hadis-hadis yang lebih banyak tentang keistimewaan Ali, tetapi beliau tetap enggan dan
bertekad tetap memeranginya, memisahkan kaum muslimin darinya serta mengingkari segala
keutamaan-keutamaannya. Itulah alasan yang sangat kuat kenapa Bani Umaiyah sangat
mencintai Aisyah ini dan meletakkannya pada kedudukan yang sangat tinggi tiada tara.
Mereka telah tulis baginya berbagai keistimewaan dan keutamaan yang memenuhi lembaran
buku sehingga beliau ditokohkan sebagai marja' (pakar rujukan) yang paling besar bagi
Ummat ini, sebab di sisinya tersimpan separuh agama. Dan mungkin separuh lain telah
mereka jatahkan pada Abu Hurairah yang telah meriwayatkan untuk mereka segala sesuatu
yang mereka inginkan. Dan lantaran itulah maka Abu Hurairah mereka letakkan sebagai
orang dekatnya, diberinya kekuasaan sebagai Gubernur kota Madinah dan istana al-Aqiq
serta gelar sebagai "perawi Islam". Dengan demikian maka mudahlah bagi Bani Umaiyah
untuk memiliki satu agama baru yang sempurna, yang tidak memuat apa-apa dari Kitab Allah
dan Sunnah Rasul melainkan yang sesuai dengan kehendak nafsu mereka dan mendukung
kerajaan serta kekuasaan mereka semata-mata.
52 Shahih Bukhori Jil.3 hal.68.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 134
Agama seperti ini adalah lebih layak apabila dikatakan sebagai bahan mainan dan olok-olok
saja yang hanya penuh dengan berbagai khurafat dan kontradiksi. Itulah kenapa kebenaran
yang sejati terkubur sementara yang batil muncul ke permukaan. Mereka juga memaksa atau
mengelabui orang banyak dengan cara keagamaan mereka ini, sehingga agama Allah yang
sejati menjadi semacam tiada nilai dan rasa takut kepada Muawiyah adalah lebih besar dari
takut kepada Allah.
Ketika kita bertanya pada sebagian ulama kenapa Muawiyah memerangi Imam Ali yang telah
dibai'at oleh Muhajirin dan Anshar, dimana akibatnya telah memecah kaum muslimin kepada
Sunnah dan Syi'ah, dan telah melukai Islam hingga kini, maka --seperti biasa-- mereka akan
segera menjawab dengan begitu mudahnya bahwa Ali dan Muawiyah adalah dua sahabat
Rasul yang agung. Mereka berdua berijtihad: Ali berijtihad dan benar lalu dia dapat dua
pahala, sementara Muawiyah berijtihad dan salah, lalu dia memperoleh satu pahala. Dan
bukan hak kita untuk menghukum mereka, baik positif atau negatif. Karena Allah SWT
berfirman: "Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa
yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa
yang telah mereka kerjakan." (QS. AL Baqarah: 134).
Demikianlah jawaban kita. Seperti yang Anda perhatikan jawaban seperti ini adalah jawaban
yang sangat dhaif yang tidak dapat diterima oleh akal, agama ataupun syara'. Ya Allah, aku
berlindung pada-Mu dari pendapat yang salah dan hawa nafsu yang terjerat. Aku mohon
lindunganMu dari bisikan syaitan dan kehadirannya.
Bagaimana akal sehat dapat menerima bahwa Muawiyah melakukan ijtihad dan karenanya
diberi satu pahala dalam tindakannya yang memerangi Imam kaum muslimin serta
membunuh orang-orang mukmin dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak terhitung
banyaknya? Para ahli sejarah mencatat betapa Muawiyah telah membunuh para
penentangnya dengan caranya tersendiri yang sangat dikenal: memberi minuman beracun.
Muawiyah senantiasa berkata: "Allah mempunyai bala tentara dari madu."
Bagaimana mereka katakan bahwa Muawiyah telah berijtihad dan tersalah, padahal dia
adalah pemimpin kelompok yang baghi (kelompok yang memerangi Khalifah muslimin yang
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 135
sah)? Dalam suatu hadis yang sangat populer yang diriwayatkan oleh semua ahli hadis, Nabi
SAWW bersabda: "Berbahagialah Ammar. Dia akan dibunuh oleh kelompok yang baghi."
Muawiyah beserta sahabat-sahabatnyalah yang membunuh Ammar.
Bagaimana mereka katakan bahwa Muawiyah telah berijtihad dalam peristiwa pembunuhan
terhadap Hujur bin A'dy beserta sahabat-sahabatnya, yang kemudian dikuburkan di tempat
sampah pada suatu padang pasir Syam, semata-mata lantaran mereka tidak mau mencaci Ali
bin Abi Thalib? Bagaimana mereka mengatakannya sebagai seorang sahabat yang adil
sementara dia telah meracuni Hasan bin Ali, pemuka pemuda sorga?
Bagaimana mereka menganggapnya bersih padahal dia telah paksa ummat Islam untuk
membai'atnya dan membai'at puteranya Yazid setelahnya, dan menggantikan sistem syuro
dengan dinasti kerajaan?53 Bagaimana mereka mengatakan bahwa Muawiyah telah berijtihad
dan diberi satu pahala, padahal dia telah paksa kaum muslimin untuk melaknat Ali dan
keluarga Nabi SAWW dari atas mimbar? Dia telah bunuh para sahabat yang enggan
melakukan laknat sampai hal itu menjadi sebuah tradisi yang berkepanjangan! Fala Haula
Wala Quwwata Illa Billah al-A'li al-A'zim.
Persoalan yang sama juga timbul: mana kelompok yang benar dan mana kelompok yang
salah? Apakah Ali dan Syi'ahnya sebagai orang-orang yang zalim dan dalam pihak yang salah,
atau Muawiyah dan para pengikutnya? Rasul SAWW telah menjelaskan segala sesuatunya di
sana. Dalam dua kemungkinan di atas, menyatakan bahwa semua sahabat tanpa kecuali
adalah adil adalah hal yang mustahil yang tidak sesuai dengan akal sehat.
Semua yang kami katakan di atas, sebenarnya adalah bagian kecil dari fakta-fakta sejarah
yang terlalu banyak untuk ditulis dalam buku kecil ini. Apabila kita ingin muat secara rinci
hal-hal di atas maka kita akan memerlukan berjilid-jilid buku untuk menampungnya. Namun
karena buku ini adalah ringkas, maka dengan sengaja kusajikan sejumlah contoh sebagai
pelengkap semata-mata. Dan Alhamdulillah sekadar itupun sudah cukup merepotkan orang
sekitarku yang telah membekukan pikiranku dengan mitos-mitos palsu dalam waktu yang
cukup lama, dan yang mencegahku dari memahami hadis serta meneliti sejarah dengan
53 Lihat al-Khilafah Wal Muluk Dan Yaum al-Islam.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 136
kriteria akal dan syariah yang telah diajarkan oleh AlQuran dan Sunnah Nabi SAWW.
Aku akan tetap bertarung dengan jiwaku dan menyisihkan setiap debu-debu fanatisme buta
yang membungkusku. Aku akan tetap berupaya untuk membebaskan segala belenggu dan
rantai yang telah mengikat jiwaku lebih dari dua puluh tahun. Hatiku berkata pada mereka:
oh, alangkah indahnya seandainya kaumku mengetahui akan ampunan Tuhanku kepadaku
dan dijadikan-Nya aku dari golongan orang-orang yang dimuliakan. Oh, kalaulah kaumku
menemukan dunia yang belum mereka ketahui ini dan membebaskan diri mereka dari
bersikap memusuhinya tanpa sadar ini.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 137
Dialog Dengan Orang Alim
Kukatakan kepada salah seorang ulama: "Jika Muawiyah telah membunuh orang-orang yang
tak berdosa dan memperkosa segala kehormatan, lalu kalian hukumkan bahwa dia telah
berijtihad namun salah dan dia mendapat satu pahala; dan jika Yazid telah membunuh anakanak
Rasul serta menghalalkan (pertumpahan darah) di Madinah, lalu kalian hukumkan
bahwa dia telah berijtihad dan salah dan dia mendapatkan satu pahala sehingga ada sebagian
orang berkata bahwa Husain terbunuh oleh pedang datuknya sebagai alasan untuk
membenarkan perlakuan Yazid; apabila demikian kenapa pula aku tidak boleh berijtihad di
dalam penelitianku tentang para sahabat yang menimbulkan suatu tanda tanya besar dalam
diriku. Ini tentu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan tindakan Muawiyah dan
puteranya Yazid didalam membunuh keluarga Nabi yang suci. Jika ijtihadku benar maka aku
akan mendapatkan dua pahala, dan jika salah aku akan memperoleh satu pahala.
Penelitianku tentang sahabat juga bukan karena ingin mencaci, mencerca atau melaknat
mereka. Aku hanya ingin sampai kepada suatu kebenaran untuk mengetahui mana golongan
yang selamat diantara banyak golongan yang sesat. Ini adalah kewajibanku dan kewajiban
setiap Muslim. Allah Maha Tahu apa yang tersembunyi dan yang tersirat di balik dada."
Orang alim ini menjawab: "Wahai puteraku. Pintu ijitihad telah tertutup sejak lama."
"Siapa yang menutupnya?"
"Imam empat mazhab".
"Alhamdulillah, jika yang menutupnya bukanlah Allah, bukan juga Rasul-Nya dan bukan
Khulafa' Rasyidin (empat khalifah) yang kita disuruh untuk mengikuti mereka. Ini berarti
bahwa tidak cela apabila aku berijtihad sebagaimana mereka dahulu berijtihad."
"Engkau tidak boleh berijtihad kecuali apabila telah kau kuasai tujuh belas cabang ilmu
pengetahuan! Antara lain ilmu tafsir, lughah, nahu, sharaf, balaghah, hadis, sejarah dan lain
sebagainya."
"Aku bukan ingin berijtihad untuk menerangkan kepada orang tentang hukum AlQuran dan
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 138
Sunnah, atau ingin menjadi imam suatu mazhab di dalam Islam. Aku hanya ingin tahu siapa
yang berada dalam pihak yang benar dan siapa yang salah, untuk mengetahui apakah Imam
Ali dalam pihak yang benar ataukah Muawiyah, misalnya. Hal ini tentu tidak akan
memerlukan tujuh belas cabang ilmu pengetahuan. Cukup hanya dengan mempelajari
kehidupan dan tingkah laku mereka agar dapat diketahui suatu kebenaran."
"Apa perlunya kau ingin ketahui semua itu? Itu adalah ummat yang lalu. Baginya apa yang
telah diusahakannya dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan
diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan (QS. Al Baqarah: 134).
"Bagaimana Anda membacanya? Apakah La Tus-alun (kamu tidak akan diminta
pertanggungjawaban) atau La Tas-alun (jangan kamu bertanya)?"
"Tentu La Tus-alun." Jawabnya.
"Alhamdulillah. Kalau ayat tersebut dibaca dengan La Tas-alun maka artinya kita dilarang
untuk membuat suatu penelitian. Namun karena dibaca dengan La Tus-alun, maka
maknanya adalah Allah tidak akan menghisab kita atas apa yang mereka dahulu lakukan. Dan
ini sesuai dengan firman Allah SWT: "Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah
diperbuatnya." (QS. Al Muddatsir: 38); dan firman Allah yang lain: "Dan bahwa seseorang
tidak akan memperoleh selain dari apa yang telah diusahakannya" (QS. AnNajm: 39).
AlQuran juga mendorong kita untuk mempelajari tentang sejarah ummat-ummat yang lalu
agar dijadikan suatu ibrah (nasihat). Allah telah menceritakan kepada kita tentang Firaun,
Haman, Namrud, Qarun dan para nabi dahulu beserta pengikut-pengikutnya. Semua ini
bukan untuk sekadar hiburan, tetapi untuk mengajarkan kepada kita mana yang hak dan
mana yang batil.
Tentang kata-kata Anda "apa perlunya semua ini", maka memang sangat perlu.
Pertama: agar aku kenal siapa Wali Allah yang sebenarnya sehingga aku harus me-wila'
(setia) mereka; dan siapa musuh Allah yang sesungguhnya sehingga aku harus memusuhinya.
Ini adalah permintaan AlQuran, bahkan kewajiban yang dipikulkannya kepada kita.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 139
Kedua, untuk mengetahui dengan sungguh-sungguh bagaimana cara menyembah dan
mendekatkan diri pada Allah melalui hukum-hukum yang diwajibkan-Nya kepada kita seperti
yang Dia inginkan; bukan seperti yang "diinginkan" oleh Malik, atau Abu Hanifah atau
mujtahid-mujtahid yang lain. Hal ini karena kulihat --misalnya-- Malik menghukumkan
makruh membaca Basmalah di dalam shalat sementara Abu Hanifah menghukumkan wajib;
dan yang lainnya menghukumkan batal jika shalat tanpa Basmalah. Padahal shalat adalah
tiang agama. Apabila ia diterima maka diterimalah selainnya, dan bila ia ditolak maka
ditolaklah juga yang lain. Aku tidak ingin shalatku ditolak. Contoh lain, Syi'ah mengatakan
bahwa kaki wajib diusap saat berwudhu' sementara Sunnah mengatakan wajib dicuci.
Padahal apabila kita baca AlQuran jelas ayatnya mengatakan bahwa kaki wajib diusap. Lalu
bagaimana Anda harapkan seorang Muslim yang berpikir rasional akan bisa menerima
pendapat yang satu dan menolak yang lain tanpa suatu penelitian dan kajian?"
"Anda bisa ambil dari setiap mazhab apa yang Anda rasakan cocok, karena semua adalah
mazhab Islam dan semuanya juga bersumber dari Rasulullah SAWW."
"Aku takut tergolong di antara orang-orang yang difirmankan oleh Allah: 'Maka pernahkah
kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah
membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya; dan Allah telah mengunci mati pendengaran
dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan
memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak
mengambil pelajaran?' (QS. Al Jaatsiyah:23)"
"Wahai Tuan yang mulia. Aku tidak percaya bahwa semua mazhab adalah benar. Bayangkan
yang satu menghalalkan dan yang lain mengharamkan. Tidak mungkin ada sesuatu yang halal
dan haram dalam satu ketika. Rasul tidak pernah berdebat dahulu sebelum menguraikan
suatu hukum yang akan diajarkannya. Karena ia adalah wahyu dari AlQuran. Allah berfirman:
'Kalau kiranya AlQuran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan
yang banyak di dalamnya.' (QS. An-Nisa: 82). Dan karena di antara empat mazhab ini
kudapati banyak pertentangan, maka ia pasti bukan dari sisi Allah, bukan juga dari sisi Rasul-
Nya, mengingat Rasul tidak mungkin bertentangan dengan AlQuran."
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 140
Ketika orang alim ini melihat argumentasiku sangat rasional dan tak dapat ditolak, dia
berkata kepadaku: "Demi Allah! Aku menasihatimu agar jangan sekali-kali meragukan
Khulafa' Rasyidin betapapun keraguan yang kau hadapi. Mereka adalah empat tiang agama
ini. Apabila kau robohkan yang satu, maka akan runtuhlah bangunan ini!"
"Astaghfirullah." Sahutku. "Tuan, jika mereka adalah tiang agama Islam maka di mana
Rasulullah SAWW? "
"Rasulullah adalah bangunan itu semua. Beliau adalah Islam secara keseluruhan!"
Aku tersenyum mendengar penilaian seperti ini. Kukatakan lagi: "Astaghfirullah. Wahai tuan
yang mulia, tanpa disadari tuan telah berkata bahwa Rasulullah SAWW tidak akan istiqamah
melainkan dengan empat orang ini. Hal ini berlawanan dengan firman Allah, "Dialah yang
mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-
Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi." (QS. Al Fath: 28)"
"Allah telah mengutus Rasul-Nya Muhammad dengan risalah dan tidak menyertakan
bersamanya seorangpun dari empat orang ini atau yang lainnya. Dalam hal ini Allah SWT
berfirman: 'Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang
membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan
kepadamu al-Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu
ketahui' (QS. Al Baqarah:151)."
"Itulah apa yang pernah kami pelajari dari guru-guru kami dahulu. Pada zaman kami tiada
siapapun yang boleh atau pernah mendebat dan membantah para ulama seperti yang
dilakukan oleh generasi sekarang ini. Kini kalian mulai meragukan segala sesuatu dan
membuat keragu-raguan dalam agama. Ini adalah di antara tanda-tanda hari kiamat.
Rasulullah SAWW pernah bersabda: 'Hari kiamat tidak akan muncul melainkan pada zaman
makhluk yang paling jahat.'
"Wahai Tuan, kenapa mesti marah. Aku berlindung kepada Allah dari bersikap ragu terhadap
agama atau membuat keragu-raguan di dalamnya. Aku beriman kepada Allah yang Maha Esa,
tiada sekutu bagi-Nya; beriman pada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan para Rasul-
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 141
Nya. Aku beriman bahwa Sayyidina Muhammad SAWW adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.
Beliau adalah Nabi dan Rasul yang paling utama dan penutup seluruh Nabi, dan aku adalah
orang muslim. Bagaimana Anda menuduhku seperti itu?"
"Lebih dari itu sepatutnya kukatakan padamu, sebab kau meragukan Sayyidina Abu Bakar
dan Sayyidina Umar. Sedangkan Nabi SAWW pernah bersabda: 'Jika iman ummatku
ditimbang dengan iman Abu Bakar, maka iman Abu Bakar akan lebih berat.' Untuk Sayyidina
Umar Nabi pernah bersabda: 'Aku pernah ditunjukkan tentang umatku. Mereka memakai
baju panjang tetapi tidak sampai menutup dada. Aku juga ditunjukkan tentang Umar. Kulihat
dia tengah menyeret-nyeret bajunya. Sahabat bertanya: apa takwilnya (tafsirnya) ya
Rasulullah? Nabi menjawab: agama'. Tiba-tiba kau datang pada abad ke empat belas ini
membuat keraguan-raguan tentang para sahabat, terutama Abu Bakar dan Umar. Tahukah
kau bahwa penduduk Irak adalah penduduk yang kafir, munafik dan berpecah?"
Apa yang harus kukatakan pada orang yang mengaku dirinya alim ini. Majlis yang tadinya
berjalan dengan cara akrab dan ilmiah kini berubah menjadi semacam tuduhan dan luapan
emosi di hadapan sekumpulan hadirin yang mengaguminya. Kuperhatikan wajah-wajah
mereka merah dan mata-mata mereka terbelalak menunjukkan sikap protes. Tiada cara lain,
aku segera pergi ke rumah dan mengambil kitab al-Muwattha' karya Imam Malik dan kitab
Shahih al-Bukhari.
Kukatakan kepadanya: "Wahai Tuan yang mulia! Yang menyebabkan aku ragu-ragu terhadap
Abu Bakar adalah Rasulullah sendiri."
Lalu kubukakan kitab al-Muwattha' yang memuat suatu riwayat yang mengatakan, "Malik
meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda kepada para syuhada' Uhud: "Aku
adalah saksi mereka." Abu Bakar as-Siddiq bertanya: "Ya Rasulullah, bukankah kami adalah
saudara-saudara mereka. Kami juga ikut Islam sebagaimana mereka. Kami juga berjihad
sebagaimana mereka." Rasulullah SAWW menjawab: "Ya betul. Tetapi aku tidak tahu apa
yang akan kalian lakukan setelahku." Mendengar ini Abu Bakar menangis tersedu-sedu.
Kemudian dia berkata: "Memang, kami melakukan banyak perkara setelah ketiadaanmu."54
54 Muwatha' Imam Malik jil. 1 hal. 307; Maghazi al-Waqidi hal. 307.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 142
Aku bukakan juga kitab Shahih Bukhari. Riwayat itu berkata: "Suatu hari Umar bin Khattab
datang ke rumah Hafsah. Di sana ada Asma' binti U'mais. Ketika melihat Asma' Umar
bertanya:
"Siapa wanita ini?"
"Saya Asma' binti U'mais."
"Orang Habsyiah itu? Orang laut itu?" Gerutu Umar.
"Ya." Jawab Asma'.
"Kami lebih dahulu berhijrah." Kata Umar. "Maka itu kami lebih berhak kepada Rasulullah
ketimbang kalian."
"Demi Allah, tidak!" Jawab Asma'. "Dahulu kalian bersama Nabi. Diberinya kalian makanminum
dan diajarkannya kalian. Sementara kami berada di suatu tempat yang jauh dan asing
(di Habsyah) semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak makan atau
minum kecuali kuingat dahulu Rasulullah. Kami juga menghadapi ancaman dan gangguan.
(Wahai Umar) aku akan mengadu pada Rasulullah dan akan kuberitahu (apa yang
kaukatakan tadi) tanpa aku akan berdusta, menambahi atau mengurangi!"
Ketika Asma' datang kepada Nabi, dia berkata, "Ya Nabi Allah, Umar berkata begini dan
begitu." "Apa yang kau jawab? " Tanya Nabi.
"Begini dan begitu."
"Dia tidak berhak atasku lebih dari kalian." Jawab Nabi. "Dia dan teman-temannya hanya
berhijrah sekali saja, sementara kalian, penghuni bahtera, dua kali berhijrah."
Asma' berkata lagi: "Aku perhatikan Abu Musa dan kawan-kawan yang dahulunya sekapal
(saat berhijrah ke Habsyah) yang lain mendatangiku dan bertanya padaku tentang sabda Nabi
tersebut. Tiada sesuatu di dunia ini yang sedemikian membahagiakan mereka lebih dari
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 143
sabda Nabi untuk mereka ini."55
Setelah orang alim dan para hadirin membaca dua hadis ini, tiba-tiba saja wajah mereka
berubah. Mereka saling berpandangan dan menunggu reaksi sang guru yang tak berkutik.
Dengan mengangkat sedikit dua keningnya sebagai tanda heran sang guru berkata:
"Katakanlah, ya Rabbi, tambahkan untukku ilmu pengetahuan."
"Jika Rasulullah SAWW adalah orang pertama yang ragu terhadap Abu Bakar dan tidak
mempersaksikannya lantaran beliau tidak tahu apa yang akan terjadi sepeninggalnya kelak;
dan apabila Rasulullah tidak merestui keutamaan Umar bin Khattab atas Asma' binti U'mais,
bahkan Asma' lebih diutamakan ketimbang Umar; maka aku mempunyai alasan kuat untuk
tidak mengutamakan siapapun sehingga kebenaran itu tampak dan kuketahui dengan pasti.
Dan jelas sekali bahwa dua hadits ini berlawanan bahkan menafikan setiap hadis yang
mengatakan keutamaan Abu Bakar dari Umar. Sebab dua hadis ini ditunjang oleh fakta-fakta
yang objektif dan rasional dibandingkan dengan hadis-hadis keutamaan yang diduga itu."
Para hadirin bertanya: "Apa maksud hadis tersebut? "
"Rasulullah SAWW tidak mau menjadi saksi pada Abu Bakar." Jawabku." Beliau bersabda:
'Aku tidak tahu apa yang akan kalian lakukan sepeninggalku kelak!' Hadis ini jelas sekali
maksudnya. Sebab AlQuran mengatakan dan sejarah juga membuktikan bahwa mereka telah
melakukan perubahan-perubahan sepeninggal Nabi. Itulah kenapa Abu Bakar menangis. Abu
Bakar telah mengubah dan membuat Fatimah az-Zahra' puteri Nabi marah, seperti yang telah
disentuh di atas. Sedemikian dia telah mengubah sehingga beliau menyesal pada akhir
hayatnya dan berangan-angan untuk tidak menjadi manusia.
Hadis yang dikatakan bahwa "Jika iman ummatku ditimbang dengan iman Abu Bakar maka
imam Abu Bakar akan lebih berat." hadis ini jelas lemah dan tidak masuk akal. Tidak
mungkin seseorang yang telah melewati empat puluh tahun dari usianya dalam syirik pada
Allah dan menyembah berhala akan memiliki iman yang lebih berat dari iman seluruh ummat
Nabi Muhammad SAWW. Sedangkan di antara ummat ini ada para wali Allah yang sholihin,
55 Shahih Bukhori jil. 3 hal. 307.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 144
orang-orang syahid dan para imam yang telah menghabiskan semua umurnya dalam berjihad
di jalan Allah SWT. Lalu apakah Abu Bakar memang sesuai dengan makna dan maksud hadis
ini? Jika memang hadis ini shahih, maka beliau seharusnya tidak akan pernah beranganangan
untuk tidak menjadi manusia. Apabila imannya lebih tinggi dari iman Fatimah Zahra',
pemuka wanita alam semesta, maka puteri Rasul itu tidak akan pernah marah kepadanya,
atau berdo'a untuk keburukannya."
Orang alim ini tidak memberi komentar apa-apa. Sebagian yang hadir menyela: "Demi Allah,
apa yang Anda katakan telah menimbulkan keragu-raguan dalam diri kami." Tiba-tiba si alim
ini menyentakku: "Apakah seperti ini yang kau inginkan? Kau telah membuat mereka raguragu
di dalam agama mereka!" Muncul lagi suara lain yang menyela dan berkata: "Tidak. Dia
benar. Sepanjang hayat kita, kita belum pernah membaca suatu buku yang sempurna. Kami
mengikuti Anda hanya dengan perasaan yakin tanpa sikap kritis sedikitpun. Jelas bagi kami
bahwa apa yang dibicarakan oleh Haji ini nampaknya benar. Sudah sewajibnya kita membaca
dan mengkaji." Sebagian yang hadir menyetujui pendapat yang terakhir ini. Dan itu adalah
suatu kemenangan bagi suatu kebenaran. Bukan kemenangan dalam bentuk kekuatan atau
paksaan, tetapi kemenangan dalam bentuk hujjah dan dalil yang rasional. "Katakanlah,
bawalah dalil-dalil kalian jika memang kalian benar-benar sebagai orang yang jujur."
Aku lanjutkan penelitianku dengan cara yang sangat cermat sepanjang tiga tahun lagi.
Kuulangi segala yang kubaca dari awal hingga akhir. Kubaca buku al-Muraja'at (Dialog
Sunnah Syi'ah) karya Imam Syarafuddin, dan kuulangi berkali-kali. la telah membuka luas
wawasanku dan menyebabkanku mendapat petunjuk dan hidayah dari Allah SWT serta cinta
kepada Ahlul Bait.
Aku juga membaca kitab al-Ghadir karya Syaikh al-Amini dan kuulangi hingga tiga kali
lantaran isinya yang sangat padat, tepat dan jelas sekali. Juga kitab Fadak karya Sayed
Muhammad Baqir as-Sadr dan kitab as-Saqifah karya Syaikh Muhammad Ridha al-Muzaffar.
Dari dua buku ini aku temukan berbagai jawaban yang sangat memuaskan. Juga kubaca kitab
an-Nas wal-Ijtihad yang menambah lagi keyakinanku. Kemudian kitab Abu Hurairah karya
Syarafuddin, dan Syaikh al-Mudhirah karya Syaikh Mahmud Abu Rayyah al-Mishri. Dari
sana baru aku ketahui bahwa sahabat yang melakukan perubahan setelah zaman Rasulullah
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 145
ada dua bagian. Pertama, yang memgubah hukum dengan kekuasaan yang dimilikinya;
kedua, yang mengubah hukum dengan meletakkan berbagai hadis palsu yang dinisbahkan
kepada Rasul SAWW.
Kemudian kubaca kitab al-Imam as-Shadiq Wal Mazahib al-Arba'ah karya Asad Haidar.
Dari sana kukenal perbedaan antara ilmu mauhub (yang dikaruniakan) dan ilmu maksub
(yang dipelajari). Dari situ juga aku baru tahu perbedaan antara Hikmah yang Allah berikan
kepada orang yang Dia kehendaki, dan sikap berlagak berilmu dan berijtihad dengan
pendapat pribadi yang menjauhkan ummat ini dari jiwa Islam yang sebenarnya.
Kubaca juga berbagai buku karya Sayed Ja'far Murtadha al-A'mili, Sayed Murtadha al-Askari,
Sayed al-Khui, Sayed Thabatabai, Syaikh Muhammad Amin Zainuddin, Fairuz Abadi, karya
Ibnu Abil Hadid al-Mu'tazili dalam bukunya Syarh Nahjul Balaghah, Taha Husain dalam
bukunya al-Fitnah al-Kubra. Dari buku sejarah kubaca kitab Tarikh at-Thabari, Tarikh
Ibnul Atsir, Tarikh al-Masu'di dan Tarikh al-Ya'qubi. Dan banyak lagi buku-buku lain yang
kubaca sehingga aku merasa betul-betul puas bahwa Syi'ah Imamiah ini adalah yang benar.
Dari situ kemudian aku mulai menjadi pengikut mazhab Syi'ah, dan dengan berkat Allah
kuikuti bahtera Ahlul Bait serta kupegang erat-erat tali wila' mereka. Karena kudapati
Alhamdulillah, merekalah sebagai alternatif dari sebagian sahabat yang terbukti bagiku telah
berbalik, dan tiada yang selamat melainkan sekelompok kecil saja. Kini aku menggantikan
mereka dengan Ahlul Bait Nabi yang telah Allah bersihkan mereka dari segala dosa dan Dia
sucikan mereka dengan sesuci-sucinya, bahkan diwajibkan kepada seluruh ummat manusia
untuk mencintai mereka.
Syi'ah bukan seperti yang didakwa oleh sebagian ulama kita sebagai orang-orang Parsi dan
Majusi yang dihancurkan oleh Sayyidina Umar di dalam peperangan al-Qadisiah dahulu.
(Karena itu mereka benci kepada Umar!).
Aku katakan kepada mereka bahwa Syi'ah Ahlul Bait tidak hanya terbatas pada orang-orang
Parsi saja. Syi'ah juga ada di Irak, Hijaz (Saudi Arabia), Syria dan Lebanon. Mereka adalah
orang-orang Arab. Syi'ah juga ada di Pakistan, India, Afrika dan Amerika. Mereka bukan dari
bangsa Parsi atau bangsa Arab. Apabila kita batasi Syi'ah hanya pada Iran saja maka alasan
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 146
kita akan lebih kuat lagi. Mengingat mereka mempercayai dua belas imam yang kesemuanya
adalah orang-orang Arab dari suku Quraisy, dari keluarga bani Hasyim keluarga Nabi SAWW.
Apabila orang-orang Parsi bersikap fanatik dan benci pada orang-orang Arab seperti yang
diklaim oleh sebagian orang, maka tentu mereka akan menjadikan Salman al-Farisi sebagai
imam mereka. Sebab beliau berbangsa Parsi dan seorang sahabat yang sangat agung serta
ketokohannya diakui oleh Sunnah dan Syi'ah.
Sementara pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah, kuperhatikan, kepemimpinan mereka
berakhir pada keturunan Parsi. Mayoritas imam mereka berbangsa Parsi, seperti Abu
Hanifah, Imam Nasa-i, Turmuzi, Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, ar-Razi, Imam al-Ghazali,
Ibnu Sina, al-Farabi dan masih banyak lagi. Jika Syi'ah berasal dari Parsi, lalu mereka benci
kepada Umar yang telah menghancurkan keagungan mereka dahulu, maka bagaimana kita
akan tafsirkan orang-orang Syi'ah Arab atau non-Parsi lain yang menolak Umar? Itulah
contoh suatu dalih tanpa alasan yang kuat. Penolakan Syi'ah terhadap Umar adalah lantaran
peranannya dalam menyingkirkan Imam Ali, Amir al-Mukminin dan Sayyidil Wasiyyin dari
jabatan Khilafah setelah wafatnya Rasul SAWW. Di samping fitnah dan berbagai malapetaka
lain yang menimpa ummat ini akibatnya. Bagi seorang peneliti yang objektif dan rasional,
memang dia akan mengambil sikap sedemikian jika tabir sejarah yang menutupinya
terungkap, tanpa perlu memiliki rasa permusuhan sebelumnya.
Yang benar adalah orang-orang Syi'ah baik yang berbangsa Parsi, Arab atau lainnya, mereka
tunduk pada nash-nash AlQuran dan Hadis Nabawi. Mereka patuh setia dan ikut para imam
yang menunjukkan mereka jalan yang lurus. Mereka tidak rela pada selain para imam,
walaupun sepanjang tujuh abad Bani Umaiyah dan Bani Abbasiah melakukan politik kotor
dan bersikap kejam terhadap mereka hingga setiap pengikut mereka diburu dan dikejar-kejar.
Mereka dibunuh, diusir, dilarang dari mendapatkan bagian dari Baitul Mal dan dilemparkan
berbagai tuduhan yang menimbulkan rasa marah orang kepada mereka sampai hari ini.
Namun orang-orang Syi'ah tetap kukuh dengan pendirian mereka. Mereka bersabar dan
memegang erat kebenaran yang dipercayainya tanpa mempedulikan cacian siapa pun. Dan
nilai kekukuhan ini memang mereka nikmati hingga hari ini. Saya menantang siapa saja dari
alim ulama kita yang berani duduk berdiskusi dengan para alim ulama mereka. Saya yakin
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 147
usai diskusi mereka akan keluar sebagai orang yang memperoleh bimbingan Allah SWT.
Ya. Aku kini memang telah mendapatkan alternatif. Segala puji bagi Allah yang telah
membimbingku ke jalan ini. Tanpa hidayah-Nya maka tidak mungkin aku akan mendapatkan
petunjuk-Nya. Segala puji bagi Allah dan hanya kepada-Nya akubersyukur karena telah
ditunjukkan-Nya padaku golong-an yang selamat yang sejak lama kucari dengan penuh
semangat. Aku tidak ragu-ragu lagi bahwa mereka yang berpegang kepada Ali dan Ahlul
Baitnya berarti telah berpegang pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus selamalamanya.
Bukti-bukti dari nas Nabi yang disepakati oleh semua kaum muslimin berjumlah
cukup banyak. Dan akal saja sebenarnya sudah cukup sebagai bukti bagi orang yang benarbenar
bijak dan teliti. Ijma' ummat mengatakan bahwa Ali adalah sahabat yang paling
berilmu dan paling berani. Dua ini saja sudah cukup sebagai bukti akan keutamaan Ali
dibandingkan dengan orang lain atas jabatan hak khilafah.
Allah berfirman: "Nabi mereka mengatakan kepada mereka: 'Sesungguhnya Allah telah
mengangkat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab: 'Bagaimana Thalut memerintah
kami padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia
pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?' Nabi (mereka) berkata: 'Sesungguhnya
Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh
yang perkasa.' Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui" (S. Al Baqarah: 247).
Rasulullah SAWW bersabda: "Sesungguhnya Ali dariku dan aku dari Ali. Dia adalah wali
(pemimpin) setiap mukmin setelahku."56
Imam Zamakhsyari berkata dalam syairnya:
Telah banyak keraguan dan perselisihan
Semua mengaku berada dalam jalan yang lurus
Kupegang erat-erat dengan Lailaha Illallah
Dan cintaku kepada Ahmad dan Ali
56 Shahih Turmizi jil.5 hal.296; Khasais an-Nasai hal. 87; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 110.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 148
Telah selamat anjing lantaran cinta pada Penghuni Gua
Bagaimana aku akan celaka dengan cinta pada keluarga Nabi.
Alhamdulillah aku kini telah menemukan alternatif. Setelah Rasulullah, aku mengikuti Amir
al-Mukminin, pemimpin orang-orang mukmin, singa Allah al-Ghalib al-Imam Ali bin Abi
Thalib; juga kepada dua pemuka pemuda syurga, cahaya mata Nabi, al-Imam Abu
Muhammad al-Hasan az-Zaki dan al-Imam Abu Abdillah al-Husain; juga kepada darah
dagingnya Baginda Rasulullah, induk zuriat nubuwah, ibu seluruh imam, seseorang yang
murkanya adalah murka Allah, marahnya adalah marah Allah, pemuka wanita alam semesta,
Sayyidah Fatimah az-Zahra' as.
Kini aku menggantikan Imam Malik dengan gurunya para Imam dan ummat secara
keseluruhan, yakni Imam Ja'far as-Shadiq. Aku berpegang pada sembilan imam yang
maksum dari zuriat Husain, imam-imamnya kaum muslimin dan wali-wali Allah as-Shalihin.
Aku juga telah menggantikan sahabat yang berpaling seperti Muawiyah, A'mar bin A'sh,
Mughirah bin Syu'bah, Abu Hurairah, A'kramah dan Ka'bul Ahbar serta orang-orang yang
sejenisnya dengan para sahabat yang bersyukur kepada Tuhannya dan yang tidak
mengingkari janji mereka kepada Nabi. Seperti Ammar bin Yasir, Salman al-Farisi, Abu Zar
al-Ghaffari, Miqdad bin Aswad, Khuzaimah bin Thabit Zu Syahadatain, Ubai bin Ka'ab dan
sejenisnya. Segala puji bagi Allah atas petunjukNya ini.
Aku juga telah menukar para ulama tempatku yang telah menjumudkan akal-akal kami dan
yang kebanyakan mengikuti para penguasa di setiap zaman dengan ulama-ulama Syi'ah yang
shalihin, yang tidak pernah menutup pintu ijtihad, tidak pernah merasa hina atau meminta
kasihan dari pemimpin-pemimpin yang zalim ini.
Ya, aku telah menukar alam pikiranku yang sempit dan percaya pada berbagai khurafat dan
kontradiktif dengan alam pkiran yang cerah, terbuka, bebas dan percaya pada setiap dalil dan
hujjah. Atau dengan kata lain, aku telah mencuci otakku dari daki-daki kesesatan Bani
Umaiyah yang telah membekas sepanjang tiga puluh tahun, dan kini mensucikannya dengan
akidah orang-orang yang maksum yang Allah bersihkan mereka dari segala dosa dan
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 149
mensucikan mereka dengan sesuci-sucinya.
Ya Allah. Hidupkanlah kami di atas agama mereka. Matikanlah kami di atas sunnah mereka.
Bangkitkanlah kami bersama-sama mereka. Karena Nabi-Mu bersabda, "Seseorang kelak
akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya."
Dengan demikian maka aku kini kembali lagi ke akar asalku. Ayah dan paman-pamanku
dahulu pernah mengatakan kepada kami bahwa asal mulanya kami adalah dari golongan
Sayed-Sayed yang lari dari Irak lantaran tekanan Bani Abbasiah. Kemudian meminta
perlindungan di Afrika Utara sehingga akhirnya menetap di Tunisia yang sehingga kini masih
meninggalkan bekas-bekas sejarah. Di Afrika Utara sendiri banyak kalangan yang berstatus
Sayed atau dalam istilah mereka al-Asyraf lantaran tali keturunan dari silsilah Ahlul Bait yang
suci. Namun mereka telah banyak yang tenggelam dalam kesesatan Bani Umaiyah atau Bani
Abbasiah. Tiada tersisa dari mereka suatu kebenaran sedikitpun melainkan sikap hormat dan
penuh takzim yang ditunjukkan orang banyak kepada mereka saja.
Segala puji bagi Allah karena hidayah-Nya ini. Segala puji bagi Allah karena petunjuk-Nya
kepadaku ini dan karena dibukakan-Nya mataku dan pemahamanku untuk mengetahui suatu
kebenaran.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 150
Sebab-Sebab Ikut Mazhab Ahlul Bait
Banyak sebab yang mendorongku untuk ikut mazhab Ahlu Bait (Syi'ah). Dan tidak mungkin
bagiku menyebutnya secara rinci di sini kecuali sebagiannya saja.
Nash Khilafah
Aku telah berjanji pada diriku ketika memasuki pembahasan ini untuk tidak berpegang pada
sembarang dalil melainkan ia benar-benar dianggap shahih oleh kedua mazhab, dan
mengabaikan setiap dalil yang hanya diriwayatkan oleh satu mazhab saja. Lalu aku mulai
menelaah masalah perselisihan antara Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib, apakah khilafah
(kekhalifahan) pada dasarnya adalah hak Ali bila dilihat dari sisi nas seperti yang diklaim oleh
mazhab Syi'ah, atau ia ditentukan oleh syura seperti yang dikatakan oleh mazhab Sunnah.
Seandainya mereka yang menelaah masalah ini benar-benar tulus untuk mencari sebuah
kebenaran, mereka akan dapati bahwa nas yang mengatakan Ali sebagai khalifah adalah nas
yang tak terbantahkan, seperti sabda Nabi SAWW: "Siapa yang menganggap aku sebagai
maulanya (pemimpinnya) maka inilah Ali sebagai maulanya". Hadis ini beliau SAWW
ucapkan sekembalinya beliau dari hajinya yang terakhir yang dikenal dengan hujjatul-wada'.
Usai pengangkatan, berduyun-duyun orang datang mengucapkan tahniah atau selamat
kepada Ali, termasuk Abu Bakar dan Umar sendiri. Mereka berkata: "Selamat untukmu wahai
Putera Abu Thalib. Kini kau adalah maulaku dan maula setiap orang mukmin, laki-laki dan
perempuan"57.
Hadis ini telah disepakati keabsahannya oleh Sunnah dan Syi'ah. Referensi yang kusebutkan
dalam telaahku ini adalah referensi yang berasal dari Ahlu Sunnah saja. Itupun bukan semua.
Karena yang semestinya adalah jauh lebih banyak dari apa yang kusebutkan. Agar dapat
memperoleh dalil-dalil yang lebih rinci aku mengajak para pembaca untuk menelaah kitab
Al-Ghadir karya al-Allamah al-Amini. Buku ini setebal tiga belas jilid. Dan penulisnya telah
57 Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal. 241; Siyar al-Alamin Oleh Imam Ghazali hal. 12; Tazkirah al-Khawas
Oleh Ibnu al-Jauzi hal. 29; ar-Riyadh Nadhirah jil. 2 hal. 169; Kanzul Ummal jil. 6 hal. 397; Al-Bidayah wan
Nihayah Oleh Ibnu KAtsir jil. 5 hal. 212; Tarikh Ibnu Asakir jil. 2 hal. 50; Tafsir ar-Razi jil. 3 hal. 63; Al-Hawi
Lil Fatawi Oleh Suyuthi jil. 1 hal. 112.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 151
mendaftarkan nama para perawi hadis ini dari golongan Ahlu Sunnah cukup banyak.
Adapun ijma' yang dinyatakan sebagai dasar dipilihnya Abu Bakar di Saqifah Bani Sa'idah,
lalu kemudian ia dibaiat di masjid adalah pernyataan yang tidak kokoh. Bagaimana hal itu
bisa dikatakan sebagai ijma' sementara sejumlah pemuka sahabat seperti Ali, Abbas dan
anggota Bani Hasyim yang lain tidak ikut serta membaiatnya. Begitu juga Usamah bin Zaid,
Zubair, Salman al-Farisi, Abu Zar al-Ghaffari, Miqdad bin al-Aswad, Ammar bin Yasir,
Huzaifah bin Yaman, Khuzaimah bin Thabit, Abu Buraidah al-Aslami, Barro' bin Azib, Ubai
bin Ka'ab, Sahal bin Hunaif, Sa'ad bin Ubadah, Qais bin Sa'ad, Abu Ayyub al-Anshori, Jabir
bin Abdullah, Khalid bin Sa'ad dan lain sebagainya58.
Dimana ijma' yang dikatakan itu wahai hamba-hamba Allah? Seandainya hanya Ali yang tidak
membaiat, itu sudah cukup bukti tercelanya ijma' seumpama itu. Hal ini karena beliau adalah
satu-satunya calon khalifah yang ditunjuk oleh Rasul SAWW, seandainya kita tolak
pengertian secara eksplisit nash-nash tentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.
Adalah fakta bahwa bai'at pada Abu Bakar terjadi tanpa syuro atau musyawarah. Bai'at itu
diambil ketika orang-orang sekitarnya, terutama ahlul halli wal 'aqdi, sedang bingung dan
sibuk dalam mengurus jenazah Nabi SAWW. Saat itu penduduk kota Madinah sedang
berkabung atas wafatnya Nabi mereka. Kemudian tiba-tiba dipaksa untuk membai'at sang
khalifah59. Hal ini dapat kita rasakan dari cara mereka mengancam untuk membakar rumah
Fatimah apabila penghuni yang berada di dalamnya enggan memberikan baiat. Nah,
bagaimana dapat kita katakan bahwa pemilihan sang khalifah tersebut terjadi secara
musyawarah dan ijma'?
Umar sendiri pernah berkata bahwa bai'at yang diambil waktu itu adalah tergesa-gesa, dan
Allah telah memelihara kaum muslimin dari kejahatannya. Beliau juga berkata bahwa siapa
saja yang mengulangi cara bai'at seperti itu, ia mesti dibunuh, atau --paling tidak-- bai'atnya
tidak sah dan tidak diakui.
58 Tarikh Thabari, Ibnu Atsir, Suyuthi, al-Istia'b dll.
59 Tarikh al-Khulafah Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 18.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 152
Imam Ali pernah berkata tentang haknya ini, yang antara lain: "Demi Allah, Ibnu Abi
Qahafah (Abu Bakar) telah memakainya (hak khilafahku) sedangkan beliau tahu bahwa
kedudukanku dengan khilafah ini bagaikan kedudukan kincir dengan roda"60 (Nahjul
Balaghah).
Sa'ad bin Ubadah pemuka kaum Anshar yang menyerang Abu Bakar dan Umar di hari
Saqifah dan berusaha mati-matian untuk mencegah mereka dari jabatan khilafah, namun tak
mampu karena sakit dan tak dapat berdiri, pernah berkata setelah kaum Anshar membai'at
Abu Bakar: "Demi Allah, sekali-kali aku tidak akan membai'at kalian sampailah kulemparkan
anak-anak panahku dan kulumurkan tombakku serta kupukulkan pedangku dan kuperangi
kalian bersama-sama keluarga dan kaumku. Demi Allah, seandainya manusia dan jin
berkumpul untuk membai'at kalian niscaya aku tetap tidak akan memberikannya, sampai aku
berjumpa dengan Tuhanku!" Sa'ad bin Ubadah tidak shalat sama-sama mereka dan tidak ikut
serta kumpul bersama mereka bahkan tidak mau haji bersama-sama mereka. Seandainya ada
sekelompok orang yang mau memerangi mereka niscaya ia akan membantunya. Dan
seandainya ada orang yang membai'atnya untuk memerangi mereka niscaya ia akan perangi.
Begitulah sikap Sa'ad terhadap Abu Bakar sampai beliau wafat di Syam pada periode
pemerintahan Umar.61
Apabila bai'at tersebut dilakukan secara tergesa-gesa dimana Allah telah pelihara kaum
muslimin dari keburukannya, seperti yang disinyalir oleh Umar sendiri, arsitektur rencana ini
dan tahu akibat yang akan diderita oleh kaum muslimin karenanya; dan apabila khilafah ini
merupakan "pakaian" Abu Bakar saja, (seperti yang diibaratkan oleh Imam Ali karena dia
bukan empunya yang sah); dan apabila bai'at ini diambil secara zalim seperti yang dikatakan
oleh Sa'ad bin Ubadah, pemuka Anshar yang memisahkan diri dari jamaah karenanya; dan
apabila bai'at ini tidak sah secara syariat mengingat sahabat-sahabat yang besar seperti Abbas
paman Nabi tidak memberinya, lalu apa dasar dan alasan keabsahan khilafah Abu Bakar?
Jawabnya: tidak ada alasan yang diberikan oleh kalangan Ahlu Sunnah Wal Jamaah.
60 Syarh Nahjul Balaghah Oleh Muhammad Abduh jil. 1 hal. 34.
61 Tarikh al-Khulafa' jil. 1 hal. 17.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 153
Dengan demikian maka benarlah alasan dan hujjah Syi'ah dalam hal ini, karena nash tentang
kekhalifahan Ali nyata ada dalam Ahlu Sunnah sendiri. Namun mereka telah
menakwilkannya karena ingin memelihara "kemuliaan" sahabat. Tetapi bagi orang yang insaf
dan adil, dia tidak akan memperoleh sembarang alasan kecuali harus menerima kenyataan
nash ini; terutama apabila ia ketahui rangkaian peristiwa yang menyelubungi sejarah ini.62
62 Lihat as-Saqifah Wal Khilafah Abduh Fattah Abdul Maksud dan as-Saqifah Shaikh Muhammad Ridha al-
Muzaffar.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 154
Perselisihan antara Fatimah dan Abu Bakar
Masalah ini juga telah disepakati kebenarannya oleh dua mazhab, Sunnah dan Syi'ah. Orang
yang insyaf dan berakal tidak akan dapat lari kecuali harus mengatakan bahwa Abu Bakar
berada pada posisi yang keliru dalam perselisihannya dengan Fatimah, dan ia tidak bisa
menolak fakta bahwa Abu Bakar pernah menzalimi Penghulu Alam semesta ini. Mereka yang
menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu
Bakar pernah mengganggu Siti Fatimah az-Zahra' dan mendustakannya secara sengaja, agar
Fatimah tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash al-Ghadir dan lainnya
akan keabsahan hak khilafah suaminya dan putra-pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib. Kami
telah temukan bukti-bukti yang cukup kuat dalam hal ini.
Diantaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah az-Zahra', (semoga
Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat
pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai'at Ali. Mereka
menjawab: "Wahai putri Rasulullah, kami telah berikan bai'at kami pada orang ini (Abu
Bakar). Seandainya suamimu dan putra pamanmu mendahului Abu Bakar niscaya kami tidak
akan berpaling darinya." Ali berkata: "Apakah aku harus tinggalkan Nabi di rumahnya dan
tidak kuurus jenazahnya, lalu keluar berdebat tentang kepemimpinan ini?" Fatimah
menyahut, "Abul Hasan telah melakukan apa yang sepatutnya beliau lakukan, sementara
mereka telah melakukan sesuatu yang hanya Allah sajalah akan menjadi Penghisab dan
Penuntutnya."63
Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru maka kata-kata Fatimah telah cukup
untuk menyadarkannya. Tetapi Fatimah masih tetap marah padanya dan tidak berbicara
dengannya sampai beliau wafat. Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah
dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah
murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman
jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali. Fatimah juga berwasiat agar
jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang
63 Tarikh al-Khulafa jil. 1 hal.19; Syarh Nahjul Balaghah Oleh Ibnu Abil Hadid.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 155
menentangnya64. Untuk pembuktian ini saya sendiri telah berangkat ke Madinah untuk
memastikan kebenaran fakta sejarah ini. Di sana kudapati bahwa pusaranya memang masih
tidak diketahui oleh siapa pun. Sebagian berkata ada di Kamar Nabi, dan sebagian lain
berkata ada di rumahnya yang berhadapan dengan Kamar Nabi. Ada juga yang berpendapat
bahwa pusaranya terletak di Baqi', di tengah-tengah pusara keluarga Nabi yang lain. Tapi
tiada satupun pendapat yang berani memastikan dimana letaknya.
Alhasil, aku berkesimpulan bahwa Fatimah az-Zahra' sebenarnya ingin melaporkan kepada
generasi muslimin berikutnya tentang tragedi yang disaksikannya pada zamannya, agar
mereka bertanya-tanya kenapa Fatimah sampai memohon pada suaminya agar dikebumikan
di malam hari secara sembunyi dan tidak dihadiri oleh siapa pun. Hal ini juga memungkinkan
seorang muslim untuk sampai pada sebuah kebenaran lewat telaah-telaahnya yang intensif
dalam bidang sejarah.
Aku juga mendapati bahwa peziarah yang ingin berziarah ke kuburan Utsman bin Affan
terpaksa harus menempuh jalan yang cukup jauh agar bisa sampai ke sudut akhir dari
wilayah tanah pekuburan Jannatul Baqi'. Di sana dia juga akan dapati bahwa kuburan
Utsman berada persis di bawah sebuah dinding, sementara kebanyakan sahabat lain
dikuburkan di tempat yang berhampiran dengan pintu masuk Baqi'. Hatta Malik bin Anas,
imam mazhab Maliki, seorang tabi'it-tabi'in (generasi keempat setelah Nabi) juga dikuburkan
dekat dengan istri-istri Nabi.
Hal ini bagiku bertambah jelas apa yang dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Utsman
dikuburkan di Hasy Kaukab, sebidang tanah milik seorang Yahudi. Pada mulanya kaum
muslimin melarang jasad Utsman dikebumikan di Baqi'. Ketika Mua'wiyah menjabat sebagai
khalifah dia beli tanah milik si Yahudi, kemudian memasukkannya sebagai bagian dari
wilayah Baqi', agar kuburan Utsman juga termasuk di dalamnya. Mereka yang ziarah ke Baqi'
pasti akan dapat melihat hakekat ini dengan jelas sekali.
Aku semakin heran ketika kuketahui bahwa Fatimah az-Zahra' AS adalah orang pertama yang
menyusul kepergian ayahnya. Antara wafat Rasul dengan wafat Fatimah hanya dipisahkan
64 Shahih Bukhori jil.3 hal.36; Shahih Muslim jil. 2 hal. 72.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 156
selang waktu enam bulan saja. Demikian pendapat sebagian ahli sejarah. Tapi anehnya beliau
tidak dikuburkan disisi makam ayahnya!
Apabila Fatimah Zahra' berwasiat agar dikebumikan secara rahasia, dan beliau tidak
dikuburkan dekat dengan pusara ayahnya seperti yang disebutkan di atas, lalu apa pula
gerangan yang terjadi dengan jenazah putranya Hasan yang tidak dikuburkan dekat dengan
pusara datuknya Muhammad SAWW? Ummul-mukminin Aisyah melarang jasad Hasan
dikebumikan di sana. Ketika Husain datang untuk mengebumikan saudaranya Hasan di sisi
pusara datuknya, Aisyah datang dengan menunggangi baghalnya sambil berteriak, "jangan
kuburkan di rumahku orang yang tidak kusukai!" Bani Umayyah dan Bani Hasyim nyaris
perang. Tetapi Imam Husain kemudian berkata bahwa dia hanya membawa jenazah
saudaranya untuk "tabarruk" pada pusara datuknya, kemudian dikuburkan di Baqi'. Imam
Hasan pernah berpesan agar jangan tertumpah setetes pun darah karenanya.
Dalam konteks ini Ibnu Abbas mendendangkan syairnya kepada Aisyah:
Kau tunggangi unta65
Kau tunggangi baghal66
Kalau kau terus hidup
kau akan tunggangi gajah
Sahammu kesembilan dari seperdelapan
tapi telah kau ambil semuanya
Ini adalah contoh dari rangkaian fakta yang sungguh mengherankan. Bagaimana Aisyah
mewarisi semua rumah Nabi sementara istri-istri beliau berjumlah sembilan, seperti yang
diungkapkan oleh Ibnu Abbas di atas?
Apabila Nabi tidak meninggalkan harta waris seperti yang disaksikan oleh Abu Bakar
-karenanya dia melarangnya dari Fatimah-, lalu bagaimana Aisyah dapat mewarisi pusaka
65 Mengimbas peperangan Jamal ketika beliau menunggangi unta.
66 Mengimbas ketika beliau menunggangi baghal dalam usaha menghalangi Hasan dari dikuburkan dekat
pusara datuknya.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 157
Nabi? Apakah ada dalam AlQuran suatu ayat yang memberikan hak waris pada istri tapi
melarangnya dari anak perempuan? Ataukah politik yang telah mengubah segala sesuatu
sehingga anak perempuan diharamkan dari menerima segala sesuatu dan si istri diberi segala
sesuatu?
Saya akan membawakan suatu kisah yang diceritakan oleh sebagian ahli sejarah. Cerita ini
ada kaitannya dengan hak pusaka ini.
Ibnu Abil-Hadid al-Mu'tazili dalam bukunya Syarhu Nahjil Balaghah pernah berkata: "Suatu
hari Aisyah dan Hafshah datang kepada Utsman pada periode pemerintahannya. Mereka
minta agar pusaka Nabi tersebut diberikan kepada mereka. Sambil membetulkan cara
duduknya, Utsman berkata kepada Aisyah:" Engkau bersama orang yang duduk ini pernah
datang membawa seorang badui yang masih hadas menyaksikan Nabi SAWW bersabda:
"Kami para Nabi tidak meninggalkan harta pusaka." Jika memang benar bahwa Nabi tidak
meninggalkan sebarang warisan, lalu apa yang kalian minta ini? Dan jika memang Nabi
meninggalkan warisan pusaka, kenapa kalian larang haknya Fatimah? Lalu Aisyah keluar dari
rumah Utsman sambil marah-marah dan berkata: "Bunuh si na'tsal. Sungguh, dia telah
kufur."67
67 Syarh Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil. 16 hal. 220-223.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 158
Ali Lebih Utama untuk Diikuti
Di antara sebab yang mendorongku untuk ikut mazhab Syi'ah dan meninggalkan tradisi para
leluhur adalah pertimbangan akal dan naqal antara Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar.
Seperti yang kusebutkan pada halaman-halaman yang lalu bahwa aku sepenuhnya berpegang
pada ijma' yang disepakati oleh Ahlu Sunnah dan Syi'ah. Aku juga telah menelaah berbagai
kitab dari dua mazhab ini. Di sana tidak kutemui sebuah ijma' atau kesepakatan pendapat
yang sempurna melainkan berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib. Sunnah dan Syi'ah telah
sepakat tentang keimamahannya sebagaimana yang dicatatkan dalam nas-nas berbagai kitab
rujukan dua mazhab itu. Sementara tentang keimamahan (kepemimpinan) Abu Bakar hanya
dikatakan oleh sekelompok tertentu kaum muslimin saja. Di atas telah kami sebutkan ucapan
Umar tentang pembai'atan terhadap Abu Bakar.
Demikian juga tentang keutamaan dan keistimewaan Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan
oleh Syi'ah di kitab-kitab mereka. Semua bersandar pada sanad dan otentisitas yang tak dapat
digugat hatta oleh kitab-kitab Sunnah. Sebagaimana ia juga diriwayatkan melalui berbagai
jalur yang tak dapat diragukan. Banyak sahabat telah meriwayatkan hadis berkenaan dengan
keutamaan Ali ini, sehingga Ahmad bin Hanbal mengatakan: "Tidak satupun dari sahabat
Nabi yang memiliki keutamaan sebagaimana Ali bin Abi Thalib."68
Al-Qadhi Ismail dan an-Nasai serta Abu Ali an-Naisaburi berkata: "Tidak satupun hadis-hadis
keutamaan sahabat yang diriwayatkan dengan isnad-isnad yang hasan sebagaimana hadis
tentang keutamaan Ali"69
Meskipun Bani Umayyah telah memaksa setiap orang yang berada di Barat dan di Timur
untuk mencaci, mengutuk, serta tidak menyebut-nyebut tentang keutamaan Ali, bahkan
melarang siapa pun untuk menggunakan namanya, bagaimanapun keutamaan-keutamaannya
68 Mustadrak al-Hakim jil.3 hal.107; Manaqib al- Khawaizmi hal. 3, 9; Tarikh al-Khulafa hal. 168; Sawa'iq al-
Muhriqah hal. 72; Tarikh Ibnu Asakir jil. 3 hal. 63; Syawahid at-Tanzil jil. 1 hal. 10.
69 Riyadh Nadhirah jil. 2 hal. 282; as-Shawa’iq al-Muqhriqah hal. 118,72.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 159
tetap memancar dan menguak ke permukaan. Imam Syafi'i berkata berkenaan dengan ini:
"Aku sungguh takjub akan seseorang yang karena dengki, musuh-musuhnya telah
menyembunyikan keutamaannya; dan karena takut, para pecintanya tidak berani menyebutnyebut
namanya. Namun tetap saja keutamaannya tersebar dan memenuhi lembaranlembaran
buku."
Berkenaan dengan Abu Bakar juga telah kutelaah dengan kritis dan teliti dari berbagai kitab
dua mazhab ini. Namun kitab-kitab Sunnah yang menyebut tentang keutamaannya juga tidak
dapat menyaingi keutamaan-keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib. Itupun diriwayatkan oleh
putrinya Aisyah yang kita kenal bagaimana sikapnya terhadap Imam Ali, dimana beliau
berusaha keras untuk menonjolkan ayahnya walau dengan menciptakan hadis-hadis palsu
sekalipun; atau diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, seorang yang terbilang jauh dengan
Imam Ali. Abdullah bin Umar pernah menolak memberikan bai'at pada Imam Ali setelah
semua kaum muslimin sepakat untuk mengangkatnya sebagai Imam. Dia pernah berkata
bahwa orang yang paling utama setelah Nabi adalah Abu Bakar kemudian Umar dan
kemudian Utsman, lalu tiada seorang pun yang lebih utama dari yang lainnya, semua adalah
sama70. Yakni Abdullah bin Umar ingin mengatakan bahwa Imam Ali adalah manusia awam
biasa yang tidak memiliki sebarang keutamaan.
Aneh memang. Bagaimana Abdullah bin Umar dapat menyembunyikan dirinya dari faktafakta
yang telah dinyatakan oleh para pemuka ummat bahwa tiada suatu hadis pun berkenaan
dengan sahabat yang diriwayatkan secara isnad yang hasan sebagaimana hadis tentang
keutamaan Ali bin Abi Thalib? Apakah Abdullah bin Umar tidak pernah mendengar satu
keutamaan pun tentang diri Ali bin Abi Thalib? Demi Allah beliau pernah mendengarnya.
Tetapi politik, ya politik, yang telah memutar belitkan segala kebenaran dan menciptakan
berbagai keanehan.
Mereka yang meriwayatkan tentang keutamaan Abu Bakar antara lain adalah Amr bin 'Ash,
Abu Hurairah, Urwah dan Akramah. Sejarah menyingkapkan bahwa mereka adalah lawanlawan
Ali dan pernah memeranginya. Baik dengan senjata atau menciptakan berbagai
70 Shahih Bukhori jil. 2 hal. 202.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 160
keutamaan untuk musuh-musuh dan lawan-lawannya.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Ali banyak mempunyai musuh. Mereka berupaya untuk
mencari sesuatu yang mungkin bisa mencelanya, namun mereka tidak menemukannya.
Kemudian mereka cari seseorang yang pernah memeranginya lalu diciptakanlah keutamaankeutamaannya."
71 Tapi Allah berfirman: "Sebenarnya mereka merencanakan tipu-daya yang
jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun membuat rencana (pula) dengan sebenarbenarnya.
Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguh mereka itu
barang sebentar." (QS. Ath-Thaariq: 15,16 17)
Sungguh merupakan mukjizat Allah bahwa keutamaan-keutamaan Ali dapat terungkap atau
mencuat keluar setelah enam abad serangkaian pemerintahan yang zalim menganiaya dirinya
dan kaum kerabatnya. Dinasti Bani Abbas tidak kurang dari Bani Umayyah dalam membenci,
mendengki dan memperdaya kaum kerabat Nabi SAWW. sehingga Abu Faras al-Hamdani
berkata :
Apa yang dilakukan oleh putra-putra Banu Harb terhadap mereka
Walau sungguh dahsyat
Tapi tidaklah sedahsyat kezaliman yang kalian lakukan
Berapa banyak pelanggaran terhadap agama yang kalian lakukan
Dan berapa banyak darah keluarga Rasulullah yang kalian tumpahkan
Kalian mengaku sebagai pengikutnya
Sementara tangan kalian penuh berlumuran darah anak-anaknya yang suci.
Setelah dalil-dalil itu semua dan setelah semua kekaburan menjadi terang maka biarlah Allah
yang menjadi Hujjah Yang Unggul, dan manusia tidak lagi mempunyai alasan dihadapan-
Nya.
Walaupun Abu Bakar adalah khalifah pertama dan mempunyai kekuasaan seperti yang kita
ketahui; walaupun pemerintahan Umawiyah menyogokkan segala bonus dan upah kepada
setiap orang yang meriwayatkan keutamaan Abu Bakar, Umar dan Utsman; walaupun
71 Fathul Bari Fi Syarhil Bukhori jil. 7 hal. 83; Tarikh al-Khulafa' hal. 199; as-Shawa'iq al-Muhriqah hal. 125.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 161
riwayat-riwayat keutamaan Abu Bakar diciptakan begitu banyak dan memenuhi lembaranlembaran
buku; walaupun itu semua dilakukan namun ia tetap tak dapat menyamai hatta
sepersepuluh dari keutamaan Ali bin Abi Thalib.
Bahkan jika Anda teliti "hadis-hadis" tentang keutamaan Abu Bakar, Anda akan dapati bahwa
ia tidak sejalan dengan apa yang dicatat oleh sejarah tentang berbagai tindakannya. Bukan
saja ia bertentangan dengan apa yang dikatakan dalam "hadis" itu bahkan juga bertentangan
dengan akal dan syara'. Dan ini telah kami jelaskan ketika membicarakan hadis yang berkata:
"Seandainya iman Abu Bakar ditimbang dengan imannya ummatku maka iman Abu Bakar
akan lebih berat." Seandainya Rasulullah SAWW tahu bahwa iman Abu Bakar sedemikian
hebatnya maka beliau tidak akan meletakkannya di bawah pimpinan komandan pasukan
seperti Usamah bin Zaid; dan beliau juga tidak akan enggan untuk memberikan kesaksian
padanya sebagaimana yang pernah beliau berikan kepada para syuhada' di Uhud. Nabi
pernah berkata kepadanya: "Sungguh aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan
sepeninggalku kelak", sampai Abu Bakar menangis72. Nabi juga tidak akan mengutus Ali bin
Abi Thalib untuk mengambil surah Al-Bara'ah yang telah diberikannya kepada Abu Bakar dan
melarangnya membacakannya.73
Beliau juga tidak akan berkata pada hari pemberian panji dalam peperangan Khaibar: "Akan
kuberikan panjiku ini esok kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan
dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Dia senantiasa akan maju dan tidak pernah akan mundur
sedikitpun. Sungguh Allah telah menguji hatinya dengan iman." Kemudian Nabi
memberikannya pada Ali dan tidak memberikannya kepada Abu Bakar.74
Seandainya Allah tahu bahwa iman Abu Bakar sedemikian tingginya hingga melebihi iman
seluruh ummat Muhammad SAWW maka Allah tidak akan pernah mengancamnya untuk
72 Muwattha' Imam Malik jil. 1 hal. 307; Maghazi al-Waqidi hal. 310.
73 Shahih Turmizi jil. 4 hal. 339; Musnad Ahmad bin Hanbal jil. 2 hal. 319; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 51.
74 Shahih Muslim.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 162
menggugurkan amal-amalnya ketika beliau mengangkat suaranya lebih dari suara Nabi75.
Seandainya Ali dan sahabat-sahabatnya tahu bahwa Abu Bakar memiliki keimanan yang
demikian tinggi maka mereka tidak punya alasan untuk menolak memberikan bai'at
kepadanya. Seandainya Fatimah Zahra', penghulu seluruh wanita, mengetahui ketinggian
derajat imannya Abu Bakar maka dia tidak akan pernah marah kepadanya dan tidak akan
enggan berbicara dengannya atau menjawab salamnya dan berdo'a untuk kecelakaannya pada
akhir setiap sholatnya76, atau tidak mengizinkannya (seperti yang diwasiatkannya) hadir
dalam pemakaman jenazahnya. Seandainya Abu Bakar sendiri tahu tentang ketinggian
imannya maka beliau tidak akan mendobrak rumah Fatimah az-Zahra' walau mereka telah
menutupnya sebagai tanda protes. Abu Bakar juga tidak akan membakar al-Fujaah al-Salami
dan akan menyerahkan kepada Umar atau Abu Ubaidah perkara khalifah pada hari Saqifah
itu.77
Seorang yang mempunyai derajat iman sedemikian tinggi dan lebih berat dari iman seluruh
ummat yang ada tentu tidak akan pernah menyesal diakhir-akhir hayatnya atas sikapnya
terhadap Fatimah, tindakannya yang membakar al-Fujaah al-Salami serta kekhalifahan yang
dipegangnya. Sebagaimana dia juga tidak akan pernah berangan-angan untuk tidak menjadi
manusia, dan ingin sekadar menjadi sehelai rambut atau kotoran hewan! Apakah iman orang
seperti ini setaraf dengan iman seluruh ummat Islam bahkan lebih berat?
Jika kita teliti hadis yang bermaksud: "Seandainya aku harus mengambil seorang sahabat
(khalil) maka akan kuambil Abu Bakar sebagai khalilku.", hadis ini serupa dengan hadis
sebelumnya. Di mana Abu Bakar pada hari persaudaraan-terbatas (Muakhah-sughra) di
Mekah sebelum Hijrah; dan pada hari persaudaraan-besar (Muakhah-kubra) di Madinah
setelah Hijrah. Dalam dua peristiwa ini, Nabi hanya menjadikan Ali sebagai saudaranya,
sampai beliau berkata: "Engkau adalah saudaraku di Dunia dan di Akherat."78 Nabi tidak
75 Shahih Bukhori jil.4 hal. 184.
76 Al-Imamah was-Siyasah jil. 1 hal. 14; Al-Jahiz hal.301; A'lam an-Nisa jil. 3 hal. 12,15.
77 Tarikh al-Khawas hal. 23; Tarikh Ibnu Asakir jil. 1 hal. 107; Tarikh Masu'di jil. 1 hal. 414.
78 Tazkirah al-Khawas hal. 234; Tarikh Ibnu Asakir jil. 1 hal. 107; Manaqib al-Khawarizmi hal. 7; al-Fushul al-
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 163
menoleh kepada Abu Bakar dan enggan mengikat tali persaudaraan dengannya, baik untuk
dunia ataupun akherat.
Saya tidak bermaksud untuk menjelaskan permasalahan ini dengan lebih panjang. Saya
cukupkan dengan dua contoh di atas yang saya kutip dari sejumlah referensi Ahlu Sunnah
sendiri. Adapun mazhab Syi'ah memang mereka telah menolak keshahihan hadis ini. Mereka
mengatakan --dengan alasan yang sangat kuat-- bahwa ia (hadis itu) diciptakan tidak lama
setelah wafatnya Abu Bakar.
Jika kita tinggalkan sifat-sifat utama Ali dan meneliti kemungkinan dosa yang pernah
dilakukannya, maka kita tidak akan menemukan satu dosa pun yang pernah dilakukan Ali bin
Abi Thalib yang tercatat dalam buku dua mazhab ini. Namun dalam masa yang sama kita
akan temukan dari orang-orang lain yang melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang tidak
sedikit. Hal ini bisa kita temukan dalam berbagai buku Ahli Sunnah, seperti buku-buku hadis,
buku sirah dan dan sejarah.
Ini berarti bahwa ijma' dua mazhab ini berimplikasi bahwa hanya Ali sajalah yang tidak
terbukti melakukan sebarang dosa, sebagaimana sejarah juga menegaskan bahwa bai'at yang
pernah diberikan secara benar hanya bai'at yang diberikan kepada Ali semata-mata. Ali
enggan menerima jabatan khalifah, namun dipaksa oleh Muhajirin dan Anshar. Beliau juga
tidak memaksa orang yang enggan memberikan bai'at padanya. Sementara bai'at Abu Bakar
dilakukan sangat tergesa-gesa dimana Allah telah pelihara kaum muslimin dari
keburukannya, seperti yang diistilahkan oleh Umar. Kekuasaan Umar diperoleh berdasarkan
penobatan yang diberikan oleh Abu Bakar kepadanya, sementara pengangkatan Utsman
sebagai khalifah terjadi secara menggelikan.
Lihatlah, Umar menominasi enam orang sebagai calon khalifah dan mewajibkan mereka
memilih satu di antaranya. Beliau berkata, "Apabila empat orang sepakat dan dua orang yang
lain menentang, bunuh yang dua. Apabila enam orang ini berpecah tiga tiga dan membentuk
dua kelompok, maka pilihlah pendapat kelompok yang di dalamnya ada Abdurrahman bin
A'uf. Apabila waktu telah berakhir sementara mereka belum sepakat menemukan sang
Muhimmah Oleh al-Maliki hal.21.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 164
'khalifah' maka bunuh saja mereka semua." Ceritanya panjang dan aneh sekali.
Alhasil, Abdurrahman bin A'uf mula-mula memilih Ali dengan syarat beliau memerintah
berdasarkan pada Kitab Allah, Sunnah Nabi dan Sunnah Syaikhain, yakni Sunnah Abu Bakar
dan Umar. Ali menolak syarat ini dan Utsman menerimanya. Maka jadilah Utsman sebagai
khalifah. Ali keluar dari majlis itu, dan beliau sejak awal sudah tahu hasil yang akan keluar.
Hal ini pernah diucapkannya dalam khutbahnya yang terkenal dengan nama Khutbah as-
Syiqsyiqiyah.
Setelah Ali, Muawiyah yang 'memegang' jabatan khalifah. Di tangannya sistem khilafah telah
diganti dengan sistem monarki dan dinasti kekaisaran yang berpindah-tangan dari generasi
ke generasi Banu Umaiyah. Kemudian berpindah pula ke tangan Bani Abbasiah.
Khalifah berikutnya hanya dipilih dengan ketentuan sang khalifah atau dengan kekuatan
pedang atau penggulingan. Sistem bai'at yang paling benar yang pernah terjadi dalam sejarah
Islam, sejak zaman para khulafa' hingga ke zaman Kamal Ataturk yang telah menghapus
sistem kekhalifahan, hanya bai'ah yang pernah diberikan kepada Amir al-Mukminin Ali bin
Abi Thalib saja.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 165
Hadits-hadits Seputar Ali
Di antara hadis-hadis yang mengikatku dan mendorongku untuk ikut Imam Ali adalah hadis
yang diriwayatkan dalam berbagai Kitab Shahih Ahlu Sunnah sendiri. Dalam mazhab Syi'ah
mereka juga memiliki hadis-hadis serupa itu berlipat-ganda. Namun saya --seperti biasa--
tidak akan berhujah dan berpegang kecuali kepada hadis-hadis yang telah disepakati oleh
kedua mazhab. Di antara hadis-hadis tersebut adalah:
"Aku kota ilmu dan Ali gerbangnya."79
Hadis ini saja sebenarnya sudah cukup untuk menentukan siapa teladan yang mesti diikuti
setelah Nabi SAWW. Mengingat orang yang berilmu adalah lebih utama untuk diikuti
dibandingkan dengan orang yang jahil. Allah berfirman: "Katakanlah apakah sama antara
orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?" Dan firman-Nya: "Apakah
seseorang yang menunjukkanmu kepada kebenaran lebih utama untuk diikuti ataukah
orang yang tidak membimbingmu kecuali ia perlu dibimbing. Maka bagaimana kalian
membuat keputusan?" Jelas bahwa orang alimlah yang tahu membimbing sementara orang
jahil perlu mendapatkan bimbingan, bahkan ia perlu bimbingan lebih dari orang lain.
Dalam hal ini sejarah telah mencatatkan kepada kita bahwa Imam Ali adalah sahabat yang
paling alim tanpa sedikitpun bantahan. Dahulunya para sahabat merujuk Ali dalam perkaraperkara
yang pokok yang tidak dapat mereka selesaikan. Dan kita tidak pernah menemukan
yang Ali pernah merujuk mereka walau satu kali sekalipun. Dengarlah apa yang dikatakan
oleh Abu Bakar: "Semoga Allah tidak menetapkanku di suatu tempat yang ada masalah kalau
Abu Hasan (Ali) tidak hadir di sana." Umar berkata: "Kalaulah Ali tiada maka celakalah
Umar."80 Ibnu Abbas berkata: "Apalah ilmuku dan ilmu sahabat-sahabat Muhammad
dibandingkan dengan ilmu Ali. Perbandingannya bagaikan setetes air dengan tujuh
samudera."
79 Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 127; Tarikh Ibnu Katsir jil. 7 hal. 358.
80 Al-Isti'ab jil. 3 hal. 39; Manaqib al-Khawarizmi hal.48; Riyadh Nadhirah jil. 2 hal. 194.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 166
Imam Ali sendiri berkata: "Tanyalah aku sebelum kalian kehilanganku. Demi Allah, tiada
soalan yang kalian hadapkan padaku sampai hari kiamat kecuali aku beritahu kalian apa
jawabannya. Tanyakan kepadaku tentang Kitab Allah. Demi Allah, tiada suatu ayatpun
kecuali aku tahu dimana ia diturunkan; di waktu malam atau siang, di tempat yang datar
atau di pegunungan."81
Sedangkan Abu Bakar ketika ditanya makna Abban dari firman Allah: wa fakihatan wa
abban, beliau berkata: "Langit mana yang dapat melindungiku, bumi mana yang dapat
kujadikan tempat berpijak daripada berkata sesuatu di dalam Kitab Allah apa yang tidak
kuketahui?"
Umar bin Khattab pernah berkata: "Semua orang lebih faqih dari Umar, hatta wanita-wanita."
Ketika beliau ditanya tentang suatu ayat dalam Kitab Allah, beliau marah sekali pada orang
yang bertanya itu, lalu memukulnya dengan cambuk sampai melukainya. Katanya: "Jangan
kalian tanya tentang sesuatu yang jika nampak kepada kalian, maka kalian akan terasa tidak
enak."82 Sebenarnya beliau ditanya tentang makna Kalalah, tapi tak tahu menjawabnya.
Di dalam tafsirnya, Thabari meriwayatkan dari Umar yang berkata: "Seandainya aku tahu apa
makna kalalah maka itu lebih kusukai daripada memiliki seperti istana-istana Syam."
Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan dari Umar bin Khattab yang berkata: "Tiga hal
yang apabila Rasulullah SAWW telah menjelaskannya maka itu lebih kusukai daripada dunia
dan seisinya: al-Kalalah, ar-Riba dan al-Khilafah."
Subhanallah! Mustahil Rasulullah diam dan tidak menjelaskan perkara-perkara itu.
"Hai Ali, kedudukanmu di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada
Nabi setelahku."
81 Ibid. Jil. 2 hal. 198; Tarikh al-Khulafa` hal. 124; Al-Itqan jil. 2 hal. 319; Fath al-Bari jil. 8 hal. 485; Tahzib at-
Tahzib jil. 7 hal. 338.
82 Sunan ad-Darimi jil. 1 hal. 54; Tafsir Ibnu Katsir jil. 4 hal. 232; Ad-Dur al-Mantsur jil. 6 hal. 111.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 167
Hadis ini seperti yang dipahami oleh orang-orang yang berakal sehat menyirat makna
keutamaan dan kekhasan amir al-Mukminin Ali di dalam menyandang kedudukan wazir,
washi dan khalifah, sebagaimana Harun yang menjadi wazir, washi dan khalifahnya Musa
ketika beliau berangkat menemui Tuhannya. Ia juga menyirat arti bahwa kedudukan Imam
Ali adalah umpama kedudukan Harun as. Kedua mereka memiliki kemiripan, melainkan
kenabian saja seperti yang dikecualikan oleh hadis itu sendiri. la juga berarti bahwa Imam Ali
adalah sahabat yang paling utama dan paling mulia setelah Nabi SAWW itu sendiri.
"Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka Alilah pemimpinnya. Ya Allah,
bantulah mereka yang mewila'nya, dan musuhilah mereka yang memusuhinya.
Jayakanlah mereka yang menjayakannya, dan hinakanlah mereka yang menghinakannya,
liputilah haq bersamanya dimanapun dia berada."
Hadis ini saja sudah cukup untuk menolak dugaan orang yang mengutamakan Abu Bakar,
Umar dan Utsman atas seseorang yang telah dilantik oleh Rasulullah SAWW sebagai
pemimpin kaum mukmin setelahnya. Mereka yang mentakwilkan kalimat maula dalam hadis
ini dengan arti sebagai pecinta dan pembantu semata-mata karena ingin memalingkan arti
yang sebenarnya dengan alasan ingin memelihara kemuliaan para sahabat. Karena ketika
Nabi SAWW menyampaikan pesannya ini beliau berkhutbah dalam keadaan matahari panas
terik. Katanya: "Bukankah kalian menyaksikan bahwa aku adalah lebih utama dari orangorang
mukminin atas diri mereka sendiri?" Mereka menjawab: ya, wahai Rasulullah.
Kemudian beliau melanjutkan: "Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya
(pemimpinnya) maka inilah Ali maulanya..."
Nash ini sangat jelas dalam melantik Ali sebagai khalifah untuk ummatnya. Orang yang
berakal, adil dan insyaf tak dapat menolak pengertian maksud hadis ini lalu menerima
takwilan yang direka oleh sebagian orang demi menjaga kemuliaan sahabat dengan
mengorbankan kemuliaan Rasul SAWW. Karena dengan demikian ia telah meremehkan dan
mencela kebijaksanaan Rasul yang telah menghimpun ribuan manusia dalam keadaan cuaca
yang sangat terik dan panas hanya semata-mata karena ingin mengatakan bahwa Ali adalah
pecinta kaum mukminin dan pembela mereka. Bagaimana mereka akan menafsirkan ucapan
selamat yang diberikan oleh barisan orang-orang mukminin kepada Ali setelah pelantikan itu,
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 168
yang sengaja diciptakan oleh Nabi SAWW? Pertama-tama yang mengucapkannya adalah para
istri Nabi, kemudain Abu Bakar dan menyusul Umar yang berkata: "Selamat, selamat
untukmu wahai putra Abu Thalib. Kini kau adalah pemimpin orang-orang mukminin, lakilaki
atau perempuan."
Fakta sejarah juga telah menyaksikan bahwa mereka yang mentakwil adalah orang-orang
yang berdusta. Celakalah apa yang mereka tulis dengan tangan mereka. Firman Allah: "Dan
sesungguhnya sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka
mengetahui" (al-Baqarah: 146).
"Ali dariku dan aku dari Ali. Tiada siapa yang mewakili tugasku kecuali aku sendiri atau
Ali"83
Hadits ini juga dengan jelas menyatakan bahwa Imam Ali adalah satu-satunya orang yang
diberikan kepercayaan oleh Nabi untuk mewakili tugasnya. Nabi nyatakan ini ketika beliau
mengutusnya untuk mengambil dan membacakan surah al-Baraah yang pada mulanya
diserahkan pada Abu Bakar. Abu Bakar kembali dan menangis. Katanya, "Duhai Rasulullah,
apakah ada ayat turun berkenaan denganku?" Rasulullah menjawab: "Allah hanya
menyuruhku atau Ali saja yang melaksanakan tugas ini."
Hadis ini juga mendukung sabda Nabi yang lain kepada Ali: "Engkau hai Ali, menjelaskan
kepada ummatku apa yang mereka perselisihkan setelah ketiadaanku."84
Jika tiada orang yang diberikan kepercayaan oleh Rasulullah kecuali Ali, dan Alilah yang
paling layak untuk menjelaskan kepada ummat ini segala permasalahan yang dihadapi, maka
kenapa orang yang tidak tahu akan makna kalimat abbaa dan kalimat kalalah mengambil
alih haknya? Sungguh ini adalah musibah besar yang menimpa ummat ini, dan yang
menghalanginya dari menjalankan tugas penting yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Telah
cukup hujjah dan alasan dari Allah, dari RasulNya dan dari Amir al-Mukminin. Mereka yang
83 Sunan lbnu Majah jil. 1 hal.44; Khasais Nasai hal. 20; Shahih Turmizi jil. 5 hal. 300; Jami' Ushul Oleh Ibnu
Katsir jil. 9 hal. 471; Jami' Shagir Oleh Suyuthi jil. 2 hal. 56 Riyadh; Nadhirah jil. 2 hal. 229.
84 Tarikh Ibnu Asakir jil. 2 hal. 448; Kunuz al-Haqaiq Oleh al-Maulawi hal. 203; Kanzul Ummal jil. 5 hal. 33.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 169
ingkar dan tidak patuh kelak harus mengajukan alasan di hadapan Allah SWT. Allah
berfirman: "Apabila dikatakan kepada mereka: marilah mengikuti apa yang diturunkan
oleh Allah dan mengikuti Rasul. Mereka menjawab: cukuplah untuk kami apa yang kami
dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka akan mengikuti juga
nenek moyang mereka walau pun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan
tidak pula mendapat petunjuk." (al-Maidah:104)
Bersabda Nabi SAWW sambil menunjuk kepada Ali: "Sesungguhnya ini adalah saudaraku,
washiku dan khalifahku setelahku. Maka dengarlah dan taatilah dia!"85
Hadis ini juga terbilang di antara hadis-hadis shahih yang dinukil oleh para ahli sejarah
ketika bercerita tentang peristiwa pertama yang terjadi pada masa periode awal dari era
kebangkitan Nabi SAWW. Mereka menganggap hadis ini sebagai bagian dari mukjizat Nabi
SAWW. Namun politik telah mengubah dan memalsukan kebenaran-kebenaran dan faktafaktanya.
Tidak aneh memang. Karena apa yang pernah terjadi di zaman kegelapan tersebut
kini berulang lagi di zaman sekarang. Lihatlah Muhammad Husain Haikal. Beliau telah
mencatat hadis ini secara sempurna dalam kitabnya "Riwayat Hidup Muhammad" halaman
104, cetakan pertama tahun 1354 H. Tetapi dalam cetakan kedua dan seterusnya sebagian
dari isi hadis nabawi ini, yakni kalimat "washiku dan khalifahku setelahku" dihapus dan
digunting. Mereka juga telah menghapus dari kitab Tafsir Thabari jilid 19 halaman 121 bagian
dari sabda Nabi berikut "Washiku dan khalifahku", dan menggantinya dengan kalimat "Inilah
saudaraku dan begini dan begitu..."! Mereka lalai bahwa Thabari telah menyebutnya secara
sempurna dalam kitab sejarahnya jilid ke 2 pada halaman 319. Lihatlah betapa mereka telah
ubah kalimat dari tempatnya yang asal dan memutar-balikkan fakta-fakta. Mereka ingin
memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah tetap akan menyalakan cahaya-
Nya.
Ketika aku masih menelaah dan mengkaji, aku ingin menyaksikan dengan mataku sendiri
segala apa yang telah terjadi. Aku cari buku Riwayat Hidup Muhammad cetakan pertama.
85 Tarikh Thabari jil.2 hal.319; Tarikh Ibnu Atsir jil. 2 hal. 62 As-Sirah al-Halabiah jil. 1 hal. 311; Syawahid at-
Tanzil Oleh al-Hasakani jil. 1 hal. 371; Kanzul Ummal jil. 15 hal. 15; Tarikh Ibnu Asakir jil. 1 hal. 85; Tafsir al-
Khazin Oleh Alaudin as-Syafei; Hayat Muhammad Oleh Husain Haikal Edisi pertama.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 170
Akhirnya kujumpai juga setelah mengarungi berbagai liku-liku yang sulit dan melelahkan.
Alhamdulillah atas semua ini. Yang penting aku telah saksikan sendiri perubahan itu. Aku
tambah yakin bahwa tangan-tangan jahat berupaya dengan segala usaha untuk
menghapuskan kebenaran-kebenaran yang memang telah terbukti ada. Karena mereka
menganggap bahwa ini adalah dalil kuat yang akan digunakan oleh "musuhnya"!
Tetapi bagi seorang peneliti yang adil akan merasa bertambah yakin ketika menyaksikan
perubahan seumpama ini. Tanpa ragu-ragu dia akan berkata bahwa pihak kedua yang enggan
menerima dalil-dalil tersebut sebenarnya tidak memiliki alasan yang kuat. Mereka hanya
melakukan makar dan tipu muslihat serta memutar balik fakta walau dengan membayar
mahal sekalipun. Mereka telah mengupah penulis-penulis tertentu dan mengulurkan kepada
mereka berbagai kekayaan, gelar dan ijazah-ijazah perguruan tinggi yang palsu, agar dapat
menuliskan segala sesuatu yang mereka inginkan baik buku atau makalah-makalah tertentu.
Yang penting tulisan itu mencaci Syi'ah dan mengkafirkan mereka, serta membela dengan
segala upaya (walau itu batil) "kemuliaan" sebagian sahabat yang telah belok dari kebenaran
dan yang telah merobah hak menjadi batil sepeninggal Rasul SAWW. Firman Allah:
"Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan
mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah jelaskan tanda-tanda
kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin." (al-Baqarah: 118) Maha Benar Allah Yang Maha
Agung.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 171
Hadis Tsaqalain
Bersabda Rasulullah SAWW: "Wahai manusia, telah kutinggalkan kepada kalian sesuatu
yang jika kalian berpegang padanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya:
Kitab Allah dan itrah ahlu baitku."
Sabdanya lagi: "Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku segera
menyahutinya. Sungguh, kutinggalkan kepada kalian dua peninggalan yang berat
(Tsaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Kedua: ahlu
baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baitku ini, aku ingatkan kalian
kepada Allah tentang ahlu baitku ini."86
Jika kita renungkan makna hadis mulia yang diriwayatkan oleh buku-buku hadis shahih Ahlu
Sunnah wal Jamaah ini, maka kita dapati bahwa hanya Syi'ah saja yang mengikuti Tsaqalain
ini: Kitab Allah dan keluarga Nabi yang suci. Sementara Ahlu Sunnah ikut kata-kata Umar:
"Cukup bagi kita Kitab Allah saja".
Oh, alangkah bahagianya jika mereka benar-benar ikut Kitab Allah, tanpa menakwilkannya
mengikut hawa nafsu mereka. Jika Umar sendiri tidak paham apa makna Kalalah, tidak tahu
ayat tayammum dan berbagai hukum-hukum yang lain, maka bagaimana mereka yang datang
kemudian lalu mentaklidnya tanpa berijtihad, atau berijtihad dengan pandangannya sematamata
didalam nash-nash Quran.
Mereka tentu akan menjawabku dengan suatu hadis yang diriwayatkan di sisi mereka:
"Kutinggalkan kepada kalian Kitab Allah dan Sunnahku"87
Hadits ini kalaulah shahih dari segi sanadnya, maka ia menyirat makna hadits Tsaqalain di
atas di mana kaum muslimin diperintahkan untuk merujuk kepada Ahlul Bait yang
mengajarkan sunnah, atau meriwayatkan hadis-hadis yang shahih, mengingat mereka adalah
86 Shahih Muslim jil.5 hal.122; Shahih Turmuzi jil. 5 hal. 328; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 148; Musnad
Ahmad bin Hanbal jil. 3 hal. 17.
87 Lihat Sunan Nasai, Turmuzi, Ibnu Majah dan Abu Daud.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 172
orang-orang suci dari segala sifat dusta dan Allah telah mensucikan mereka dengan ayat
Tathhir-Nya. Tambahan lagi agar mereka menafsirkan kepada kalian makna-makna ayat dan
maksud-maksudnya, mengingat kitab Allah semata-mata tidak cukup sebagai bimbingan.
Betapa banyak golongan yang sesat berdalil dengan kitab Allah. Sebagaimana juga sabda Nabi
SAWW: "Berapa banyak pembaca AlQuran sementara AlQuran sendiri melaknatnya."
Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai kemungkinan tafsiran. Di dalamnya ada
yang mutasyabih dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada
orang-orang yang rusukh -ikut istilah AlQuran- atau yang sangat dalam ilmunya, dan ikut
bimbingan Ahlul Bait Nabi seperti yang ada di dalam hadis-hadis Nabi SAWW.
Syi'ah merujukkan segala sesuatunya kepada para imam yang ma'sum dari kalangan keluarga
Nabi SAWW. Dan mereka tidak berijtihad melainkan jika memang tidak ada nash berkenaan
dengannya. Sementara kita merujukkan segala sesuatunya kepada sahabat, baik dalam tafsir
AlQuran atau Sunnah Nabawi. Kita telah tahu sikap-sikap sahabat, apa yang mereka kerjakan
dan ijtihadkan dengan menggunakan pandangan mereka semata-mata yang bertentangan
dengan nas-nas yang jelas. Jumlahnya ratusan. Dan kita tidak bisa berpegang kepada yang
seumpama itu setelah kita ketahui apa yang telah mereka lakukan.
Jika kita tanyakan para ulama kita sunnah apa yang mereka ikuti mereka akan menjawab:
Sunnah Rasulullah SAWW. Sementara fakta sejarah mengingkari kenyataan itu. Mereka
meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: "Berpeganglah kalian kepada sunnahku
dan sunnah para khulafa' Rasyidin setelahku. Peganglah ia sedemikian kuat bagaikan kalian
menggigitnya dengan gigi-gigi geraham kalian." Dengan demikian, sunnah yang diikuti
kebanyakannya adalah sunnah para khulafa' Rasyidin, hatta sunnah Rasul yang mereka
katakan itu adalah riwayat dari jalur mereka.
Kita juga menyaksikan di dalam sejumlah kitab hadis shahih bahwa Rasul pernah melarang
mereka menuliskan sunnahnya agar kelak tidak bercampur dengan ayat-ayat AlQuran.
Demikianlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar ketika mereka memerintah.
Dengan demikian kata-kata "Kutinggalkan kepada kalian Sunnahku..."88 tidak mempunyai
88 Kata-kata "Sunnahku", tidak diriwayatkan oleh kitab enam (shihah as-Sittah). Ini hanya ada di dalam al-
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 173
landasan yang kuat lagi.
Contoh-contoh yang saya sebutkan ini --dan yang tidak disebutkan jumlahnya jauh berlipat
ganda-- sudah cukup untuk menolak keabsahan hadis ini. Hal ini karena sebagian dari
sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Utsman bertentangan dengan sunnahnya Nabi bahkan
membatalkannya sama sekali seperti yang nampak jelas.
Contoh pertama yang bisa kita lihat adalah insiden yang terjadi segera setelah wafatnya Nabi
SAWW di mana Abu Bakar memerangi orang-orang yang disebutnya sebagai "penahan" harta
zakat.
Mengingat aku tidak mau berdalil dengan apa yang dikatakan oleh Syi'ah, maka aku serahkan
saja kepada para pembaca yang ingin mencari kebenaran untuk menelitinya sendiri.
Sebagai perbandingan, saya catatkan di sini suatu cerita berkenaan dengan Rasulullah dan
Tsa'labah. Suatu hari Tsa'labah memohon kepada Rasulullah agar mendoakannya biar dia
menjadi kaya raya. Dia mendesak Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersedekah
apabila dia kaya kelak. Rasulullah mendoakannya dan Allah pun menjadikan dia kaya. Karena
banyaknya unta dan kambing ternaknya, kota Madinah yang luas akhirnya terasa sempit
baginya. Dia pindah dari kota Madinah dan tidak lagi sempat menghadiri shalat Jum'at.
Ketika Nabi mengutus para amilin (pengumpul zakat) untuk mengambil zakat dari Tsa'labah,
dia menolak untuk memberinya. Katanya, ini adalah upeti (jizyah) atau sejenisnya. Tetapi
Nabi tidak memeranginya dan tidak juga memerintahkan orang untuk memeranginya.
Berkenaan dengan ini Allah turunkan ayat berikut: "Dan diantara mereka ada orang yang
telah berikrar kepada Allah: 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-
Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang
yang saleh.' Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya,
mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang
yang selalu membelakangi (kebenaran)."(QS. at-Taubah: 75-76)
Muwattha' karangan Imam Malik bin Anas. Hatta Thabari ketika meriwayatkan hadis ini beliau merujuk
kepada kitab Imam Malik ini.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 174
Setelah ayat ini turun, Tsa'labah kemudian datang sambil menangis. Dia minta kepada Nabi
untuk menerima zakatnya kembali. Tetapi Nabi enggan menerimanya, seperti yang dikatakan
oleh riwayat.
Jika Abu Bakar dan Umar benar-benar mengikuti Sunnah Rasul, kenapa ia menyalahinya
dalam tindakan ini dan menghalalkan darah kaum muslimin yang tak berdosa semata-mata
karena alasan enggan memberikan zakat. Dari cerita Tsa'labah di atas yang mengingkari
kewajiban zakat dan bahkan menganggapnya sebagai upeti, tidak ada lagi alasan untuk kita
mempertahankan dan menjustifikasi kesalahan yang dilakukan oleh Abu Bakar atau
mentakwilkannya. Nampaknya Abu Bakar dapat meyakinkan sahabatnya Umar untuk
memerangi orang-orang ini, semata-mata karena khawatir sikap Malik bin Nuwairah dan
kaumnya ini akan diketahui oleh negeri-negeri Islam yang lain, yang kemudian dapat
menghidupkan kembali nash-nash al-Ghadir yang memilih Ali sebagai khalifah. Itulah
kenapa Umar sangat gembira sekali untuk memerangi mereka, karena beliau sendirilah yang
pernah mengancam untuk membunuh atau membakar orang-orang yang enggan memberikan
bai'at di rumah Fatimah.
Peristiwa lain yang terjadi pada periode pertama kekuasaan Abu Bakar adalah
perselisihannya dengan Umar bin Khattab, ketika beliau menakwilkan nash-nash AlQuran
dan hadits-hadits Nabawi. Ringkas ceritanya, Khalid bin Walid membunuh Malik bin
Nuwairah dan meniduri istrinya di malam itu juga. Umar berkata kepada Khalid: "Wahai
musuh Allah, engkau telah bunuh seorang muslim dan meniduri istrinya. Demi Allah, aku
akan rajam engkau dengan batu."89 Tetapi Abu Bakar membela Khalid dan berkata:
"Biarkanlah wahai Umar. Khalid telah mentakwil kemudian ternyata salah. Tutup mulutmu
dari Khalid."
Ini adalah musibah dan aib lain yang telah dilakukan oleh seorang sahabat besar yang sempat
direkam oleh sejarah, sedemikian besar namanya sehingga kita menyebut namanya dengan
penuh hormat dan takzim, seperti Saifullah al-Maslul, "Pedang Allah Yang Terhunus"!
89 TarikhThabari jil.3hal.280; Tarikh al-Fida' jil. 1 hal. 158; Tarikh al-Ya'qubi jil. 2 hal. 110; Al-Isabah jil.3
hal.336.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 175
Apa yang harus kukatakan tentang sahabat yang melakukan tindakan keji seperti ini:
membunuh Malik bin Nuwairah, seorang sahabat agung, pemimpin Bani Tamim dan Bani
Yarbu'; seorang yang dijadikan contoh dalam kemurahan dan keberanian. Para ahli sejarah
telah mencatat bahwa Khalid membunuh Malik dan sahabat-sahabatnya setelah mereka
meletakkan senjata dan shalat berjamaah bersamanya. Sebelum dibunuh mereka diikat
dengan tali. Bersama mereka hadir juga Laila binti Minhal, istri Malik, seorang wanita yang
terkenal sangat cantik. Khalid sangat terpikat dengan kecantikannya ini. Malik berkata
kepada Khalid: "wahai Khalid, bawa kami kepada Abu Bakar, biar dia yang memutuskan
perkara kita ini." Abdullah bin Umar dan Abu Qatadah al-Anshori mendesak Khalid agar
membawa mereka berjumpa dengan Abu Bakar. Tetapi ditolak. Katanya: "Allah tidak akan
mengampuniku jika aku tidak membunuhnya." Kemudian Malik melihat istrinya Laila dan
berkata kepada Khalid: "karena dia kemudian engkau membunuhku." Lalu Khalid menyuruh
untuk memancung leher Malik, kemudian menawan istrinya Laila. Dan pada malam yang
sama, Khalid pun menidurinya.90
Biarlah didalam melihat peristiwa yang terkenal ini kita nukilkan pengakuan Ustadz Haikal
dalam kitabnya As-Shiddiq Abu Bakar. Di dalam bab Pendapat Umar Dan Hujjahnya Dalam
Suatu Perkara, Haikal menulis:
"Adapun Umar, beliau adalah model dalam keadilan dan ketegasan. Beliau melihat bahwa
Khalid telah melakukan kezaliman terhadap seorang muslim dan menikahi istrinya sebelum
usai masa iddahnya. Dengan demikian ia tidak layak duduk sebagai pemimpin tertinggi
sebuah pasukan, agar kasus yang sama tidak berulang dan bisa merusak kehidupan kaum
muslimin serta merusak kedudukan mereka di mata orang-orang Arab." Katanya lagi: "Khalid
tidak boleh dibiarkan tanpa pengajaran atas apa yang dilakukannya terhadap Laila.
Katakanlah Khalid mentakwil pada kasus Malik ini dan salah (alasan yang tidak dapat
diterima oleh Umar) namun biarlah hukum hudud itu berjalan atas apa yang dilakukannya
terhadap istrinya, Laila. Sebagai 'Pedang Allah' dan sebagai pemimpin pasukan yang
menentukan kemenangan, sangat tidak layak melakukan apa yang telah dia lakukan itu.
90 Tarikh al-Fida' jil. hal. 158; Tarikh al-Ya'qubi jil. 2 hal. 110; Tarikh Ibnu Shihnah jil. 11 hal. 114; Wafayat al-
A'yan jil. 6 hal. 14.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 176
Kalau tidak maka orang-orang seperti Khalid nantinya akan menyalahgunakan semua
peraturan. Dan ini akan menjadi sebuah contoh yang sangat buruk bagi kaum muslimin di
dalam menghormati Kitab Allah. Itulah kenapa Umar terus mendesak Abu Bakar sehingga
Khalid dipanggil dan dimarahi."91
Bolehkah kita bertanya kepada Ustaz Haikal dan para ulama seumpamanya yang berusaha
menjaga "kemuliaan" sahabat, kenapa Abu Bakar tidak melaksanakan hukum hudud
terhadap Khalid? Seandainya Umar --seperti yang dikatakan oleh Haikal-- adalah model
keadilan dan ketegasan, kenapa beliau puas dengan sekadar menyingkirkan Khalid dari
kepemimpinan pasukan dan tidak melaksanakan hukum hudud terhadapnya, agar ia tidak
menjadi contoh yang buruk yang akan dilemparkan kepada kaum muslimin di dalam
menghormati Kitab Allah, seperti yang disebutkannya? Apakah mereka telah menghormati
Kitab Allah dan melaksanakan hudud-hudud-Nya? Tidak sama sekali. Inilah korban politik
dan korban permainan yang licik. Ia telah menciptakan berbagai keanehan dan memutarbelitkan
berbagai kebenaran. Sebagaimana ia juga telah membuang nash-nash AlQuran
sejauh-jauhnya.
Bolehkah kita bertanya kepada sebagian ulama kita yang menulis sejumlah kitab tentang
bagaimana Rasulullah SAWW sangat marah pada Usamah yang datang mau menjamin
seorang wanita ningrat yang telah mencuri. Nabi SAWW berkata: "Celaka engkau (wahai
Usamah), apakah engkau akan memberi jaminan dalam hukum hudud Allah. Demi Allah,
seandainya Fatimah mencuri akan kupotong tangannya. Orang-orang dahulu celaka
lantaran mereka diam apabila kaum ningratnya yang mencuri; apabila golongan lemah
yang mencuri maka mereka terapkan padanya hukum hudud."
Bagaimana mereka bisa diam pada seseorang yang telah membunuh kaum muslimin yang tak
berdosa, kemudian menikahi istrinya pada malam yang sama sementara dia masih menderita
karena kematian sang suami? Belum puas sampai di sana. Mereka lalu berusaha mencari
alasan untuk membenarkan tindakan Khalid dengan menciptakan berbagai kebohongan dan
keutamaan-keutamaannya, sehingga menobatkan padanya gelar Pedang Allah Yang
91 As-Siddiq Abu Bakar oleh Haikal hal. 151.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 177
Terhunus.
Seorang teman yang terkenal dengan gelagatnya yang lucu berseloroh suatu hari di majlisku
yang waktu itu tengah membahas keutamaan-keutamaan Khalid bin Walid. Kukatakan bahwa
Khalid bin Walid adalah Pedang Allah Yang Terhunus. Sahabat itu menjawab: Saifus
Syaithan al-Masylul, (Dia adalah Pedang Syaitan Yang Berlumuran Darah). Aku agak
tersentak ketika itu. Namun setelah mengkaji, akhirnya Allah bukakan pandanganku dan
dikenalkannya aku pada mereka yang pernah memegang kekuasaan dan yang mengubah
hukum-hukum Allah, mengaburkannya serta melampaui batas-batasnya.
Khalid bin Walid juga menyimpan cerita yang terkenal di zaman Nabi SAWW. Suatu hari
Nabi mengutusnya pergi ke Bani Juzaimah agar menyeru mereka kepada agama Islam dan
tidak memeranginya. Kabilah ini tidak fasih dalam menyebutkan kalimat Aslamna (kami
telah masuk Islam). Mereka menyebutnya Saba'na, Saba'na. Lalu Khalid membunuh dan
menawan mereka. Sebagian tawanan diserahkannya kepada sahabat sepasukannya dan
menyuruh mereka membunuhnya. Tetapi sahabat-sahabat tersebut enggan melakukan
perintah Khalid karena tahu bahwa mereka telah menganut agama Islam. Ketika kembali dan
diceritakan peristiwa itu kepada Nabi, beliau mengangkat tangannya kepada Allah seraya
berdo'a: "Ya Allah, aku mohon perlindungan-Mu dari apa yang telah dilakukan oleh Khalid
bin Walid" (dibacanya dua kali)92 Kemudian Nabi mengutus Ali bin Abi Thalib pergi ke
kabilah Banu Juzaimah tersebut sambil membawa harta untuk membayar ganti-rugi (diyat)
nyawa dan harta yang telah terkorban hatta bejana jilatan anjing sekalipun. Rasulullah berdiri
menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangannya ke langit sehingga nampak bagian
ketiaknya. Nabi berdo'a: "Ya Allah, kumohon perlindungan-Mu dari apa yang telah
dilakukan oleh Khalid bin Walid." Dibacanya hingga tiga kali.93
Bolehkah kita bertanya, mana letak keadilan sahabat yang diasumsikan itu? Seandainya
Khalid bin Walid, seorang yang kita anggap sebagai tokoh yang agung hingga diberi gelar
dengan sebutan Pedang Allah, apakah Allah akan mengizinkannya menghunuskan pedang
92 Shahih Bukhori jil.4 hal.171.
93 Sirah Ibnu Hisham jil.4 hal.53; Thabaqat Ibnu Saad; Usud al-Ghabah jil. 3 hal. 102.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 178
untuk menguasai kaum muslimin, orang-orang yang tak berdosa dan kaum wanita, dan dia
bebas melakukan apa saja? Sungguh suatu hal yang sangat pelik dan kontradiktif. Allah
melarang membunuh satu nyawa dan mencegah perlakuan munkar, keji dan kezaliman,
tetapi Khalid telah menghunuskan pedang kezalimannya, memperkosa kehormatan kaum
muslimin, menghalalkan darah dan harta mereka serta menawan wanita dan anak-anak
mereka. Sungguh suatu kata-kata yang pelik dan gelar yang aneh apabila kita nisbahkan
pedang Khalid kepada Allah SWT. Maha Suci Engkau hai Tuhan kami. Kau lebih Mulia dan
lebih Tinggi dari itu semua, Maha Suci Engkau, tiada Kau ciptakan langit-langit dan bumi dan
apa yang ada di antaranya dengan sia-sia. Demikianlah dugaan orang-orang kafir. Dan neraka
Waillah tempat mereka kembali.
Bagaimana Abu Bakar, khalifah muslimin bisa berdiam diri setelah mendengar tindakantindakan
kriminal seperti itu. Bahkan bisa menyuruh Umar bin Khattab menutup mulutnya
tentang perkara Khalid, dan marah kepada Abi Qatadah karena sikapnya yang mencemooh
kelakuan Khalid. Apakah beliau benar-benar yakin bahwa Khalid melakukan takwil dan
tersalah? Dalil apa kelak yang akan bisa dia katakan kepada orang-orang fasik dan haus
darah, atau kepada mereka yang melanggar hukum apabila mereka juga mengatakan bahwa
mereka tersalah takwil?
Secara pribadi saya tidak percaya bahwa Abu Bakar melakukan takwil terhadap kasus Khalid
ini, yang dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai musuh Allah. Umar berpendapat bahwa
Khalid mesti dihukum bunuh karena dia telah membunuh seorang muslim, atau merajamnya
dengan batu karena telah berzina dengan Laila, istrinya Malik. Namun tidak satupun
tuntutan Umar tersebut terlaksana. Bahkan Khalid keluar sebagai pemenang atas dakwaan
Umar tersebut mengingat Abu Bakar berdiri membelanya, padahal beliau sangat mengetahui
Khalid lebih dari orang lain.
Para ahli sejarah telah mencatat bahwa Abu Bakar mengutus Khalid --setelah tragedi yang
memalukan itu-- ke al-Yamamah di mana dia kembali dengan kemenangan. Di sana Khalid
juga telah meniduri seorang perempuan sama seperti yang dia lakukan terhadap Laila
sebelumnya, sedangkan darah kaum muslimin dan darah pengikut-pengikut Musailamah
belum sempat kering. Abu Bakar marah sekali kepada Khalid lebih dari saat dia melakukan
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 179
hal serupa terhadap Laila.
Tidak diragukan lagi bahwa wanita kedua ini juga mempunyai suami. Kemudian dibunuh
oleh Khalid dan istrinya diperlakukannya seperti Laila istri Malik. Kalau tidak maka Abu
Bakar tidak akan memarahinya lebih keras dari waktu dia melakukannya terhadap Laila. Para
ahli sejarah mencatat teks surat yang diutus Abu Bakar kepada Khalid waktu itu: "Demi
nyawaku wahai putra ibunya Khalid. Sungguh engkau tidak melakukan apa-apa melainkan
menikahi perempuan saja, sedangkan di halaman rumahmu darah seribu dua ratus kaum
muslimin masih belum kering."94 Ketika Khalid membaca isi surat tersebut dia berkata: "Ini
pasti ulah si A'asar"; yakni Umar bin Khattab.
Inilah di antara sebab kuat kenapa saya tidak sebegitu memberikan sikap hormat pada
sahabat-sahabat seumpama itu, pengikut-pengikut mereka yang rela atas perbuatan mereka
dan yang membela mereka dengan begitu gigih hingga berani mentakwilkan nas-nas yang
jelas dan menciptakan berbagai riwayat yang khurafat. Semua ini untuk membenarkan
tindakan-tindakan Abu Bakar, Umar, Utsman, Khalid bin Walid, Muawiyah, A'mr bin A'sh
dan saudara-saudaranya yang lain.
Ya Allah, kumohon ampunan-Mu dan aku bertaubat pada-Mu. Ya Allah, aku mohon
lindungan-Mu dari segala perbuatan dan ucapan mereka yang menyalahi hukum-hukum-Mu,
menghalalkan hukum-hukum haram-Mu dan melampaui batas-batas-Mu. Ya Allah, aku
mohon lindungan-Mu dari pengikut-pengikut mereka, Syi'ah-Syi'ah mereka dan orang-orang
yang membantu mereka dengan penuh pengetahuan dan kesadaran. Ampunilah daku karena
dahulunya me-wila' mereka lantaran kejahilanku. Padahal Rasul-Mu telah bersabda: "Orang
jahil tidak akan dimaafkan karena kejahilannya."
Ya Allah, para leluhur itu telah menyesatkan kami dan telah mengulurkan tirai yang
menutupi kebenaran pada kami. Mereka telah gambarkan kepada kami para sahabat yang
berpaling dari kebenaran sebagai makhluk yang paling mulia setelah Nabi-Mu. Dan para
leluhur kami juga adalah korban penipuan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.
94 Tarikh Thabari jil.3hal.254; Tarikh al-Khamis jil. 3 hal. 343.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 180
Ya Allah, ampunkanlah mereka dan ampunkanlah kami. Sungguh Kau Maha Mengetahui
segala yang tersembunyi dan apa yang tersirat di balik dada. Cinta para leluhur dan
penghormatan mereka kepada sahabat-sahabat seumpama itu tidak lain kecuali bertolak dari
sangka-baik bahwa mereka adalah pembela-pembela serta pecinta-pecinta Rasul-Mu
Muhammad SAWW. Dan Kau Maha Tahu duhai Tuhanku akan rasa cinta mereka dan kami
pada itrah keluarga Nabi yang suci, para imam yang telah Kau bersihkan mereka dari segala
nista dan mensucikan mereka sesuci-sucinya. Terutama Pemuka kaum muslimin, Amir
Mukminin, Pemimpin Ghur al-Muhajjalin dan Imam Para Muttaqin, Sayyidina Ali bin Abi
Thalib.
Jadikanlah aku ya Allah di antara Syi'ah-Syi'ahnya dan di antara orang-orang yang
berpegang-teguh pada tali wila' mereka dan yang berjalan di atas jalan mereka. Jadikanlah
aku ya Allah di antara orang-orang yang bernaung di bawah naung-an mereka, dan di antara
orang-orang yang masuk dari pintu-pintu mereka, senantiasa mencintai mereka,
mengamalkan ucapan dan teladan mereka serta bersyukur atas kemurahan dan anugerah
mereka. Ya Allah, bangkitkanlah aku di dalam golongan mereka, karena Nabi-Mu SAWW
telah bersabda: "Seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya."
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 181
Hadits Bahtera
Bersabda Nabi SAWW: "Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baitku di sisi kalian bagaikan
bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang ikut selamat dan yang tertinggal akan
tenggelam."95
"Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baitku di sisi kalian bagaikan Pintu
Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia akan diampuni."96
Ibnu Hajar telah meriwayatkan hadis ini dalam kitabnya al-Shawaiq al-Muhriqah. Katanya:
"Dasar keserupaan mereka dengan bahtera (Nabi Nuh) menunjukkan bahwa siapa saja yang
mencintai mereka dan mengagung-agungkan mereka sebagai tanda terima kasih atas nikmat
kemuliaan mereka, serta ikut bimbingan ulama-ulama mereka, akan selamat dari kegelapan
perselisihan. Sementara mereka yang tidak ikut akan tenggelam di dalam lautan kekufuran
nikmat dan akan celaka dibawa arus kezaliman. Adapun alasan keserupaan mereka dengan
pintu pengampunan adalah Allah SWT telah tentukan bahwa masuk pintu itu --pintu Ariha
atau pintu Bait al-Muqaddis-- dengan sikap rendah hati dan mohon ampunan sebagai sebab
pengampunan-Nya (pada Bani Israel). Dan Allah juga telah menentukan bagi ummat ini
bahwa cinta pada Ahlu Bait Nabi adalah sebab terampuninya mereka."
Saya ingin bertanya pada Ibnu Hajar, apakah beliau di antara orang-orang yang ikut Bahtera
itu dan masuk Pintu Ampunan serta ikut bimbingan para ulama mereka? Atau beliau
termasuk dalam kategori orang-orang yang mengatakan sesuatu tapi tidak mengamalkannya
bahkan mengingkari apa yang dipercayainya. Tidak sedikit orang yang keliru ketika
kutanyakan pada mereka tentang Ahlu Bait. Mereka sering berkata: "Kamilah orang yang
lebih utama terhadap Ahlul Bait dan Imam Ali ketimbang yang lain. Kami menghormati
mereka dan menjunjung tinggi kedudukan mereka. Tiada siapa pun yang menginkari
keutamaan-keutamaan mereka."
95 Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 151; Yanabi' al-Mawaddah hal. 30,370; as-Shawa'iq al-Muhriqah hal. 184,234.
96 Lihat Is'afar-Raghibin danJami' as-Shagir.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 182
Ya, mereka telah katakan sesuatu yang tidak sama dengan isi hatinya; atau menghormati dan
menjunjung tinggi Ahlul Bait namun secara praktis tetap ikut dan taklid pada musuh-musuh
mereka atau pada orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka. Seringkali mereka
tidak kenal siapa itu Ahlul Bait. Dan jika kutanyakan, mereka menjawab secara spontan,
Ahlul Bait adalah istri-istri Nabi yang telah Allah bersihkan mereka dari nestapa dan
disucikan-Nya sesuci-sucinya. Sebagian yang lain berkata: "Semua Ahlu Sunnah Wal Jamaah
adalah pengikut Ahlul Bait." Aku terasa sangat heran. Bagaimana mungkin? Tanyaku. Mereka
menjawab: "Karena Nabi SAWW pernah bersabda, Ambillah separuh dari agama kalian pada
Hunwira' ini, yakni Aisyah. Nah, kami telah ambil separuh dari agama kami dari Ahlul Bait
Nabi." Katanya.
Dengan cara pandang seperti ini maka tidak sulit untuk kita memahami bagaimana mereka
menghormati dan menyanjung Ahlul Bait Nabi. Dan ketika kutanyakan pada mereka siapa itu
Imam Dua Belas, mereka hanya mengenal Ali, Hasan dan Husain saja. Itupun tanpa
pengakuan akan keimamahan (kepemimpinan) Hasan dan Husain. Mereka bahkan
mengagungkan Mu'awiyah bin Abi Sufyan yang telah meracuni Hasan sampai syahid
sedemikian rupa sampai mereka mengatakan bahwa Mu'awiyah adalah penulis wahyu.
Mereka juga menyanjung A'mr bin A'sh, dan dalam waktu yang sama juga hormat pada Ali
bin Abi Thalib.
Sungguh sikap seperti ini adalah sikap yang sepenuhnya kontradiktif dan peramuan antara
haq dan batil; suatu upaya untuk menutup-nutupi yang terang dengan kegelapan. Karena
bagaimana mungkin hati seorang mukmin dapat memadukan antara rasa cinta pada Allah
dan juga cinta pada setan. Allah SWT berfirman:
"Kamu tidak akan dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling
berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun
orang-orang itu adalah bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun
keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tanamkan keimanan dalam
hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya.
Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun merasa puas
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 183
terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa
sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung." (al-Mujadalah: 22)
Firman-Nya lagi: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil
musuhKu dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka
(berita-berita Muhammad) karena rasa kasih-sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah
ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..." (Al-Mumtahanah: 1)
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 184
Hadits: Siapa Yang Ingin Hidup Seperti Hidupku
Bersabda Nabi SAWW: "Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku,
tinggal di surga A'dn yang telah ditanam oleh Tuhanku maka jadikanlah Ali sebagai
Walinya sepeninggalku dan me-wila' walinya, serta ikut Ahlul Baitku yang datang
setelahku. Mereka adalah itrah keluargaku, diciptakan dari bagian tanahku dan
dilimpahkan kepahaman serta ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang telah
mendustakan keutamaan mereka dari ummatku, dan yang telah memutuskan tali
rahimnya dengan mereka. Kelak Allah tidak akan memberi mereka syafaatku
kepadanya."97
Hadis ini, seperti yang kita perhatikan, adalah terbilang di antara sejumlah hadis yang
gamblang dan tegas yang tak dapat ditakwilkan. Ia tidak memberi hak-pilih dan alternatif lain
kepada seorang muslim, bahkan menafikan dan menyangkal sebarang alasan. Apabila dia
tidak me-wila' Ali (menjadikannya sebagai wali atau pemimpin) dan tidak ikut itrah keluarga
Nabi maka dia akan diharamkan dari memperoleh syafaat datuk mereka, yakni Nabi SAWW.
Perlu kutegaskan di sini bahwa pada tahap pertama penelitianku, aku pernah meragukan
otentisitas dan kebenaran hadis ini. Terasa sangat berat untuk menerima hadis ini lantaran ia
menyirat suatu ancaman kepada mereka yang berseberangan dengan Ali dan keluarga Nabi.
Apalagi hadis ini sulit untuk ditakwil. Kemudian aku merasa agak ringan ketika kubaca
pendapat Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam kitabnya al-Ishabah. Antara lain beliau berkata:
"Dalam sanad hadis ini ada Yahya bin Ya'la al-Muharibi, seorang perawi yang lemah."
Pendapat Ibnu Hajar ini telah menghilangkan sebagian keberatan yang ada pada benakku.
Karena kupikir Yahya bin Ya'la al-Muharibilah yang pasti memalsukan hadis ini; dan
karenanya maka ia tidak dapat dipercaya.
Namun Allah SWT tetap ingin menunjukkan padaku sebuah kebenaran dengan sejelas-
97 Mustadrak al-Hakimjil. 3hal. 128; Jami' al-Kabir oleh Thabarani; Al-Isobah Oleh Ibnu Hajar al-Asqalini;
Kanzul Ummal jil. 6 hal. 155; Al-Manaqib oleh khawarizmi hal. 34; Yanabi al-Mawaddah hal. 149; Haliyah al-
Auliya'jil. 1 hal. 86; Tarikh Ibnu Asakir jil. 2 hal. 95.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 185
jelasnya. Suatu hari aku terbaca sebuah buku yang berjudul Munaqasyat Aqaidiyah Fi
Maqalat Ibrahim al-Jabhan98. Buku ini telah menyingkap kebenaran dengan begitu jelasnya.
Dikutipkan bahwa Yahya bin Ya'la al-Muharibi adalah di antara perawi-perawi yang tsiqah
(yang dipercaya) yang dipegang oleh Bukhori dan Muslim. Kemudian aku telusuri dan
kudapati bahwa Bukhori telah meriwayatkan hadis riwayat Yahya ini dalam bab Ghazwah al-
Hudaibiyah jilid III halaman 31. Muslim juga telah meriwayatkan hadis darinya dalam bab
al-Hudud jilid V halaman 119. Az-Zahabi sendiri --betapapun ketatnya dia-- menganggap
Yahya ini sebagai perawi yang dipercaya. Para imam al-Jarhu wa at-Ta'dil menganggapnya
sebagai tsiqah; bahkan Bukhori dan Muslim sendiri berhujjah dengan riwayatnya.
Nah, lalu kenapa pendustaan, pemutarbalikan fakta, dan tuduhan terhadap orang yang
terbilang tsiqah seperti itu bisa terjadi? Apakah karena dia telah menyingkap kebenaran
tentang wajib ikut Ahlul Bait, lalu Ibnu Hajar di kemudian hari mengecapnya sebagai seorang
perawi yang lemah dan tidak bisa dipercaya? Namun sayang. Ibnu Hajar seakan lupa bahwa
di kemudian hari ada sejumlah ulama yang pakar dan piawai yang akan menilai setiap
karyanya, kecil atau besar. Mereka akan menyingkapkan segala fanatisme dan kejahilannya
lantaran ikut cahaya nubuwwah dan berjalan di bawah bimbingan Ahlul Bait as.
Setelah itu aku mulai sadar bahwa ada sebagian ulama kita yang berupaya sungguh-sungguh
untuk menutupi kebenaran agar setiap masalah yang berkaitan dengan para sahabat dan
khulafa', yang menjadi pemimpin dan teladan mereka tidak terungkap. Itulah kenapa kadangkadang
mereka menakwilkan hadis-hadis shahih dan menafsirkannya dengan makna yang
tidak tepat; atau mendustakan hadis-hadis yang tidak sejalan dengan mazhab mereka walau
itu tertulis dalam buku-buku shahih dan diriwayatkan dengan sanad-sanad yang bisa
dipercaya. Mereka juga kadangkala menghapus setengah atau dua pertiga dari isi hadis lalu
menggantinya dengan kalimat begini dan begitu; atau meragukan para perawi yang tsiqah
lantaran ia meriwayatkan hadis-hadis yang tidak sejalan dengan kehendak mereka; atau
mengutip suatu hadis pada edisi pertama dari buku terbitannya, kemudian menghapusnya
pada cetak-ulang berikutnya tanpa memberi sedikitpun alasan betapapun para pemerhati
mengetahui sebab musababnya.
98 Manaqasyat Aqaidiyah Fi Maqalat Ibrahim al-Jabhan hal. 29.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 186
Semua ini telah kusaksikan sendiri ketika aku masih melakukan penelitian dalam mencari
sebuah kebenaran. Untuk ini aku mempunyai bukti-bukti yang tidak dapat dibantah
sedikitpun. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang sia-sia ini sekadar untuk
menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah berpaling itu. Hal ini karena ucapan-ucapan
mereka saling bertentangan dan bahkan tidak sesuai dengan fakta sejarah. Alangkah
indahnya apabila mereka mengikuti kebenaran walau ia pahit sekali pun. Dengannya mereka
akan berbahagia dan juga membahagiakan orang lain. Dan dengan demikian hal itu akan
menjadi sebab persatuan ummat yang telah bercerai-berai ini.
Sejumlah sahabat generasi pertama juga pernah tidak jujur dalam meriwayatkan hadis-hadis
Nabi SAWW. Mereka telah menafikan hadis-hadis yang tidak sejalan dengan kehendak nafsu
mereka, terutama apabila ia termasuk dalam kategori hadis-hadis wasiat yang diwasiatkan
oleh Nabi SAWW pada saat-saat menjelang wafatnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan
bahwa Rasulullah SAWW berwasiat akan tiga hal saat menjelang wafatnya: Pertama,
keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab. Kedua, berikan hadiah kepada delegasi seperti
yang biasa kulakukan. Kemudian si perawi berkata, "aku lupa isi wasiat yang ketiga."99
Apakah akal sehat dapat menerima bahwa para sahabat yang hadir dan mendengar tiga
wasiat Nabi itu tiba-tiba lupa pada isi wasiat yang ketiga, sementara mereka adalah orangorang
yang hafal syair-syair panjang seusai mendengarnya sekali saja? Sama sekali tidak.
Politiklah yang memaksa mereka melupakan isi wasiat itu dan enggan menyebutnya. Hal ini
merupakan rantaian musibah lain yang kita saksikan dari para sahabat seperti itu. Tidak syak
lagi bahwa isi wasiat yang "terlupa" itu adalah wasiat Nabi akan pelantikan Ali sebagai
khalifah dan imam sepeninggalnya. Namun si perawi enggan menyebutkannya.
Orang yang meneliti sejarah dan masalah-masalah seperti ini akan merasakan bahwa isi
wasiat yang diabaikan itu sebenarnya adalah pesan Nabi akan kepemimpinan Ali bin Abi
Thalib, walau diupayakan untuk disembunyikan. Bukhari dalam kitab Shahihnya bab al-
Washaya, dan Muslim dalam bab Al-Wasiyah meriwayatkan bahwa Nabi pernah berwasiat
99 Shahih Bukhori jil. 7 hal. 121; Shahih Muslim jil. 5 hal. 75.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 187
pada Ali di tengah kehadiran Aisyah100. Lihatlah betapa Allah pancarkan cahaya-Nya walau
orang-orang yang zalim berusaha untuk menutupinya.
Aku tegaskan lagi bahwa apabila sejumlah sahabat tidak tsiqah dalam meriwayatkan hadishadis
wasiat Nabi SAWW, maka tidak terlalu mengagetkan apabila sejumlah Tabiin dan Tabi'-
Tabi'in melakukan hal yang serupa.
Apabila Ummul Mukminin Aisyah, tidak senang mendengar nama Ali disebut-sebut, seperti
yang laporkan oleh Ibnu Sa'ad dalam Thabaqatnya101, dan Bukhari dalam kitab Shahihnya
Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan apabila Aisyah sujud syukur saat mendengar kematian Ali,
lalu harapan apa yang masih tersisa darinya untuk mau meriwayatkan hadis wasiat Nabi
untuk Ali bin Abi Thalib? Aisyah sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum akan sikap
permusuhan dan kebenciannya pada Ali, putera-puteranya serta itrah Ahlu Bait Nabi SAWW.
Fa la haula wala quwwata illa billa al-A'li al-A'zim.
100 Shahih Bukhori jil. 3 hal. 68; Shahih Muslim jil. 2 hal. 14.
101 Thabaqat Ibnu Saad Bag. 2 hal. 29.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 188
Musibah Kita: Ijtihad Versus Nash
Dari telaah dan penelitian, akhirnya dapat kusimpulkan bahwa musibah ummat Islam yang
sebenarnya adalah berasal dari "keberanian" sejumlah sahabat yang melakukan ijtihad
dihadapan nash-nash yang sangat jelas maknanya. Karena batas-batas hukum Allah
terlampaui dan Sunnah-Sunnah Nabi dilanggar, maka para ulama dan imam yang datang
setelah mereka mengambil qiyas dari ijtihad para sahabat; dan kadang-kadang menolak nash
Nabi --bahkan AlQuran-- apabila diasumsikan bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh
seorang sahabat. Saya tidak bermaksud memprovokasi atau melebih-lebihkan. Telah kita lihat
di atas betapa mereka mengingkari nash AlQur'an dan nash Nabi tentang tayamum, dan
berijtihad meninggalkan shalat semata-mata karena tidak menemukan air. Dan Abdullah bin
Umar telah menjustifikasikan ijtihadnya ini dengan cara yang kita sebutkan di atas.
Di antara sahabat awal yang membuka pintu ini sepeninggal Nabi adalah Khalifah Kedua,
dimana dia mengutamakan "ijtihadnya" atas nash-nash yang tak terbantah, sekalipun
bertentangan dengan nash Quran. Misalnya, beliau telah hentikan saham Muallaf --bagian
dari penerima harta zakat-- yang telah Allah wajibkan dalam AlQuran. Katanya: "kami tidak
lagi memerlukan kalian". Contoh ijtihadnya seperti ini tidak sedikit. Pada periode hayat
Rasulullah beliau juga pernah melakukan ijtihadnya, bahkan menantangnya beberapa kali. Di
atas telah kita contohkan pertentangannya dengan Nabi dalam masalah perdamaian
Hudaibiyah, dan bagaimana dia melarang Nabi menulis wasiat. Kata-katanya, "Cukuplah bagi
kita Kitab Allah" adalah sedikit dari sekian contoh yang bisa kita temukan dalam buku-buku
hadis.
Peristiwa lain yang mungkin akan memberikan kepada kita gambaran yang jelas tentang
pribadi Umar adalah sikapnya yang berani membantah dan menentang utusan Allah ini
dalam sebuah peristiwa yang populer dengan istilah "berita gembira perihal surga." Kala itu
Nabi mengutus Abu Hurairah dan berkata padanya: "Siapa saja yang kau jumpai
menyaksikan bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dengan penuh keyakinan, maka berilah berita
gembira akan sorga padanya. Abu Hurairah keluar untuk membawa berita gembira ini. Di
jalan beliau berjumpa dengan Umar. Umar melarangnya, bahkan memukulnya sampai jatuh.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 189
Abu Hurairah kembali menjumpai Rasulullah sambil menangis. Diberitahunya tentang apa
yang dilakukan Umar padanya. Nabi bertanya kepada Umar alasan apa yang menyebabkan ia
memper-lakukan Abu Hurairah sedemikian? Jawab Umar: Apakah Anda telah mengutusnya
untuk memberitahu kabar gembira kepada setiap orang yang mengatakan Lailaha Illallah
dengan penuh keyakinan? Ya, jawab Nabi. Lalu Umar menjawab: Jangan kau lakukan itu,
karena aku khawatir kelak orang-orang akan bersandar pada Lailaha Illallah saja!"
Demikian juga putranya, Abdullah bin Umar, yang khawatir orang-orang akan bersandar
pada hukum tayammum semata-mata. Karenanya dia perintahkan agar meninggalkan shalat
saja.
Bukankah lebih baik seandainya mereka biarkan nash-nash itu seperti apa adanya, dan tidak
merobah nash dengan ijtihad yang dangkal itu, yang menyebabkan terhapusnya syariah dan
terlanggarnya ketentuan-ketentuan Allah serta terpecahnya ummat ke dalam berbagai
mazhab, sekte dan aliran.
Dari rangkaian sikap Umar terhadap Nabi dan sunnahnya seperti itu dengan mudah dapat
dipahami bahwa beliau pada dasarnya tidak sehari pun pernah percaya bahwa sang Nabi
memiliki sifat ma'sum (tidak berdosa); bahkan beliau melihat bahwa Nabi adalah manusia
biasa yang bisa salah dan benar.
Dari sinilah kemudian timbul gagasan --mengikut versi ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah--
bahwa Nabi hanya ma'sum pada saat menyampaikan wahyu semata-mata. Selainnya beliau
sama dengan manusia biasa yang kadangkala juga melakukan kesalahan. Alasannya karena
Umar pernah mengkoreksi Nabi dalam sejumlah peristiwa.
Apabila Nabi SAWW --seperti yang diriwayatkan oleh sebagian orang yang jahil-- pernah
menerima tawaran setan di rumahnya, saat ketika beliau tengah berbaring di sana dan
(menonton) sejumlah wanita yang memukul gendang dengan setan yang tengah menari dan
bersuka-ria di sisinya, sampai kemudian Umar masuk, dan setan lari serta para wanita itu
juga menyembunyikan gendang-gendangnya kemudian Nabi berkata kepada Umar, begitu
setan melihatmu lewat di suatu jalan, dia melarikan diri ke jalan lain; apabila riwayat-riwayat
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 190
seperti itu (secara tidak kritis) kita terima, maka tidak sukar untuk kemudian menyatakan
bahwa Umar mempunyai 'hak pendapat' dalam urusan agama dan bahkan juga berhak untuk
menentang Nabi dalam urusan politik, dan hukum syariat sekalipun, seperti contoh di atas.
Sikap seperti ini kemudian melahirkan sekelompok sahabat --dipimpin oleh Umar bin
Khattab-- yang berani melakukan ijtihad di hadapan nash. Seperti yang kita saksikan di atas,
mereka mendukung pendapat Umar dalam Tragedi Hari Kamis, walau hal itu jelas-jelas
bertentangan dengan nash Nabi SAWW. Dan dari sini juga kita dapat simpulkan bahwa
mereka sebenarnya tidak bisa atau enggan menerima sabda Nabi pada peristiwa al-Ghadir,
ketika Nabi SAWW melantik Ali sebagai khalifah setelahnya. Dan sikap penolakan seperti ini
kemudian ditunjukkan lagi saat menjelang wafat baginda Nabi SAWW. Selain dari itu,
serangkaian peristiwa seperti perkumpulan di Balairung Saqifah Bani Saidah atau pemilihan
Abu Bakar sebagai Khalifah adalah di antara hasil dari ijtihad sejenis ini.
Ketika kekuasaan mereka semakin kokoh dan mayoritas orang telah lupa akan nash-nash
Nabi, terutama yang berkaitan dengan masalah kepemimpinan, kemudian mereka mulai
melakukan ijtihad-ijtihad lain yang mencakup hatta sebagian hukum dalam AlQuran. Mereka
telah abaikan beberapa hukum hudud dan mengubah sejumlah hukum yang lain.
Di antara ijtihad yang bertentangan dengan nash adalah tragedi Fatimah Az-Zahra', yang
dialaminya segera setelah hak khilafah suaminya dirampas. Kemudian tragedi pembunuhan
orang-orang muslimin yang konon "enggan" membayar zakat, pengangkatan Umar bin
Khattab sebagai khalifah oleh Abu Bakar berdasarkan ijtihad dengan pendapatnya sehingga
membatalkan konsep syura yang dahulu pernah dijadikannya sebagai alasan untuk
keabsahan khilafahnya. Kemudian, ketika Umar telah menjabat sebagai khalifah,
dihalalkannya apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya102 serta diharamkannya apa
yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya103. Ketika Utsman berkuasa pada zaman
berikutnya, beliau bahkan telah melakukan sesuatu yang jauh lebih "radikal" dari dua
102 Seperti perkara talak tiga. Lihat Shahih Muslim Bab Talak tiga. Juga Lihat Sunan Abi Daud jil. 1 hal. 344
103 Seperti perkara mengenai larangan atas Mut'ah Haji dan Mut'ah Wanita. Lihat Shahih Muslim Bab Haji dan
Bukhori bab Tamattu'
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 191
khalifah sebelumnya, sehingga ijtihadnya telah banyak mempengaruhi kehidupan politik dan
agama secara luas. Hal itulah yang kemudian berakibat munculnya suatu revolusi
menentangnya hingga beliau terbunuh akibat ijtihadnya itu.
Ketika Imam Ali memegang kekuasaan dan menjabat sebagai khalifah, beliau mendapatkan
kesulitan yang tidak kecil dalam mengembalikan kaum muslimin kepada sunnah Nabi dan
AlQuran. Beliau telah berusaha sungguh-sungguh untuk menghilangkan segala jenis bid'ah
yang telah dimasukkan ke dalam agama. Namun sebagian sahabat berteriak: sunnah Umar,
sunnah Umar!
Saya yakin bahwa orang-orang yang memerangi Imam Ali dan yang menentangnya
mendapati semata-mata karena Ali as berupaya untuk mengembalikan mereka kepada jalan
yang benar dan kepada nash-nash yang shahih, sembari mematikan segala bid'ah dan ijtihad
yang telah dinisbahkan pada agama sepanjang seperempat abad. Bid'ah-bid'ah tersebut telah
sedemikian rupa mendarah daging dalam diri mayoritas publik terutama mereka yang
mengejar hawa nafsu dan ketamakan dunia; yang telah menyalahgunakan harta Allah dan
memperhambakan hamba-hamba-Nya; yang telah memanipulasi emas dan perak; dan yang
mengharamkan orang-orang lemah dari memperoleh hak-hak mereka yang telah ditentukan
oleh Allah.
Kadang-kala kita dapati bahwa para mustakbirin di setiap zaman sering cenderung
melakukan "ijtihad", karena dengannya ia punya alasan untuk dapat sampai pada citacitanya.
Sementara nash-nash yang ada dianggap sebagai unsur yang akan menghambat citacita
itu dan bahkan menghalanginya. Ijtihad juga memperoleh dukungan di setiap masa dan
tempat, dari golongan orang-orang yang lemah sekali pun. Hal ini karena ia mudah
dipraktekkan dan tidak memiliki suatu komitmen yang tegas. Berbeda dengan nash. la
memiliki suatu ketegasan dan keterikatan. Para politikus kadang-kadang menamakannya
dengan istilah hukum teokrasi, yang bermakna hukum Allah, dan ijtihad karena menyimpan
suatu kebebasan dan non-komitmen, mungkin diistilahkan dengan hukum demokrasi, yakni
kuasa rakyat.
Mereka yang berkumpul di saqifah setelah wafatnya Nabi SAWW telah menghapuskan
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 192
kekuasaan teokrasi yang telah dibangun oleh Nabi berdasarkan nas-nas AlQuran, dan
menggantikannya dengan kekuasaan demokrasi yang dipilih oleh "rakyat", untuk memilih
pemimpin yang dianggapnya layak untuk memimpin. Namun para sahabat waktu itu belum
mengenal istilah demokrasi, karena ia bukan bahasa Arab. Yang mereka ketahui hanyalah
konsep Syura.
Mereka yang enggan menerima keberadaan nash dalam masalah khilafah saat ini, adalah
pendukung-pendukung demokrasi. Mereka sangat bangga dengan predikat ini. Mereka
mengklaim bahwa Islam adalah agama pertama yang melaksanakan konsep demokrasi.
Mereka adalah pendukung-pendukung ijtihad dan pembaharuan, yang saat ini dekat dengan
konsep-konsep barat. Itulah mengapa hari ini kita mendengar keberpihakan dunia barat
kepada mereka dan menamakan mereka sebagai kaum muslimin yang modernis dan toleran.
Syi'ah adalah pendukung-pendukung teokrasi, atau kekuasaan Allah. Mereka menolak ijtihad
yang bertentangan dengan nash yang memisahkan antara kekuasaan Allah dan konsep syuro.
Bagi mereka, syuro tidak ada kaitannya sama sekali dengan nash. Syuro dan ijtihad bisa
dilakukan dalam sejumlah hal yang tidak memuat nash di dalamnya. Bukankah Anda
saksikan bahwa Allah SWT yang telah memilih Rasul-Nya Muhammad SAWW. Tetapi Dia
juga berfirman: "Dan musyawarahilah mereka dalam urusan itu (3: 159). Adapun berkaitan
dengan pemilihan kepemimpinan yang akan memimpin manusia, Allah berfirman: "Dan
Tuhanmu menciptakan apa Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan
bagi mereka. (28: 68)
Ketika Syi'ah menyatakan bahwa Ali adalah khalifah setelah Nabi SAWW, hal ini karena
mereka berpegang pada nash. Dan ketika mereka mencela sebagian sahabat, yang dicela
adalah mereka yang telah menggantikan nash-nash dengan ijtihad, lalu mereka sia-siakan
hukum Allah dan Rasul-Nya serta melukai agama Islam yang sampai sekarang belum
terobati.
Itulah kenapa dunia barat dan para pemikirnya berupaya mendiskreditkan Syi'ah dan
menamakannya sebagai mazhab yang fanatik dan reaksioner. Hal ini karena mereka ingin
kembali kepada AlQuran yang menghukum potong tangan terhadap pencuri, merajam si
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 193
pezina dan memerintahkan berjihad di jalan Allah SWT. Bagi dunia barat semua ini identik
dengan barbarism dan kebrutalan.
Dari telaah dan kajian ini dapat juga kupahami mengapa sebagian ulama Ahlu Sunnah Wal
Jamaah menutup pintu ijtihad sejak kurun kedua Hijriah. Mungkin karena ijtihad serupa itu
telah dan akan mengakibatkan malapetaka bahkan pertumpahan darah yang tidak sedikit
atas ummat ini. Ijtihad seperti itu telah merobah ummat yang terbaik ini menjadi ummat
yang saling berperang dan saling berselisih.
Adapun Syi'ah. Mereka masih membuka pintu ijtihad selagi nash-nashnya ada. Tiada
siapapun yang bisa mengubahnya. Dan mereka dibantu dengan wujud dua belas imam yang
mewarisi ilmu datuknya, yakni Nabi SAWW. Mereka berkata bahwa semua permasalahan ada
hukumnya di sisi Allah, dan telah dijelaskan oleh Nabi SAWW.
Kita juga dapat memahami kenapa Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang bertaklid kepada para
sahabat yang 'mujtahidin', dan yang melarang penulisan sunnah Nabi SAWW, akhirnya
terpaksa melakukan ijtihad dengan ra'yu atau qiyas atau istishab atau sad bab dzara-i' dan
sebagainya ketika tidak menjumpai nash-nash nabi. Dan kita juga dapat memahami kenapa
orang-orang Syi'ah yang duduk di sekitar Ali, seseorang yang dikatakan sebagai Pintu Kota
Ilmu dan pernah berkata, "Tanyakan aku segala sesuatu, karena Nabi telah mengajarku
seribu bab ilmu dan setiap bab dapat membuka seribu bab yang lain"104 tidak seperti itu.
Orang-orang non-Syi'ah sering berada di seputar lingkaran Muawiyah bin Abi Sufyan yang
memiliki pengetahuan tentang sunnah Nabi dalam kadar yang sangat sedikit sekali.
Pemimpin kelompok yang baghi (zalim) ini akhirnya menjadi "Amir al-Mukminin" setelah
syahadah Imam Ali as. Kemudian dia mulai campur-adukkan agama Allah dengan
pendapatnya lebih dari orang-orang sebelumnya. Ahlu Sunnah menganggapnya sebagai
Penulis Wahyu, dan di antara ulama yang mujtahid. Bagaimana mereka mengatakan bahwa
itu adalah ijtihad sedangkan dialah yang telah racuni Hasan bin Ali sampai mati. Padahal,
seperti sabda Nabi, Hasan adalah pemuka pemuda surga. Mungkin para pembela Muawiyah
104 Tarikh Ibnu Asakir jil. 2 hal. 484; Maqtal Husain oleh Khawarizmi jil. 1 hal. 38 Al-Ghadir oleh al-Amini jil. 3
hal. 120.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 194
akan segera menampik bahwa itu adalah di antara ijtihadnya yang tersalah (dan karenanya
dapat satu pahala).
Bagaimana mereka katakan bahwa itu adalah ijtihad, padahal dia telah ambil bai'at dari
ummat secara paksa, baik untuk dirinya sendiri atau untuk putranya Yazid. Dia juga telah
ubah prinsip 'syuro' dengan prinsip monarki dan kerajaan. Bagaimana mereka katakan bahwa
itu adalah ijtihadnya bahkan memberinya satu pahala, padahal dialah yang memerintahkan
kaum muslimin untuk melaknat Ali dan keluarga Nabi yang lain dari atas mimbar sehingga
menjadi sebuah tradisi Bani Umawiyah sepanjang enam puluh tahunan.
Bagaimana mereka menamakan Muawiyah sebagai Penulis Wahyu, sementara wahyu sendiri
turun kepada Nabi SAWW sepanjang dua puluh tiga tahun dan sebelas tahunnya Mu'awiyah
masih dalam keadaan syirik. Ketika beliau masuk Islam, kita tidak dapati satu riwayat pun
mengatakan bahwa Muawiyah tinggal di Madinah, sementara Nabi SAWW tidak pernah
tinggal di Mekah setelah Fathu Makkah. Darimana Muawiyah dapat menyandang gelar
Penulis Wahyu tersebut? La Haula Wala Quwwata Illa Billa Al-'Ali Al-'Azim.
Pertanyaan yang terus menggugat adalah, mana kelompok yang benar dan mana yang batil?
Apakah Ali dan Syi'ahnya adalah orang-orang yang zalim dan batil ataukah Muawiyah dan
pengikut-pengikutnya?
Sebenarnya Rasulullah SAWW telah menjelaskan segala sesuatunya secara sempurna. Namun
sebagian orang yang mengklaim diri mereka sebagai Ahlu Sunnah telah menafsirkannya
secara salah. Sepanjang telaah dan kajianku (dan pembelaanku dahulunya terhadap
Muawiyah) kudapati bahwa mereka sebenarnya bukan pengikut sunnah, tetapi pengikut
Muawiyah dan Bani Umaiyah; khususnya setelah kukaji secara teliti sikap-sikap mereka yang
membenci Syi'ahnya Ali dan ikut bergembira pada hari Asyuro, atau membela para sahabat
yang pernah mengganggu Rasulullah SAWW dalam masa hayatnya dan setelah wafatnya.
Mereka tetap menjustifikasi kesalahan para sahabat seperti itu dan terus berupaya untuk
membenarkan tindakan-tindakannya.
Coba Anda renungkan, bagaimana mungkin Anda mencintai Ali dan Ahlul Bait Nabi
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 195
sementara dalam masa yang sama Anda juga mencintai dan rela pada musuh-musuh serta
para pembunuhnya? Bagaimana mungkin Anda mencintai Allah dan Rasul-Nya sementara
dalam waktu yang sama Anda juga membela mereka yang merobah-robah hukum Allah dan
Rasul-Nya serta berijtihad dan menakwilkan dengan pendapatnya segala apa yang ada dalam
hukum-hukum Allah? Bagaimana mungkin Anda bisa menghormati seseorang yang tidak
menghormati Rasulullah, bahkan menuduhnya dengan kata-kata 'pikun' saat beliau ingin
melantik penggantinya? Bagaimana mungkin Anda mematuhi para pemimpin yang dilantik
oleh Bani Umawiyah atau Bani Abbasiah lalu mening-galkan para imam yang telah dilantik
oleh Rasulullah SAWW lengkap dengan jumlah105 dan nama-nama mereka106. Bagaimana
mungkin Anda mematuhi orang-orang yang tidak mengenal Nabi dengan baik lalu
meninggalkan "Pintu Kota Ilmu" atau seseorang yang seumpama Harun di sisi Musa?
Siapa yang pertama kali menciptakan istilah Ahlu Sunnah Wal Jamaah? Saya juga coba
menelitinya dalam sejarah, tetapi tidak kudapati sebuah jawaban yang memuaskan. Yang ada
hanya berupa sebuah kesepakatan untuk menamakan tahun pengambilalihan kekuasaan oleh
Muawiyah sebagai Tahun Jama'ah. Karena saat itu ummat Islam terbagi kepada dua
kelompok: pengikut Ali dan pengikut Muawiyah. Ketika Imam Ali syahid dan Muawiyah
mengambil alih kekuasaan setelah perdamaian dengan Imam Hasan, maka Muawiyah
dijadikan sebagai "Amir al-Mukminin". Tahun pengangkatan itu dinamakan sebagai Tahun
Jama'ah.
Nah, dengan demikian penamaan Ahlu Sunnah wal Jama'ah sebenarnya menunjukkan
identitas pengikut sunnah Muawiyah dan sepakat menerimanya sebagai pemimpin bukan
pengikut sunnah Rasulullah SAWW. Para Imam keturunan Nabi dan Ahlul Baitnya lebih tahu
tentang sunnah datuknya ketimbang para bekas-tawanan perang (Fathu Makkah) itu.
Pepatah mengatakan bahwa si tuan rumah lebih tahu akan isi rumah tangganya ketimbang
orang lain dan penduduk Mekkah lebih tahu akan seluk beluk negerinya ketimbang penduduk
lain. Namun sayangnya kita telah abaikan dua belas imam yang telah disabdakan oleh Nabi
105 Shahih Bukhori jil. 4 hal. 164; Shahih Muslim hal.119
106Yanabi al-Mawaddah oleh al-Qunduzi al-Hanafi.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 196
SAWW itu dan kita ikut para musuh mereka.
Walaupun kita mengakui keabsahan hadits yang memaparkan dua belas imam sepeninggal
Nabi, yang kesemuanya adalah berketurunan Quraisy namun kita selalu terhenti pada empat
khalifah saja. Hal ini mungkin karena Muawiyah yang telah menamakan kita sebagai Ahlu
Sunnah wal Jamaah bermaksud agar kita sepakat pada sunnahnya dalam mencaci Ali dan
Ahlul Bait Nabi yang telah dilakukannya sepanjang enam puluh tahunan. Hanya Umar bin
Abdul Aziz ra sajalah yang mampu menghilangkan sunnah yang buruk ini. Sebagian ahli
sejarah mengatakan bahwa sekelompok dari Bani Umawiyah berplot untuk membunuhnya,
walau ia berasal dari kalangan keluarga yang sama. Hal ini semata-mata karena beliau telah
mematikan sunnah mereka, yakni melaknat Ali bin Abi Thalib .
Wahai sahabat-sahabatku, marilah kita cari kebenaran di bawah bimbingan Allah SWT.
Buanglah jauh-jauh segala jenis fanatisme buta. Kita adalah korban Bani Abbasiyah, korban
sejarah yang gelap, korban kejumudan berpikir yang dipaksakan oleh generasi sebelum kita.
Tidak syak lagi kita juga adalah korban makar perbuatan Muawiyah, A'mr bin A'sh, Mughirah
bin Syu'bah dan sejenisnya.
Telitilah sejarah Islam agar dapat kita temukan kebenaran, dan Allah akan melipat gandakan
pahalaNya kepada kita. Semoga Allah menyatu-padukan ummat yang telah bercerai-berai
sepeninggal NabiNya ini dan yang telah terpecah menjadi tujuh puluh tiga kelompok. Marilah
kita bersatu-padu di bawah bendera Lailaha Illallah Muhammadur Rasulullah, dan patuh
pada Ahlul Bait Nabi yang telah diperintahkan oleh Rasulullah untuk diikuti. Nabi bersabda:
"Jangan kalian lewati mereka, kelak kalian akan celaka, dan jangan ketinggalan dari
mereka, karena kelak kalian (juga) akan celaka, dan jangan ajari mereka karena mereka
lebih tahu dari kalian."107
Apabila kita amalkan wasiat Nabi ini maka Allah pasti akan angkat murkaNya dari kita, akan
menggantikan rasa takut kita dengan kedamaian, menjadikan kita di bumiNya ini sebagai
khalifah-khalifahNya serta mendatangkan untuk kita makhluk pilihanNya, yakni Imam
107 Ad-Dur al-Mantsur oleh Suyuthi jil. 2 hal. 60; Usud al-Ghabah jil. 3 hal. 137; as-Shawa'iq al-Muhriqah hal.
148,226; Yanabi' al-Mawaddah hal. 41,335; Kanzul Ummal jil. 1 hal. 168 Maima az-Zawaid jil. 9 hal. 163.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 197
Mahdi as. Nabi SAWW pernah berjanji bahwa Mahdi akan datang ke dunia ini membawa
keadilan setelah ia dicemari penuh kezaliman.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 198
Mendapat Teman Diskusi
Perubahan itu adalah bermulanya suatu kegembiraan jiwa. Mulai kurasakan jiwa yang tenang
dan dada yang lapang atas mazhab hak yang kutemukan ini; atau katakanlah agama Islam
yang tulen yang tiada keragu-raguan sama sekali. Aku sungguh berbahagia dan bangga atas
nikmat, petunjuk dan bimbingan yang Allah limpahkan kepadaku. Dan aku tak dapat berdiam
diri atau menyembunyikan apa yang tengah bergolak di dadaku. Kukatakan kepada diriku:
aku mesti ungkapkan kebenaran ini kepada orang-orang lain juga. Firman Allah: "Adapun
tentang nikmat Tuhanmu maka ucapkanlah." Sementara, ini adalah nikmat yang paling
agung di dunia dan di akherat. "Orang yang diam atas kebenaran adalah setan yang bisu", dan
tiada sesuatu selain dari yang haq melainkan kesesatan semata-mata.
Yang menambah keyakinanku lagi untuk menyebarkan kebenaran ini adalah kedudukan Ahlu
Sunnah Wal Jama'ah yang tak berdosa itu. Mereka mencintai Rasulullah dan Ahlul Baitnya.
Bagi mereka cukup dihilangkan tabir yang telah ditenun oleh sejarah saja, agar mereka ikut
yang haq. Dan ini berlaku pada diriku sendiri. Allah berfirman: "Begitu jugalah keadaan
kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatnya atas kamu, maka telitilah..." (QS:
an-Nisa': 94)
Suatu hari aku memangggil empat temanku yang sama-sama mengajar di Akademi. Dua dari
mereka mengajar subjek pendidikan agama, yang satu lagi mengajar subjek Bahasa Arab, dan
yang terakhir guru dalam bidang falsafah Islam. Mereka bukan dari Qafsah, tetapi dari Tunis,
Jammal dan Soseh. Aku ajak mereka untuk sama-sama mengkaji subjek yang penting ini. Aku
beritahu mereka bahwa aku tidak mampu memahami sebagian makna (nash), dan ragu-ragu
dalam sebagian masalah. Mereka pun menerima tawaranku dan bersedia untuk datang ke
rumah setelah jam kerja.
Aku biarkan mereka membaca kitab al-Muraja'at (Dialog Sunnah Syi'ah) dimana
pengarangnya menulis berbagai perkara yang aneh dan asing di dalam agama. Tiga dari
mereka telah menghabiskan buku itu, dan yang satu lagi, guru yang mengajar subjek bahasa
Arab, telah menarik diri setelah hadir empat atau lima majlis yang kami adakan itu. Beliau
berkata: orang-orang barat kini telah sampai ke bulan, sementara kalian masih membahas
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 199
tentang perkara Khilafiah di dalam Islam.
Setelah satu bulan mengkaji, tiga dari mereka kemudian ikut mazhab Syi'ah ini. Dan aku telah
banyak membantu mereka untuk dapat sampai pada kebenaran ini dari jalan yang paling
dekat, mengingat kajianku yang bertahun-tahun itu telah memberiku pengetahuan yang
cukup banyak dalam bidang ini.
Aku rasakan betapa manisnya hidayat Allah. Aku sangat optimis dengan masa depan mazhab
ini. Setiap kali aku ajak teman-teman baik yang dari Qafsah, atau yang hadir di majlismajlisku
di masjid, atau yang mempunyai hubungan denganku karena tarekat sufi, sebagian
murid-muridku yang sering menemaniku, alhamdulillah semua mereka menyahuti ajakanku.
Sehingga dalam masa satu tahun saja Alhamdulillah bilangan kami yang mewila' (ikut) Ahlul
Bait cukup banyak. Kami mewila' kepada mereka yang mewila' Ahlul Bait, dan memusuhi
mereka yang memusuhi Ahlul Bait. Kami bergembira di hari-hari raya mereka, sebagaimana
kami juga bersedih di hari-hari A'syura dan mengadakan majlis-majlis takziyah.
Surat pertamaku yang membawa berita kesyia'hanku kepada Sayed Al-Khui dan Sayed
Muhammad Baqir As-Sadr adalah suratku dalam rangka hari raya Aidul Ghadir. Waktu itu
untuk pertama kalinya kami merayakan hari itu di Qafsah. Perkara kesyia'hanku dan
aktifitasku mengajak orang ikut mazhab Syi'ah keluarga Rasul ini telah diketahui oleh
kalangan khusus dan umum. Maka mulailah berbagai tuduhan dan gunjingan dilemparkan
kepadaku. Mereka bilang aku adalah mata-mata Israel yang bekerja menggoyangkan agama
masyarakat; aku mencaci sahabat dan sumber fitnah serta lain sebagainya.
Di ibu kota Tunisia aku menghubungi dua temanku Rasyid al-Ghannusyi dan Abdul Fattah
Moro. Penentangan mereka terhadapku sangat keras sekali. Di dalam suatu diskusi kami di
rumah Abdul Fattah, aku berkata bahwa sudah sewajarnya kita sebagai kaum muslimin
merujuk kitab-kitab kita dan mengkaji ulang sejarah kita. Aku contohkan kitab Shahih
Bukhari yang memuat berbagai perkara yang bertentangan dengan akal dan agama. Tiba-tiba
saja emosi mereka melonjak sambil berkata kepadaku: siapa Anda sehingga boleh mengkritik
Bukhari? Aku berusaha dengan berbagai upaya untuk meyakinkan mereka supaya dapat
membahas berbagai perkara. Tetapi mereka menolak dan berkata: jika Anda telah ikut Syi'ah
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 200
maka jangan Syia'hkan kami. Kami mengemban sesuatu yang lebih penting dari itu, yakni
menentang pemerintahan yang tidak melaksanakan Islam. Aku bertanya apa faedahnya jika
kalian dapat berkuasa. Mungkin kalian akan melakukan sesuatu yang lebih dari mereka selagi
kalian tidak mengetahui kebenaran Islam ini. Bagaimanapun pertemuan kami itu berakhir
dengan rasa saling jengkel.
Setelah itu bertambahlah tuduhan dan gunjingan terhadap kami dari pihak sebagian pengikut
Ikhwanul Muslimin yang waktu itu belum kenal dengan Harakah al-Ittijah al-Islami. Mereka
sebarkan fitnah mengatakan yang aku adalah agen pemerintah yang bekerja memporakporandakan
agama kaum muslimin, sehingga mereka lupa akan perjuangan pokok mereka:
menentang pemerintahan.
Mulailah aku mengasingkan diri dari pemuda-pemuda yang aktif di Ikhwanul Muslimin dan
dari syaikh-syaikh yang ikut tarekat sufi. Dalam masa tertentu akhirnya kami hidup terasing
di sekitar kampung kami dan di sekitar saudara-saudara kami sendiri. Tetapi Allah SWT
akhirnya menggantikan kepada kami orang-orang yang lebih baik dari mereka. Sebagian
pemuda dari berbagai kota datang kepada kami dan bertanya tentang kebenaran ini. Aku
berusaha sebaik mungkin menjawab pertanyaan mereka sehingga sejumlah mereka dari ibu
kota, Qairawan, Souseh,dan Sayyidi Buzeid ikut mazhab yang benar ini.
Di dalam perjalananku ke Irak di suatu musim panas, aku transit ke Eropa. Di sana aku
berjumpa dengan sebagian teman kami di Perancis dan Belanda. Di sana juga kami diskusi
tentang perkara ini sehingga mereka memperoleh hidayah Allah ini. Alhamdulillah atas
semua ini.
Betapa gembiranya hatiku ketika berjumpa dengan Sayed Muhammad Baqir As-Sadr di Najaf
al-Asyraf. Waktu itu sekumpulan ulama berada di sekelilingnya. Sayed Sadr
memperkenalkanku kepada mereka dan mengatakan bahwa aku adalah benih Ahlul Bait Nabi
di Tunisia. Beliau juga bercerita bahwa beliau menangis terharu ketika membaca suratku
yang membawa berita tentang perayaan kami akan Aidul Ghadir untuk pertama kalinya; serta
keluhanku akan berbagai derita, tuduhan dan gunjingan yang dilemparkan kepada kami di
Tunisia.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 201
Sayed berkata antara lain: "Hendaknya Anda tanggung semua derita ini, karena jalan Ahlul
Bait sukar dan sulit. Pernah seorang datang kepada Nabi dan berkata: "Ya Rasulullah aku
mencintaimu" Rasulullah menjawab: "Maka bersiap-siaplah engkau dengan banyaknya
ujian." Katanya lagi: "Aku juga mencintai anak pamanmu Ali." Rasulullah menjawab: "Maka
bersiap-siaplah akan banyaknya musuh." Katanya lagi: "Aku mencintai Hasan dan Husain."
Jawab Nabi: "Maka bersiap-siaplah akan kefakiran dan banyaknya ujian." Apa yang telah kita
berikan di dalam menyeru jalan kebenaran ini, dibandingkan Abu Abdillah Husain as yang
telah mengorbankan nyawanya, keluarganya dan anak keturunannya serta sahabatsahabatnya
demi agama Allah. Begitu juga Syi'ahnya di sepanjang sejarah dan sehingga kini
masih terus membayar dengan harga yang mahal lantaran wila' mereka kepada Ahlul Bait.
Maka sudah semestinya, ya akhi, menanggung sedikit kesusahan dan pengorbanan di dalam
jalan yang hak ini. Kalau seseorang mendapatkan hidayah Allah lantaran usahamu maka itu
lebih baik bagimu dari dunia dan seisinya."
Sayed Sadr juga menasehatiku agar tidak mengisolir diri dan bahkan lebih mendekat pada
saudara-saudaraku Ahlu Sunnah setiap kali mereka berusaha menjauhiku. Beliau juga
menyuruhku agar sembahyang di belakang mereka sehingga tidak terputus tali hubungan
antara sesama, mengingat mereka adalah orang-orang yang tak berdosa. Mereka adalah
korban sejarah dan propaganda murahan. Dan manusia adalah musuh kejahilan.
Sayed Khui juga menasehatiku hampir sama. Begitu juga Sayed Muhammad Ali Thabathabai
al-Hakim yang senantiasa menyurati kami dengan nasehat-nasehatnya yang banyak dan
membimbing perjalanan saudara-saudara Syi'ah kami di sana.
Begitulah akhirnya aku seringkali berziarah ke Najaf al-Asyraf dan mengunjungi ulama-ulama
di sana di dalam berbagai kesempatan. Aku berazam untuk menggunakan masa cuti musim
panasku setiap tahun di "pangkuan" Imam Ali, serta menghadiri pelajaran-pelajaran Sayed
Muhammad Baqir As-Sadr yang sangat bermanfaat bagiku. Aku juga berniat untuk
menziarahi tempat-tempat suci Imam dua belas. Dan Allah telah sampaikan cita-citaku itu
sampai makam Imam Ridha sekalipun yang terletak di Masyhad, suatu negeri yang
berhampiran dengan perbatasan Rusia dan Iran. Di sana juga aku berkenalan dengan
berbagai ulama yang agung sambil belajar banyak dari mereka.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 202
Sayed Khui, marja' yang kami taklid, juga memberiku izin untuk menggunakan uang khumus
dan zakat yang kami terima, serta menggunakannya untuk kepentingan Syi'ah-Syi'ah yang
ada di sekitar kami seperti keperluan buku dan sebagainya. Di sana aku juga telah mendirikan
suatu perpustakaan yang mengoleksi berbagai buku referensi dan buku-buku lain dari kedua
mazhab. Nama perpustakaan itu adalah Perpustakaan Ahlul Bait as. Dan Alhamdulillah telah
banyak menyumbangkan faedah untuk masyarakat yang lebih luas.
Allah juga telah menambah kegembiraan dan kebahagiaan kami berlipat ganda. Sekitar lima
belas tahun yang lalu, Allah telah takdirkan nama jalan tempat tinggalku sebagai Jalan Imam
Ali Bin Abi Thalib as. Nama jalan ini telah disetujui oleh ketua kampung Qafsah. Tak lupa
kuucapkan rasa terima kasihku pada ketua kampung itu, seorang yang cukup kuat berpegang
pada agama dan memiliki rasa cinta yang dalam terhadap Imam Ali as. Kuberikan padanya
kitab al-Muraja'at (Dialog Sunnah Syi'ah) yang kemudian dia tunjukkan rasa cintanya dan
sikap hormatnya yang lebih dalam terhadap kami. Semoga Allah membalas kebaikannya ini
dengan setimpal dan mengabulkan apa yang dicita-citakannya.
Sebagian orang yang menaruh rasa dendam berusaha merubah nama jalan itu, namun Allah
menginginkannya tetap ada dan kekal. Begitulah sehingga surat-surat yang datang kepada
kami dari segenap penjuru dunia menggunakan nama jalan Imam Ali bin Abi Thalib as, yang
karena namanya maka kota kami yang indah dan nyaman terberkati.
Berpandukan pada nasehat-nasehat para Imam Ahlul Bait as dan ulama-ulama di Najaf, kami
senantiasa mendekat pada saudara-saudara kami dari berbagai mazhab yang lain. Kami juga
ikut sembahyang berjamaah bersama mereka. Dengan itu maka ketegangan terasa lebih reda,
dan kami juga berhasil meyakinkan sebagian pemuda di sekitar kami tentang akidah, cara
wudhu' dan shalat kami.

Petunjuk Kebenaran
Di sebuah desa selatan Tunisia, saat berlangsungnya sebuah kenduri, wanita-wanita yang
hadir tengah asyik membicarakan tentang seorang istri dari suami si Fulan. Seorang wanita
tua yang hadir sangat terkejut mendengar berita perkawinan dua orang ini. Ketika ditanya
kenapa dia terkejut, jawabnya bahwa suami istri tersebut sebenarnya pernah menyusu
darinya, dan mereka adalah kakak adik dari satu ibu susu.
Berita besar ini dibawa pulang oleh wanita-wanita yang hadir kepada suami masing-masing.
Kaum laki-laki yang ada di sekitar ingin membuktikan kebenaran berita ini. Akhirnya ayah si
perempuan menyaksikan bahwa anak perempuannya memang pernah menyusu dari ibu susu
yang terkenal ini, sebagaimana ayah si lelaki ini juga menyaksikan tentang kebenaran katakata
si ibu tua ini. Akibatnya dua suku ini berperang dengan tongkat dan kayu. Masingmasing
menuduh yang lain sebagai sebab musibah yang akan menyebabkan turunnya
bencana dari Allah. Apalagi perkawinan itu telah berusia sepuluh tahun dan telah
membuahkan tiga anak.
Mendengar berita ini si istri lari ke rumah ayahnya. Dia tidak mau makan dan minum.
Bahkan dia berusaha bunuh diri lantaran tidak tahan menerima "bencana" yang sangat besar
itu. Bagaimana mungkin dia dapat melihat kenyataan bahwa suaminya adalah saudaranya
sendiri, dan bahkan kini telah melahirkan anak-anak. Bilangan korban yang luka berjatuhan
di kedua belah pihak, hinggalah seorang tua yang disegani menghentikan peperangan dan
menasehati mereka agar menanyakan para alim-ulama tentang hukumnya dan mencari jalan
keluar.
Mereka pergi ke kota-kota besar yang berhampiran menanyakan para ulamanya tentang jalan
keluar dari problema ini. Setiap kali mereka bertanya, jawaban mereka adalah perkawinan
tersebut adalah haram dan suami istri wajib dipisahkan seumur hidup. Mereka juga wajib
membayar fidyah dengan membebaskan hamba sahaya atau puasa dua bulan berturut-turut;
dan fatwa-fatwa sejenisnya.
Mereka juga pergi ke Qafsah dan menanyakan perkara tersebut kepada para alim ulamanya.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 204
Namun jawaban mereka tetap senada. Mengingat ulama-ulama mazhab Maliki
menghukumkan muhrim pada setiap anak susuan walau sekedar satu tetes sekalipun,
berdasarkan pendapat Imam Malik yang mengkiaskan air susu dengan arak. Dalam hukum
arak dikatakan bahwa "jika banyaknya memabukkan maka sedikitnya juga haram". Dengan
itu maka menyusui, walau setetes sekalipun adalah berhukum muhrim.
Seorang yang hadir menyela dan menunjukkan rumahku. Katanya: "Tanyakan pada Tijani
masalah-masalah seperti ini karena beliau mengetahui pendapat semua mazhab. Aku
saksikan beliau berhujjah dengan ulama-ulama tadi berkali-kali dan dia dapat mematahkan
dalil-dalil mereka."
Ketika kuajak mereka masuk ke dalam perpustakaanku, dan si suami menceritakan segalanya
kepadaku secara rinci, dia juga berkata berikut: "Tuan, istriku mau bunuh diri dan anakanakku
tidak terurus. Kami tidak memperoleh jalan keluar dari kemusykilan ini. Mereka telah
memberitahuku alamatmu. Aku sangat yakin pada Anda karena melihat buku-buku yang
begini banyak di perpustakaan ini yang tidak pernah kulihat sebelum ini. Mudah-mudahan
saja Anda dapat menyelesaikan problemaku ini."
Kemudian kuhidangkan untuknya secangkir kopi. Aku berpikir sejenak. Kemudian
kutanyakan padanya bilangan susu yang dia hisap dari si ibu tua itu. Beliau menjawab: "Aku
tidak tahu pasti. Tetapi istriku menyusu dari orang tua itu dua kali atau tiga kali saja. Ayahnya
juga menyaksikan bahwa dia hanya dua atau tiga kali saja membawanya pergi ke tempat
wanita tua itu." Lalu kujawab: "Jika ini benar, maka kalian bukanlah kakak-adik susu dan
perkawinan kalian tetap sah."
Mendengar ini laki-laki tersebut terus menerpaku dan mencium-cium kepalaku dan
tanganku. Katanya: "semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Anda telah membukakan
pintu kedamaian di hadapanku." Dia terus pergi dan tidak sempat menghabiskan kopinya,
bahkan tidak bertanya lagi rinciannya atau dalilnya dariku. Dia hanya permisi pulang agar
dengan segera dapat menemui istrinya dan membawa berita gembira untuknya, anakanaknya
serta kaum kerabatnya.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 205
Namun esoknya dia kembali bersama tujuh orang laki-laki yang lain. Katanya: "Ini ayahku,
dan ini ayah istriku. Yang ketiga itu ketua desa dan keempat Imam Jum'at dan Jama'ah,
kelima Penghulu agama, keenam kepala suku dan ketujuh kepala sekolah. Semua datang
untuk bertanya tentang masalah menyusui tersebut dan dengan alasan apa Anda
menghalalkannva?"
Semua kuajak masuk ke dalam perpustakaan. Sebelumnya aku memang telah menduga
mereka akan mendebatku. Kuhidangkan buat mereka minuman kopi dan kusambut mereka
dengan mesra. Mereka berkata: "Kami datang untuk bertanya akan fatwamu yang
menghalalkan susuan itu sementara Allah telah mengharamkannya di dalam AlQuran dan
telah diharamkan juga oleh Rasul-Nya, dengan sabdanya: "Telah diharamkan dengan susuan
segala apa yang diharamkan dengan cara nasab." Begitu juga Imam Malik telah
mengharamkannya."
Aku berkata: "Wahai tuan-tuan, kalian --Masya Allah-- berjumlah delapan orang dan aku
seorang diri. Jika aku berbicara dengan kesemua kalian maka aku tidak akan dapat
meyakinkan kalian dengan hujjahku, dan diskusi kita nantinya akan bertele-tele. Aku usulkan
agar kalian memilih salah satu di antara kalian sebagai juru bicaranya sehingga aku bisa
berdiskusi dengannya dan yang lainnya menjadi hakim kami."
Mereka terima usul tersebut dan menyerahkan sepenuhnya kepada penghulu agama sebagai
wakil mengingat beliaulah yang paling alim dan paling arif di antara mereka. Maka penghulu
pun memulai pertanyaannya mengapa aku menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah,
Rasul-Nya dan para Imam?
Aku jawab: "Aku berlindung kepada Allah dari berbuat demikian. Allah mengharamkan
susuan dengan ayat yang mujmal (ringkas) dan tidak menjelaskannya secara rinci.
Diserahkan-Nya kepada Rasul cara dan bagaimana rincian hukumnya."
"Tetapi Imam Malik menghukumkan muhrim hatta dari setetes air susu."
"Aku tahu. Namun Imam Malik bukanlah hujjah (dalil) bagi semua kaum muslimin. Kalau
tidak, bagaimana kita akan menilai pendapat imam-imam yang lain?"
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 206
"Semoga Allah meridhai mereka. Semua mereka mengambil dari Rasul SAWW."
"Lalu bagaimana nantinya hujjahmu di sisi Allah atas taklidmu kepada pendapat Imam Malik
yang bertentangan dengan nash Nabi ini?"
"Subhanallah" katanya sambil merasa heran. "Aku tidak pernah tahu Imam Malik, Imam Dar
al-Hijrah, menyalahi nash-nash Nabi."
Yang hadir juga merasa heran dengan ucapanku ini. Mereka sangat terkejut atas sikapku yang
sangat "berani" terhadap Imam Malik yang tidak pernah dilihatnya sebelum ini dari ulamaulama
yang lain. Kemudian kukatakan lagi:
"Apakah Imam Malik dulunya dari kalangan sahabat?"
"Bukan." Jawabnya.
" Apakah beliau dari kalangan Tabi'in?"
"Bukan. Bahkan dari kalangan tabi'it-tabi'in, generasi keempat setelah Nabi SAWW."
"Mana yang lebih dekat kepada Rasul, Imam Malik atau Imam Ali bin Abi Thalib?"
"Imam Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah satu dari empat Khulafa' Rasyidin."
Salah seorang dari yang hadir berkata: "Sayyidina Ali Karramallahu Wajhahu adalah gerbang
kota ilmu."
"Mengapa kalian tinggalkan gerbang kota ilmu dan ikut seorang bukan sahabat dan bukan
tabi'in sekalipun. Bahkan seseorang yang lahir setelah terjadinya berbagai perselisihan di
antara kaum muslimin, dan setelah kota Madinah Nabi dicemari oleh tentera Yazid dan
diperlakukan sedemikian rupa sehingga sahabat-sahabat yang terbaik terbunuh, para wanita
diperkosa dan sunnah-sunnah Nabi dirobah. Bagaimana seseorang bisa percaya sepenuhnya
kepada imam-imam yang direkomendasi oleh para penguasa saat itu, yang memberikan
fatwanya mengikut persetujuan mereka. "
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 207
Salah seorang dari mereka berkata: "Memang kami pernah dengar bahwa Anda adalah orang
Syi'ah yang menyembah Imam Ali."
Serta merta sahabat yang duduk di sampingnya menamparnya dengan agak kuat, sambil
berkata: "Diam. Apakah Anda tidak malu berkata seperti ini kepada seseorang yang terhormat
seperti beliau. Aku banyak kenal ulama, tetapi aku tidak pernah melihat perpustakaan sebesar
ini. Beliau berbicara dengan pengetahuan yang dalam dan penuh keyakinan."
Aku jawab: "Memang benar saya seorang Syi'ah. Tetapi Syi'ah tidak menyembah Ali. Mereka
ikut Imam Ali sebagai ganti dari ikut Imam Malik. Karena Ali adalah gerbang kota ilmu
seperti yang kalian saksikan."
Penghulu agama berkata: "Apakah Imam Ali menghalalkan perkawinan dua kakak-adik
susuan?"
"Tidak. Beliau menghukum-muhrimkannya jika si bayi menyusu sebanyak lima belas kali
dengan kenyang dan berturut-turut atau sehingga menumbuhkan daging dan tulang ."
Mendengar ini ayah si istri merasa sangat lega dan berkata: "Alhamdulillah. Anakku hanya
menyusu dua atau tiga kali saja. Fatwa Imam Ali ini adalah jalan keluar bagi kami dari
kemusykilan ini dan rahmat Allah kepada kami setelah puas kami mencari dan hampirhampir
putus asa. "
Penghulu berkata: "Berikan kami dalilnya agar kami dapat puas hati."
Lalu kuberikan kepada mereka kitab Minhaj as-Sholihin, fatwa Sayed al-Khui. Dibacanya Bab
Hukum Menyusui kepada mereka. Semua mereka sangat bergembira terutama si suami yang
takut kalau-kalau saya tidak mempunyai dalil yang memuaskan. Mereka memohon agar aku
meminjamkan buku tersebut kepada mereka sehingga ia akan dapat berdalil di kampungnya
kelak. Lalu kuserahkan buku tersebut setelah mereka permisi pulang.
Mereka keluar dari rumahku. Di jalan mereka berjumpa dengan seseorang yang akhirnya
membawa mereka kepada beberapa ulama upahan. Diancamnya mereka dan dikatakan
bahwa aku adalah agen Israel. Kitab Minhaj as-Sholihin yang kuberikan itu adalah sesat.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 208
Penduduk Irak semuanya kafir dan munafik dan Syi'ah adalah Majusi yang menghalalkan
perkawinan antara kakak-adik. Karena itu tidak heran kalau aku menghalalkan perkawinan
antara dua kakak adik-susu; dan berbagai tuduhan lain yang tidak berdasar. Sedemikian rupa
ancamannya sehingga semua mereka kembali seperti semula dan tidak percaya akan
kebenaran pendapat yang kuberikan.
Dipaksanya sang suami mengangkat perkara ini ke mahkamah negeri di Qafsah. Ketua
mahkamah meminta mereka pergi ke pusat dan meminta penyelesaian dari Mufti Besar
negara. Maka pergilah orang yang malang ini ke sana dan menunggu selama satu bulan
penuh untuk dapat menghadap mufti. Diceritakannya masalahnya dari awal hingga akhir.
Mufti bertanya tentang pendapat ulama yang menganggap sah perkawinan mereka. Katanya
tiada siapa pun yang mengatakan demikian kecuali seorang yang bernama Tijani Samawi.
Mufti mencatat namaku dan berkata kepada orang ini: pulanglah! Aku akan kirimkan
sepucuk surat kepada ketua mahkamah negeri di Qafsah.
Tak lama setelah itu tibalah sepucuk surat dari mufti besar. Kemudian wakil orang ini
memberitahunya bahwa mufti juga menghukumkan haram perkawinan mereka dan dianggap
tidak sah.
Itulah apa yang diceritakan oleh orang yang malang dan lemah ini kepadaku. Dia meminta
maaf karena telah menyebabkanku terganggu. Aku juga berterima kasih kepadanya atas
timbang rasanya yang tinggi. Tetapi aku heran kenapa mufti besar menganggap perkawinan
seumpama itu tidak sah. Aku minta orang ini mencari lembaran tulisan yang dikirimkan oleh
mufti kepada mahkamah di sini agar supaya bisa kumuat dalam majalah atau koran lokal.
Aku ingin katakan bahwa mufti tidak mengetahui mazhab-mazhab Islam dan jahil akan
perbedaan-perbedaan fiqh mereka di dalam perkara susu-menyusu ini.
Orang ini berkata bahwa dia tidak dapat melihat fail perkaranya, apalagi untuk
mendapatkannya. Akhirnya kami berpisah.
Setelah beberapa hari sepucuk surat panggilan datang kepadaku dari mahkamah. Mereka
memerintahkanku agar datang membawa kitab rujukan dan dalil atas keabsahan perkawinan
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 209
"dua kakak-adik susu" ini. Aku datang dengan membawa berbagai buku rujukan yang telah
kuteliti sebelumnya. Setiap Bab Menyusui kuletakkan tanda agar mudah dapat mengenalnya
kelak. Aku pergi pada waktu dan jam yang ditentukan itu. Sekretaris ketua menerima
kedatanganku dan memintaku masuk ke ruang ketua. Di sana aku dikejutkan dengan
kehadiran ketua mahkamah negeri, ketua mahkamah kampung dan wakil dari pusat beserta
tiga anggotanya yang lain. Semua mereka mengenakan pakaian kebesaran mahkamah yang
seakan-akan tengah berada dalam suatu perjumpaan resmi. Aku perhatikan juga di sana ada
laki-laki yang malang itu duduk di sisi lain. Aku ucapkan salam kepada semua. Semua mereka
memandangku dengan sikap menghina dan jengkel. Ketika aku duduk, sang ketua memulai
pembicaraannya padaku dengan nada yang kasar:
"Anda Tijani Samawi?"
"Ya."Jawabku.
"Anda yang memberikan fatwa akan sahnya perkawinan ini?"
"Bukan saya. Tetapi imam-imam fiqh dan ulama kaum muslimin yang memberikan fatwa
akan sahnya perkawinan tersebut."
"Itulah kenapa kami memanggil Anda. Anda sekarang dalam tuduhan. Jika Anda tidak dapat
membuktikan kebenaran dakwaan Anda maka Anda akan dihukum penjara. Dan dari sini
Anda akan terus di giring ke penjara. "
Aku sadar bahwa aku kini dalam suatu tuduhan. Bukan karena aku memberikan fatwa
tersebut, tetapi ada beberapa ulama jahat (ulama su') yang mengatakan kepada penguasa
bahwa aku adalah penyulut fitnah, mencaci sahabat dan menyebarkan Syi'ah Ahlul Bait Nabi.
Ketua mahkamah berkata bahwa jika ada dua saksi yang membuktikan kesalahanku maka dia
akan memasukkanku ke dalam penjara.
Di sisi lain, Jama'ah Ikhwan Muslimin memanipulasi fatwa ini. Mereka sebarkan kepada
kalangan umum dan khusus bahwa aku menghalalkan nikah antara kakak-adik. Dan ini
adalah pendapat Syi'ah! Begitulah dugaan mereka.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 210
Semua ini aku sadari ketika ketua mahkamah mengancamku dengan penjara. Tiada lain
bagiku waktu itu kecuali menentang dan mempertahankan diri dengan penuh keberanian.
Kukatakan kepada ketua:
"Apakah saya boleh berbicara dengan terus terang dan tanpa takut?"
"Bicaralah. Tetapi Anda tidak mempunyai pembela."
"Pertama-tama, aku tidak mengangkat diriku sebagai mufti." Kataku perlahan. "Tanyakan
pada lelaki, suami wanita yang malang itu yang kebetulan hadir di sekitar kita. Dialah yang
datang ke rumahku dan bertanya padaku. Sudah tentu aku wajib menjawabnya mengikut apa
yang aku tahu. Aku tanyakan kepadanya berapa kali dia menghisap susu tersebut. Katanya
sang istri hanya pernah menyusu dua atau tiga kali saja dari ibu yang sama. Lalu kuberitahu
padanya hukum Islam yang sebenarnya. Dalam hal ini aku bukan seorang yang mujtahid dan
bukan pula seorang yang mengada-adakan syariat baru."
"Aneh. Anda sekarang mendakwa yang Anda tahu akan hukum Islam dan kami jahil."
"Astaghfirullah. Aku tidak bermaksud demikian. Semua orang di sini tahu apa pendapat
mazhab Imam Malik dan hanya berhenti pada pendapatnya saja. Sementara aku menelitinya
dalam berbagai mazhab dan mendapatkan cara penyelesaiannya di sana."
"Dimana Anda dapatkan jalan penyelesaiannya?" Tanya ketua.
"Sebelum itu bisakah saya ajukan satu pertanyaan wahai ketua?"
"Tanyakanlah”.
"Apa pendapat Anda tentang mazhab-mazhab Islam yang lain?"
"Semua benar. Semua mereka mengambilnya dari Nabi, dan perselisihan yang ada adalah
rahmat."
"Kalau demikian maka kasihanilah orang yang malang ini (sambil menunjuk ke arah orang
tersebut) yang telah dua bulan lebih berpisah dengan istri dan anak-anaknya. Padahal di sana
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 211
ada mazhab Islam lain yang memberinya penyelesaian."
Dengan nada marah ketua itu berkata: "Bawakan dalilnya dan jangan bertele-tele. Kami telah
berikan hak kepadamu untuk membela dirimu, dan sekarang kau mau membela orang lain."
Kuberikan kepadanya kitab Minhaj as-Sholihin, fatwa Sayed al-Khui. Kukatakan kepadanya
bahwa ini adalah mazhab Ahlul Bait. Di dalamnya memuat berbagai dalil. Kemudian beliau
memotong kata-kataku: "Jangan libatkan kami dengan mazhab Ahlul Bait. Kami tidak
mengenalnya dan tidak beriman kepadanya."
Aku memang menduga demikian. Karena itu aku bawa bersamaku beberapa buku rujukan
Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang telah kukaji dan kususun sejauh pengetahuanku. Kuletakkan
Sahih Bukhari di bagian pertama. Kemudian Sahih Muslim. Lalu kitab fatwa Mahmud
Syaltut, Bidayah al-Mujtahid Wa Nihayah al-Muqtasid karya Ibnu Rusyd, kitab Zad al-
Masir Fi I'lmi at-Tafsir karya Ibnu al-Jauzi dan beberapa buku rujukan lain dari kalangan
Ahli Sunnah.
Ketika ditolaknya kitab Sayed al-Khui, kutanyakan kepadanya kitab apa yang beliau pegang
dan jadikan rujukan.
"Bukhari dan Muslim." Katanya.
Lalu kuambil kitab Sahih Bukhari dan kubukakan halaman yang telah kutandai. "Silahkan
baca!" Kataku mempersilahkan.
"Engkau baca." pintanya kepadaku.
Lalu kubaca: "Telah diriwayatkan oleh Fulan dari Fulan dan A'isyah Ummul Mukminin yang
berkata: "Rasulullah SAWW wafat dan tidak menjatuh-muhrimkan (kakak-adik) melainkan
setelah lima susuan atau lebih."
Sang Hakim mengambil buku itu dariku dan membacanya. Kemudian diberikannya kepada
wakil dari pusat yang duduk di sampingnya. Lalu dibacanya dan diberikannya pula kepada
orang yang duduk di sisinya. Kemudian aku keluarkan pula kitab Sahih Muslim dan
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 212
kubukakan pula hadis yang sama. Lalu kitab Fatwa Syaikh al-Azhar Mahmud Syaltut, dimana
beliau telah menjelaskan berbagai perbedaan pendapat para imam fiqh tentang perkara susumenyusu
ini. Ada sebagian pendapat mengatakan bahwa ia akan jatuh muhrim setelah lima
belas kali susuan; pendapat lain mengatakan setelah tujuh kali susuan; dan pendapat
berikutnya di atas lima kali susuan. Melainkan Imam Malik yang menyalahi nash dan
menjatuh-muhrimkan walau satu tetes sekali pun. Kemudian Syaltut berkata: aku condong
pada pendapat yang tengah, yakni tujuh kali susuan atau lebih.
Setelah ketua mahkamah mengetahui semua itu, beliau berkata: Cukuplah. Kemudian beliau
memandang pada suami wanita tersebut dan berkata: Engkau pergi dan bawa ayah istrimu ke
mari untuk menyaksikan di hadapanku bahwa anaknya menyusu hanya dua atau tiga kali
saja. Kalau betul, maka kau boleh ambil istrimu semula hari ini juga.
Orang yang malang ini pun pergi. Wakil dari pusat dan hadirin yang lain minta izin keluar
meneruskan tugas masing-masing. Ketika majlis itu agak lengang, sang ketua mendatangiku
sambil minta maaf. Katanya: "Maafkan aku wahai ustadz. Mereka telah membuat aku keliru
tentang dirimu. Mereka berkata akan hal yang aneh-aneh tentang dirimu. Sekarang aku tahu
bahwa mereka hasad dan dengki kepadamu."
Hatiku sangat gembira melihat perubahan kilat seperti itu. Aku berkata: "Segala puji bagi
Allah yang telah memenangkanku di tanganmu wahai Hakim yang arif ."
"Aku dengar Anda memiliki perpustakaan yang besar. Apakah Anda juga menyimpan buku
Hayat al-Hayawan al-Kubra karya ad-Dumairi?' Tanyanya kepadaku.
"Ya." Jawabku.
"Bisa Anda pinjamkan padaku. Telah dua tahun aku mencari buku itu."
"Ia adalah milik Anda kapanpun Anda perlukan."
"Apakah Anda punya waktu untuk datang ke kantorku agar kita bisa berdiskusi dan saya bisa
belajar darimu." Pintanya.
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 213
"Astaghfirullah. Saya yang seharusnya belajar dari Anda. Anda adalah orang yang lebih tua
dan lebih agung dariku. Saya ada waktu luang empat hari dalam seminggu. Saya senantiasa
hadir untuk menerima undangan Anda."
Akhirnya kami sepakat setiap hari Sabtu untuk dapat duduk bersama, karena hari itu beliau
tidak disibukkan dengan urusan mahkamah. Setelah beliau memintaku meninggalkan kitab
Bukhari dan Muslim serta kitab Fatwa Syaltut untuk dapat disalinnya semua nash yang ada,
beliau sendiri yang kemudian berdiri dan menghantarku pulang sampai ke pintu keluar
sebagai tanda penghormatan.
Aku keluar dengan hati yang sangat gembira sambil memuji-muji Allah atas kejayaan ini
dimana sebelumnya aku masuk dalam keadaan takut dan diancam penjara. Kini aku keluar
dari mahkamah sementara sang ketuanya telah menjadi seorang sahabat yang dekat,
menghormatiku dan memintaku menemaninya agar dapat "belajar". Semua ini adalah berkat
Ahlul Bait yang tiada akan rugi orang yang berpegang kepada mereka, dan akan aman orang
yang merujuk kepada mereka.
Suami yang malang tadi menceritakan semua apa yang dilihatnya kepada penduduk desanya
sehingga berita itu tersebar ke seluruh pelosok desa yang ada di sekitarnya. Dia kini kembali
bersama istrinya dan perkara perkawinannya telah dianggap sah. Orang ramai mulai berkata
bahwa aku lebih alim dari semua, hatta dari mufti besar sekalipun.
Si suami kemudian datang ke rumahku dengan mobilnya yang besar, ingin mengajak aku dan
keluargaku ke desanya. Dia bilang bahwa semua keluarganya tengah menunggu
kedatanganku. Mereka akan menyembelih tiga ekor anak onta sebagai tanda syukur. Tetapi
aku minta maaf lantaran tidak dapat hadir karena kesibukanku di Qafsah. Kukatakan
kepadanya bahwa aku akan mengunjungi mereka di waktu lain, Insya Allah.
Lalu sang Hakim tadi pun menceritakan kejadian itu kepada sahabat-sahabatnya hingga
tersebarlah cerita itu dan Allah telah menolak tipu daya orang-orang yang berniat jahat.
Sebagian mereka datang meminta maaf, dan sebagian lain Allah bukakan hatinya untuk
menerima hidayat dan kebenaran sehingga mereka ikut mazhab Ahlul Bait dan menjadi
Akhirnya Kutemukan Kebenaran– Abatasya Islamic Website (http://abatasya.net) 214
orang-orang yang ikhlas. Semua ini adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada mereka
yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Pemberi karunia yang agung.
Wa Akhiru Da'wana Anil Hamdulillahi Rabbil A'lamin. Wa Shallallahu A'la Sayyidina
Muhammadin Wa A'la A'lihi at-Thayyibin Wat Thahirin.

Sekian

0 Response to "Akhirnya Kutemukan Kebenaran"

Post a Comment