Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Tasbih


Di dalam s.e.r.u.n.i kutelusuri diri Mu.


***

SETIAP kali melalui rumah itu, Nadira selalu membentangkan sebuah skenario baru dalam benaknya. Mungkin rumah itu milik seorang pengusaha; atau seorang pengacara yang gemar membela mafia. Atau seorang pejabat pemerintah yang rajin korupsi. Yang pasti, rumah itu bukan milik seseorang yang rendah hati. Pemilik rumah ini begitu bersemangat memperlihatkan seluruh harta bendanya dan kekuatannya.

Rumah itu terletak di sebuah pojok di kawasan Bintaro. Setiap kali Nadira baru saja mengunjungi rumah ayahnya di Bintaro pada akhir pekan, ia sengaja melalui rumah besar ini. Nadira biasanya meminta supir taksi yang ditumpanginya berhenti sejenak. Lima menit, atau 10 menit. Bahkan dia mempersilakan sang supir merokok, sementara Nadira membuka jendela kaca taksi yang ditumpanginya, dan menatap rumah besar dan mewah itu.

Rumah itu menonjol sendirian di antara rumah-rumah Bintaro yang memiliki format yang mirip antara satu dengan yang lain. Rumah-rumah di kompleks Bintaro lazimnya lebih seperti deretan kotak korek api yang tak memiliki kepribadian. Rumah ini berdiri dengan angkuh di atas luas tanah yang tak terbayangkan; bertingkat empat itu disangga oleh tiang-tiang yang tinggi seolah ingin menggapai langit. Inilah perangai sang rumah: megah, besar, dan mampu melahap manusia. Lalu, lihatlah motor-motor besar yang terlihat galak itu, yang berpose di halaman depan dan bukan di dalam garasi yang sangat luas?

Yang paling menarik mata Nadira adalah patung lelaki besar yang menyerupai sosok Napoleon itu. Wajah patung nampaknya digantikan oleh wajah empunya rumah: muka lelaki Jawa berusia sekitar 50-an dan berkumis tipis.

Di sekeliling patung Napoleon dari Jawa itu, Nadira melihat dua patung cupid yang mendampinginya. Selain itu—nah, ini adegan yang paling disukai Nadira—tujuh patung perempuan yang tengah menatap kagum kepada Napoleon. Nadira seolah bisa mendengar bisikan salah satu patung perempuan yang meminta Tuan Besar Napoleon untuk menyemprotkan kasih cintanya barang setetes. Nadira sengaja tak ingin bertanya pada pemilik warung rokok dipojok jalanan tentang identitas pemilik rumah ini. Ia lebih suka bermain-main dengan imajinasinya.

Setelah upacara mingguan itu selesai, Nadira kembali ke realita, ke atas taksi yang menantinya, lalu berangkat mengarungi lautan kemacetan Jakarta.


***

TARA MENGHELA nafas.

Lagi-lagi dia melongok ke bawah meja kerja yang penuh dengan buku-buku, beberapa boks dan seorang perempuan muda bergelung seperti seekor kucing yang kedinginan. Nadira Suwandi.

Tara tahu, Nadira ingin menenggelamkan seluruh kesedihannya ke kolong meja itu. Dia hanya akan keluar jika terpaksa. Terpaksa untuk bekerja. Atau terpaksa melawan matahari. Mata Nadira masih terpejam. Tetapi, Tara tahu Nadira bukan sedang terlelap. Bibirnya komat-kamit mengucapkan entah apa. Arloji dinding majalah Tera menunjukkan pukul delapan pagi. Dan Nadira masih mengenakan baju yang sama seperti kemarin.

“Mas Tara....” Satimin berbisik sembari menggenggam tongkat pel, “saya ndak berani mbanguni mbak Dira.......”

Tara mengangguk dan memberi isyarat agar Satimin mengepel di bagian lain saja dulu. Satimin mengangguk patuh. Tara memegang bahu Nadira dengan lembut agar Nadira tak terkejut. Perlahan-lahan Nadira membuka matanya. Begitu dia menyadari pemilik tangan yang membangunkannya, Nadira segera duduk tegak dan menggosok-gosok matanya. Dia keluar dari kolong meja; menyambar handuk dari salah satu lacinya.

“Pagi mas....saya ke kamar mandi dulu...”

“Oke, saya tunggu di ruang rapat lantai delapan ya Dir...”

“Siap!”

Hanya 30 menit kemudian, Nadira sudah hadir di ruang rapat, lebih segar dan sudah berganti baju. Tara tersenyum, meski dia tak bisa menyembunyikan keprihatinannya. Nadira langsung duduk di hadapan Tara dan melirik ke kiri dan kanan.

“Yang lain mana?”

“Yang lain sedang liputan, Dir. Saya mau bicara...”

“Oh......” Nadira terdiam beberapa saat, “saya juga mau mengajukan satu permohonan, mas...”

“Ya?”

“Saya tahu, kita tak boleh memilih penugasan. Tapi …hanya untuk minggu ini….saya minta untuk tidak dilibatkan tim laporan utama.”

Dalam keadaan biasa, sang Kepala Biro akan memberi ceramah dua jam tentang filsafat majalah Tera: bahwa siapa pun tak boleh menolak penugasan yang diberikan. Tetapi setelah tiga tahun kematian ibu Nadira, Tara tak pernah melihat Nadira tersenyum atau menangis (kecuali ketika mereka menemukan bunga seruni yang mengiringi kepergian jenazahnya ke liang lahat). Diam-diam Tara memperhatikan, Nadira sudah tak memiliki emosi. Apa yang disebut emosi (yang diperkirakan Tara bersatu padu dengan “hati”. Dan dalam hal ini Tara tak ingin berdebat apakah hati seharusnya merupakan terjemahan dari “jantung” atau “liver”), seperti ikut-ikutan menguap bersama roh sang ibu; dan seolah tak ada rencana kembali ke tubuh Nadira. Dengan kata lain, selama tiga tahun, Nadira tak pernah melakukan apa pun selain bekerja 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu.

Semua tugas investigasi dan tugas-tugas peliputan ke luar negeri dilahapnya sigap; dan begitu pekerjaan selesai, Nadira tak segera pulang. Dia terlelap bergelung di bawah mejanya, hingga Pak Satimin yang bebersih di pagi hari terpaksa membiarkan kawasan meja Nadira dibersihkan siang hari, setelah si Non berangkat liputan.

Jika kali ini Tara membuat perkecualian untuk Nadira, pasti bukan karena perasaan yang selama ini ditekan-tekan di lapisan hati yang paling bawah, melainkan karena Tara tahu betul, Nadira berhak untuk meminta istirahat.

“Saya setuju. Kamu perlu libur. Kami semua sudah khawatir, karena selama ini…..”

“Saya tidak minta cuti!” Nadira menyela.

“Oh….”

Nadira menyenderkan punggungnya, lalu melempar pandangannya ke luar jendela dan bergumam. Tapi Utara bisa mendengar kalimat Nadira dengan jelas. Hanya untuk pekan ini, Nadira minta ditugaskan meliput sesuatu yang ringan, seperti kriminalitas atau hukum. Tara menatap Nadira. Tara memberikan jawaban yang sudah diulang-ulang kepada hampir setiap reporter yang pada tahun-tahun pertama masih mencoba merengek. Nadira tak pernah merengek. Baru kali ini dia meminta sesuatu. Tapi Tara merasa harus memberikan pidato umum itu. Sebagai reporter yang sudah senior, Nadira tetap tak boleh memilih.

“Lagipula, siapa bilang liputan kriminalitas itu lebih ringan?” Tara menambahkan di ujung kalimatnya, karena Nadira tak kunjung menjawab.

“Maksud saya, lebih ringan untuk hati saya,” kata Nadira. “Rubrik Kriminalitas punya tujuan yang jelas, pembunuh bersalah; yang dibunuh adalah korban. Pemerkosa itu salah; yang diperkosa itu korban.”

“Dan itu lebih meringankan hati kamu?”

“Lebih ringan karena saya tidak perlu bertemu dengan orang-orang yang merasa diri pandai….di dunia politik, terutama anggota DPR, penuh dengan orang-orang seperti itu. Dunia seni terlalu berisik,” Nadira melihat keluar jendela lagi. Bibirnya menggumam. Kali ini Tara hanya melihat gerak bibir Nadira.

“Aku menemukan buku harian Ibu…” Nadira mengulang kalimatnya.

Tara terdiam beberapa lama sebelum memberikan reaksi.

“Kapan?”

“Dua tahun yang lalu, kami sedang membongkar gudang…..”

Tara akhirnya duduk tepat di sebelah Nadira.

“Sudah dibaca?”

“Ya….”

Sunyi. Tara memandang sepatunya.

“Ibu menyebut-nyebut seuntai tasbih…”

“Seuntai apa?”

“Tasbih, seuntai tasbih…”

“Oh…”

Mereka terdiam lagi.

“Menurut catatan harian Ibu, tasbih itu diperoleh dari Kakek Suwandi…….”

“Ya?”

“Ibu selalu merasa tenang memegang tasbih itu……”

Tara masih diam menanti kalimat berikutnya.

“ Aku…aku pernah melihat tasbih itu….”

Tara menunggu lanjutan kalimat Nadira. Tapi kalimatnya tertahan segumpal ludah.

“Warnanya coklat....mungkin dari kayu. Atau bahan semacam kayu....warna redup....mungkin warna yang bisa membuat ibu tenang....”

“Kamu tahu bukan warnanya yang membuat dia tenang.”

“Ya aku tau mas....”

“Kamu lihat di mana Nad?”

“Ayah….ayah memegangnya waktu Ibu…”

Tiba-tiba saja Tara ingin mengambil kepala Nadira dan membenamkan seluruh tubuh yang gelisah itu ke dadanya. Tetapi dia tetap diam dan hanya menatap tumpukan map penugasan di atas meja. Nadira kemudian menenangkan dirinya. Kini dia menatap lurus pada Tara.

“Liputan Kriminalitas dan Hukum minggu ini sebetulnya sangat berat.….”

Nadira menyodorkan tangannya. Tara menghela nafas putus asa. Dia memberikan dua map berisi lembar penugasan. Setelah Nadira membaca sekilas, dia kembali menatap Tara.

“Penugasan krim minggu ini akan menguras hati,” Tara mengingatkan. “Semula aku akan memberikan ini kepada Andara. Dia kan belajar psikologi. Rencanaku tadinya mau memasukkan kamu ke tim laporan utama bersama Yosrizal. Kita ada liputan besar kasus pembelian kapal Jerman Timur. Saya rasa kamu......”

“Saya ambil krim, mas!”

“Saya tidak setuju!”

“Kenapa?”

Tara menghela nafas. “Waktu Andara mengajukan permintaan wawancara, psikiater ini hanya bersedia di wawancara kamu. Dia menyebut namamu. Saya tidak nyaman, Dira.”

Nadira mengerutkan kening. “Kenapa?”

Tara menggelengkan kepalanya, “Saya tidak mau mengabulkan permintaan seorang kriminal seperti dia.”

“Mungkin saya harus menemui dia. Nanti saya cari tahu, kenapa dia ingin bertemu dengan saya.”

Tara masih sangsi.

Nadira berdiri. Dia menatap Tara kembali. Menekan. Tiba-tiba Tara melihat kesedihan yang luarbiasa yang terpancar dari mata Nadira yang besar. Tara selalu berusaha menghindar tatapan mata Nadira yang meminta. Bagi Tara, kedua bola mata Nadira terbuat dari air danau yang berwarna biru. Tara menamakannya Danau Kembar yang mampu membuat Tara tenggelam ke dasar dan tak akan pernah bisa muncul ke permukaan realita. Ini sangat berbahaya. Tara tak ingin tenggelam. Dan Tara tak ingin gelagapan. Karena itu, ketika danau kembar itu kembali hampir melahapnya, Tara buru-buru mengangguk.
Nadira berdiri, tiba-tiba dia ingat sesuatu.

“Mas tadi mau membicarakan apa?”

Tara terdiam. Dia sudah tak tahu lagi apakah cukup penting untuk menyarankan Nadira istirahat di rumah dan tidur. Dia bahkan tak tahu apakah saran untuk cuti akan membantu mengembalikan Nadira yang dulu, yang pernah hidup tiga tahun yang lalu sebelum ibunya wafat.

“Mas kepingin tahu kapan saya pindah dari kolong meja?”

Tara mengangguk perlahan.

“Saya ingin kamu bisa tidur yang lelap.”

“Saya sering bermimpi, saya celentang....tidak bergerak, tidak berbicara apa-apa. Hanya celentang di lubang kubur. Saya merasa tenang di sana. Dan saya selalu menyesal setiap kali bangun dari mimpi itu.”

Tara terdiam. Tidak bereaksi.

Nadira membersihkan tenggorokannya dan melangkah pergi.


***

MAYOR Polisi Ray Wiradi memberi tanda kepada anak buahnya. Ray Wiradi, seorang serse muda yang sudah sangat lama mengenal Nadira sejak dia masih menjadi reporter baru majalah Tera. Kedua anak buahnya keluar untuk menjemput tahanan yang ingin ditemui Nadira.

“Kamu yakin, Dira? Ini orang gila.”

“Kamu tahu kenapa dia meminta kamu secara khusus? Saya sebetulnya sudah menyampaikan pada Utara, tak perlu mengabulkan permintaan sinting itu.”

Nadira mengangkat bahu, “mungkin karena dia pernah membaca berita tentang kematian Ibu. Kan sempat ada beritanya juga Bang...meski kecil.”

Ray agak sangsi dengan jawaban Nadira. Dia menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal, kebiasaannya kalau tidak bisa menggenggam sesuatu yang tidak jelas.

“Apa pun motivasi dia Bang, kami perlu wawancara ekslusif dengan Bapak X. Jadi...., biarlah, saya tidak takut.”

Ray menghela nafas. Lalu akhirnya dia mengambil sebuah map yang tebal.
“Secara garis besar, info ini sudah kami sampaikan melalui konferensi pers. Tapi saya tahu, kamu selalu ingin informasi yang lebih rinci...” kata Ray sambil membuka map itu.
Nadira tersenyum senang. Dia tahu betul, isi map yang dipegang Ray sangat ekslusif. Ray melirik tersenyum melihat wajah Nadira yang sedikit lebih cerah.

“Saya baru kali ini melihat kamu tersenyum lagi....”

“Tolong penjelasan yang kronologi Bang,” Nadira mengambil bolpen dan notes.

“Nad...”

Nadira mengangkat kepalanya.

“Dia bukan seorang psikiater biasa. Dia seorang jenius.”

“Saya bisa menghadapi dia, Bang Ray....percayalah...”

“Hm...” Ray menjenguk isi mapnya yang berisi laporan dan foto-foto korban pembunuhan. “Korban yang paling baru bernama Muryani Handoko, 52 tahun, ibu dari seorang anak lelaki. Dia ditemukan tewas di rumahnya dua pekan lalu, 10 Juni 1994. Bapak X mengaku telah mencekik Muryani dan....lihat ini......” Ray memperlihatkan foto Muryani, “dia mencongkel biji mata kirinya dan dia merobek bibirnya post-mortem.”

Nadira terkesiap. Bagian ini tidak pernah ada di media.

“Ini kami simpan rapat dulu dari publik,” kata Ray yang sudah mengenal alam pikiran Nadira, “karena kami masih ingin mencari tahu, kenapa semua korbannya selalu perempuan paruh baya yang mempunyai anak lelaki; dan kenapa setelah dibunuh, mulut perempuan itu dirobek.”

Nadira mencatat itu semua dengan jari-jari gemetar dan hati berdebar. Saat itulah Wisnu masuk memberitahu bahwa Bapak X sudah siap diwawancara Nadira.

“ Data lima korban lainnya kita teruskan setelah kamu wawancara dia, Nad.....saya hanya bisa memberi waktu setengah jam saja dengan dia. Cukup kan?”

“Sangat cukup, Bang. Terimakasih,”

Ray mengangguk kepada anak buahnya. Hanya beberapa menit, mereka menggiring seorang lelaki setengah baya ke hadapan Nadira. Ray tersenyum sinis dan memberi tanda pada Bapak X untuk duduk di ruang tengah kantor polisi yang hanya diisi dengan sebuah meja, dua buah kursi dan potret Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Try Sutrisno yang digantung di dinding.

Nadira langsung melontarkan seluruh pandangannya hanya dengan satu kali “tonjokan”. Nadira memiliki apa yang disebut Tara sebagai “photographic memory”. Wajah seorang lelaki yang usianya sudah merambat pada tingkat melebihi setengah abad; sebuah tahap yang membuat para lelaki di dunia mengkerut dan tak berdaya, karena penisnya sudah lebih mirip buah terung yang layu dan bergelayut sia-sia. Pada tahap ini, mereka merasa kelelakiannya sudah mulai dipertanyakan.

Nadira menatap wajah Bapak X. Wajah lelaki berusia 62 tahun itu telah terpampang di berbagai media. Entah bagaimana, Bapak X selalu tersenyum menunjukkan rangkaian gigi putihnya setiap kali kamera mengarah padanya. Seolah tak ada yang lebih membuatnya bangga daripada tertangkap dan disorot oleh berbagai kamera televisi. Tetapi dia hanya ingin di wawancara satu orang.

“Nadira Suwandi….”

Suara Bapak X berat, berirama seperti seorang penyanyi. Dia menatap Nadira. Dan Nadira memandangnya tanpa rasa takut.

“Akhirnya saya mendapatkan anugerah yang sudah lama saya inginkan,” Bapak X memejamkan matanya, seperti menikmati kehadiran Nadira. Nadira berusaha tidak terpengaruh oleh gaya teaterikal Bapak X.

Nadira memotret seluruh kehadiran Bapak X. Tinggi 1.80; tubuh atletis yang sudah pasti dipelihara oleh peralatan gym dan berbagai vitamin dan nutrisi; rambut berombak perak; dan wajah yang penuh bilur-bilur yang sudah dipastikan kena tonjok orang-orang yang marah padanya.

“Apa yang bisa saya bantu, Nadira?”

Nadira mengeluarkan notes dan bolpennya.

Bapak X tertawa lembut. Nadira mengangkat wajahnya.

“Kenapa?”

“Betul kata orang. Kau wartawan yang tak suka menggunakan tape-recorder kalau tak terpaksa…..”

“Saya ingin bertanya tentang masa kecil Anda,”

Bapak X tertawa kecil, nyaris tak mengeluarkan suara. Halus dan mengelus.

“Hari sudah senja, masih juga percaya pada Freud….”

Dia menyentuh tangan kiri Nadira yang ditumpukan di atas meja. Nadira serta merta menarik tangannya. Ray jengkel dan berdiri mendekati Bapak X. Nadira menahan Ray.

“Bang Ray kan sedang sibuk…..biarkan saya urus dia sendiri.”

Bapak X tersenyum menang.

Ray ingin sekali menghabiskan binatang di depannya ini dengan sekali hajar; pasti mudah sekali. Sekali ayun, muka yang halus itu langsung jadi bubur, dan serangkaian giginya yang putih itu rontok satu persatu, berantakan.

“Pintu tetap saya buka. Di luar ada pak Anton dan pak Wisnu. Teriak aja kalau dia aneh-aneh…” Ray bergumam dengan nada tak ikhlas.

Nadira mengangguk tersenyum.

Akhirnya Ray pergi meninggalkan mereka berdua dengan wajah yang sangat tidak rela. Tetapi Nadira tahu, Ray ada di ruang sebelah, dan dia sengaja membuka pintu penghubung antara kedua ruangan itu.

Bapak X memajukan wajahnya hingga wajah Nadira hanya berjarak beberapa sentimeter dari hidungnya. Tapi Nadira sama sekali tidak terintimidasi oleh tingkah laku ini.

“Bisa saya bantu?”

”Ayah Anda meninggal waktu Anda masih kecil. Apa yang terjadi?”

Bapak X menyenderkan punggungnya dengan malas dan mengambil sebatang rokok.

“Kamu tak ingin tahu kenapa saya meminta bertemu denganmu?”

Nadira menggeleng.

“Itu penting. Sangat, sangat penting. Kamu perempuan istimewa. Yang sudah menulis cerita pendek sejak kecil, dan mempunyai dua orang kakak yang pasti merasa menjadi bayang-bayangmu….saya tebak, pasti kakak perempuanmu bukan kakak yang menyenangkan. Dan saya yakin, seumur hidupmu, kamu adalah sosok yang gelisah.”

Nadira merasa aliran darahnya berhenti seketika.

“Keluarga saya baik-baik saja, kakak-kakak saya sangat mendukung saya,” Nadira mencoba tenang.

“Saya ingin tahu tentang ibumu….”

“Ibu….” tiba-tiba saja senyum Bapak X hilang, “yang mengambil semangkuk cabe rawit giling dan menyemirnya ke mulutku waktu saya masih berusia tujuh tahun…..”

Bapak X menggosok-gosok bibirnya sendiri, memperlihatkan bagaimana ibunya memborehkan cabe rawit giling ke mulutnya. Nadira menunduk dan berpura-pura sibuk menulis agar dia tak terpengaruh.

“Ini adalah hukuman jika saya melontarkan kata yang tak senonoh….Waktu saya berusia sembilan tahun, dan saya terlambat pulang sekolah, Ibu mengikat saya di tiang rumah belakang….codet di jidat saya ini? Ibu melempar sebuah piring, karena saya tidak menghabiskan makan siang saya ….”

Nadira terdiam. Bapak X memandangnya dengan raut puas, karena merasa membuat Nadira tak mampu berdebat.

Nadira mengambil catatannya, dan mengumpulkan segala kekuatannya, “jadi karena masa kecil Anda yang buruk, Anda mempunyai dorongan untuk membunuh setiap perempuan yang sudah berusia senja; yang memiliki anak lelaki tunggal seperti Anda….?”

“Saya ingin membantu anak-anak lelaki yang disiksa ibunya sendiri…” Bapak X menggosok-gosok tangannya dengan semangat.

“Bagaimana Anda mengetahui anak-anak ini disiksa ibunya sendiri?”

“Saya tak pernah ragu.......saya tahu tanda-tanda anak-anak yang dihajar oleh ibunya sendiri…. Ray, polisi yang jatuh hati padamu itu, sudah memperlihatkan foto-foto karya seni saya?” Bapak X tertawa berderai derai. Nadira tidak menjawab dan menyibukkan diri dengan mencatat.

“Korban pertama....?” Nadira bertanya dengan suara yang sangat dikontrol.

“Meidina Satya!” Bapak X menyela seperti seorang peserta kuis yang merasa mengetahui jawaban yang dilontarkan pembawa acara. “Dia berusia 54 tahun, seorang ibu yang mengontrol jadwal anak lelakinya dari menit ke menit....” Bapak X berseru dengan nyaring dan girang. “Setiap kali anaknya terlambat hanya beberapa menit, dia akan menghukum anaknya. Dia mengikatnya mengurung anaknya seharian tanpa makan dan minum....”

Bapak X menceritakan itu dengan bernafsu dan hampir tak bernafas. “menghabiskan dia paling gampang....”

Nadira memperhatikan wajah Bapak X yang menceritakan setiap adegan pembunuhan itu dengan rinci, seperti memberikan sebuah kursus kepada seorang pembunuh pemula.

“Waktu kali pertama saya merobek mulut Meidina Satya, rada susah.....agak liat. Jadi saya harus menggunakan kedua tangan saya.....” Bapak X bercerita dengan semangat, matanya berkilat-kilat girang dan kedua tangannya memberikan contoh bagaimana ia menguakkan bibir korbannya.

Nadira mencatat sembari mencoba meredam debar di dadanya. “Nah, setelah beres.....” Bapak X melanjutkan, “barulah saya membereskan bola matanya.”

“Kenapa......” suara Nadira serak, “kenapa harus bibir dan mata?”

“Mata adalah pancaran jiwa; mulut adalah pancaran hati.....” kata Bapak X seperti tengah membaca puisi.

“Kamu mau catat yang kedua juga kan?” Bapak X terlihat semakin riang. Nadira terpaksa mengangguk dengan jengkel melihat Bapak X yang menemui kebahagiaannya dengan membicarakan korban-korbannya itu.

“Maulina Hadi.....47 tahun, ibu dari kembar lelaki dan perempuan.....Wajah anak lelakinya terlalu mirip suaminya yang jalang. Jadi kembaran itu tumbuh seperti sepasang anak emas dan anak tiri......anak lelakinya hidup seperti pembantu.”

“Bagaimana Anda bertemu dengan mereka semua?”

“O, macam-macam. Yang pertama dan kedua adalah pasien saya.....” jawab Bapak X dengan nada riang.

“Yang ketiga.....”

“Naaah....” Bapak X memotong pertanyaan Nadira dengan ceria, “Maryati Danu itu sebetulnya ibu dari mahasiswa saya. Mahasiswa saya itu seperti seonggok daging busuk yang terpaksa hidup di kelas saya. Setelah saya cari latarbelakangnya.......seperti halnya saya cari latarbelakangmu, Nadira.....saya langsung tahu penderitaan dia. Jadi saya selesaikan saja.”

Nadira terdiam cukup lama. Dia merasa Ray berdiri di ambang pintu ikut mendengarkan wawancara itu.Tiba-tiba saja, tanpa diduga, Bapak X menembak Nadira dengan satu pertanyaan.

“Bagaimana posisi ibumu waktu kau temukan? Celentang atau meringkuk?”

Nadira tersentak. Bapak X menyeringai. Sederet giginya yang putih tampak bersinar ditimpa cahaya lampu di ruang serse. Bapak X tahu betul, Nadira kini tengah membayangkan kembali posisi ibunya saat pertamakali ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.

“Ceritakan, ceritakan bagaimana kakakmu yang kau benci itu menjerit, melengking...dan kau pastilah anak yang selalu harus membereskan semua persoalan keluargamu....” Bapak X menyeringai kembali. Bapak X tampak terlalu percaya diri. Perlahan dia menyentuh jari-jari Nadira. Dan seperti disetrum listrik, Nadira tersentak. Darahnya mendidih.

“Ada apa?” tanya Ray yang sudah melesat ke dalam ruangan. Suaranya seperti godam palu yang siap memecahkan batok kepala Bapak X.

“Tidak apa-apa.....” Nadira menjawab sembari menenangkan dirinya sendiri. Dengan matanya, dia meminta Ray kembali ke ruangan sebelah, agar dia bisa menyelesaikan wawancaranya.

“Pokoknya kalau kamu menyentuh Nadira, sekali saja.....” Ray menggebrak meja hingga jantung Nadira hampir loncat ke leher, “awas!” Ray menatap Bapak X selekat mungkin; nyaris seperti seekor harimau yang siap mengganyang mangsanya.

Bapak X, nampaknya sudah terbiasa dengan temperamen Ray, mengangguk. Memperlihatkan kepatuhan yang mengagumkan.

“Nadira akan utuh.”

Ray keluar dari ruangan seraya sekali lagi menghujamkan pandangan yang menikam pada Bapak X.

Nadira kembali pada posisi semula: wartawan.

“Kenapa semua korban anda berinisial huruf M?”

“Kamu cerdas....pasti sudah tahu jawabannya. Ray, serse yang sangat melindungimu itu pasti sudah memberi arsipku padamu.”

“Nama ibu Anda berinisial M?”

Bapak X terkekeh-kekeh.

“Berinisial M, beranak lelaki satu orang; anak lelaki yang tak diinginkan; yang tak jelas siapa ayahnya......”

Nadira mulai tercekam. Keterangan ini tak ada di dalam arsip serse. Dia bisa mendengar langkah Ray mendekati pintu dan ikut mendengarkan, meski dia memenuhi janji pada Nadira untuk tak mencampuri wawancara itu.

Bapak X, merasa senang ada hadirin yang sungguh berminat pada ucapannya. Dan “hadirin” itu bernama Nadira Suwandi. Itu membuat dia terangsang untuk berkisah.

“Jadi....keenamnya adalah perempuan paruh baya yang sendirian, yang membenci anaknya sendiri, dan membenci predikat sundel dari masyarakat.....”

“Saya tak percaya.......saya tak percaya mereka adalah ibu yang jahat. Itu semua karanganmu saja,” Nadira mulai emosional.

Bapak X tersenyum, “tentu saja....tentu saja kau tak percaya....ibumu mencintai kalian seperti seekor induk burung yang sayapnya meringkus kalian bertiga ke dalam satu pelukan yang ketat, yang protektif dan penuh cinta......”

Napas Nadira tertahan. Untuk kali pertama, ada perasaan yang asing yang mulai tumbuh; campuran rasa takut, benci sekaligus kagum pada Bapak X. Psikiater ini memang cerdas. Melalui perkiraan, serta membaca informasi kematian ibunya di beberapa media, tiga tahun silam—seorang isteri wartawan senior tewas bunuh diri—psikiater ini sudah bisa membuat sebuah kesimpulan yang jitu.

“Nah, sekarang saya harus tahu: bagaimana ibumu menghabiskan nyawanya? Racun? Pil tidur? Yang pasti bukan gantung diri, terlalu purba….” Bapak X tertawa halus. Bapak X terkekeh-kekeh. Matanya berkilat-kilat karena merasa Nadira sudah masuk dalam teras rumahnya.

Tetapi tawanya menusuk jantung Nadira. Tepat di tengah-tengah. Detaknya berhenti seketika.

Bapak X menikmati wajah Nadira yang pucat.

“Apa yang kau lihat pertamakali….”

“Bunuh diri memiliki sebuah bahasa khusus.....*1)”

Bapak X mengucapkan ini dengan nada yang mengalun.

Nadira tersentak. Bapak X, pskiater ternama ini menyitir sajak Anne Sexton.

Suicides have a special language.

Like carpenters they want to know Which Tools.

They never ask Why Build. *2)

Nadira tidak menjawab sama sekali dan tidak berniat meladeni kegilaan Bapak X. Tetapi sialan! Pertanyaan itu malah membentang sebuah layar masa lalu, tiga tahun lalu tepatnya, ketika kali pertama dia menemukan ibunya tergeletak di lantai rumah, dalam keadaan tak bernyawa. Tubuh yang biru. Pipi yang biru. Dan bibir yang keputihan karena busa yang kering. Bunga seruni yang memenuhi makam ibu.

“Ceritakan….” Bapak X berbisik dengan bernafsu “ceritakan perasaanmu…bagaimana reaksi kakak-kakakmu....aku bisa membayangkan dinamika kehidupan kalian...”

“Kami baik-baik saja. Saya mencintai kakak-kakak saya!” Nadira buru-buru menancapkan pagar di sekeliling tubuhnya.

Bapak X tertawa terbahak-bahak. Girang sekali melihat Nadira terpancing.

“Kenapa saya tak percaya?”

Suara Bapak X kali ini turun drastis. Lembut.

Tetapi suara seperti ini yang membuat Nadira lupa bahwa dia berada di kantor polisi. Dia lupa di ruang sebelah ada Ray yang sedang berjaga-jaga agar tak terjadi apa-apa dengan Nadira. Ruangan itu mendadak gelap. Hitam. Dan tiba-tiba saja dia merasa ada di sebuah ruang masa lalu, tepat 20 tahun yang lalu......

Jalan Kesehatan, Jakarta Pusat, 8 Januari 1974

Nadira mencium aroma asap bubuk hitam yang menyeruduk masuk ke ruang makan. Nampaknya aroma itu datang dari halaman belakang di mana Arya dan kedua putera Bibik Rania tengah jejingkrakan menyulut petasan. Itu sisa petasan malam Tahun baru yang selalu saja masih disimpan oleh Arya dan kedua sepupunya, Iwan dan Mursid.

“Menyambut tahun 1974!” kata Arya dengan sinar mata berkilat-kilat. Ayah sedang pergi karena banyak sekali protes mahasiswa menjelang kedatangan Perdana Menteri Jepang Tanaka. Ibu sedang menemani bibi Rania ke dokter. Dari meja makan, tempat Nadira tengah mengetik cerita pendek, ia mendengar sayup-sayup suara TVRI yang pasti hanya disaksikan Yu Nah. Lonceng yang berbunyi delapan kali itu lantas sambung menyambung dengan suara ledakan petasan dan sorak-sorai sang Abang dan dua “bawahannya”. Sungguh mengganggu konsentrasi. Nadira berdiri dan menghampiri ketiga lelaki remaja itu.

“Main petasannya pindah dong...” Nadira bertolak pinggang jengkel. Dia melotot rumput halaman belakang sudah berselimut kapuk. “Ibu akan menikam kamu!”

Arya, si bandel tersenyum-senyum,, “itu cuma bantal bekas yang sudah bau busuk...ayo, Sid! Siap!”

Duar, duar!!!!

Petasan meledak. Dua buah bantal hancur lebur dan jutaan kapuk melayang-layang seperti salju yang menyelimuti rumput tanaman belakang.

“Salju, salju di Jakarta!!” tiga ekor monyet menari-nari di atas rumput yang penuh oleh kapuk.

Nadira menggelengkan kepalanya. Abangnya dan kedua sepupunya itu seharusnya sudah memasuki usia remaja yang “dewasa”. Mereka bertiga duduk di kelas satu sekolah menengah atas, tetapi tingkah lakunya lebih mirip penghuni Ragunan.

Nadira duduk kembali di muka mesin tik milik ayahnya di meja makan. Ini adalah cerita pendeknya yang keenam yang akan dikirim ke majalah Mata Hati. Lima cerita pendek yang sebelumnya sudah dimuat, sudah digunting sang ayah dan dibingkai, dipajang di ruang kerja ayahnya. Ayahnya begitu bangga. Setiap kali mereka makan malam bersama, ayahnya akan mencium ubun-ubun Nadira dan menyatakan anak bungsunya yang baru berusia 12 tahun itu pasti bisa meneruskan pekerjaan ayahnya kelak. Dada ayam goreng yang biasanya disimpan untuk sang Ayah kini berimigrasi dari piring ayahnya, ke piring anak bungsu. Nadira tak pernah menyadari sepasang mata Yu Nina yang berkilat-kilat marah menyaksikan perpindahan sepotong dada ayam yang berharga itu. Nadira terlalu sibuk menangkis kaki Arya yang menendang tulang keringnya dan wajah Arya yang memohon... Seperti biasa, Nadira tidak tega dengan wajah Abangnya yang sangat menyukai dada ayam itu. Dia akan memindahkan sepotong ayam itu ke piring Abangnya. Adegan-adegan seperti ini hanya berbekas di hati Yu Nina. Untuk Arya si Bandel, yang penting dia mendapatkan jatah dada ayam. Beres.

Duar duar!!!

Terdengar sorak sorai gembira tiga monyet itu. Makin bergairah dan makin mengguncang rumah tua mereka di kawasan Petojo, di pusat Jakarta. Nadira menghela nafas. Dia akhirnya mengemas kertas-kertas dan mesin tiknya. Untuk kali pertama dia memutuskan menggunakan “fasilitas” yang dianugerahkan ayahnya, yaitu “kamu boleh menggunakan kamar kerja Ayah kalau ingin mencari ketenangan.”

Nadira meletakkan mesin tik itu tepat di tengah meja kerja ayahnya; kertas ukuran folio di sebelah kiri dan dua halaman pertama yang sudah selesai diketik di sebelah kanan mesin tik, Nadira menyadari: dia dikelilingi cerpen-cerpen karyanya yang dipajang ayahnya di dinding. Nadira merasa risih dan aneh. Mungkin itu penting bagi ayahnya. Tetapi Nadira merasa tidak ada sebutir debu dibanding penulis-penulis yang dipujanya: Mark Twain, Louisa May Alcott, dan Charles Dickens. Mereka membangun sebuah dunia yang mampu mengisap pembaca. Mereka berhasil membuat para pembaca melekat di dalam dunia itu seumur hidupnya. Artinya: para penulis luar biasa ini, menurut Nadira, membuat Nadira tak ingin kembali ke dunia nyata. Mereka sudah memberikan kunci pada sebuah dunia gaib di abad silam dengan cerita yang oh, luar biasa, sungguh Nadira tak ingin dipaksa untuk menaiki tangga dan nyemplung ke Jakarta di tahun 1974. Sungguh suram, kusam dan tak menarik. Nadira sudah terlanjut merasa seperti bagian dari huruf-huruf yang dibacanya. Dia adalah penduduk dunia rekaan para penulis yang dicintainya.

Karena itu, Nadira merasa tidak (atau belum) layak memajang cerpen-cerpen Nadira yang di saat yang masih terlalu pagi dan dini di dinding ruang kerja ayahnya. Mungkin boleh saja dia memajang di dinding kamarnya, tapi jangan di sini, di kamar kerja ayahnya. Nadira merasa dia sebanding dengan para penulis pujaannya. Dia menurunkannya satu persatu dan membawa kelima bingkai itu ke kamarnya: sebuah kamar besar yang ditempati oleh Nadira dan Yu Nina. Yu Nina melirik heran. Dia tengah mengerjakan pekerjaan rumahnya.

“Apa tuh?”

“Cerpenku yang dibingkai Ayah. Aku mau simpan di lemari saja....”

“Disimpan di sini? Kenapa?”

“Risih...”

“Jadi, kamu mau letakkan di lemari pakaian kita?”

Nadira baru menyadari nada keberatan kakaknya.

“Iya...disimpan, supaya tak perlu dipamer........”

“Kenapa?”

Nadira heran. Apakah Yu Nina tuli?

“Aku sudah bilang, aku risih.”

“Ayah sudah tahu? Itu kan dipajang di dinding kamar kerja Ayah.”

Nadira mengangkat bahu, “nanti aku jelaskan. Aku keberatan kalau karyaku dipajang di tembok Ayah....”

“Ini kamarku juga. Lemari pakaian bersama. Aku keberatan juga.”

Nadira mengerutkan kening. Tak paham “Aku bukan mau memajang di tembok Yu, justru aku ingin menyimpan di bagian bawah lemari, kalau perlu dikubur di paling bawah, ditumpuk di bawah seprei,” Nadira menjelaskan dengan sabar, karena tidak bisa membaca hati kakaknya yang mulai mendidih.

“Aku tidak mau melihat omong kosongmu di lemari kita. Di kamar ini.”

Kini Nadira semakin tak paham apa yang tengah terjadi. Dia meletakkan kelima cerpen yang sudah dibingkai itu satu persatu di dasar lemari pakaian yang mereka gunakan bersama. Yu Nina menyaksikan gerak gerik adiknya dengan satu lirikan. Dia menutup bukunya dengan geram dan meninggalkan kamar.

Nadira menutup lemari pakaian itu. Dia kembali ke meja kerja Ayahnya dan mencoba konsentrasi. Sepuluh jarinya yang kecil mulai bergerak lincah. Suara rentetan petasan tak terdengar, karena keasyikan Nadira dalam dunianya. Tiba-tiba...

Duar

Duar

Duar! Duar!

Nadira tersentak. Bunyi petasan kali ini seperti menghantam sebuah benda keras. Bahkan ledakan berikutnya seperti mengakibatkan pecahnya berbagai barang pecah belah. Nadira berdebar-debar. Hanya dalam bilangan sedetik dia sudah berada di depan kamarnya. Pembantunya, Yu Nah tengah menjerit. Dia melihat Yu Nina hanya berdiri di depan kamar tanpa ekspresi apa-apa menyaksikan kamarnya yang mendadak seperti korban ledakan bom. Saat itu juga, Nadira mendengar tiga monyet geruwalan berlari menyusul dan ternganga melihat kamar Yu Nina dan Nadira.

Nadia melangkah perlahan mendekati lemari pakaiannya yang sudah hancur pintunya. Baju-baju Yu Nina dan Nadira sebagian koyak dan hangus. Beberapa sepatu berhak tinggi yang disimpan dalam kotak sepatunya hancur berantakan. Lima cerita pendek Nadira yang sudah sudah hancur berkeping-keping. Nadira memandang percikan gelas bingkai yang bertebaran seperti pecahan berlian. Dia menoleh dan melihat wajah Arya yang pucat.

Arya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Nadira bisa melihat dengan jelas, abangnya bukan hanya ketakutan, tetapi juga terkejut dan heran.

Yu Nah menjerit dan mengancam akan memberitahu Ayah dan Ibu saat mereka sudah pulang dari kondangan. Nadira melirik Yu Nina yang masih berdiri di pintu, melipat tangannya. Wajahnya tanpa ekspresi. Dia tak marah melihat baju-bajunya yang digantung hancur lebur dihajar petasan. Yu Nina hanya mengeluarkan satu perintah untuk Yu Nah.

“Yu Nah, jangan banyak mulut. Bersihkan saja!”

Kalimat itu terdengar dingin. Yu Nina membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamarnya.

Sejak itu, ya sejak itu, Nadira tahu: dia tak akan pernah memaafkan kakak sulungnya. Ketika dia melihat Abangnya dihukum oleh Ayah dan Ibunya (tak boleh main petasan seumur hidup; tak boleh keluar pada hari Minggu; tak boleh main bola, membaca Qur’an setiap hari di rumah Kakek Suwandi; tak boleh nonton televisi; dan yang paling sulit, dia tak boleh bertemu dengan Iwan dan Mursid untuk waktu yang lama), Nadira menyimpan kemarahan yang sungguh dalam. Dia tak mau lagi tidur satu kamar dengan Yu Nina. Dan dia tak mau lagi melihat mata kakak sulungnya.


***

“KAMU membenci kakakmu....saya bisa melihat dari matamu.”

Suara Bapak X yang riang mengembalikan Nadira ke dalam ruangan serse. Nadira segera mengumpulkan kesadarannya yang terpecah belah. Dia mengambil sehelai tisu dari dalam ranselnya dan mengusap-usap bibirnya.

“Kamu membencinya........” Bapak X terlihat menikmati raut muka Nadira yang berkeringat.

Nadira mulai masuk ke dalam arena yang dibentangkan Bapak X. Psikiater itu pasti cerdas dan licin. Seperti tukang sihir dalam dongeng anak-anak Hansel dan Gretel, yang membujuk lidah anak-anak dengan rumah gula-gula. Bapak X tahu betul, ada sesuatu yang hitam dan membusuk di dasar hati Nadira yang perlu dicungkil dan dikeluarkan.

“Ceritakan.....bagaimana kakakmu melolong waktu menemukan ibumu tewas....”

“Bagaimana Anda tahu dia melolong?”

Oh, betapa kilat-kilat matanya mengerjap bahagia. Nadira terdiam, dan dia masih bisa mendengar suara lolongan Yu Nina.

“Ibu selalu menginginkan bunga seruni...” tiba-tiba Nadira berbicara, lebih untuk dirinya sendiri.

“Ya.....” Bapak X seolah-olah paham, “kalau saya dieksekusi nanti, saya juga sudah mempunyai permintaan yang khusus......”

Nadira seperti tak lagi berada di ruangan itu. Dia sudah terlempar lagi ke dalam kehidupannya tiga tahun silam, ketika dia menyeruak seluruh Jakarta untuk mencari bunga seruni demi ibunya *3).

“Ibu tidak mau bunga melati.......dan Yu Nina terus menerus melolong; menangis tersedu-sedu.....” Nadira mengucapkan itu sembari menerawang.

Bapak X perlahan tersenyum. Nadira sudah masuk dalam genggamannya. Alangkah lezatnya. Bapak X menahan diri untuk tidak menyentuh jari-jari Nadira, khawatir Nadira terbangun dari keasyikannya.

“Aku tak pernah paham kenapa Ibu memutuskan untuk mati.”

“Ibumu pasti punya beban yang begitu berat.....kalau tidak, dia pasti tak akan mungkin memutuskan untuk meninggalkan ketiga anaknya yang sangat dia cintai....Kenapa, menurutmu, kenapa dia memutuskan untuk pergi?”

Pertanyaan itu. Pertanyaan itulah yang selalu mengganggu Nadira hingga detik ini. Pertanyaan yang membuat Nadira bergelung di kolong meja kerjanya setiap malam. Pertanyaan yang membuat Nadira tak ingin pulang untuk menemui Ayahnya yang pasti duduk di depan televisi ditemani ribuan nyamuk yang berdesing. Pertanyaan yang membuat Nadira bahkan tak berani lagi mendekati ruangan tempat ibunya ditemukan tergeletak tiga tahun lalu, tanpa nyawa. Pertanyaan yang mendesak-desak syaraf keinginan tahu Nadira, hingga Nadira kerap menjeduk-jedukkan kepalanya ke dinding kamarnya, karena rasa sakit di ubun-ubunnya yang tak kunjung pergi. Pertanyaan yang akhirnya mendorong Nadira untuk pindah ke tempat kos, karena dia tak sanggup lagi tinggal di rumah yang masih dihantui kenangan ibunya.

“Aku..... tak pernah paham kenapa ibu menginginkan bunga seruni yang mengantarnya pada rumahnya yang terakhir,” suara Nadira mulai serak. Dia menahan tangis.

Bapak X menyentuh tangan Nadira. Dan kali ini Nadira tidak menolak.

“Aroma bunga melati terlalu semerbak.....memang tidak cocok dengan kepribadian ibumu....”

Nadira terdiam menahan airmatanya yang nyaris tumpah. Suara Bapak X meniup-niup luka hatinya yang tengah menganga.

“Bunga sedap malam terlalu mistis.....” Bapak X mengucapkan itu seperti menyanyi.

“Nadira, memang bunga seruni cocok untuk seseorang yang.....”

Nadira seperti tersentak.

“Seseorang yang apa......?”

“Seseorang yang.....” Bapak X sengaja memotong kalimatnya; sengaja membuat Nadira semakin masuk dalam kamar tidur imajinatifnya.

“Apa?” Nadira hampir meledak.

“Seseorang yang lelah dengan dunia.....seseorang yang ingin pensiun dari hidupnya...”

Suara Bapak X sangat lembut diatur seperti satu bait lagu. Dia mengucapkan itu sembari memejamkan matanya. Dia sudah mencapai tingkat ekstase yang diinginkannya.

Hanya dalam waktu dua detik, wajah Bapak X dihajar sebuah tonjokan yang luarbiasa keras.


***

SINAR MATAHARI pagi seperti tumpah ruah menyirami gerombolan alamanda di kebun rumah keluarga Suwandi.

Di bawah lindungan rerimbunan kembang kuning itulah Bram Suwandi tertatih memeriksa anggreknya satu-persatu. Tepatnya anggrek milik almarhum isterinya. Tara memarkir mobilnya di samping rumah, dan dia bisa melihat ayah Nadira yang hampir mencapai usia 70 tahun itu tengah berusaha membuat sisa hidupnya lebih berarti: berbincang dengan bunga-bunga peninggalan isterinya.

Meski dia sudah senja, dan telinga kirinya sudah mulai tak berfungsi dengan baik, Bram selalu punya insting yang jitu. Ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Dia menoleh. Senyumnya mengembang perlahan.

“Selamat pagi Pak.....”

Tara menyalami Bram Suwandi, wartawan veteran yang sangat dikaguminya; yang memberinya inspirasi untuk menjadi wartawan. Bram mempersilakan Tara duduk di kursi kebun agar dia bisa menatap anggrek milik isterinya itu.

“Daun-daunnya sudah lama tidak saya beri minyak....” Bram menggumam. “Mau kopi atau teh nak?”

“Terimakasih pak...saya baru sarapan...”

Bram mengangguk dan mereguk kopinya, “apa yang saya bisa bantu, Nak? Nadira sudah tidak tinggal di sini, kan dia kos dekat kantor Tera......akhir Minggu biasanya dia ke sini....”

“Ya....saya tahu Pak...”

Tara memperbaiki letak kursinya.

“Maaf mengganggu pagi Bapak.....Nadira sering mengatakan, pagi untuk Bapak adalah waktu menyapa kebun....”

Bram tertawa terkekeh-kekeh.

“Tidak apa-apa Nak Tara....”

“Bagaimana penulisan buku Bapak?”

Bram menggaruk-garuk kepalanya yang masih menyisakan rambut yang masih lumayan tebal dibanding lelaki tua seusianya.

“Belum saya pegang lagi.....sejak.....” Bram membersihkan kerongkongannya, “masih belum saya teruskan lagi. Saya juga bingung apakah pembaca masa kini masih tertarik dengan soal Malari....”

“Penting Pak....mumpung beberapa tokohnya masih hidup dan Pak Bram salah satu wartawan yang menyaksikan peristiwa itu.”

Bram mengangguk, meski wajahnya memperlihatkan kesangsian. Bukan sangsi pada ucapan Tara, tetapi pada dirinya.

“Ada yang bisa saya bantu, nak?”

Tara berpikir cukup lama, hingga akhirnya dia memutuskan langsung saja pada tujuannya untuk datang.

“Nadira....menyebut seuntai tasbih milik ibunya....”

Bram mengerutkan keningnya.

“Tasbih? Yang dari kayu itu? Itu pemberian ayah saya untuk isteri saya,” Bram tersenyum.

“Ya Pak....Nadira bercerita tentang tasbih itu....apa bisa saya pinjam sebentar, agar Nadira memegangnya? Mungkin...agar dia bisa....bisa tenang....”

Bram terdiam.

“Nadira masih belum bisa tidur?”

“Hampir setiap malam dia tidur di kantor....di kolong mejanya....” Tara menjawab dengan suara agak bergetar.

Bram mengambil sebatang rokok dan menawarkan pada Tara. Tara menolak dan mengucapkan terimakasih. Dengan suara rendah Bram menceritakan di antara para sepupunya yang berjumlah 21 orang itu, Nadira—seperti ibunya—yang saat itu baru berusia enam tahun, selalu menolak mematuhi struktur. Setiap libur, mereka diwajibkan belajar membaca Quran, mendengarkan Kakek Suwandi bercerita tentang mukijizat para Nabi. Bram ingat bagaimana mata puluhan keponakannya, para sepupu Nadira, yang membelalak mendengar kisah Nabi Musa yang membelah Laut Merah.

“Kisah itu begitu menggelora, dan ayah saya bercerita sembari menggambarkan lautan yang terbelah itu di papan tulis dengan kapur warna warni....fantastis....” kata Bram mengisap rokoknya.

Tara tersenyum membayangkan gerombolan sepupu Nadira.

“Nadira senang kisah yang mana?”

Bram menggelengkan kepala, “waktu pelajaran membaca Quran, Nadira tidur-tiduran di bale sambil membaca. Kadang-kadang ketika para sepupunya tengah diceramahi aqidah oleh neneknya, Nadira bermain kemah-kemahan dengan menggunakan kelambu milik nenek dan kakeknya. Ayah saya membiarkan dia melakukan apa yang diinginkannya. Ibu saya kurang suka dengan ketidakaturan Nadira, dan sering sekali menegur isteri saya.....” Bram mereguk kopinya. “Tapi Ayah saya membiarkan Nadira dengan tingkah lakunya. Gara-gara itu, Ayah dan ibu saya sering berselisih paham, karena ibu saya sangat rapi dan percaya pada struktur.....” Bram mengisap rokoknya lagi dan mengembuskannya dengan tenang.

“Ayah saya bersikeras membiarkan Nadira berkembang sesuai alam. Karena setiap kali saat mereka diuji membaca, ternyata Nadira membaca dengan baik, dengan suara yang merdu. Memang Nadira menolak mengenakan kerudung selendang saat mengaji, karena dia kepanasan dan seluruh kulitnya bruntus saat berkeringat. Dengan keringat berleleran itu, toh Nadira mampu membaca Surah Al Baqarah yang begitu merdu, yang membuat seluruh ruangan terdiam. Senyap.

Jadi Ayah saya tak peduli kapan Nadira mempelajari itu semua, dia juga tak peduli apakah Nadira mengenakan kerudung itu atau tidak, yang penting, dia bisa membaca Quran....” Bram mematikan rokoknya.

“Dia menyukai kisah Nabi Chaidir....” kata Bram lagi, menjawab pertanyaan Tara.

Tara mengangguk dan entah mengapa, dia sendiri sudah menebak pasti kisah Nabi Chaidir itulah yang melekat di hati Nadira.

“Di saat kami shalat berjemaah pada bulan Ramadhan, isteri saya duduk di belakang, menghormati, tapi tak ingin ikut bergabung. Biasanya Nadira duduk di pangkuan ibunya, padahal badannya sudah mulai liat dan berisi, karena sering lari-larian atau main galah dengan anak Gang Bluntas.....”

Tara masih tak paham apa yang diingin disampaikan ayah Nadira dengan kisah nostalgia masa kecil ini. Tapi dia sabar menunggu. Yang penting dia bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat Nadira kembali menjadi sosok yang dikenalnya dulu. Bertahun-tahun yang lalu. Sebelum peristiwa....

“Saya tak pernah tahu apa yang dilakukan isteri saya saat kami shalat. Biasanya saya menjadi Imam bergantian dengan ayah saya. Tetapi, suatu hari, saya datang terlambat untuk shalat tarawih. Waktu itu tahun 1968, Soeharto sudah mengambil alih pimpinan negeri ini. Setiap wartawan asing maupun lokal, termasuk saya, sedang mencari cara agar bisa menemui Bung Karno yang terisolasi saat itu. Gagal terus. Saat saya datang ke Gang Bluntas untuk shalat, saya lihat Ayah saya sudah memulainya. Dan, seperti biasa, isteri saya duduk di lantai, di atas tikar di ruangan yang sama. Dia memejamkan matanya. Nadira saat itu duduk di sampingnya sambil menidurkan kepalanya......”

Tara memajukan kepalanya.

“Isteri saya memegang tasbih coklat itu....dan dia komat-kamit...saya yakin dia sedang wiridan.....dan saya yakin Nadira menerima hembusan wirid itu ke daun telinganya.....”

Kali ini Tara yakin, dia melihat mata tua yang berkaca-kaca.

Tara teringat bagaimana dia menemukan Nadira di bawah kolong meja yang memejamkan mata sambil komat kamit.

“Mungkin...mungkin jika Nadira memegang tasbih ibunya itu...dia akan bisa lebih tenang. Lebih ikhlas dengan kepergian ibunya,” kata Tara, penuh harap.

Bram menghela nafas. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tasbih itu tidak ada pada saya, Tara....”

Bram mengambil rokok dan kembali menawarkan kepada Tara. Tara menolak sembari mengucapkan terimakasih.

Bram mengisap rokoknya dalam-dalam, dan dengan suara bergetar dia menarik Tara ke sebuah masa yang penuh asap, keringat demonstran. Ketika Jakarta dikoyak-koyak sejarah.....


Jalan Kesehatan, Jakarta Pusat, 16 Januari 1974

Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Arya memberondong masuk ke ruang tengah dan Kemala langsung menjerit. Dia memeluk anak lelaki kami, sekaligus mengguncang-guncang tubuh Arya sembari berlinangan airmata. Berkali-kali Kemala mempertanyakan darimana dia semalaman. Dari nadanya, Kemala agak menyalahkan saya. Ketika itu, Nina baru berusia 16 tahun, dan Arya berusia 15 tahun; mereka masing-masing duduk di kelas 2 dan 1 SMA. Nadira masih di sekolah dasar dan dia mempunyai dunianya sendiri. Dia sedang asyik menulis cerita pendek, meski saya tahu, dalam diamnya, Nadira memperhatikan tingkah laku kedua kakaknya.

Kemala tak setuju saya sudah berbagi cerita politik pada anak kami pada usia sedini itu. Saya memang sudah mengajak mereka berdiskusi tentang situasi politik yang tengah panas: partai-partai politik yang sudah ditaklukkan, dominannya pemerintahan Orde Baru, kunjungan Perdana Menteri Tanaka, soal penanaman modal luar negeri. Isteri saya menganggap informasi seperti itu terlalu berat untuk disangga anak-anak saya yang seharusnya masih sekolah. Hari itu, tanggal 15 Januari, ketika saya sibuk meliput kerusuhan demonstrasi dan pembakaran mobil-mobil buatan Jepang, saya baru tahu ternyata kedua anak saya menghilang seharian semalaman. Itulah yang menyebabkan Kemala histeris.

“Saya cuma ikut-ikutan mengempiskan ban mobil buatan Jepang di daerah Menteng,” kata Arya menggaruk-garukkan kepala sambil menggosok-gosok lehernya yang bersimbah peluh. Nina menggosok-gosok kepala adiknya. Bangga.

“Kamu! Kamu dari mana?” Kemala menuntut Nina dengan suara yang garang.

“Nina cuma ke Salemba, Bu. Cuma ikut nyanyi dan tepuk tangan dengan kakak-kakak mahasiswa. Sama temen-temen sekolah.”

“Kamu ikut turun ke jalan?!!” suara Kemala hampir merontokkan rumah kami.
Nina menggeleng, “hanya di Salemba, duduk-duduk, ikut yel-yel....”

“Kamu bolos?”

“Nggak ada yang sekolah hari ini,Bu. Kan dari pagi sudah diumumkan ada demo di mana-mana....ya Nina diajak teman-teman.”

Kemala sudah siap meraung ketika tiba-tiba Nadira dengan rambut awut-awutan, mengenakan piyama keluar dengan wajah mengantuk. Dia agak heran melihat seluruh anggota keluarganya berkumpul tanpa dirinya.

“Da apa Bu?”

“Tidur sana!” Nina merasa terganggu karena tiba-tiba saja perhatian kami terpecah.

“Sini....!”

Kemala menarik Nadira dan mengajak dia tiduran di atas pangkuannya. Nadira langsung saja tertidur kembali setelah Kemala mengusap-usap alis mata Nadira.

“Kita harus bersepakat bahwa tidak ada lagi anak-anak Ibu yang ikut-ikutan turun ke jalan sampai kalian mahasiswa!” suara Kemala lantang hingga Nadira yang sudah memejamkan mata, terbangun lagi.

“Bu!”

“Tidak tawar menawar!”

Kemala menarik Nadira dan mengajaknya kembali ke kamarnya. Nina dan Arya memandang saya dengan jengkel. Saya tersenyum diam-diam. Lalu kutepuk-tepuk bahu Nina dan Arya. Terus terang saya bangga.

“Sebentar lagi kalian kuliah....sabarlah.”

***

“SAYA selalu merasa mengecewakan Nina....terutama karena ketika dia lahir, kami tak memiliki apa-apa; kami hidup dengan keuangan yang sangat terbatas saat kami di Amsterdam,” Bram mengambil rokoknya lagi.

Tara masih belum mampu menghubungkan cerita itu dengan pertanyaannya.

“Tasbih itu saya berikan pada Nina. Setelah Kemala pergi, roh anak-anak saya seperti ikut bersamanya. Saya pun juga seperti tak punya guna....” suara Bram terdengar serak. Ia mencoba menghalangi airmatanya yang kepingin tumpah. “Saya merasa, Nina paling membutuhkan tasbih ibunya. Saya tahu Arya dan Nadira selalu kuat; selalu bisa mengatasi luka kehilangan ibunya.”

Tara mengangguk, setengah paham.

“Di malam 15 Januari itu, saya tahu betul: Nina ingin sebuah pengakuan dari saya. Sedangkan Arya lebih tertarik oleh gairah suasana yang heroik. Tapi Nina..... Nina selalu membutuhkan pengakuan.”

Kini Tara mengangguk dalam-dalam.


***

“TULANG HIDUNG yang rusak; mata yang lebam......dan sebuah somasi!”

Tara duduk di hadapan Nadira. Setengah putus asa.

Gadis muda itu sudah mendadak tua; terutama sejak ibunya begitu saja pergi. Dia baru berusia 32 tahun; dan ada kemungkinan dia memilih tidak menikah sama sekali. Tetapi di mata Tara, Nadira sudah berusia 45 tahun. Lingkaran hitam di bawah matanya; segerombolan kerut yang tiba-tiba menyerbu dahinya tanpa diundang. Darimana ketuaan itu datang?

“Saya tidak akan minta maaf.”

Tara sudah tahu Nadira akan menyodorkan kalimat itu.

“Pasti sebentar lagi mas Tara akan mengatakan, saya kan sudah bilang, jangan mengerjakan penugasan itu.....”

Tara menyeret kursinya dan duduk begitu dekat dengan Nadira yang sedang dikelilingi api dan asap kemarahan.

“Somasi itu akan dicabut kalau kau minta maaf.”

“Saya tidak takut dituntut ke pengadilan.”

“Yang bilang kamu takut, siapa?”

Nadira terdiam.

“Nadira.....kamu tahu berapa kali aku menemukanmu meringkuk di bawah kolong meja kerjamu? Tidak tidur; kamu cuma memejamkan mata.”

Nadira menelan ludah.

“Apa hukuman saya mas? Potong gaji? Tidak boleh meliput dua bulan? Saya akan jalani.”

“Apa yang membuat kamu lepas kontrol?”

“Dia menghina Ibu.”

Tara mengerutkan kening, “menghina Ibumu?”

“Pokoknya dia menghina Ibu!”

Tara menahan diri untuk tidak menyemprot Nadira. Ini bukan waktu yang tepat.

“Kamu harus menulis berita acara yang lengkap dan rinci tentang semua kejadian; apa yang dia katakan; apa yang dia lakukan, menit per menit; transkrip semua wawancara kalian. Lalu difotokopi untuk Pemimpin Redaksi, Redaktur Eksekutif, bagian Legal dan saya.”

“Ya mas....”

Nadira masih duduk, menanti vonis hukumannya.

Tara mengorek-ngorek tumpukan map penugasannya. Terlihat sibuk atau pura-pura sibuk. Yang jelas gerak-geriknya yang terasa lamban itu membuat Nadira ingin sekali lagi menempeleng dia. Toh dia sudah menonjok satu orang gila; kenapa tidak sekalian dia tempeleng atasannya yang susah betul mengucapkan satu bentuk hukuman, agar siksaan itu selesai: mengepel kakus; puasa menulis dua bulan; tak boleh memegang liputan tiga bulan; duduk menyortir surat di meja sekretaris enam bulan; atau potong gaji? Ayo. Lempar hukuman itu sekarang juga.

Nadira hanya menatap Tara, dan Tara tetap terlihat sibuk mengorek-ngorek tumpukan map di atas meja. Nah, akhirnya dia menemukan apa pun yang dicarinya, lalu dia memberikannya pada Nadira: Penugasan Wawancara.

Nadia terperangah.

“Jangan girang dulu. Itu hukumanmu yang pertama. Nanti setelah ada serangkaian hukuman berikutnya. Apalagi kalau kamu tidak mau minta maaf, kita akan menghadapi tuntutan bapak X. Tapi saya kira, ini akan berakhir damai. Nanti sore kamu harus menghadap Pemimpin Redaksi. Biar beliau saja yang meyakinkan kamu untuk minta maaf.”

Nadira berdiri.

Sebelum dia melangkah, dia mendengar Tara memanggilnya. Kali ini dengan suara yang lebih netral, seolah-olah kemarahannya sudah mulai menguap.

“Aku ada sesuatu untukmu....” Tara mengambil seikat bunga seruni berwarna putih dari laci. “aku tak berhasil menemukan tasbih ibumu...”

“He?”

“Bawa saja....”

Nadira menerima seikat kembang itu dan menatapnya, masih tak percaya. Lalu dia mencabut tiga tangkai seruni dan memasukkannya ke dalam ranselnya.


****

NADIRA BERDIRI di muka rumah itu, rumah di pojok kawasan Bintaro. Yang selalu melahirkan skenario baru dalam benaknya. Ternyata rumah ini adalah istana milik Tito Putranto. Nadira menahan nafas. Jadi Tito Putranto ingin kita semua mengetahui bahwa ia mempunyai rumah bertingkat empat yang disangga tiang-tiang yang tinggi dan tebal; dia juga ingin kita semua tahu bahwa dia memiliki motorboat dan motor-motor besar yang konon harganya melebihi harga mobil itu.

Nadira baru menyadari, rumah yang selalu membuat dia menyetop perjalanannya itu, ternyata seorang pengusaha terkemuka di negerinya yang dikenal sebagai seseorang yang memiliki puluhan perusahaan properti (untuk ternak uangnya); memiliki beberapa bank (untuk mencuci uangnya) dan gemar main di pasar uang. Pengusaha yang terkenal sebagai terminal terakhir peminjaman duit jika bank sudah sekarat karena pendarahan: pengusaha yang yang dikenal pernah menyiksa salah satu bankir yang terlambat mengembalikan pinjaman kepadanya; atau pernah juga ada bisik-bisik bahwa dia menggelantung pacar anaknya di balkon lantai 17, dengan kaki di atas dan kepala melayang-layang; kaki siap dilepas dari genggaman jika dia tidak berjanji meninggalkan anak sang konglomerat. Tito yang dikenal memiliki ratusan orang yang berfungsi sebagai pasukan pengamanan pribadinya; yang konon dilatih melebihi kesigapan pasukan khusus militer di Indonesia.

Seorang lelaki yang mengenakan safari hitam membukakan pintu dan mempersilahkan Nadira masuk.

“Bapak sudah menunggu, silahkan masuk.”

Nadira melangkah perlahan, karena dia ingin “memotret” halaman depan. Oh patung Napoleon itu, Nadira harus, harus menyentuhnya. Napoleon Putranto itu berdiri dengan gagah perkasa menghadap jalanan dikelilingi tujuh orang bidadari (entah bagaimana ada perkawinan antara kisah Joko Tarub dan Napoleon). Jika bidadari dalam kisah Joko Tarub kehilangan selendang; di sini ketujuh bidadari tampak mengagumi tubuh Napoleon Putranto. Dari ketujuh bidadari itu duduk di pinggir, ada salah satu bidadari membawa tempayan yang memuncratkan air mancur ke seluruh penjuru.

Nadira menghampiri salah satu bidadari malang pembawa tempayan itu, dan mencuci tangannya.

Kemudian dia melangkah masuk. Prajurit bersafari hitam tadi membawa Nadira ke dalam lorong-lorong panjang yang akhirnya berujung pada sebuah ruangan besar tertutup beratap tinggi penuh ukiran keemasan yang melindungi sebuah kolam renang yang biru, luas dan tenang. Di sebelah kiri kolam renang, Nadira melihat sebuah tubuh tengah membelah kolam biru itu menjadi dua dengan gaya bak dolfin yang lincah, naik turun, naik turun, naik turun.

Dengan sekejap Sang Dolfin sudah tiba di pinggir kolam renang. Kepalanya yang basah muncul dan dia segera membuka kacamata renangnya.

“Nadira? Hai...” Tito segera meloncat naik ke pinggir kolam renang.

Nadira tersenyum mengangguk, dan tidak tahu apakah dia harus tetap berdiri menyaksikan Sang Dolfin mengibas-ngibas air dan memamerkan dadanya yang tegap atau dia duduk saja di rentetan kursi besi di pinggir kolam renang. Dalam sekejap, entah darimana datangnya, tiga orang menyodorkan handuk, membantu sang Dolfin mengenakan kimono handuk berwarna biru dengan pinggir keemasan; sebuah tangan lain lagi menyodorkan sepasang sandal rumah berwarna biru dengan sulaman emas berinisial TP.

“Duduk saja dulu, Nad....saya ganti baju dulu ya...”

Nadira mengangguk dan kemudian memilih salah satu kursi besi. Dia memandang air kolam renang biru yang menampilkan dasar kolam yang terbuat dari mozaik keramik yang membentuk huruk TP. Nadira mulai membayangkan bagaimana para pekerja keramik yang malang itu dihardik untuk menghasilkan huruf TP itu dengan seksama dan rapi seperti itu. Kepala Nadira ikut miring mengikuti hurup T yang melingkar-lingkar berpelukan dengan huruf P dengan presisi yang mengagumkan. Pada saat itulah cuping Nadira mengembang karena aroma parfum yang segar yang menyerbu. Nadira mengangkat kepalanya. Tito Putranto sudah berdiri di sampingnya. Tersenyum. Dia kini mengenakan celana hitam dan kemeja putih.

“Suka renang?”

“He?”

“Ayo...kita pindah ke dalam...”

Kali ini mereka memasuki sebuah ruang duduk sebesar lapangan bola. Tiba-tiba saja Nadira diserbu warna emas yang menyilaukan matanya. Belum pernah dia melihat tembok yang dipenuhi ukiran emas yang begitu banyak. Kali ini dia melihat lukisan wajah Tito Putranto yang dicangkokkan ke tubuh Napoleon Bonaparte. Lukisan seluas dinding itu dibingkai ukiran yang keriting, lagi-lagi, berwarna emas.

“Oh itu cat emas murni....” kata Tito menanggapi Nadira yang tengah menatap bingkai itu dengan takjub. Nadira masih menganga. Emas. Dia membayangkan para pekerja yang mengukir bingkai yang terbuat dari emas murni itu pasti senewen betul; bayangkan jika terjadi setitik kesalahan, bukankah itu emas murni?

“Ayo....duduk, duduk Nadira....mau kopi, teh, juice? Atau air mineral?”

Nadira duduk di kursi yang berhadapan dengan Tito yang duduk di sofa berselimut beluderu biru keemasan. Di belakangnya, terpajang lukisan Napoleon berwajah Tito

Jadilah Nadira merasa sedang berhadapan dengan dua sosok Tito. Yang mengenakan celana panjang hitam dengan kemeja putih dan yang mengenakan seragam Napoleon.

Seorang gadis berkulit bersih, bermata bening dan berlesung pipit, berusia sekitar 20-an mengenakan rok denim mini dan t-shirt dengan ukuran satu nomor kekecilan, berdiri di samping Nadira. Nadira menengadah dan tidak tahu kenapa gadis berlesung pipit dan t-shirt kekecilan itu menatapnya. Tito tersenyum.

“Saya mau Latte saja....kamu mau apa Nad?”

“Oh....Kopi hitam saja, mbak...”

“Tessa, nama saya Tessa....” si lesung pipit tersenyum manis.

“Terimakasih Tessa,” kata Nadira setengah linglung.

“Cream or milk?” tanya Tessa dengan suara seperti suara pramugari di atas pesawat.

Nadira mengerutkan kening, lalu menggeleng.

“Sugar?” Tessa bertanya lagi. Nadira menggeleng. Si Lesung Pipit melenggang menghilang.

“Nah, Nadira....apa yang saya bisa bantu. Katanya kamu ingin mengetahui kasus saya dengan Anto Januar ? Semua keterangan pengacara saya tidak cukup?”

“Begini Pak Tito...”

“Tito saja....”

Nadira menelan ludah. “Eh ya...begini...keterangan Pak Erwin semuanya normatif. Saya membutuhkan yang lebih rinci sebetulnya; dan saya mengharapkan pak Tito....”

“Tito....”

“Ya, saya mengharapkan Anda bersedia terbuka dan berani menjawab apa adanya....”

Mata Nadira yang bulat bercahaya menantang Tito Putranto; konglomerat muda yang tak bisa ditantang. Dia tersenyum.

“Shoot your question!”

“Pertanyaan saya sederhana sekali. Apa yang sebetulnya terjadi pada tanggal 19 Mei jam 11 malam di kantor anda lantai 17?”

Tessa datang bersama nampan, lengkap dengan secangkir kopi Latte, secangkir kopi hitam dan sepasang lesung pipit.

“Terimakasih Mbak...” kata Nadira menerima kopi hitam itu.

“Tessa...” si Lesung Pipit mengoreksi Nadira.

“Ah, ya...terimakasih Tessa.”

“Saya selalu ingin semua pelayan saya orang-orang yang bersih, cantik dan terdidik,” kata Tito menatap Tessa yang melenggang, menghilang dari ruangan emas itu.

“Nah, jawaban dari pertanyaanmu tadi, sederhana saja.....” Tito tersenyum, “Januar sudah mempunyai perjanjian legal dengan perusahaan saya untuk mengembalikan pinjaman serta bunga secara bertahap. Sudah jatuh tempo enam bulan yang lalu, kami hanya memberi peringatan.....”

“Dengan menggelantung tubuhnya terbalik di balkon seperti seekor kelelawar yang sedang gelayutan di pohon?”

Terdengar ledakan tawa Tito. Terbahak-bahak.

“Kamu cerdas....kamu sungguh cerdas....Kelelawar yang gelayutan.....itu sebutan yang jitu,” Tito terpingkal-pingkal hingga airmatanya menyembul dari ujung matanya.

Nadira menggaruk dagunya yang tidak gatal.

“Jadi Januar memang digelantung dengan kaki di atas, kepala di bawah di balkon lantai 17 kantor anda?” Nadira memajukan tape-recordernya, “Pengacara Anda menyangkal...”

“Ah dia kan harus mengerjakan perintah saya.....saya membayar dia begitu mahal, masakan tidak bisa mengusir perkara sepele seperti ini.....”

Nadira diam. “Apa yang terjadi?”

Tito tersenyum. “Harus ada tiga orang yang memegang satu kakinya. Januar lelaki yang sangat kuat. Dia juga gemar berenang dan jogging seperti saya. Bedanya, dia juga senang main golf. Buat saya, golf itu olahraga untuk pemalas. Lihat....saya tak punya perut kan?” Tito menunjukkan tubuhnya yang tegap dan atletis dan menepuk-nepuk perutnya yang keras. Nadira terkesiap. Bukan karena acara pamer tubuh itu; tetapi karena Tito dengan santai memamerkan metode penyiksaannya.

“Setelah dia akhirnya menyebut nomor account gundiknya yang berisi segudang duit, baru kami bebaskan Januar. Dia memang licin; dan belut seperti dia harus di......” Tito menggebrak meja, “hajar!”

Jantung Nadira hampir meloncat keluar dari dadanya. Tito tersenyum lagi.

“Akhirnya, hanya dalam waktu 10 menit, seluruh pinjaman lengkap dengan bunganya kembali.....beres!! Terus terang dia juga menawarkan saya untuk memakai gundiknya. Tapi saya malas. Saya tidak selera dengan yang montok....”

“Soal tuntutan Januar yang lain.....” Nadira segera memotong kalimat Tito yang sudah mulai kacau, “Januar mengatakan penyiksaan itu juga menyebabkan kedua tangannya patah; kepala gegar otak dan mata kirinya nyaris buta karena habis diinjak? Itu kan artinya ada proses penyiksaan sebelumnya?”

“Ooooh itu bukan tanggungjawab saya. Mungkin dia keseleo atau ketabrak pohon sesudah dia membayar kewajibannya pada saya. Waktu dia pulang dari pertemuan kami, dia baik-baik saja. Saya hanya bertanggungjawab soal gaya kelelawar tadi....” Tito kembali tertawa, “itu bagus juga sebutanmu....lainkali saya akan menggunakan istilah itu.”

“Jadi, yang Anda lakukan malam itu hanya menggelantung...”

“Oh bukan saya, yang melakukan itu anak-anak buah saya. Malam itu saya nonton sepak bola.”

“Iya, maksud saya....” darah Nadira mulai naik ke ubun-ubun melihat betapa dinginnya bandit ini, “Januar disiksa oleh ketiga orang suruhan anda, atas perintah Anda....”

“Bukan disiksa....hanya diberi pelajaran agar dia menghormati perjanjian kita!” Tito mengoreksi kalimat Nadira seperti seorang guru Bahasa Indonesia memperbaiki kalimat muridnya.

Nadira ingin sekali menyemprot wajah Tito dengan selang air yang bergelung-gelung di kebunnya yang sangat luas itu.

“Begini Nadira....ada empat hal yang orang harus ingat kalau berhadapan dengan saya. Pertama, jangan pernah sekali pun mengingkari kesepakatan yang telah dibuat dengan saya; Kedua, jangan pernah membohongi saya dan ketiga, jangan mengkhianati saya. Kalau ketiga hal ini dilanggar, mereka semua sudah tahu akibatnya. Tetapi saya tak akan pernah membunuh. Itu kriminal.”

Nadira mengerutkan kening. Menyiksa itu boleh, membunuh itu tindak kriminal.

“Yang keempat...?”

“Yang keempat......” Tito berdiri. Sebuah pintu yang menghubungkan ruang emas itu dengan ruang lain, membuka diri. Seonggok tubuh tua yang bungkuk duduk di atas kursi roda itu meluncur menghampirinya. Tito mendekati kursi roda itu dengan takzim dan mencium tangannya. Nadira yakin seluruh tubuh perempuan itu seolah diselimuti selembar kulit penuh kerut. Rambutnya seputih salju disanggul ke belakang. Nadira mengira-ngira, usianya mungkin sudah mencapai 90 tahun. Tidak salah, tidak lain, inilah Ibunda Tito.

Setelah Tito mencium kedua pipinya dengan lembut, dia membiarkan suster yang mendorong kursi roda sang ibu membawanya ke luar ruangan.

“Keempat......aku hanya akan membunuh mereka yang berani menghina ibuku...”

Tito Putranto mengucapkan kalimat itu sembari memandang ibunya yang tengah meluncur di pinggir kolam renang. Selajur matahari menyelinap melalui gelas kaca yang menaungi sebagian atap kolam renang. Nadira melihat dengan jelas: mata Tito berkilat-kilat. Kali ini dia tidak bergurau.

“Ibuku adalah sumber kekuatanku...” katanya dengan nada teatrikal.

Nadira menelan ludah. Tiba-tiba saja suara Bapak X yang merdu itu kembali menggaung di telinganya.


****

TARA menjenguk kembali ke kolong meja itu. Kali ini Nadira meringkuk dengan mata yang masih terbuka. Tara melihat jejak airmata di pipi Nadira, sementara jari-jarinya sibuk mencabut setiap helai bunga seruni pemberian Tara. Bibirnya komat kamit tanpa suara. Semula Tara berniat menegurnya. Tetapi belakangan dia menyadari: Nadira tak berada di situ bersamanya. Dia berada di alam lain bersama mantra yang diucapkannya pada setiap helai seruni itu.


***

THE END

Jakarta 4 Juni 2009

Catatan Kaki:

*1) Terjemahan bebas puisi “Wanting to Die” karya penyair Anne Sexton

*2) Puisi “Wanting to Die” karya Anne Sexton

*3) Tahun 1991, Kemala Suwandi, ibu dari Nina, Arya dan Nadira ditemukan mati bunuh diri (“Mencari Seikat Seruni”, majalah Horison, April 2009)

0 Response to "Tasbih"

Post a Comment